A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Beginilah Cara Kita Bertahan Hidup



Belum sempat Emeline melanjutkan ucapannya, malah sebuah peluru melesat di antara Dave juga Emeline. Menembus kaca mobil belakang, hingga kedepan.


"Jangan berhenti! Cepat! Jemput kami!" Teriak Dave.


"Tu-tuan Dave?!" Teriak Eslen.


"Ya, jemput kami di antara jalan menuju, DAVE!"


Emeline tak tau apa yang terjadi, kecelakaan itu tiba-tiba berlangsung sangat cepat. Entah dari mana, truk tiba-tiba melintas di depan mobil mereka. Suara dengungan, hanya itu yang Emeline dengar. Sesaat dia melihat Dave yang memegangi kepalanya, lantas melihat ke arah Emeline.


"Emeline?" Panggil Dave.


Tak ada jawaban dari Emeline, hanya sebuah tatapan sendu juga usapan dari pelipis Emeline yang mengeluarkan darah.


"Apa... Ke-" belum sempat Emeline melanjutkan ucapannya, tiba-tiba mulutnya di bekap dari belakang.


"Theo! Apa yang kamu lakukan! Bodoh!" Lagi-lagi teriakan dari Dave terhenti, apalagi saat ada beberapa orang yang memukul kepalanya.


Rasanya Emeline tak percaya, bahkan kesadarannya mulai pudar. Dia berusaha untuk melepaskan diri, tapi kepala pusing dan sakit. Dia memikirkan bagaimana dengan Raffyn juga Darrel yang tengah menunggunya pulang.


Sama halnya dengan Emeline juga Dave, Eslen juga tengah kebingungan sekarang. Dia memerintahkan beberapa orang untuk segera mencari Dave dan Emeline. Bukan hanya itu, dia juga harus menjaga tiga anak sekaligus, dimana Eslen harus benar-benar bersabar.


"Katanya mama Rara mau datang, uncle Eslen bohong pada Rara?" Tanya Rara dengan nada polosnya.


"Tidak, dia tak bohong," sela Raffyn yang duduk sembari membuka tabnya.


Di lihat juga Darrel yang duduk termenung, tak ada jawaban. Pastinya dia mendengar apa yang baru saja menimpa Emeline juga Dave.


Pasalnya, tadi saat Eslen mendapat panggilan dari Dave, Darrel juga Raffyn memintanya untuk menambah volume panggilan.


"Pak, kami menemukan tuan Dave, tapi...." Ujar seorang menghampiri Eslen.


"Tapi kenapa?!"


"Tuan Dave terluka parah dalam kecelakaan lalulintas, juga ada beberapa bekas pukulan di kepalanya. Kami sudah membawa Tuan Dave ke rumah sakit, tapi untuk Nyonya Emeline kami tak menemukan dia di sana maupun di sekitar mobil bahkan tempat Tuan Dave di temukan," jelas seorang pengawal itu.


Mendengar pembicaraan hal itu, membuat Raffyn juga Darrel langsung menatap ke arah mereka. Bagaimana tidak, saat di lihat keduanya menampilkan wajah cemas. Bahkan Darrel yang semula hanya diam tenang, tangannya menggenggam geram.


"Baik, untuk sekarang kita temui Tuan Dave terlebih dahulu," jawab Eslen langsung pergi dengan penjaga itu.


"Rara! Rara mau bertemu dengan ayah!"


"Rara, kemari lah. Jangan ganggu Tuan Eslen untuk sekarang, biarkan dia melakukan apa yang seharusnya. Kamu di sini denganku saja," titah Darrel menahan Rara.


"Tapi...."


"Rara! Sini kak Raffyn punya mainan baru," sela Raffyn langsung membawa Rara ke lantai atas.


Darrel dan Eslen saling bertatapan. Wajah tak biasa dari Darrel bahkan membuat Eslen diam. 'Sepertinya dia di besarkan bukan dari orang biasa,' gumam Eslen.


Dalam benak dia semakin aneh dengan Darrel maupun Raffyn. Benar ucapan Dave, jika Emeline memiliki sesuatu di belakangnya. Bahkan masa lalu Emeline seperti hilang begitu saja. Datanya, hanya ada setelah mereka pindah. Tapi untuk tanggal kelahiran bahkan di palsukan.


