A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Kebetulan Yang Mengejutkan



"Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan, dan tentu saja tanpa orang luar," ujar Darrel dengan menatap Dave legam.


Dave hanya bisa menghela napas, saat Darrel mengatakan kalimat itu. Dengan jelas orang luar yang Darrel maksud adalah dirinya.


"Baiklah, Rara ikut dengan papa sebentar," ujar Dave membawa Rara.


"Rara mau sama mama!"


"Hanya sebentar, setelah mereka berbicara nanti Rara bisa kembali kesini."


"Kenapa Rara yang selalu harus pergi?" pertanyaan dari Rara dengan wajah sembab menahan tangisnya.


Sesaat setelah Dave dan Rara keluar Raffyn juga Darrel duduk di sebelah Emeline.


"Tadi itu apa Darrel? Tak sopan, ibu tak pernah mengajarkan hal seperti itu?" tanya Emeline langsung pada Darrel.


"Apa? Bukankah dia benar orang asing bu?" jawab Darrel merasa tak bersalah.


"Jika dia orang asing, dia tak akan membantu ibu di sini. Kalian harus lebih sopan dengan Tuan Dave, dia banyak membantu ibu," tegas Emeline pada anak-anak nya.


"Jadi mama sudah memutuskan untuk menerima tawaran dari paman Dave?" tanya Raffyn.


Seketika Emeline diam, dia juga tak tau jika dia sudah menerima tawaran atau belum. Di sisi lain, Emeline sudah banyak berhutang budi, tapi Emeline belum bisa menerima Dave.


"Ibu, jangan terima dia, aku tadi berjumpa dengan paman Theo! Tanyakan saja pada Raffyn," celetuk Darrel menunjuk ke arah luar.


"Benar, tapi papa tak melihat ke arah kita," jawab Raffyn dengan wajah sendunya.


Begitu pula yang di susul Darrel, mereka seolah paham jika Theo tak melihat mereka. Entah pura-pura tak melihat, atau memang tak memperhatikan tanda tak peduli.


"Heem, ibu juga bertemu dengan Theo," jawab Emeline mengusap kepala mereka.


"Lalu apa! Apa mama berbicara dengannya?" tanya Raffyn antusias.


"Ya," jawaban singkat Emeline di selingi anggukan.


"Apa yang paman Theo bicarakan?!" tanya Darrel menyauti dengan semangat.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


Jawaban dari Emeline langsung membuat mereka diam. "Apa, apa maksudnya?!" tanya Darrel tak percaya.


"Boleh ibu bertanya? Saat kalian bertemu dengan Theo, apakah dia sendirian?" tanya Emeline.


Keduanya melihat satu sama lain. Lalu menganggukkan kepala, dan mulai mengingat kembali.


"Sepertinya tidak," jawab Darrel ragu.


"Memang tidak, ada perempuan dengan papa Theo!" kata Raffyn setelah teringat.


"Benar, dia ada perempuan. Namanya Melisa, dia adalah istri Theo dan mereka sudah mempunyai anak bernama Clara," jelas Emeline.


Langsung saja mereka kembali bungkam. Tatapan tak percaya, seolah melintas ke arah mereka. "Bohong! Itu pasti bohong bukan!" teriak Darrel tak percaya.


"Papa Theo bilang akan kembali dan menjemput kita, itu yang dia janjikan!" lanjut Raffyn dengan mata merahnya.


Keduanya sama-sama menahan tangisan, ingin terlihat kuat di depan Emeline. Usapan lembut Emeline yang bisa dia lakukan, andaikan itu adalah kebohongan Emeline akan sangat bersyukur.


"Dia sudah melanjutkan hidupnya, begitu juga dengan kita," jawab Emeline perlahan.


"Jika dia melanjutkan hidupnya, harusnya dengan kita bukan dengan orang lain!" ujar Darrel.


"Lalu bagaimana dengan kita?" tanya Raffyn seolah putus asa.


"Kita juga akan menjalani kehidupan kita, ini bukanlah akhir dari semuanya... Saat kita masih punya satu sama lain, itu sudah cukup bukan?"


Kata-kata yang di lontarkan Emeline seolah menjadi penenang untuk mereka. Mereka pasti sangat kecewa, mereka bersabar dan menunggu, lalu saat sudah bertemu ternyata hanyalah mereka yang ingat apa janji itu.


"Rara, kamu sama paman dulu ya?" ucap Dave setelah mendengarkan apa yang mereka ucapkan.


"Papa mau ninggalin Rara juga?" tanya Rara dengan wajah polosnya.


