A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Perencanaan Untuk Kabur



Setelah sarapan yang penuh dengan kejadian aneh, aku hanya terduduk kaku di kamarku. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Hanya saja Ini membuatku geram.


"Nona Emeline? Apa yang anda pikirkan? Ingin teh sedikit? Saya dengar melalamun tak baik di lakukan, jika ada sesuatu katakanlah" ucap Teresia membuyarkan lamunanku.


"Bi Teresia, aku ingin pulang" jawabku tanpa basa basi.


Wajah tenang dan gembira dari Teresia, berubah seketika. Dia mulai menekuk bibirnya, dan menaikkan salah satu alisnya.


"Kenapa anda selalu mengatakan hal seperti itu?" tanya Teresia merasa tak suka.


"kamu yang menawarkannya dulu bi Teresia" kataku membalas perkataan bi Teresia.


"Nona Emeline, saya hanya mengingatkan ini tapi lebih baik anda tak membicarakan hal tersebut dengan tuan Theo" ucap Teresia dengan wajah yang cukup serius.


"Tak bisakah anda lihat? Tuan Theo bukan hanya berhubungan dengan anda dan mereka semua berhasil sama. Tapi, tuan Theo mempertahankan anda, bahkan mengirim anda ke rumah saya. Tak bisakah anda lihat? Jika tuan Theo menyayangi anda?" lanjut bi Teresia mencoba untuk menjelaskan.


Aku diam, menatap bi Teresia. Tak ada kata yang aku ucapkan, menatap bi Teresia ingin mempercayainya tapi melihat kelakuan Theo aku sedikit ragu untuk itu.


"Bi Teresia, bagaimana aku akan mempercayai itu? Apakah bi Teresia tak melihat kelakuan Theo tadi? Itu menakutkan!" kataku dengan nada yang sedikit meninggi.


"Dia menyayangimu dengan cara yang berbeda"


"Dia psychopath gila!" selaku cepat membuat bi Teresia langsung terkejut dan membulatkan mata.


"Tak bisakah? Bagaimana bisa anda berbicara seperti itu? Psychopath juga... Manusia kan? Mereka juga punya perasaan untuk memiliki hak untuk menyukai seseorang" jelas bi Teresia.


Aku terdiam kembali. Memang, jika masalah perasaan semua orang berhak atas hal itu, tak terlebih lagi seorang psychopath seperti Theo. Taoh aku juga sayang terhadap diriku sendiri. Saat Theo selalu memukul dan berperilaku kasar, aku juga tak ingin bersama dia.


"Pikirkanlah nona, bukankah tak adil semua orang di ciptakan dengan perasaan termasuk tuan. Sayangnya masa lalunya saja yang membuat dia ketakutan untuk kehilangan orang yang membuatnya nyaman" titah Teresia, sebelum beranjak pergi.


Aku merasa buruk sekarang, dimana aku seperti orang jahat. Theo Walcott, memang dia tampan, kaya, mapan. Seorang bisa beranggapan bahwa dia adalah suami yang sempurna. Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa yang membuat Theo seperti itu.


"Akh! Kenapa aku justru memikirkan dia sekarang?! Tak masalah yang harus aku lakukan sekarang adalah bagaimana aku keluar dari sini" Ucapku frustasi, sambil kembali menatap keluar jendela.


Inilah yang aku pikirkan sekarang. Tadi Dergaz dengan Theo naik kesini menggukan mobil. Dengan mengikuti jalan itu, jalan yang di lewati oleh Theo mungkin aku bisa kembali ke jalan utama dan pergi untuk meminta bantuan.


Di lihat tak ada penjagaan, jadi aku pasti akan mudah untuk keluar. Masalah yang terakhir, adalah saat melewati hutan tersebut. Pastinya akan sangat menyeramkan berjalan tanpa lampu.


Malam harinya, setelah makan malam aku langsung pura-pura tidur cepat. Dari tadi aku juga tak banyak bicara dengan bi Teresia, membuatku tenang jadi bi Teresia tak banyak bertanya.


Dalam kamar aku mulai mempersiapkan segalanya. Aku mulai menyatukan kain, mengikat mereka.


"Aku harap ini akan berjalan dengan lancar" kataku dengan persiapan terakhir yaitu mengikatnya pada sebuah pembatas di balkon kamar.


Malam harinya, aku mengendap lalu mulai membuka jendela kamar. Pergi ke balkon, dan mulai menguntaikan kainnya ke bawah.


"Yosh!" kataku dengan penuh semangat, sambil turun ke bawah dengan perlahan.


"Hei! Siapa di sana!" teriak seorang laki-laki bertubuh gagah memergoki ku yang hampir sampai ke bawah.


'Sial? Aku bahkan tak tau jika ada penjaga! Apa ini sebenarnya!' kataku batin sambil meloncat turun, lalu mulai berlari ke arah hutan.


