A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Pasangan Yang Normal



Beberapa bulan terlah berlalu, semuanya sama saja tak ada yang berbeda. Hanya saja kehidupan layaknya sebuah pasangan. Aku sering memasakan sarapan untuk Theo, lalu menunggu Theo kembali. Beberapa kali aku menyiapkan bajunya, dan berhubungan layaknya sepasang pasangan.


Tapi masih saja ada yang mengganjal, aku ingin pulang. Andaikan Theo mengajakku pulang dan melamarku dengan benar mungkin kita sudah seperti pasangan pada umumnya.


"Aku pulang, tumben sekali kamu di kamar dan tak menyambutku" ucap Theo yang tiba-tiba masuk dan mulai memelukku dari belakang.


"Selamat datang kembali" ucapku sambil mengusap wajah Theo yang tengah berpangku di pundakku.


"Kamu diam hari ini, demam?" kata Theo dengan mengecek suhu badanku dengan tangannya.


"Tidak, aku hanya tengah berpikir sesuatu"


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Kamu menganggapku apa Theo?" tanyaku yang membuat Theo mendadak membulatkan matanya.


Theo seketika langsung membalik badanku, menatapku dalam dan mulai sedikit membuka bibirnya.


"Apa yang kamu tanyakan?" tanya Theo tak percaya.


"Apakah masih belum jelas? Kamu menganggapku apa Theo.... " ucapku dengan mata samar kemerahan.


Beberapa saat kemudian aku mulai menangis, dimana aku merasakan seperti seorang penghibur malam. Aku mendapatkan segalanya, tapi tak di akui bahwa Theo dan aku telah menjadi satu sama lain. Tak ada ikatan yang saling mengikat, perjanjian Theo tak akan melakukan hubungan dengan wanita lain. Mungkin Theo bisa melakukannya denganku, lalu bagaimana denganku di saat aku tak bisa melakukan itu.


"Emelin! Katakan sesuatu! Apakah aku melakukan kesalahan?"


"Tidak... Theo kamu menganggap aku apa?"


"Kamu adalah pasanganku, sungguh kenapa bahkan tanpa harus bertanya kamu harusnya sudah tau itu kan?"


"Tidak.... Theo, mari pulang dan bilang ke mama jika kamu ingin menjadikanku pasangan. Aku seperti wanita malam, aku tak ingin di anggap sebagai penghibur melakukan hubungan tanpa adanya ikatan. Ayo, ajak aku pulang.... Aku tak akan lari dan kamu sudah tau itu pasti.... " rintihku mencoba untuk membujuk Theo.


Tapi sepertinya nihil. Tak ada jawaban dari Theo, hanya tatapan dalam. Beberapa saat kemudian Theo mulai memelukku kuat, sesekali mengecup kepalaku perlahan.


"Kita sudah ada ikatan bukan? Jangan pernah berpikir jika kamu adalah wanita malam. Kamu hanya berhubungan denganku, bahkan sejak awal" ucap Theo berusaha untuk menenangkan diriku.


"Ikatan macam apa? Keluarga kita bahkan tak ada yang tau jika kita sering melakukan hubungan se-"


"Aku tak memiliki keluarga, begitu juga dengan kamu Emelin. Keluarga kamu itu palsu, tak perlu ada yang tau. Hanya kita berdua, saling mengakui itu cukup bagiku" kata Theo semakin mengeratkan pelukannya.


Aku merasakan degup jantung Theo yang memburu kencang. Dia sedang cemas atau marah sekarang, tapi dia berusaha berbicara dengan benar. Apakah perasaan ini dia tahan?


"Theo... Aku berpikir kita tidak seperti pasangan yang normal" kataku memeluk Theo, berusaha untuk menjelaskan apa yang aku maksud.


"Apa? Kita adalah pasangan normal. Tapi memang benar Emelin, aku tak bisa banyak mengajakmu keluar karena aku takut kamu akan di bawa oleh seseorang" kata Theo sama halnya melakukan apa yang aku lakukan.


Aku dan Theo sama-sama tengah menjelaskan sesuatu yang kami tak paham satu sama lain. Apakah Theo masih tak percaya jika aku akan kabur darinya.


"Theo... Apakah kamu berpikir jika aku akan kabur me-"


"Baiklah! Kamu ingin kita seperti pasangan normal bukan? Aku tau apa yang mereka miliki tapi tidak" sergah Theo cepat membuatku sedikit terkejut.


Aku sedikit menghela nafas, dan kemudian tersenyum simpul. Akhirnya Theo paham, setidaknya jika kami terkenal masalah untuk meminta izin dengan mamaku aku tak akan meninggalkan Theo.


