
Theo mempercayai jika Emeline adalah salah satu pengkhianat yang menyamar. Dia sengaja mendekati Rara, agar bisa dekat dengan Dave juga. Beberapa waktu ini data Dave dan Theo sering kali hilang, bahkan saat awal pertemuannya dengan Emeline.
Rencana awal saat dia menabrakkan mobilnya pada mobil Emeline itu karena sengaja. Berharap dia langsung mati di tempat, tapi siapa sangka dia membawa Rara yang butuh pertolongan juga.
"Alasan yang logis? Bagaimana jika tidak? Kamu akan membunuh ku, Theo?" Pertanyaan yang di layangkan Emeline dengan senyum kecut seperti menantang.
"Kamu sebenarnya mata-mata bukan? Kamu sengaja mendekati Rara karena ingin mendapatkan informasi tentang or-"
"PERNYATAAN MACAM APA ITU!!" Teriak menyela ucapan Theo. "Jika kamu tak tau, jangan asal menuduh seperti itu!" Lanjutnya.
"PERSETAN! Aku sudah terlalu baik rupanya!" Bentakan Theo sembari pukulan tepat di pipi Emeline.
Lantas Emeline yang semula terduduk langsung terjatuh. Dia tak menyangka Theo akan melayangkan pukulan sekuat itu.
"Seorang laki-laki tak akan pernah memukuli wanita," gumam Emeline seketika membuat Theo bungkam.
Ada sesuatu di pikirannya yang mencoba untuk keluar. Sebuah ungkapan yang membuat dia teringat akan wanita yang selalu ada di mimpinya.
"Dari mana... Dari mana kamu tau kalimat itu!" Teriak Theo sembari menarik rambut Emeline.
"Apakah itu penting? Wanita tak ada harga dirinya bagi mu kan? Apakah itu penting?" Tanya Emeline dengan senyuman pasrah tapi juga ejekan.
"Diamlah! Lama-kelamaan aku muak padamu!" Teriak Theo lagi Bebe kali memukul wajah Emeline.
"Theo, bunuh aku," rintih Emeline pada Theo.
Theo seketika diam, dia malah memalingkan wajahnya lalu pergi seperti tanpa perasaan bersalah. Dalam ruangan itu, dingin hanya itu yang Emeline rasa. Sebuah perasaan patah hati bisa di bilang, apalagi dengan ini membuat Emeline benar-benar kehilangan kepercayaan nya pada Theo.
"Dulunya hangat sekali, sekarang kasar sekali. Wajah yang sama, orang yang sama, tapi sikap yang berbeda. Theo? Benarkah ini janji mu untuk datang menjemput ku? Sebagai apa? Suami atau malaikat maut," titah Emeline dengan kesadaran yang semakin pudar.
Lain hal dengan Emeline yang sudah tak ada keinginan untuk hidup. Darrel dan Raffyn tengah merencanakan bagaimana dia membawa ibu mereka kembali.
"Anda adalah kolega Tuan Waise kan? Kenapa tak tau?" Tanya Darrel pada Dave saat mereka ada di rumah sakit.
"Itu bukan mansion keluarga Waise, tapi milik Theo sendiri. Dia memang brutal, jika urusan organisasi bahkan dia melakukan semuanya demi mendapatkan informasi," jelas Dave yang masih duduk di ranjang rumah sakit.
Dave memang sudah sadar beberapa waktu lalu. Pagi ini Darrel dan Raffyn tak ingin pergi ke sekolah, meskipun Eslen sudah memaksa mereka. Darrel dan Raffyn malah membuat perjanjian, jika mereka akan bilang siapa mereka yang sebenarnya, jika Dave juga mau bekerjasama untuk menyelamatkan Emeline.
"Gak guna," umpat Raffyn masih dengan tab nya.
"Jadi? Kalian adalah anak dari Theo Waise?" Tanya Eslen masih ragu dan penasaran.
"Kenapa kalian bisa berpisah? Dan Theo? Kenapa dia malah datang dengan identitas berbeda?" Tanya Dave.
