
"Kamu... Istrinya si cecunguk ini? Ha, pantas. Oh? Sedang hamil ya? Ck! Memang cocok wanita murahan dengan laki-laki yang hanya bisa menumpang" titah perempuan itu padaku.
Aku hanya meninggikan alisku tak tau apa yang perempuan itu katakan. Entah darimana dia berasal, hingga berbicara merendahkan seperti itu.
"Maaf apa yang anda u-"
"Nyonya, lebih baik ayo kembali ke kamar saja" kata bi Teresa dengan berbisik pelan padaku.
"Memang kenapa? Dia merendahkan ku dengan Theo maksudnya kan bi?" tanyaku masih dengan wajah bingung.
"He... Kenapa perempuan ini berani menjawab? Apakah Theo belum menjelaskan semuanya?" tanya laki-laki itu dengan nada merendahkan.
"Diamlah kak Drake!" ucap Theo dengan nada marahnya.
"Apa? Memangnya siapa yang harus diam? Kamu pasti belum bilang, jika kamu hanyalah anak haram dari seorang pe-"
"KAK DRAKE!"
...BYUR...
Lagi-lagi mataku di buat terkejut dengan apa ya g terjadi. Perempuan yang di depan Theo, yang mengejek kami tadi menyiramkan jus tepat ke wajah Theo. Saat itu Theo juga terdiam, teruskan barusan tak bisa Theo lanjutkan.
"Ck! Aku bahkan tak sanggup untuk meminum air kotor di sini. Sadarilah posisi kamu Theo" ucap perempuan itu dan bersiap beranjak untuk pergi.
"Hmph... Coba katakan yang sebenarnya Theo, apakah perempuan itu masih mau di sisimu?" kata Drake dengan penuh nada merendahkan.
Tak lama pasangan itu pergi, Theo tetap saja diam. Aku menarik tanganku, dan menyingkirkan tangan bi Teresa. Aku mendekati Theo perlahan, lalu mengusap sebagian rambutnya yang basah karena jus tadi.
"Are you okey, Theo?" tanyaku sedikit mengusap. kepala Theo.
Aku membulatkan mataku, melihat wajah Theo yang kosong juga mata yang memerah. Tanpa berpikir panjang, Theo langsung menyingkirkan tanganku dan bergegas menuju kamar.
"Nyonya... Tuan ha-"
"Ambilkan aku handuk kering bi Teresa, dan jangan ganggu kami sebelum aku minta kalian untuk masuk kamar" sela ku pada bi Teresa.
Bi Teresa membuka sedikit bibirnya, lalu di gantikan dengan senyum simpul yang tercipta. Beberapa saat kemudian mulai menundukkan badan, dan mengambilkan ku handuk kering yang aku minta.
Aku berjalan perlahan, membuka pintu dengan pin yang aku ketahui sebelumnya. Masuk dimana Theo masih basah rambutnya, dan belum mengganti pakaiannya.
"Theo, kamu bisa demam. Ganti baju sekarang ya? Ada apa kamu bisa ce-"
Pelukan cepat yang Theo lakukan, membuatku tak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Bagaimana... Bagaimana jika aku bilang aku sebenarnya bukan anak asli keturunan keluarga ini. Hanya anak haram, bahkan aku tak memiliki marga Kavaleri. Aku hanyalah suruhan, boneka, dan penjaga bisnis keluarga Kavaleri, mereka bisa memganbilnya kapan saja. Apakah kamu akan meninggalkan aku juga Emelin? Saat tau aku hanyalah babu mereka" racau Theo panjang dengan memeluk kepalaku kuat.
"Apapun yang terjadi, aku harap kamu tau jika aku itu sungguh mencintaimu Emelin.... " kata Theo melepaskan pelukannya, dan justru beralih ke pagutan yang cukup lama.
Setelah beberapa saat, aku mulai mengeringkan rambut Theo yang basah dengan handuk juga memintanya untuk berganti atasan. Jujur aku tak tau apa yang terjadi, Theo masih saja diam setelah kejadian tadi.
"Apakah ini nyaman?" tanyaku sedikit memberikan pijatan pada kepalanya Theo.
"Iya... Sungguh, aku akan merindukannya saat kamu meninggalkan aku nanti" kata Theo justru mengambil tanganku, dan sedikit mengecupnya.
