A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Pertemuan Raffyn Dan Darrel



Aku hanya terdiam saat Theo selalu melakukan apapun yang dia suka. Beberapa saat kemudian aku merasakan sesat, tapi aku tak bisa melakukan apapun. Sesaat aku mulai berpikir aneh, dimana aku melihat ke bawah milik Theo.


"Sialan! Rasakan itu!" teriak ku sesaat setelah menendangnya.


Lantas aku berlari ke arah ranjang, dimana Theo juga mendekat. Aku mengambil lampu kamar, dan menayangkannya pada Theo.


Theo seketika terdiam, begitu juga dengan ku. Darah mulai mengalir dari pelipis Theo, tanpa ucapan apapun dia mengusapnya. "Kamu sekarang sudah mulai kasar, Emeline," ujarnya dengan menatapku kosong.


"Kamu yang membuatku seperti ini Theo! Kamu yang membuatku seperti ini, harus berapa kali aku bilang! Tak bisakah kamu membuatku tenang!!" teriak ku lantas membuat Theo tersentak.


"Apa maksudmu! Jangan membentak seolah kamu tau semua!!" balas Theo dengan teriakan yang sama.


"Pem-" ucapanku belum selesai, tapi lagi-lagi mulutku di tutup kuat oleh Theo.


Nafas memburu dari Theo tepat di tengkuk ku. Perlahan salah satu tangan Theo mengambil lampu kamar yang ada di tanganku.


"Aku memang bukan orang baik, tapi bukan berarti kamu juga seperti aku Emeline. Banyak yang belum kamu ketahui, bisakah kita memulai kembali semua? Saat semuanya sudah baik-baik saja," ujar Theo.


Aku terdiam melihat Theo yang membalik badannya, lalu pergi begitu saja. Kaki ku tiba-tiba lemas, dengan suara tangisan yang aku tahan selepasnya.


'Harus berapa banyak, kumohon Theo harus berapa banyak.... ' rintih ku dalam batin.


Tak ada ucapan apapun lagi, hanya pikiran jika di rumah Bi Teresa sekarang sudah tak aman. Aku harus membawa Raffyn pergi, apapun yang terjadi.


Keesokan harinya aku mulai berkemas, dengan wajah Bi Teresa yang kebingungan tak tau bilang apa. "Nyonya, Anda tak mungkin serius dengan rencana Anda?!" tanya nya.


"Bi, bagaimanapun juga saya harus mandiri. Gak boleh apa-apa di kasih, ataupun selalu dengan Bi Teresa. Lagipula aku sudah ada kerja sekarang, meski gajinya tak seberapa aku yakin bisa!" jawabku dengan penuh semangat.


Memang, kerja yang fleksibel aku bisa mengerjakannya dimana saja. Sebagai penulis, aku memang bukanlah penulis terkenal, tapi setidaknya aku bisa menghidupi diriku juga Raffyn. Dengan pengolahan keuangan yang baik, mungkin aku juga bisa membuka toko selanjutnya.


"Aku harus mandiri kan bi Teresa? Aku ingin semuanya menjadi baik-baik saja. Melihat Theo kemarin seperti itu lagi, aku tak ingin di dekatnya."


"Apakah kamu ingin menyerah sayang?" pertanyaan dari Bi Teresa membuatku terdiam sesaat.


Aku menatapnya kuat, aku ingat jika aku ingin bertahan di sini. Dengan perilaku Theo, karena ingin menciptakan keluarga yang normal bagi Raffyn. Namun, di pikir kembali bersama Theo Raffyn juga belum tentu akan mendapatkan perilaku yang baik.


"Aku bukan menyerah Bi Teresa, tapi aku memilih apa jalan yang terbaik kedepannya. Aku tau menjadi single parents tidaklah mudah, tapi Bi Teresa itu lebih baik daripada Raffyn harus melihat hal kasar seperti ini sejak kecil," jelas ku.


Aku mulai duduk di taksi, dimana terlihat Bi Teresa masih meyakinkan ku untuk tidak pergi. Tapi keputusan ku sudah bulat, selama aku masih dalam lingkaran Theo, dia akan selamanya menghantui ku. Melihat Raffyn yang tertidur pulas, membuatku merasa tenang.


"Ya, semuanya akan baik-baik saja. Hanya kamu dan mama, itu cukup untuk berusaha satu dengan yang lainya," kataku pada Raffyn.