"Kami tak tau, tapi papa ada satu janji dia akan kembali menjemput kami. Itu saja, alasan kami berpisah karena itu adalah masalah pribadi," jawab Raffyn.
"Kenapa kamu tak bilang? Itu adalah ulah kedua orang tua ku," balas Darrel. "Intinya yang membuat keluarga kami berpisah karena paman Theo menyelamatkan aku dari orang tuaku sendiri. Mereka hampir saja membunuh ku, tanpa di sadari itu malah membuat masalah bagi paman Theo sendiri. Kami tak tau bagaimana dia bisa hilang ingatan, tapi yang pasti paman Theo yang sekarang bukan datang untuk melindungi tapi menyakiti," jelas Darrel kembali.
Dave hanya mengangguk paham. Sepertinya ada beberapa hal yang membuat Darrel juga Raffyn terlihat berbeda. Mereka dewasa karena tumbuh di keluarga orang gila, mungkin bisa di bilang seperti itu. Apalagi saat Darrel menjelaskan Semuanya dengan sangat lancar, membuat Dave sangat percaya mereka tak berbohong.
Begitu pula dengan alasan kenapa pas di awal Theo dan Emeline saling menatap satu sama lain. Memang Theo hilang ingatan, tapi mungkin dia tak bisa melupakan sosok Emeline. Sebuah perasaan yang datang membuat Theo Penasaran pada Emeline dan menculiknya. Akan tetapi dari sepengatahuan Dave tentang Theo, dia tak akan menggunakan cara yang biasa saja untuk mengintrogasi Emeline.
"Tuan Dave, kami awalnya ingin menyembunyikan ini. Hidup kami sebelumnya hanya mengandalkan satu sama lain."
"Tapi Anda juga pembawa Malasah, andaikan Anda tak datang saat itu mama tak akan bertemu dengan papa Theo, dan kami masih hidup dengan tenang bersama cafe dan juga toko bunga," lanjut Raffyn dari ungkapan Darrel.
"Aku tak tau, andaikan aku tau aku tak akan ikut campur masalah kalian," jelas Dave dengan usapan tangan di pelipisnya.
"Dengan membawa Rara dan alat penyadap nya?" Tanya Darrel menampilkan wajah smriknya.
Lantas Eslen kita Dave terkejut seketika. Mereka sudah menyembunyikan alat penyadap itu dengan sangat baik, mana mungkin bisa ketauan oleh dua bocah ini. Wajah terkejut sangat nampak di keduanya, membuat Raffyn juga ikut tersenyum.
"Anda pikir kami tak tau awal rencana Anda Tuan Dave? Anda mungkin bisa mengelabui mama Emeline, tapi tidak dengan kami," jawaban tak terduga dari Raffyn.
Bukan terkejut lagi, Dave malah tertawa. Tawa yang seolah mengejek, lalu menghela napas dalam. "Jadi apa? Kalian tau tapi tetap diam?" Tanya Dave seperti menantang.
"Karena Anda bisa kami manfaatkan," jawab Darrel.
Pembicaraan yang tak bisa di mengerti oleh Dave. Anak-anak yang istimewa karena sebuah kekacauan keluarga. Jika dia bisa membuat Darrel dan Raffyn di pihaknya, pasti akan sangat mudah untuk mengajari mereka.
"Jika aku membantu kalian? Apa yang akan aku dapat?" Tanya Dave memulai negosiasi nya.
"Tuan? Anda tak bermaksud un-" ucapan Eslen tak dia lanjutkan, saat Dave memberikan kode untuk diam.
"Jadi? Apa untungnya bagi ku?" Tanya Dave kembali pada Raffyn juga Darrel.
Darrel dan Raffyn lantas menatap satu sama lain. Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju, seperti sebuah rencana yang sudah di tata tapi sebelumnya.
"Mempunyai dua anak jenius seperti kami adalah berkah yang tak bisa di ungkap lagi Tuan Dave. Saya pandai bertarung, dan Raffyn pandai dalam hacker, kami adalah background yang kuat Anda pasti berpikir demikian juga, benar kan Tuan Dave?"