A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Rencana Terbesar Theo



"Jangan meminta maaf, jika kamu tak melakukan kesalahan. Itu yang kamu ajarkan bukan?" ujar Darrel membuat Emeline sedikit terpana melihatnya.


Emeline tak sangka Darrel bakal mengatakan hal seperti itu dengan nada dinginnya. Seolah memaksa Emeline untuk mengakui apa kesalahannya.


"Darrel, aku minta maaf karena ucapan ku tadi," lanjut Emeline dengan duduk di sebelah Darrel.


"Ucapan yang mana?" tanya Darrel kembali.


Emeline sedikit membuka mulutnya, tak tau apa alasan dia selanjutnya. Tak mungkin dia bilang, jika dia tak peduli dengan anak di degannya ini.


Emeline menatap Theo yang tengah cekikikan melihatnya. Dengan menggunakan isyarat untuk membujuk Darrel.


"Kenapa aku? Kamu yang membuatnya merajuk," bisik Theo.


"Darrel, aku,"


"Tak perlu meminta maaf Nyonya Emeline, tak masalah. Aku sudah sering mendegar nya. Anda hanya perlu memberiku tempat yang nyaman, paman Theo akan urus sisanya," jelas Darrel panjang langsung pergi menghampiri Raffyn.


Antara bingung, juga kaget dengan semua yang di ucapkan oleh Darrel. Usia yang masih belia, saat Darrel mengatakan hal seperti itu. Belum lagi tatapan nya yang lebih kosong dan dingin dari sebelumnya, membuat Emeline diam tanpa kata.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Theo memeluk pinggang Emeline.


"Darrel, bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu?" tanya Emeline menunjuk Darrel yang sudah naik ke atas dengan Raffyn.


"Bukankah itu hal yang biasa, dia sering menjadi bahan pelampiasan orang tuanya, jadi saat kamu membuang Darrel dia merasa sudah terbiasa. Hanya dia kecewa dengan mu Emeline, dia rasa kamu berbeda," jelas Theo menatap Emeline.


Mendengar perkataan Theo membuat Emeline hanya diam. Tentu saja anak sekecil Darrel merasa kecewa, apalagi yang mengatakan hal seperti itu adalah Emeline. Sosok ibu pengganti bagi Darrel.


"Kamu tak perlu sedih, kamu hanya perlu mengajak Darrel maupun Raffyn pergi dari sini," lanjut Theo saat melihat Emeline hanya diam.


"Pergi?"


"Kemari," ujar Theo dengan membawa Emeline duduk. Beberapa saat kemudian dia menulis alamat di sebuah surat. "Kamu bersiap untuk nanti malam. Aku kirimkan kalian ke suatu tempat, dimana di sana akan lebih aman dari di sini Emeline."


"Kemana?"


"Ikuti itu saja, nanti akan ada anak buah ku menjemputmu."


"Bagaimana dengan Welmia? Dia pasti akan marah jika kita membawa Darrel juga."


"Jangan hiraukan dia, itu adalah urusanku sendiri."


"Bagaimana aku tak memikirkan-" ucapan Emeline belum selesai, Theo langsung menahan bibir Emeline dengan jarinya.


Tatapan sungguh juga, melihat raut wajah Theo yang serius membuat Emeline takut. "Bagaimana denganmu? Tak akan ikut dengan kami?"


"Aku harus membereskan rumah terlebih dahulu, baru menyusul kalian," jelas Theo sambil memeluk Emeline. "Aku tau kamu. Takut, aku juga, tapi setidaknya kamu akan aman di sana," lanjutnya.


Emeline bisa mendengar detak jantung Theo. Tangannya juga gemetar, menandakan jika Theo gugup sekarang.


"Kamu juga takut Theo?" tanya Emeline dengan membalas pelukan Theo.


Tak ada jawaban langsung, hanya eratan pelukan yang dia lakukan. Tak lama, beberapa kecupan mengarah di atas kepala Emeline.


'Aku takut, sungguh aku tak berbohong akan hal itu. Ini adalah rencana tersebar ku, bahkan jika aku gagal atau meninggal setidaknya kalian sudah aman,' batin Theo.


