A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Bayangan Akan Theo



"Ya... Ya Anda tau apa yang saya maksud, apakah anda itu ga-" belum sempat Diana melanjutkan ucapannya, langsung Dave mencekiknya dengan cepat.


Dengan tubuh setengah naked dari Diana, dia terus cekik bahkan di tahan ke tanah.


"Sudah aku bilang aku tak suka di bawah, kamu pikir aku tak suka perempuan? Lihat, bahkan Emeline lebih baik dalam memolek kan badan."


"SI-AL!" Teriak Diana terbata sembari terus mencoba untuk melepaskan cekalan Dave dari lehernya.


"Kamu tau sekarang? Haha bukan semua orang adalah orang yang bisa kamu kendalikan!" Teriak Dave terus mencekik Diana tambah dalam.


Sebuah jeritan minta tolong, tangisan, bahkan cakaran dari Diana justru membuat Dave makin bersemangat. Dia merasa naik, saat Diana mulai mencoba untuk menendang dirinya. Adrenalin nya serasa di uji, membuat Dave makin bersemangat untuk melakukannya.


"Tuan! Tuan Dave! Ingat dia adalah informan kita!" Teriak Eslen langsung melerai Dave di sana.


"Kamu tak tau artinya bersenang-senang ya Eslen?" Kata Dave dengan nada dingin dan marahnya.


"Anda ingin tau masalah suami Emeline sebelumnya kan tuan? Dia adalah informan yang berharga," kata Eslen membuat Dave sadar tujuannya ke mari.


Dia menatap Diana yang setengah terengah, bukan karena dia mencapai tujuannya tapi malah mendapatkan hal yang tal terduga.


"Eslen, minta beberapa penjaga untuk datang ke apartemen Emeline," ujar langsung beranjak pergi dari sana. "Lalu minta Emeline datang ke mansion ku," lanjutnya.


Tak bisa di pungkiri, Dave benar merasa terangsang tadi. Apalagi saat dia naik dan di ganggu oleh Eslen. Dia butuh seseorang untuk melampiaskan keinginannya. Buka lain adalah Emeline, selain agar dia tipe yang Dave suka dia juga merasa tertantang bagaimana sikap Emeline nantinya.


Beberapa saat kemudian, seperti yang di perintahkan oleh Dave Emeline datang ke mansion miliknya. "Dave! Tuan Dave!" Teriak Emeline karena kesal.


Bagaimana tidak dia baru saja bisa tertidur pulas karena menceritakan pengantar tidur pada Rara. Belum lagi Darrel dan Raffyn yang terus meminta untuk tidur dengannya. Emeline merasakan dirinya lelah, benar-benar lelah bahkan untuk berjalan menuju kamar Dave saja dia sudah tak kuasa.


"Tuan Dave ayolah, saya kesini karena Eslen terus meminta saya datang. Aku kasian dengan dia, dia asisten pribadi tapi pekerjaannya siang dan malam," gerutu Emeline lantas membuka pintu kamarnya. "Tuan Dave-!"


Sontak Emeline teriak, tapi tak lama. Apalagi saat Dave tiba-tiba mencium bibirnya. Perasaannya kacau, dan juga takut saat Dave melakukan itu.


"Tuan! Tu-tuan Dave! Apa yang Anda lakukan!" Teriak Emeline mencoba untuk melepaskan dirinya.


"Kamu tau Emeline? Kenapa Eslen memanggil mu kemari? Itu karena dia mengganggu ku, bahkan saat aku akan sampai puncak," ujar Dave tak menanggapi.


"Tuan Dave! Dalam perjanjian tak ada pemaksaan! Anda tak bisa memaksa saya!" Terus teriak Emeline saat dirinya sudah ada di atas ranjang.


Entah apa dalam pikiran Dave. Dia tak mencium bau alkohol, ataupun minuman lainya. Akan tetapi, tatapan Dave nanar dan dalam membuat dia berpikir jika Dave sungguh-sungguh dengan apa yang dia lakukan. Dave sadar jika dia melakukan hubungan dengan Emeline sekarang.


