
Mendengar ucapan itu aku hanya bisa diam. Jika Theo bisa melakukan hal seperti itu kepada bi Teresa, maka dia juga bisa melakukan hal yang sama ke diriku juga.
"Theo... Aku ingin Dara pergi" kataku dengan nada yang pelan, kepala menunduk, dan tangan yang masih memegangi baju Theo.
"Kamu siapa?"
"Theo... Aku minta Dara untuk pergi dari rumah ini"
"Maaf Emelin, tapi aku tak bisa" ucap Theo dengan menyingkirkan tanganku, dan mulai berjalan menjauh.
"Kenapa? Setidaknya bilang kenapa! Theo, setidaknya kamu mengerti perasaanku juga!" kataku mencegah Theo pergi, dengan menarik kerah bajunya.
Theo terdiam melihat ke arahku. Dengan tatapan yang datar, dia hanya membuka bibir perlahan.
"Dia sedang hamil Emelin.... " ucapan Theo yang membuatku tambah terkejut di buatnya.
Dengan Cepat aku melepaskan tanganku, sedikit memundurkan badan dimana diam saat menemukan tempat sandaran.
"Ha–Mil?" tanyaku masih tidak percaya.
Perlahan tangan Dara memegangi tangan Theo. Lalu mulai memeluknya dari belakang. Aku melihat semuanya ini rasanya kacau, baru kemarin Theo mendapatkan seorang anak. Lalu kapan dia melakukannya.
"Kapan... Kenapa aku tak ta-"
"Kamu hanya perlu itu Emelin, tak perlu tanya yang lain" selaan dari Theo membuatku bungkam seketika.
Aku terus terdiam, bahkan kakiku serasa mati rasa. Aku tak bisa melangkah berjalan, dimana Theo sedang bergandeng tangan dengan Dara.
"Theo... Kenapa... Aku padahal sudah percaya.... " kataku dengan tangisan yang keluar.
Sementara itu, beberapa saat kemudian ada seorang pembantu yang datang bilang jika Raffyn tengah menangis. Dengan bergegas aku naik ke atas, meskipun aku melihat Theo dengan Dara yang duduk berdua dengan romantis di ruang keluarga.
"Sial!" umpatku saat melewati mereka.
Tak berselang lama aku datang, melihat Raffyn yang sudah di gendong oleh salah satu pembantu.
"Terimakasih" kataku dengan nada lembut, dan mengambil Raffyn dari tangan pembantu itu.
"Maafkan saya nyonya, saya tak bisa banyak membantu" ucap pembantu itu dengan menundukkan badan rasa bersalah.
"Tak masalah... Kamu sudah menjaga baby Raffyn, aku sangat berterimakasih" ucapku mulai tersenyum dan memberi asi kepada Raffyn.
"Nyonya... Ada satu dua hal yang ingin sata bicarakan dengan anda"
"Katakanlah... "
"Tidak bisa, ini... Ini adalah titipan dari nyonya Teresa" kata pembantu itu, memberikan secarik kertas berisi nomor telepon.
"Saya harap anda kuat menghadapi semuanya... " katanya kembali sambil menunduk kemudian pergi.
Emelin sejujurnya bingung, nomor siapa itu. Tapi rasa penasaran nya harus pupus, karena dia tengah memberikan asi kepada Raffyn. Di sisi lain, Emelin mengingat saat dia akan ke atas. Melihat suaminya, tengah bersenang-senang dengan wanita yang lebih cantik dari dia.
"Sayang... Tak apa, kamu hanya perlu mama ya... Maaf sebelumnya, jika tak bisa membuat keluarga yang normal nantinya. Jujur mama takut, sangat takut... " ucap Emelin dengan tangisan yang keluar.
Lagi-lagi tangisan tak bisa Emelin bendung, hanya bisa meratapi nasibnya sendiri. Entah apa yang terjadi, hatinya benar-benar robek. Saat dia mulai percaya dengan Theo, justru di malah berselingkuh tak di belakang lagi tapi tepat di depannya.
Wajah Raffyn terus Emelin cium secara berulang-ulang. Ciuman kasih sayang, juga harapan. Dan ciuman yang membuatnya tegar, alasan dia masih harus bertahan.
Beberapa saat kemudian Emelin menghentikan ciumannya, terdengar perut yang lupa dia isi sebelumnya. Emelin hanya tersenyum kecut, mengingat dia harus menyusui tapi bahkan belum sarapannya apapun dari pagi.