Dia tak bisa menjelaskan pada Emeline apa rencananya sekarang. Jika tidak, Emeline akan menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Theo. Pelukan rindu dari Theo, juga tak tau masa depan. Harapan untuk selalu bersama, tapi Theo juga tak bisa berbohong jika nantinya dia tak bisa melihat Emeline lagi kedepannya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Emeline membuka pembicaraan saat Theo benar-benar diam.


"Kamu berbeda, kamu tidak bekerja untuk Welmia 'kan, Theo?" tanya Emeline membuat Theo membulatkan mata.


"Itu bukanlah hal yang penting Emeline, sungguh tak penting," ujar Theo mengeratkan pelukannya. 'Mana mungkin aku bilang jika aku masuk dalam dunia yang kejam,' titah Theo batin dengan mengerutkan kening.


"Banyak hal yang kamu sembunyikan Theo, benar-benar tak berubah."


"Kapan aku bilang aku akan berubah?" ujar Theo dengan senyuman smrik.


Theo yang awalnya hanya berniat untuk memeluk Emeline malah sekarang berpikir lain. Dia menatap Emeline, lalu mulai mengecup keningnya.


Kecupan yang banyak, bahkan membuat Emeline harus menampikkan tangannya dan menahan wajah Theo.


"Ayolah Emeline berikan aku satu kecupan," paksa Theo.


Sesaat Theo akan berhasil mencium Emeline, tapi sayang tiba-tiba nampan untuk pelayan tiba-tiba menjadi batas di antara mereka.


"Paman Theo! Jangan memaksa untuk mencium mama seperti itu, lihat dia tak mau," ujar Raffyn dengan nada khas anak-anak.


Terlihat Raffyn naik meja dekat mereka, dengan Darrel yang sama tengah duduk menjaga Raffyn agar tidak terjatuh.


Lain hal dengan Emeline. Pipinya merah padam, dengan kekehan Theo membuat dia tambah malu.


"Anak kecil harusnya tak mengganggu perbincangan orang dewasa," jelas Theo dengan mengambil nampan itu dari tangan Raffyn.


"Om Theo! Pembicaraan apa, kalian bahkan tengah berciuman!" teriak Raffyn dengan memberontak pada Theo.


Tangannya dia silangkan, mengusir Theo yang ingin mencium wajahnya.


"Mungkin itu bukan berciuman. Berciuman di lakukan oleh dua orang, tapi ini terlihat hanya paman Theo yang menginginkannya," jelas Darrel di bawah sana.


"Ahahaha, astaga sudah-sudah kenapa kalian di sini tiba-tiba?" tanya Emeline membuka pembicaraan baru dengan membawa Darrel dan Raffyn turun dari meja.


"Sejak mama berpelukan dengan om Theo," ujar Raffyn menunjuk Theo.


Wajah Theo seolah tak peduli, bahkan dia memeluk pinggang Emeline menandakan kepemilikannya terhadap Emeline.


'Jadi mereka sudah di sini sejak lama,' batin Emeline, dengan tangan yang dia letakkan di dagunya.


"Dan katakan, kenapa kalian tak bersuara?" tanya Theo lantas menundukkan badan, lalu menatap mereka dengan tatapan tajam.


"Paman Theo, terlihat serius. Dan aku juga mendengar, jika kami akan pergi?" tanya Darrel dengan tatapan bingung juga penasaran.


"Om Theo! Aku tak mau pergi, sudah dari lama aku di sini," kata Raffyn.


Theo kemudian kembali ke posisi semula. Melihat ke arah Emeline, juga hal sama dengan Emeline menatap Theo balik.


"Paman Theo, ini yang namanya rencana terakhir?" tanya Darrel membuat semuanya melihat ke arah Darrel.


"Rencana terakhir? Apa maksudnya Darrel?" tanya Emeline langsung berjongkok di depan Darrel.


Rasa penasaran muncul langsung seketika dari Emeline. Benar dugaannya, jika Theo tengah merencanakan sesuatu. Sesuatu yang besar, bahkan dirinya sendiri tak tau.


Namun, Darrel langsung diam tak ada jawaban. Saat Theo memberikan kode dengan jari telunjuk nya yang dia letakkan di bibir nya.


"Mama, apakah kita benar akan pergi?"