
Perbincangan ini semakin dalam, saat Theo dan Dave sama-sama tak ingin mengalah dengan sanggahan mereka.
"Sejak kapan kamu peduli dengan pengasuh Rara!'
"Sudah aku bilang dia bukan pengasuh! Dia adalah pasangan ku!"
"Sejak kapan kamu memiliki hati untuk itu? Bukankah menyenangkan hanya berhubungan?" Sebuah pertanyaan di selingi dengan senyuman mengejek dari Theo. "Apakah kamu merasakan sudah menemukan seorang yang dapat memuaskan mu Dave? Jangan demi seorang penghibur kamu melakukan semua ini," lanjut Theo.
Lantas Dave langsung marah, apalagi saat Theo mengatakan hal seperti itu. "Kenapa? Kamu tak rela jika aku tau sebenarnya Emeline itu mantan istri kamu sebelumnya?"
Ucapan itu malah berbalik membuat Theo diam. Dia tak menyangka jika Dave mengetahui masa lalu dia, bahkan di saat dia baru tau tentang Emeline.
"Kenapa kamu diam? Kamu terkejut kan?" Jawab Dave justru berbalik tersenyum pada Theo.
Wajah Theo marah, tangannya dia kepal kuat, dan rahangnya mengeras. Entah apa yang ada di pikiran Dave sekarang, seolah membuat Theo bungkam.
Rencana awal memang Theo hanya ingin membuat Emeline berbicara apa maksud dia kenapa mendekati Dave. Akan tetapi, Theo tidak menyangka jika ada masa lalu yang sangat penting yang dia lupakan.
"Apakah ini ajang balas dendam Dave? Jika kamu tau kenapa kamu tetap ingin bersama Emeline? Kamu tau jika Emeline itu mantan istri ku, dan dia memiliki putra kan? Harusnya aku juga di beri kesempatan untuk kembali dengan mereka," jelas Theo dengan nada perlahan karena tak ingin menambah keributan di sana.
Dave hanya bisa menampakkan wajah senyuman mengejeknya. Apalagi apa yang dia katakan, coba untuk Theo elak. Entah apa yang terjadi di sana, membuat Dave lantas beranjak dari tempat duduknya.
"Anda harus tegas Tuan Draike, saya cukup kecewa di sini. Sudah lama kamu meninggalkan Emeline bukan? Bukan salah ku jika sekarang dia memilih orang lain," ujar Dave lantas pergi dari ruangan itu. "Eslen, urus sisanya," lanjut Dave.
Setelah itu Dave langsung pergi dari tempat dewan besar. Rasanya dia ingin pergi dari sebuah organisasi yang kejam itu. Sayang dia sudah terlalu lama masuk. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang hacking dan juga teknologi. Organisasi yang paling di incar dan di cari, bahkan pemerintah benar-benar mengangguk organisasi itu ada kelompok yang berbahaya.
Kelompok YGRESIL. Di ambil dari nama mitologi Nordik, sebuah pohon kehidupan yang menopang segala jenis kehidupan di sana. Organisasi ini termasuk dalam organisasi independen, beberapa kali pemerintah menyewa mereka tapi beberapa kali mereka di waspadai oleh pemerintah.
Sampainya di rumah, beberapa orang menyambut Dave. Lantas dia memberikan mantelnya, "Dimana Emeline?" Pertanyaan yang keluar dari Dave, sesaat setelah dia sampai rumah.
"Nyonya ada di lantas atas, dia tak ingin turun katanya tak mau merepotkan," jawab seorang pelayan.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Dave langsung naik ke lantai dua. Tepat di kamarnya, terlihat seorang perempuan yang berbeda dari sebelumnya. Itu adalah Emeline, dengan buku novel yang ada di tangannya. Di dampingi dengan teh hangat yang terlihat di meja depan Emeline duduk.
"Emeline..." Panggil Dave sesaat langsung memeluk Emeline dari belakang.
Lantas Dave langsung mencium dahi Emeline, dan pipi juga lehernya.
"Dave? Kamu dari datang? Darimana saja?" Tanya Emeline.