Setelah meletakkan Raffyn kembali, seperti biasa Emelin mencoba untuk keluar. Mencari pembantu untuk menjaga Raffyn sebentar sedangkan dia bersiap untuk sarapan.
"Anda peluk sesuatu nyonya?" tanya pembantu yang tadi memberikan kertas padanya.
"Kamu... Kamu menunggu aku di luar sini?" tanya Emelin dengan wajah yang sudah mulai kelelahan.
Aku tersenyum simpul perlahan, melihat masih ada yang perhatian. Entah bagaimana, tapi aku benar-benar bersyukur akan hal itu.
"Baik... Aku ingin sarapan, bisakah jaga Raf-"
...BRUK...
Suara tubuhku yang tiba-tiba jatuh. Aku tak tau apa yang terjadi. Tiba-tiba aku tak bisa mendengar suara. Aku merasa sangat lelah, dan letih. Kepalaku sakit, dengan badanku tak bisa aku ajak berdiri.
Setengah kesadaranku, aku di bopong oleh seseorang untuk tidur di ranjang. Aku harap dia adalah Theo, tapi di sisi lain aku tak bisa melihat wajahnya.
...–––––SKIP–––––...
Aku mulai menerjapkan mata. Mengingat apa yang terjadi padaku. Aku melihat sekitar dengan seorang pelayan yang membopong Raffyn, juga seorang dokter yang berada di sebelahku.
"Syukurlah, dia tak apa" ucap dokter itu sembari tersenyum simpul padaku.
"A-"
"Emelin?" tanya seseorang dengan suara yang aku kenal.
"Dergaz... " jawabku panjang, mengingat aku lama tak bertemu dengan dia.
"Syukurlah kamu tak apa, kamu membuatku khawatir" ucapnya kembali sembari berdiri di samping pelayan itu.
Aku berpikir, hanya Theo yang tak ada di sini. Mungkin saja yang membopongku adalah Dergaz bukan Theo.
"Tuan... Mari kita bicara sebentar, untuk resepnya" ucap dokter tersebut membawa Dergaz keluar.
"Aku akan kembali" ucap Dergaz lalu mengikuti dokter itu keluar.
Beberapa saat kemudian, pelayan yang membopong Raffyn duduk di sebelahku. Dengan Raffyn yang sudah tampan, dan wangi seperti habis di mandikan.
"Saya yang melakukannya, saya pikir anda terlalu lelah hingga pingsan. Lihat, tuan Raffyn benar-benar tampan" ucapnya sambil memberikan Raffyn padaku.
"Terimakasih.... " kataku dengan nada yang masih perlahan.
"Nyonya... Anda pingsan karena terlalu lelah, kecapean, dan telat makan. Anda juga tak minum air putih dengan benar, maafkan saya atas kelalaian saya... " ucap pembantu itu kembali berdiri dan mulai menundukkan badan kembali.
"Aku yang seharusnya berterimakasih... Jika tak ada kalian, entah aku bisa sendiri atau tidak"
"Itu tugas saya"
"Ano... Dimana Theo?" tanyaku spontan melihat Theo yang tak segera datang.
"Tuan Theo sedang pergi berbelanja dengan nyonya Dara, apakah ada sesuatu?"
Ucapan pelayan tersebut membuatku tak percaya Antara aku harus terkejut, atau biasa saja karena Theo juga sudah mengatakannya. Tetap saja, semuanya itu membuatku tak bisa berpikir dengan tenang.
"Eh-! Nyonya! Anda kenapa... An-"
"Aku harus tetap bertahan.... Ah~ setidaknya Raffyn alasanku untuk tetap hidup bukan?" racauku saat terus menangis.
"Oke, aku akan mem- Emelin! Kamu tak apa?" tanya Dergaz yang tiba-tiba masuk entah darimana.
"Hey... Ada apa?" tanya Dergaz duduk di sebalahku"
"Aku... Sakit... Ini terlalu menyakitkan, aku takut Dergaz" kataku dengan tangisan yang terus keluar.
"Aku tau, entah apa yang Dara lakukan hingga membuat Theo seperti itu" istana Dergaz sama-sama dengan nada marah.
"Tapi tenang saja..... Semuanya pasti akan baik-baik saja" kata Dergaz kembali, mencium pipi Raffyn yang kembali tertidur.
"Dergaz, bolehkah aku pergi dari sini? Theo mengurungku karena aku seperti Dara kan? Dara sudah kembali jadi dia tak memperlukanku lagi" kataku dengan senyuman, dan tangisan yang di tahan.