"Kenapa aku harus meninggalkan kamu? Kamu sendiri yang bilang Theo, kita keluarga setidaknya kita bersama itu lebih baik"
"Setelah tau posisiku yang sebenarnya... Kamu masih mau denganku?"
"Posisi apa maksud kamu?"
Setelah pertanyaan ku barusan, Theo menjelaskan tentang posisinya di keluarga Kaveleri. Untuk anak pertama keluarga mereka adalah Brian Kaveleri, dia yang menjadi penerus keluarga Kaveleri sah dan bekerja di pusat bisnisnya.
Yang kedua ada Kelly Kaveleri, anak perempuan satu-satunya di keluarga itu. Sudah memiliki keluarga, memang bukan keturunan tapi masih di bagi beberapa saham dari perusahaan.
Yang ketiga, itu Drake Kaveleri. Dia adalah orang yang kesini tadi pagi, dengan istri nya Welmia Kaveleri. Drake adalah seorang yang gila jabatan, tapi sayangnya dia adalah anak ketiga membuat dia tak bisa menjadi penerus meski masih di bagikan beberapa saham dah cabang. Sedangkan Welmia, dia adalah anak tunggal tapi perempuan. Untuk menjaga warisan keluarganya agar tak beralih tangan, Welmia memutuskan untuk menikah muda dan menjamin kekayaan keluarganya tetap berada di pihaknya.
Sedangkan anak terakhir dari keluarga Kaveleri adalah Theo Walcott. Tidak menggunakan marga Keveleri, melainkan menggunakan marga ibunya yaitu Walcott. Anak haram dari seorang pelayanan, yang bahkan hanya bagi untuk menjaga beberapa cabang. Salah satu cabang adalah di sini, dimana cabang yang sebenarnya milik Drake. Hanya saja ada masalah, membuat Drake harus keluar negri dan Theo yang menjaganya.
Bertahun-tahun Theo menjaganya, tanpa ikut campur tangan Drake. Tapi setelah Drake mempunyai seorang putra, dia memutuskan untuk mewariskan cabangnya kepada anaknya Darrel Keveleri. Membuat Theo berubah, dari bos menjadi HRD perusahaan.
"Kamu sudah tau semuanya, aku harap kamu tak akan pergi Emelin... Aku sungguh takut itu... " ucap Theo sambil terus memeluk perutku.
"Kita adalah keluarga bukan? Jangan tinggalkan aku karena jabatanku berubah.... Aku kehilangan semuanya, aku tak ingin kehilangan kamu juga" lanjut Theo.
Sungguh aku tak tau kenapa Theo bisa setakut ini untuk kehilanganku. Padahal posisi Theo di turunkan, bahkan itu termasuk posisi yang bagus.
"Yang aku takutkan bukan jabatan Theo, melainkan kamu... Kasih saja apa yang mereka mau, mereka sepertinya berbahaya... Bahkan melakukan hal seperti ini... " jawabku dengan mengelus kepala Theo, dan mengecupnya perlahan.
Theo melihatku dengan tatapan sayu. Tak berbicara, tapi justru malah menatapku terkejut.
"Apa?" tanyaku sama bingung dengan tatapan Theo.
"Tidak, Emelin aku di turunkan. Aku bukanlah bos yang sebenarnya, aku hanyalah anak haram, dan aku hanyalah pembantu mereka. Apakah kamu tak paham apa yang aku ucapkan?" jelas Theo panjang, dengan pertanyaan di ujung ucapannya.
"Aku dengar, dan aku tau... Aku tak peduli dengan itu. Kita hanya membutuhkan satu sama lain bukan? Cukup menjadi ayah yang baik ya Theo... Bangun keluarga yang baik, jangan memikirkan posisi, jangan seperti anak kecil yang berpikir kamu lebih rendah dari orang lain lalu marah dan menangis. Kamu cukup, setidaknya bagiku" jelasku berusaha untuk menenangkan Theo, dengan kecupan singkat di dahinya.
Aku tau apa yang Theo rasakan. Pasti sedih hanya di manfaatkan. Theo yang menjalankan perushaan ini selama bertahun-tahun, lalu Drake datang tiba-tiba datang pewaris asli perusahaan. Pastinya itu membuat Theo marah, dan lebih kembali sadar bahwa dirinya hanya pembantu dari keluarga Kaveleri.