A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Kedatangan Dara



"Theo....." panggil seseorang yang membuatku memalingkan wajah ke arahnya.


Seorang perempuan muda, cantik dengan badan elok, dan rambut panjang hitam serta mata biru. Aku menatap ke arah Theo, dimana Theo juga terlihat terkejut sama seperti ku.


"Nyonya Dara?" gumam bi Teresa yang sempat aku dengar sebelumnya.


"Dara, kenapa kamu kemari?" tanya Theo menghampirinya.


"Tidak, aku dengar kamu sudah menjadi seorang ayah, selamat untuk itu" titah Dara dengan melihatku yang tengah menggendong baby Raffyn.


"Buat apa kamu kemari wanita murahan!" kata bi Teresa dengan nada marah, dan langsung menghampiri Dara.


Bi Teresa awalnya ingin mengusir Dara, hanya saja di tahan oleh Theo.


"Tu-"


"Bawa Emelin ke dalam, aku.... Akan menyusul nanti" ucap Theo sambil memalingkan wajahnya.


Jika di bilang aku cemburu, benar aku merasa cemburu. Dara Eldar, dia adalah perempuan yang Theo suka bahkan jauh sebelum aku mengenal Theo. Dengan rambut dan mataku yang seperti Dara, membuat Theo langsung jatuh hati kepadaku, tapi bagaimana jika Dara sendiri yang di hadapan Theo? Dia cantik, postur tubuh yang sempurna bagaimana aku berpikir untuk menandinginya?


"Anda baik-baik saja nyonya? Ini teh yang anda minta" kata bi Teresa meletakkan tehnya di atas meja.


"Dara itu... Perempuan yang Theo suka kan bi? Jauh sebelum Theo menyukaiku, bahkan dia suka denganku karena aku mirip dengan Dara" kataku masih melihat keluar jendela.


Rasanya dadaku sakit, saat melihat mereka berpelukan. Aku tak tau apa yang mereka katakan, tapi sangat jelas. Theo sesekali tertawa dengan Dara, aku cemburu? Bukankah itu wajar.


"Tapi dia sudah meninggalkan tuan dari lama, entah kenapa sekarang dia balik. Dasar perempuan yang tak bisa melihat orang lain bahagia" kata bi Teresa masih dengan ungkapan jengkelnya.


"Tapi Theo terlihat bahagia" kataku melihat Theo yang sesekali tersenyum pada Dara.


Aku iri, sungguh apakah Theo juga menampilkan itu padaku. Aku hanya mirip dengan Dara, bagaimana jika Theo lebih memilih Dara daripada aku?


"Nyonya... Anda percaya dengan tuan kan?" tanya bi Teresa menepuk pundakku.


"Entahlah bi.... Aku merasakan dadaku sesak, dan mataku mulai perih, apakah wajar saat seseorang berpelukan dan saling tersenyum bersama? Jika orang biasa itu tak masalah... Tapi ini Dara" ucapku dengan nada pelan.


Rasa was-was semakin menjadi. Dulu aku selalu minta Theo untuk mencari seseorang penggantiku, yang lebih sempurna, cantik, daripada aku. Tapi sekarang, aku tak ingin hal itu. Aku takut jika Dara merebut Theo dariku.


"Nyonya... Tak masalah itu wajar, nanti sa-"


Ucapan bi Teresa terhenti, saat pintu kamar di buka oleh seseorang. Theo, membukakan pintunya dimana ada Dara yang ikut di belakangnya.


"Silahkan, namanya adalah baby Raffyn" kata Theo menunjuk Raffyn yang tengah tertidur pulas.


"Tak masalah... Dia manis boleh aku pegang?" tanya Dara pelan, dengan uluran tangan yang akan menyentuh pipi Raffyn.


"Siapa yang mengizinkanmu!" kata bi Teresa dengan nada tinggi menahan tangan Dara.


"Bi Teresa apa yang kamu lakukan!" kata Theo yang ikut menahan tangan bi Teresa.


"Tuan, apa yang anda lakukan? Anda tau nyonya Emelin baru saja melahirkan, kenapa anda membawa wanita ini ke rumah. Apakah anda pernah memerhatikan bagaimana perasaan nyonya Emelin?" tanya bi Teresa dengan nada marah.


Theo meninggikan salah satu alisnya. Dia mulai tersenyum, dan melepaskan tangan bi Teresa yang tengah memegangi bajunya.


"Aku memang menyayangi Emelin bi Teresa, tapi bukan berarti aku bisa menyayangi satu orang saja. Aku... Jujur sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan Dara"


ungkapan dari Theo membuatku dan bi Teresa sama-sama membulatkan mata. Kami menatap Theo tak percaya dengan apa yang dia katakan. Seolah-olah adalah kebenaran, tanpa muka bersalah Dara memeluk Theo dengan wajah melasnya.


"Sudah aku bilang, banyak yang tak suka aku di sini" kata Dara pura-pura menangis di hadapan Theo.