Dave memang tidak mengatakan pekerjaan lainya. Selain memiliki perusahaan di bidang properti dan elektronik, tapi juga di organisasi yang selama ini di cari. Sebuah rahasia yang Dave sembunyikan, berharap Emeline tak akan lari saat dia tahu jika pasangannya itu adalah seorang yang terbiasa dengan pekerjaan kasar.
"HM? Aku tengah ada beberapa urusan, salah satunya dengan mantan suami mu itu," jawab Dave duduk di depan emw6, sembari mencium tangannya.
"Maaf, aku banyak membawa masalah ini, terutama bagi keluarga Anda Tuan Dave," jelas Emeline dengan tundukan kepala.
Tentu saja Emeline merasa tak enak dengan Dave. Dia yang semula tak kenal, lalu tanpa sengaja membantu, dan membuat perjanjian demi Rara. Sekarang malah dia yang bergantung pada Dave. Tak ada yang bisa dia lakukan, bahkan saat mendengar kabar jika Rara tertembak karena menyelamatkan Darrel itu membuat Emeline merasa bersalah.
"Maaf, bisakah beri saya waktu?" Tanya Emeline masih meragukan perasaannya sendiri. Sudah lama dia lepas dari belenggu Theo, tak ingin masa lalunya teringat kembali. Apalagi saat Dave juga memiliki sikap seperti Theo, di awal pertemuan mereka.
"AATak masalah. Untuk itu, sekarang kamu harus minum obat, dan cepat sembuh," kata Dave mencoba untuk mengganti topik.
"Aku sudah Minun obat Dave, kamu ingin membunuh ku atau bagaimana?"
"Tidak."
Mereka berbincang lama, seperti seorang pasangan yang sudah menikah. Rasa hangat kembali tercipta dari Emeline. Tak menyangka orang yang dia tolak mentah-mentah awalnya, kini yang membuat dia nyaman bahkan bisa Emeline andalkan.
"Aku belum pernah mengunjungi Rara, bagaimana keadaannya?"
"Dia? Dia selalu menanyakan kapan kamu akan datang, jadi apa? Dia sangat merindukan mu Emeline."
"Ya, aku merasa tak enak saat aku tak bisa melihatnya."
"Tak masalah, dia juga paham. Aku pikir lama kelamaan dia akan menjadi putri Emeline, bukan putri dari Dave. Lihat saja, dia lebih mendengarkan kamu daripada aku," gerutu Dave sembari menuang teh pada cangkir miliknya.
"Kamu terlalu kasar, anak-anak tak suka orang kasar khususnya perempuan," jawab Emeline mengusap wajah Dave.
Wajah yang belum pernah Emeline perhatikan sebelumnya. Sekarang, bahkan rambut yang menutupi wajah Dave, akan coba Emeline singkirkan. Dia ingin melihat dengan jelas wajah Dave, siapa dirinya dan juga bentuk wajahnya. Mengingat jelas, hingga saat dia sudah pergi jauh dia akan tetap ingat siapa yang telah mengisi hatinya kembali.
"Dave?"
"HM? Kenapa?" Jawab Dave singkat karena dia tengah minum teh, dan makan beberapa camilan yang ada di meja.
"Kenapa tak langsung melaporkan Theo saja? Bukan apa-apa tapi aku merasa tak aman saat dia masih bisa berkeliaran. Khususnya aku memikirkan Raffyn juga Darrel," jelas Emeline.
Dave hanya menganggukkan kepalanya, lantas dia mengunyah cookies yang masih tersisa di mulutnya. "Aku tak bisa, karena ada sebuah perjanjian membuat ku tak bisa langsung melaporkan seorang dalam perjanjian itu," jelas Dave.
"Perjanjian? Apakah ikatannya sangat kuat?" Tanya Emeline penasaran.
"Ya, bahkan aku tak bisa asal keluar. Tapi tenanglah, dalam perjanjian juga di setujui jika para anggota tak boleh saling menyakiti anggota keluarga yang lainya."
"Dave, kamu benar itu adalah tempat yang aman?"
"Tentu saja aku bertahun-tahun ada di sana."
"Jadi apa yang kamu maksud?"
"Orga-"
"Tuan Dave!"