A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Rahasia Masa Lalu Emeline



Mendengar cerita dari Dave, menjawab pertanyaan Emeline kenapa saat pertama kali bertemu Rara langsung memanggilnya mama.


"Tuan Dave? Boleh saya bertanya?"


"Tanyakan saja."


"Saya tak tau rumah Anda, tapi membiarkan anak Anda pergi sendirian itu bukanlah hal yang baik," jelas Emeline mengingat kan kembali saat pertama kali dia berjumpa dengan Rara.


Seorang anak yang datang ke apartemen sendirian, lalu tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan mama. Semua hal itu tak bisa Emeline Terima.


"Itu karena seseorang bodoh di belakang sana," jawab Dave melayangkan tatapannya keluar. "Jadi bagaimana, kamu menerima tawaran ku?"


"Saya belum, ini terlalu terburu-buru."


"Maka perlahan saja tak masalah. Rara sudah terlanjur suka denganmu, kamu juga ada masalah finansial bukan? Saya akan membayar mu. Jadi kamu hanya perlu fokus untuk menjaga rara juga kedua anakmu," jelas Dave kembali.


Dalam batin Emeline dia tak ingin melakukan hubungan serius dalam sebuah tekanan, apalagi dalam Perjanjian. Menurutnya, pernikahan bukanlah hal yang main-main hanya untuk kepentingan pribadi. Apalagi, Dave melakukan ini hanya untuk Rara.


Kesalahan saat dia bersama dengan Theo, tak ingin Emeline lakukan. Dalam penipuan, dan juga kebodohan, serta rasa sayang, membuat Emeline tiba di keadaan sulit seperti sekarang.


"Minta saja berapa, aku akan mengiyakannya," lanjut Dave saat Emeline terus diam.


"Tidak, Anda bisa menitipkan Rara pada saya, tapi untuk pernikahan... Tidak saya tak menginginkannya," jawab Emeline dengan gelengan kepala perlahan.


Dave menaikkan salah satu alisnya, laku mulai tersenyum ke arah Emeline. Dengan tatapan merendahkan, kepribadian lain dari Dave mulai keluar.


"Aku kenal wanita setipe dengan mu, dia pura-pura menolak tapi ujungnya di Terima juga. Heh, apakah perempuan tak ada malu untuk sekarang?"


"Apa yang Anda bilang Tuan Dave?! Sudah beruntung saya mau membantu Anda!" ujar Emeline dengan kesalnya.


"Kenapa kamu menolaknya, pasti ada sesuatu yang kurang. Katakan, aku akan memenuhinya," ujar Dave menyenderkan badannya.


"Sudah saya bilang tidak, tidak ada yang kurang bahkan untuk Anda terlalu sempurna. Saya tak ingin menikah saja," jawab Emeline mengeratkan genggaman tangannya pada gelas yang dia pakai.


"Apa karena mantan suami mu?"


Mata Emeline membulat seketika, bahkan Dave tau tentang Theo. Bibirnya ingin membuka, tapi sebuah rahasia rapat harus dia jaga.


"Percaya, aku pasti akan menjemput kalian nantinya," sebuah ucapan dari masa lalu, yang membuat Emeline masih bertahan untuk sekarang.


"Dia pergi meninggalkan, dan menelantarkan kalian kenapa masih bertahan untuk seorang yang sudah membuang mu Emeline?" pertanyaan dari Dave yang keluar, saat Emeline hanya diam dengan genggaman kedua tangan di cangkirnya.


"Sudah cukup kah Anda berbicara? Atau lebih baik Anda pergi saja!"


"Heh-? Ucapan ku benar bukan? Karena mantan suami mu itu, sudah tak memperdulikan mu. Bahkan untuk Darrel juga Raffyn, dia telah membuang-"


"Bisakah Anda berhenti berbicara Tuan Dave! Theo tak akan melakukannya!" teriakan Emeline penuh dengan keyakinan.


Seketika Emeline menutup mulutnya, dia sadar mengucapkan nama Theo di depan orang yang berbahaya. Dave menatap datar Emeline, seperti mendapat informasi baru darinya.


"Ambil ini, dan jaga Rara untuk sementara," ucap Dave di sela keheningan mereka.


Sebuah tumpukan uang, lantas Dave pergi begitu saja. Dalam batin Emeline bergejolak rasa salah. Dia mulai merasa tak tenang, setelah kedatangan Theo dulu dalam hidup nya, bahkan takdir membuatnya bertemu dengan Dave tanpa sengaja.