...–––––SKIP–––––...


Lima tahun telah berlalu, semuanya terjadi seperti yang aku rencakan. Memang terlalu mudah, aku bahkan tak menyangkanya.


Novel yang aku tulis mendapatkan kontrak dengan bayaran yang memuaskan. Toko bunga, dengan teh bunga juga sudah aku buka dengan beberapa pegawainya. Tentu saja, dengan Raffyn yang menambah baik.


Akan tetapi, ada satu hal yang aku khawatirkan. Sikap Raffyn tak seperti anak pada umurnya, dimana hanya bermain ataupun meminta sesuatu. Raffyn justru malah menciptakan karya, animasi, dan kemampuan dalam IT.


"Raffyn? Sarapan dulu sayang, ingat hari ini adalah hari pertama kamu masuk sekolah," kataku dengan mengusap kepala Raffyn yang masih terfokus pada layar komputer.


"Heem, mama? Mama pikir ini adalah sekolah yang bagus? Bukankah ini terlalu mahal?" tanya Raffyn.


'Anak ini bisa tau dari mana,' batin ku saat melihat Raffyn berbicara seperti orang dewasa. "Tak apa sayang, lebih bagus jika kamu masuk ke sana."


"Ini adalah sekolah internasional mama, aku bisa masuk sekolah biasa saja," katanya dengan menunjuk layar komputer.


"Benar, tapi sekolah biasa tak menjamin kamu akan paham. Kita bukan orang asli akan sulit bagimu jika kamu masuk sekolah biasa sayang."


"Aku bisa, mama tak perlu bekerja. Aku bisa melakukan semuanya, animasi, hack, itu adalah pekerjaan yang mudah dengan bayaran yang mahal. Mama tak perlu lagi lembur atau bagaimana, aku juga tak perlu sekolah mama hanya perlu du-" penjelasan Raffyn panjang aku sergah dengan tangan.


Mataku mulai berbinar, saat mendengarkan Raffyn berbicara hal sepele itu. Usianya bukanlah usia untuk memikirkan pekerjaan, dan bagaimana mendapatkan uang, tapi bagaimana untuk manja dan bersenang-senang.


"Bisakah mama bilang ini kesalahan mama sayang? Usia mu untuk meminta eskrim dan mulai bermain, jangan buang masa muda mu sayang.... Jadilah anak yang manja, seperti anak pada umumnya," ujar ku dengan memeluk kepala Raffyn.


Raffyn hanya terdiam, beberapa saat kemudian dia lantas memeluk ku balik. "Tak ada, tak ada yang salah mama. Kita hidup untuk satu dengan lainya, aku sayang mama," ujar nya.


Beberapa saat kemudian kami sampai di depan sekolah internasional, tempat dimana Raffyn akan mulai bersekolah sekarang. "He? Siapa ini yang datang di sini?"


Ujar seseorang di hadapanku. Rasanya aku kenal suara itu, benar suara yang membuat hidupku berantakan di saat semuanya mulai berjalan sempurna. "Welmia.... "


Benar, siapa yang tak tau dengan perempuan licik itu. "Beruntung sekali kita bertemu lagi, Welmia.... " titah ku dengan berjalan melewatinya untuk masuk ke sekolah tersebut.


"Kamu adalah wanita buangan! Dengan anak haram itu, darimana kamu dapat uang yang banyak bahkan berani untuk masuk sekolah elite seperti ini!" teriak Welmia seketika membuat ku diam mematung.


Di sisi lain, Raffyn nampak begitu terkejut. Aku tau Raffyn adalah anak yang pintar, tentu saja dia akan paham apa yang Welmia katakan.


"Apakah attitude hanya sebatas sini Nyonya Welmia? Bahkan kamu mengatakan hal yang tak pantas di dengar oleh anak-anak," kataku dengan menutup telinga Raffyn.


Welmia menyeritkan salah satu alisnya, dengan seringai merasa tak puas dengan apa yang aku katakan. "Anak? Hah? Apakah anak yang di lahirkan tanpa status bisa di perlakuan seperti yang lainya?"


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...–––AUTHOR–––...


HAI!! SEMUANYA.... Rasanya lama banget author gak up, karena masalah kesehatan. tapi sekarang author sudah sehat, dukung terus author dengan like setiap babnya. oke mina SEE YOU NEXT PART


(✿❛◡❛)