"Nona?! Nona Emeline! Berhenti di sana kota bicara sebentar!" teriak penjaga itu sambil terus mengejarku ke dalam hutan.


'Bodoh! Kamu pikir aku akan percaya saat kamu terus mengejarku seperti itu! Aku ingin pulang sungguh, kenapa aku salah sangka saat aku tak di awasi sekarang?' gemuruh ku dalam batin kembali, dengan air mata yang mulai mengalir keluar.


Entah apa yang aku pikirkan. Saat mengira akan keluar dengan mudah. Jika memang iya, tak mungkin Theo akan membawaku kesini.


"Tolong... Tolong seseorang tolong aku.... " ucapku pelan, saat melihat sebuah cahaya cantik di dalam hutan.


...BRUK!...


Suara badanku yang terjatuh, saat merasakan kakiku tersandung oleh sesuatu.


"Aku hanya ingin hidup normal, kenapa? Tak bisa? Siapa Theo, aku bahkan gak mengenalnya. Bisakah... Waktu di ulang? Aku sungguh ingin tau siapa dia sebenarnya.... " kataku pasrah saat penglihatanku mulai buram.


Aku tak bisa mendengar apapun. Suara khas hutan terus menemani di saat-saat kesabaranku lambat kaum menipis. Aku tak tau apa yang terjadi, perasaan aku baik-baik saja. Tapi sekarang aku merasakan sedikit mengantuk bahkan untuk menggerakkan badanku saja susah.


Beberapa saat kemudian aku mulai merasakan ada yang berjalan mendekat. Aku hanya bisa menggerakan tangan tanda aku meminta bantuan.


"Hao~ pantas saja aku menunggu lama, ternyata sang tuan putri tengah tertidur di sini?" ucap orang itu, sambil memegangi daguku.


"Siapa?" tanyaku saat merasa tak asing dengan suara itu.


Tapi sebelum semua pertanyaanku terjawab. Justru saat itu kesadaranku semakin goyah. Wajahnya saja aku tak bisa melihatnya dengan jelas, hingga saku sadar semuanya telah hitam.


...–––––––SKIP–––––––...


Aku mulai mengerjapkan mataku, saat aku metasa tangan dan kakiku sakit juga badanku. Belum lagi dengan kasur yang serasa sangat tipis dan dingin.


"Hem? Selamat datang kembali... Sayang?" ucap seseorang sambil memainkan rambutku.


"THEO!" teriakku spontan, langsung beranjak menjauh.


Saat sadar Theo justru tersenyum padaku. Aku mulai melihat keadaan badanku yang terasa dingin. Saat aku sadar, aku tak memakai piyama yang aku pakai sebelumnya, melainkan sebuah lingerie pendek dan sudah hampir terbuka.


"Kenapa... Theo! Kamu yang menggantinya!" teriakku sambil mencoba untuk menutupi bagian tubuhku, terutama bagian dada.


"Kenapa di tutup? Aku sudah biasa melihatnya, lagipula aku lebih suka melihatnya tanpa apa-apa" ucap Theo dengan santainya.


Aku mulai bergidik ngeri. Entah karena ucapan Theo, atau karena udara dingin yang mulai menembus badanku.


"Kemarilah, kamu kedinginan bukan?" ucap Theo sambil melebarkan selimut tebal yang melingkar di badannya.


Tak di sangka dari tadi aku pingsan, Theo yang mengganti bajuku. Setelah itu dia memelukku dengan selimut, agar aku tak kedinginan. Beberapa orang berpikir ini akan menjadi cerita yang romantis, tapi tidak untuk ku. Menandakan seberapa jauh pikiran liar Theo.


"Orang gila" ucapku sambil beranjak berdiri.


"Emeline!"


...BRAK!...


"Theo lepaskan!" teriakku saat tiba-tiba dia memeluk, dan menjatuhkan badannya hingga menindihi badanku.


"Harum sekali" ucap Theo saat dia tak memperdulikan ucapan ku, dan malah mengendus aroma badanku.


"THEO!"


"Ssssttt.... Lihatlah, kamu sedang melewatkan sesuatu" ucap Theo sambil menarik rambutku, sehingga wajahku terangkat ke atas.


"........ Cantik.... "


......–––––AUTHOR–––––......


Hallo semuanya, makasih yang udah mampir dan terus favorit buku ini di rak kalian. Jujur aku sibuk bngt, dan pikir mau berhenti aja gituan nulisnya, tapi melihat kalian yang kek masih banyak fav dukung like sama komennya, buat aku gak tega tinggalin kalian. Pokoknya! Pokoknya buat kalian author mau ucapin banyak-banyak makasih, udh nunggu atau yang gak sengaja nunggu. Terus like, komen, kritik, saran, dengan bahasa yang sopan ya? karena dengan like, komen kalian buat author lebih semangat lagi buat lanjutin meski gak teratur juga.


. SEE YOU NEXT PART