"Apa... Apa ini tuan! Lihat nona Emelin, bahkan dia hanya bisa diam tanpa ucapan kata karena dia masih dalam keadaan lemah! Tak bisakah anda me-"


"Bi Teresa, jangan bersikap seolah akulah penjahatnya. Bi Teresa tau bagaimana aku menyukai Dara, yang membuat aku langsung suka dengan Emelin saat itu" kata Theo mencoba untuk menjelaskan.


"Tidak... Saya tak terima. Nyonya, kemarilah jika perempuan ini ada di sini maka anda dan Raffyn ikut dengan sa-"


...PLAK! ...


"Apakah... Apakah kalian sudah selesai?" tanyaku perlahan mencoba untuk tetap tegar, dimana langsung menimang Raffyn.


"Kita bicara di luar bi Teresa, aku masih belum selesai" kata Theo dengan wajah marahnya.


Dara dan Theo meninggalkan ruangan terlebih dahulu, dimana aku melihat pipi bi Teresa mulai memerah dan sedikit lebam.


"Bi Teresa... Kemarilah, anda terluka?" tanyaku beranjak perlahan, dan melihat bibir bi Teresa tahu mengeluarkan darah.


"Saya tak menyangka saya setua ini, dulu saya bahkan di tampar berkali-kali" kata bi Teresa dengan senyuman dan mulai mengusap ujung bibirnya yang berdarah.


"Bi Teresa, mungkin anda harus is-"


"Saya tak bisa, nyonya... Mungkin saya tak bisa di samping nyonya sekarang... Ataupun nanti, tapi saya tetap berusaha agar menjauhkan nyonya dari perempuan itu" kata bi Teresa dengan penuh keyakinan.


"Bi Teresa tak akan meninggalkan ku dalam keadaan seperti ini bukan?" tanyaku merasa khawatir.


"Saya tak tau, tapi sepertinya ada yang perempuan itu rencanakan. Sepertinya saya juga tak bisa berbuat banyak" kata bi Teresa kembali.


Beberapa saat kemudian bi Teresa juga ikut keluar kamar. Jantungku mulai berdebar kembali, bukan karena takut tapi masih mengolah apa yang terjadi.


Dara kenapa dia tiba-tiba kemari. Dan Theo, kenapa dia bisa mengizinkan Dara untuk tinggal dengan kami. Ada beberapa hal yang masih aku belum paham, semuanya bergerak dengan cepat. Aku rasa baru kemarin aku merasakan sangat bahagia.


Pagi berikutnya, aku tak menemui Theo ada di sampingku. Benar, jika ingatanku kuat Theo memang tidak datang kemari. Aku tersenyum kecut, tapi semuanya berubah saat aku melihat Raffyn yang masih tertidur pulas.


"Anak mama... Baby Raffyn... " kataku dengan penuh nada gemas sambil memainkan pipinya.


Beberapa saat kemudian aku turun perlahan ke bawah. Entah kenapa, biasanya bi Teresa akan membantuku untuk mempersiapkan mandi baby Raffyn. Dia juga menyanyaiku ingin sarapan apa tapi sekarang seolah sepi.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya seorang pelayan saat aku hampir di tangga terakhir.


"Tidak, tapi kamu melihat bi Teresa?" tanyaku dengan nada penasaran.


"Nyonya Teresa... Dia sepertinya pergi pagi-pagi sekali, dengan membawa koper juga" jawab pelayan tersebut.


"Ha-! Apa yang kamu katakan! Dia tak mengatakan apapun padaku!" kataku dengan nada tinggi tak percaya.


"Tuan yang meminta nyonya Teresa pergi, karena ada masalah dengan nyonya Dara"


Aku lebih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh pelayan itu. Ingin aku marah, nafasku yang memburu.


"Dimana Theo?!" tanyaku dengan nada tinggi.


"Ada di da-" tanpa mendengar lanjutannya, aku mulai berjalan ke arah dapur, tapi setelah beberapa saat di hentikan oleh pelayan tadi.


"Maaf nyonya, tapi tuan sed-"


"Urus saja pekerjaan mu sendiri" kataku dengan nada marah, menarik tanganku dengan kuat.


Setelah beberapa saat aku sampai di dapur, melihat pemandangan yang tak biasa. Theo tengah berciuman dengan Dara, ciuman yang penuh dengan pagutan dimana-mana keduanya saling menginginkan. Adegan panas di pagi yang cukup membuat sunyi.


"APA-APAAN THEO!" teriakku langsung menampar wajah Theo.


Saat itu Dara juga terkejut, sama dengan Theo. Sedangkan aku merasa meluap, di penuhi dengan amarah.


"****" kata Theo mengusap pipinya yang memerah.


"Apa yang kamu lakukan Theo.... Bi Teresa... Kamu telah mengusir dia!" kataku dengan menggenggam kerah Theo.


"Apa yang kamu lakukan Emelin? Kamu sudah mulai berani?"


"Apa yang terjadi! Aku butuh penjelasan Theo! Ke-"


"Kamu tak berpikir kamu sepenting itu kan? Padahal aku sudah bilang... Kamu hanya pelampiasan... " Kata-kata Theo yang berbisik ke arahku, membuatku diam membeku.