"Tidak, papa ada beberapa urusan penting. Oh ya, jika kamu ingin pergi ke dalam tak apa, sepertinya mama Rara sudah selesai."


"Sudah? Bagaimana jika nanti kak Darrel marah ke Rara?"


"Tak akan, kak Darrel tak akan memarahi Rara jika ada mama di dalam saja. Rara, jadi anak baik ya?" ucap Dave dengan usapan tangan di kepala Rara.


"Eslen, kemarilah!" lanjut Dave melangkah keluar.


Kakinya tepat, terlihat beberapa orang melihat ke arah Dave tapi dia tak peduli. Pelayan rumah sakit, bahkan menatap Dave kagum. Bukan hanya tampan, tapi dia juga terlihat seperti orang kaya.


"Kemana tuan?" tanya Eslen cepat saat mereka ada di dalam mobil.


"Rumah," jawab Dave dingin.


"Maaf?"


"Apa kamu bodoh? Saya bilang rumah ya rumah!" bentakan Dave pada Eslen.


Eslen sudah terbiasa dengan bentakan dari Dave. Dave memang memiliki sifat seperti itu, dimana dia gampang sekali berubah mood dan bisa menjadi marah seketika. Namun, kemarahan tuannya itu tak serta merta tanpa alasan, pasti ada sesuatu yang membuat Dave marah.


"Ingin saya carikan sesuatu tuan?" tanya Eslen sembari menyetir mobilnya.


"Tolong berikan aku informasi mengenai masa lalu Theo juga Emeline," titah Dave.


Begitulah tuannya, memang terlihat galak dan gampang sekali marah, tapi dia tak pernah bersikap kasar terhadap bawahannya.


Dengan cepat Eslen menelpon beberapa orang, "Tuan Dave semuanya sudah beres, saat Anda sampai mereka akan langsng menyerahkan hasil."


Ucapan dari Eslen tak di gubris oleh Dave. Dia hanya duduk diam sembari melihat keluar. 'Sepertinya dia benar-benar marah sekarang,' gumam Eslen.


Sampainya di rumah, Dave langsung melangkahkan kaki ke ruangannya. Terlihat beberapa orang dengan map yang mereka bawa, tapi tak berani untuk memberikan ke Dave.


"Tuan Eslen," panggil seseorang di antara mereka.


"Tak apa, biar saya saja yang bawa," jawab Eslen paham dengan raut wajah mereka.


Beberapa lembar, belum sempat Eslen analis. Langsung dia memberikannya pada Dave.


"Maaf tuan, belum saya lihat sebelumnya."


"Tak apa, Eslen kamu pikir apakah ini kebetulan jika Theo dan Emeline saling kenal?" tanya Dave membuka pembicaraan.


"Saya kurang yakin, tapi dari data," jawaban Eslen menggantung sembari membuka map berisi informasi yang mereka inginkan. "Ini aneh tuan, Nyonya Emeline sama sekali tak ada data masa lalu. Begitu juga dengan Darrel dan Raffyn, data mereka hanya ada setelah beberapa tahun pindah kemari," lanjutnya.


"Seperti di hapus?" tanya Dave menaikkan salah satu alisnya.


"Ya, tapi fakta tambahan tuan, anak pertama dari Nyonya Emeline, Darrel Kaveleri dia memiliki marga yang berbeda."


"Dia adalah anak angkat, kenapa dia mengangkat anak? Dan Darrel juga Raffyn memang berbeda tapi sikap mereka sama," jelas Dave penuh dengan tanda tanya.


"Mungkin karena mereka di besarkan oleh orang yang sama, Nyonya Emeline."


Dave mengangguk, orang yang bisa menghapus masa lalu Emeline pastilah bukan orang yang biasa. Dia memiliki kekuasaan, juga uang, dan intel untuk bekerja.


"Bagaimana dengan Theo?"


"Sebuah kebetulan, Theo Wise juga tak memiliki data masa lalu. Data dia ada setelah keluarga Wise mengangkatnya."


"Darimana keluarga Wise mengangkat Theo?"


Lagi-lagi Eslen membuka map, dan mencari apa yang Dave inginkan. "Karena kecelakaan. Mereka menemukan Tuan Theo saat mereka camp di hutan, dalam keadaan tuan Theo ada di pinggir aliran sungai. Kepalanya cidera berat, membuatnya lupa ingatan. Namun, potensi dari Tuan Theo sendiri tak bisa di pungkiri, membuat keluarga Wise mengangkatnya jadi anak," jelas Eslen