"Baik... Kapan kita akan melakukanya?" tanyaku dengan nada gembira.


"Sekarang.... " kata Theo dengan semangatnya.


Aku mengerutkan keningku, sekarang bukankah sungguh terlalu mendadak. Tapi tak masalah, lebih cepat meminta izin ke mama lebih baik untuk hubungan kami kedepannya.


...BRUK...


Suara badanku yang tiba-tiba di tindih oleh Theo di atas kasur.


"Theo apa yang kamu lakukan! Aku akan bersiap, kamu bilang akan melakukannya sekarang"


"Bersiap untuk apa?"


"Meminta izin orang tuaku, khususnya mama. Itulah yang aku pikirkan"


Theo menatapku sesaat, kemudian langsung terkekeh pelan.


"Bukan itu yang aku pikirkan... " ucap Theo langsung masuk ke dalam bajuku dan mulai meremas dadaku


"Theo apa yang ka-" aku tak bisa melanjutkan ucapanku, saat Theo tiba-tiba membuka bajuku dan mulai memainkan dadaku dengan mulutnya.


"Menjadi pasangan normal adalah memiliki keturunan. Aku tak memikirkan ini sebelumnya, tapi saat kamu memintanya aku baru ingat" kata Theo mulai memainkannya dengan cepat.


"Theo bukan itu yang aku Maksh... " ucapanku kembali terhenti, saat tangan Theo menjamah bagian bawah.


"Apa? Ini sudah basah ya? Aku akan melakukannya" kata Theo dengan melepaskan pakaian dalam milikku.


"Aku tak masalah, kamu ingin berapa aku akan melakukannya... Bahkan kita sering melakukannya, tapi aku belum pernah keluar di dalam sini" ucap Theo dengan memindahkan kepalanya berada tepat di vital milikku.


Dengan perasaan yang karuan, aku merasakan bibir dan lidah Theo mulai menjamah bagian bawah sana. Sesekali terdengar suara yang membuat perasaanku menjadi semakin aneh.


"Theo... Hentikan aku sedang tak ingin berhubungan sekarang" kataku masih mencoba untuk menyingkirkan kepala Theo dari bawah sana.


"Bagaimana.... Bagaimana aku bisa menghentikannya, jika kamu terlihat keenakan. Lihat, sangat berantakan dan basah... Aku... Aku juta ingin memasukinya" racau Theo dengan cepat menarik rok yang tengah aku gunakan.


Beberapa saat kemudian Theo membuka celananya, lalu melonggarkan dasi miliknya. Teringat kembali Theo baru saja pulang dari kantornya, sehingga membuat Theo masih memakai setelan jas rapi.


"Theo... Henti... Hentikan.... " kataku saat sesuatu mulai menusuk bagian bawah sana.


"Tidak... Maaf Emelin sudah terlambat. Lihat, ini melahapnya dengan cepat padahal aku hanya menempatkannya di pintu masuknya" kata Theo mulai memasukkan miliknya.


"Emelin... Aku... Aku mencintaimu... " racau Theo seraya memasukan perlahan miliknya yang belum masuk sepenuhnya.


"Kenapa... Masih sempit? Harusnya sudah terbiasa, apalagi sudah sangat basah... " lanjut Theo dengan menggerakkan badannya.


"Theo... Bukan ini yang aku inginkan.... " kataku masih menahan Theo, dan sedikit rasa perih di bawah.


"Tak peduli, aku tak bisa menahannya"


Aku terus menadahkan kepala ku ke atas, dimana aku mulai terbawa dengan permainan Theo. Permainan yang cepat, dan seperti biasa.


"Tatap... Tatap aku Emelin.... Lihat ke arahku" ucap Theo kembali sambil menahan kepala ku, dan mulai mencium bibirku.


Aku tak tau, aku tak bisa berkata apapun. Theo benar-benar menguasai permainan, membuat aku hanyut dan tak bisa mengatakan apapun.


"Sial! Aku... Aku tak bisa berhenti Emelin... Aku... Aku akan keluar" kata Theo kembali semakin mempercepat gerakan pinggulnya.


"Tak... Tak apa kan, aku... Aku akan mengeluarkan di dalam. Aku sudah lama menunggu ini... Emelin... Aku... Aku mencintaimu.... " racau Theo dengan erangan panjang di akhirnya.


Aku merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan. Rasanya hangat di bagian perut, menjalar ke seluruh bagian bawah mulikku.


Setelah itu Theo terus melakukannya, tak hanya satu dua kali tapi berulang kali. Tapi kali ini Theo tak menggunakan pengaman, ataupun memberikanku obat untuk mencegah kehamilan. Sebuah hubungan pasangan normal, sungguh ini yang di harapkan oleh Theo.