"Tuan... Tuan Dave maafkan saya, tapi tolong lepas! Saya tak-" belum sempat Emeline melanjutkan ucapannya, bibirnya sudah di tahan oleh tangan kekar dari Dave.


"Benar, saya maafkan. Tapi untuk sekarang, tidak akan saya lepaskan," ucapan Dave dengan seringai pada bibirnya.


Sesaat kemudian Dave tetap menempatkan tangannya di sana. Lantas berbisik dan mulai mencium tengkuk, hingga telinga Emeline. Napas Emeline menjadi memburu, apalagi dia tau saat Dave sudah kehilangan akal untuk di tahan.


"Tuan Dave... Saya masih menikah...." Ujarnya Emeline lagi dengan harapan Dave akan menghentikan aksinya.


Benar, seperti yang Emeline harapkan Dave diam. Dia menatap Emeline dari atas, lalu mengusap pipinya perlahan. "Sejujurnya aku tak pernah menikah, Rara putriku itu dia adalah anak di luar nikah," racau Dave.


"Aku harap kamu bisa menjadi ibunya yang baik Emeline, lalu sekarang apa? Kamu masih menganggap mantan suami mu itu? Bahkan di saat dia sudah memiliki istri baru?" Lanjut Dave dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


'Theo, Dave sudah tau jika Theo adalah mantan suamiku dulu?!' batin Emeline dan matanya yang membulat sempurna melihat ke arah Dave.


"Hubungan kita sekarang ayo perbaiki, di mulai dari hubungan lebih intim di antara suami dan istri," ujar Dave melanjutkan aksinya.


Emeline hanya bisa bungkam, menutup rapat mulutnya agar tak ada suara yang keluar dari sana. Di bawah dia merasakan Dave mulai menyentuh miliknya dengan bibir dingin milik Dave. Kakinya seolah lemas, dia tak bisa berbuat apapun. Di saat yang bersamaan, Dave menahan pinggang Emeline agar tak jauh darinya.


"Kenapa kamu pura-pura menolak? Saat aku tau kamu itu merasa hal yang sama," ujar Dave dengan seringai smrik miliknya.


"Sa-saya... Saya tak bisa...." Ucap Emeline terbata menahan perasaan yang menggejolak dalam dirinya. "Dave!"


Dalam batin Emeline terus menolak Dave, tapi apa boleh buat saat tumbuhnya berkata lain. Raut wajah nanar dari Emeline hanya bisa pasrah, saat Dave terus melakukan apa yang dia suka. Sesekali keluar dari bibir Emeline, meskipun dia menolaknya.


"Da-dave... Bi-bisakah perlahan sedikit? Kamu menyakiti ku," rintih Emeline di saat Dave tak ada niatan untuk mengakhiri aktivitasnya.


"Heh-? Seorang lagi juga bilang hal yang sama, tapi bukankah lebih menyenangkan saat kamu lebih merasakan adrenalin mu teruji di sini," jawaban dari Dave.


Namun saat seperti ini, mengingatkan dirinya dengan Theo. Saat Theo memperlakukan Emeline kasar saat berhubungan, persis seperti yang Dave lakukan.


Saat Emeline hampir kehilangan kesadarannya, malah dia melihat sosok Theo di hadapannya. Rasa rindu juga kepuasan yang sudah lama Emeline belum rasakan.


Tanpa sadar Emeline mulai memeluk leher Dave, lalu mengusap wajahnya. Napasnya memburu, saat dia tersenyum dan menangis tanpa sebab. Usapan lembut dari tangan Emeline, justru membuat Dave meras tertantang dan mulai mempercepat tempo nya.


"Kamu bilang untuk lebih lembut bukan? Aku pikir kamu lebih menikmati saat kamu di hujam habis-habisan," kata Dave dengan seringai kepuasan sembari mencium tangan Emeline yang tengah mengusap wajahnya.


"Tidak, aku tak suka tapi aku diam. Aku ingin selalu tetap di sini, saat kamu di sini... Aku merindukan saat ini... Theo...." Panggilan itu di selingi oleh ciuman kuat dari Emeline tepat di bibir Dave.