"Tuan Eslen?" Panggil pengawal yang sedari tadi menunggu Eslen. "Mari, saya antar ke rumah sakit," lanjutnya.


Dalam kamar Rara sudah diam karena mainan mobile baru yang di buat oleh Raffyn. Suatu mainan anak-anak, untuk mendandani seorang putri dan mencarikan mereka baju.


"Bagus juga game yang kamu buat," ujar Darrel saat masuk dan melihat Rara yang sudah sibuk.


"Ya, aku anggap itu adalah pujian. Tapi untuk sekarang, kita cari dulu di mana mama," ujar Raffyn mulai mengotak-atik komputer miliknya.


Berbeda dengan Raffyn yang sibuk di layar monitor, Darrel malah mengunci pintu kamar mereka. Lalu mulai menutup tirai. Sesaat sebelum semuanya tertutup rapat, Darrel sadar ada sesuatu di bawah sana. Entah itu cermin atau kamera, tapi terlihat jelas karena pantulan kaca.


"Firasat ku benar, ada yang memata-matai kita beberapa waktu ini," kata Darrel membuka pembicaraan.


"Ya, menurutmu siapa?" Tanya Raffyn balik sembari terus menekan tombol keyboard di komputer miliknya.


"Aku tak tau, dan aku tak bisa pastikan itu. Untuk sekarang, kita lakukan semuanya sendirian."


"Bagaimana jika kita minta bantuan IT dari Tuan Dave? Aku yakin peralatan mereka lebih lengkap Dar."


"Jangan percaya siapapun Raffyn, kamu lupa kita selama ini bertahan hidup dengan identitas yang berbeda untuk apa? Bahkan bisa saja ini adalah rencana yang sudah di buat oleh Tuan Dave untuk menyembunyikan ibu," jelas Darrel panjang dan mulai berdiri di sebelah Raffyn.


"Kamu terlalu berpikir buruk, aku hanya bisa melakukan secara terbatas," jelas Raffyn masih fokus dengan apa yang dia lakukan.


Darrel kembali diam, dia masih tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Dave maupun Eslen. Bahkan sikap polos dari Rara, dia masih menjaga jarak dan membatasi semuanya. Takut ada alat atau sesuatu yang di sembunyikan di antara baju atau bonekanya.


"Darrel!" Teriak Raffyn tiba-tiba. "Aku pikir aku tau siapa pelakunya, tapi... Apakah ini takdir? Atau ingatan papa sudah kembali?" Lanjut Raffyn dengan wajah yang serius menatap Darrel.


Saat itu juga Darrel paham apanya yang Raffyn katakan. Kini keduanya saling menatap dengan tatapan terkejut. Napas mereka seolah tertahan, dengan raut wajah pucat.


"Paman Theo? Dia tak mungkin kembali! Lagipula dia sudah memiliki istri dan anak, bertahun-tahun dia menghilang untuk apa datang!" Kata Darrel masih tak percaya.


"Dengarkan," ujar Raffyn memberikan earphone pada Darrel.


Earphone itu berisi tentang percakapan dalam mobil. Dengan memindai melalui maps satelit, juga kamera mobil dari Dave.


"Darimana kamu mendapatkan ini?" Tanya Darrel dengan wajah yang kebingungan dengan apa yang Raffyn lakukan.


"Kamera mobil itu seperti cctv, bahkan jika kita bisa masuk kita bisa tau apa saja yang di bicarakan dan di rekam. Sayang, hanya ada layar depan, tapi suaranya jelas," jelas Raffyn.


Darrel lantas mendengarkan apa yang ada di layar monitor. Seperti melihat video, dari mereka melihat sebuah pembicaraan dewasa bahkan sampai suara tembakan yang menggema. Terlihat kaca yang pecah.


"Theo...." Gumam dari Emeline yang tambah membuat Darrel membuka matanya.


Sesaat semuanya berubah, saat truk menabrak mobil mereka. Lantas suara teriakan dari Dave, juga dari Emeline. Benar, sangat di sayangkan ini hanyalah kamera depan jadi dia tak bisa melihat siapa yang membawa Emeline.


"Aku tak mau tau! Raffyn, carilah truk itu catat nomor plat nya dan siapa yang membeli truk jenis itu."