"Sampai kapan aku harus hidup dengan penuh penekanan seperti ini?" tanya Emeline lantas duduk dan merapatkan kedua tangannya.


"Haruskah aku pergi lagi?" gumam Emeline pada diri sendiri.


Malam hari tiba, saat mereka semua tengah makan malam. Emeline kini dengan satu anak lain, –Rara. "Rara mau dagingnya!" ujarnya dengan nada tinggi.


Rara seolah melupakan apa yang terjadi tadi pagi, dengan Dave. Saat dia menangis dan meminta Dave untuk melepaskannya.


"Mama, apa ada sesuatu terjadi? Mama terlihat sangat lesu sekarang?" tanya Raffyn saat melihat keadaan Emeline.


"Tak apa sayang, sungguh mama tak apa. Untuk sekarang makan yang banyak ya," jawab Emeline mengusap kepala Raffyn, kemudian memberikannya makan malam.


"Banyak hal yang ibu pikirkan, kenapa di simpan sendiri? Ibu kami bisa membantu mu di sini," ujar Darrel juga menatap khawatir Emeline.


Memang benar Darrel juga Raffyn anak yang berbeda dari anak seumurannya. Bahkan mereka bisa memiliki bakat yang sangat luar biasa. Akan tetapi, dalam pikiran Emeline bagaimana agar bisa menyembunyikan bakat mereka. Agar mereka juga tak terlalu mencolok dengan anak-anak lainya.


Emeline lantas duduk, dan mulai melihat ke arah Raffyn juga Darrel. "Jika ingin membantu, tolong bersikap seperti anak-anak pada umumnya ya? Itu akan sangat membantu mama."


Keduanya sama-sama diam, dengan ekspresi sedikit terkejut melihat ke arah Emeline. Lantas mulai melihat satu sama lain.


"Ibu, aku pikir ini bukan sesuatu ya-"


"Kapan kita akan mulai makan! Rara sudah lapar!" potong Rara memampatkan kedua tangannya.


Keesokan harinya, benar Emeline harus menyiapkan Darrel dan Raffyn untuk sekolah. Sedangkan Rara, dia harus berbelanja bajunya. Dengan membawa beberapa uang dari Dave, Emeline berusaha untuk memanfaatkan apa yang ada.


Dia juga harus lebih berhemat dan lebih bekerja keras sekarang. Menilai kemungkinan saat Dave juga ikut menghilang seperti yang Theo lakukan.


Setelah mengantar Raffyn juga Dave, lantas dia bergegas untuk berbelanja dengan Rara. "Rara suka baju yang kek apa?"


"Rara suka yang seperti putri!" jawab polos Rara.


Emeline mulai tersenyum, saat Rara menceritakan sosok putri kerajaan yang dia kenal.


Di tengah mendengarkan cerita Rara, Emeline melihat Mobil lain yang datang berlawanan arah dengan mereka. Sangat cepat, bahkan Emeline harus membanting setir nya.


BRAK


Suara Mobil emeline yang menabrak pembatas jalan.


Suara berdengung membuat Emeline diam. Dia merasakan pusing dan sakit di area kepala, bahkan merasakan darah mulai mengalir di pelipisnya.


Suara berdengung itu, lambat laun di gantikan oleh suara tangisan Rara. Dengan sempoyongan Emeline turun, dan mulai menggendong Rara.


"Syukurlah... Kamu tak apa sayang?" tanya Emeline dengan sisa kesadarannya.


"Mama! Mama berdarah... Harus apa yang Rara lakukan," ucap Rara dengan sesungukan.


"Mama tak apa, bagaimana dengan kamu sendiri? Tak apa kan?" tanya Emeline kembali.


Dia bahkan sudah gak kuat untuk berdiri. Sesuatu yang aneh, pagi hari tak ada mobil yang berlalu-lalang di lajur ini. Emeline menyandarkan dirinya di pembatas, berusaha untuk tetap kuat. Namun, tak bisa di pungkiri jika Emeline sudah tak kuat untuk menahan kesadarannya lagi.


"Mama.... Tolong jangan tidur, Rara mohon jangan tidur!" tangisan Rara menggema di telinga Emeline.


"Rara, jadi anak yang baik ya?" ucapan terakhir dari Emeline, sebelum dirinya benar-benar tak sadarkan diri.