A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Awal Petemuan Theo dan Emelin



"Theo kamu mabuk?!" ucapku saat sadar jika aroma tubuh Theo penuh dengan bau alkohol.


"Tidak aku tak mabuk, kata siap aku mabuk" ucap Theo bertambah manja denganku.


"Tubuhmu penuh dengan alkohol seperti itu! Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu Theo?" tanyaku, mencoba untuk melepaskan pelukan Theo.


Semakin aku mencoba untuk melepaskan pelukan Theo, justru semakin Theo mengeratkan pelukannya. Aku paham, ini keadaan sudah tak nyaman apalagi dengan Theo yang mabuk membuatku tambah tak nyaman.


"Lepaskan Theo! Mandilah kamu akan sadar seketika" ucapku dengan terus berusaha untuk melepaskan pelukan.


"Kenapa Emelin! Bisakah kamu tenang sebentar?!" kata Theo dengan nada marahnya.


Mengeratkan pelukan, bahkan membuatku tak bisa bergerak. Pelukan yang lebih intensif dari sebelumnya, membuatku sedikit kesakitan.


"Theo kamu menyakiti ku!" kataku tambah untuk melepaskan Theo.


Theo seperti tak memperdulikan apa yang aku katakan, dia hanya terus menatapku lalu mengeratkan pelukannya. Beberapa saat kemudian Theo mulai duduk, dengan aku tepat di atasnya.


"Sakit bukan? Lalu bagaimana denganku yang selalu menunggu kamu Emelin?" tanya Theo mengarahkan wajahku agar berhadapan dengannya.


Aku sedikit diam, juga menggerutu kesal. Theo selalu berbicara seolah kami punya hubungan sebelumnya.


"Apakah karena suka minum, itu menjadi kebiasaan kamu untuk membayangkan suatu hal Theo Walcott?" tanyaku dengan nada sedikit kesal.


"Apa yang kamu bicarakan!" kata Theo dengan membentak, dan mulai melemparkan badanku agar menjauh darinya.


Saat itu aku sedikit meringis kesakitan, apalagi saat badanku tepat terbentur oleh kursi yang aku gunakan untuk membaca tadi. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan, melihat Theo saat kini sudah bernafas berat di tambah dengan dia mabuk pastinya bukan hal yang baik.


"Ucapkan! Ucapkan sekali lagi Emelin!" teriak Theo mulai duduk di hadapanku, dengan wajah marahnya.


"Apakah ini kebiasaan kamu Theo? Bahkan kita belum pernah bertemu sebelumnya. Kamu hanya bertemu dengan para perempuan penghibur, tapi kamu lihat bahkan malam pertama ku bersama kamu, itu berarti kita belum pernah bertemu sebelumnya. Darimana kamu kenal aku, jika itu hanya ilusimu Theo" kataku panjang berusaha untuk menjelaskan.


Saat itu Theo langsung membulatkan mata tak percaya. Bibirnya juga terbuka, dengan nafas yang keluar masuk dari sana.


"Itu bukan ilusi, kamu yang melupakan itu Emelin!" teriak Theo sambil memegangi lenganku, dan mulai memegang nya kencang.


Dengan pegangan itu, sesekali Theo menggerakkan badanku, dengan terus berteriak.


"Itu semua benar! Saat aku terluka, kamu memegangi pipi ini. Tangan yang sama, senyuman yang sama, mana yang berbeda?" lanjut Theo sambil mengambil tanganku, dan mengusapkannya tepat di pipinya.


"Itu hanya ilusi mu Theo sadarlah, jangan terlalu banyak minum itu mem-"


"BOHONG!"


...BRAK...


Ucapan ku di sela oleh Theo, dengan langsung melemparkan badanku di jendela keluar menuju balkon. Badanku seketika serasa remuk, entah aoa yang harus aku lakukan sekarang, rasanya tangan dan punggungku serasa sakit semuanya.


"Katakan itu bohong, kamu hanya lupa.... " kata Theo dengan penuh penenakan.


Saat ini saat yang sama seperti saat di rumah bi Teresia. Tatapan dengan aura kematian, rasanya tak menyenangkan, aku sepertinya tak bisa lepas dari Theo sekarang.


"Emelin katakan itu bohong kan!!!" teriak Theo sambil mengangkat badanku, yang sudah kesakitan.


"Apa! Aku tak bisa bilang apapun, yang aku tau bahkan aku tak mengenalmu Theo.... " ucapan ku dengan rintihan yang perlahan.


"Katakan kamu hanya lupa, bukan tak mengenal" ucap Theo dengan menahan leherku dengan tangannya.


Aku sulit untuk berbicara, bahkan untuk bernafas saat ini aku terengah-engah. Apa yang terjadi, mental yang benar-benar labil. Sesaat dia terlihat gembira, sesaat kemudian dia menampakkan wajah yang sebenarnya.


"The... "


...PLAK...


Tamparan kuat melayang ke pipiku, saat itu juga Theo lagsung melepaskan cekikannya.


"Kenapa kamu sangat sulit untuk mengatakannya?" tanya Theo dengan wajah yang benar-benar di penuhi dengan amarah.


"Kamu men-"


...CRAK...


Ucapan ku terhenti, saat melihat apa yang Theo keluarkan dari balik jas miliknya. Sebuah senjata api yang cukup kecil, seukuran pistol. Aku menatap Theo penuh, dia tak akan menembakku bukan? Seperti yang terakhir kali.


"Tatapan macam apa itu? Jangan harap Emelin. Jika kamu tak ingin denganku, maka kamu tak boleh dengan siapapun" kata Theo benar-benar mengarahkannya kepadaku.


"Selamat ti-"


...BUGH...


"Dergaz!" teriak ku langsung, saat melihat Dergaz yang tiba-tiba datang dan langsung memukul Theo.


Sama terkejutnya denganku, Dergaz juga sama. Nafasnya memburu seketika, dengan ekspresi yang tak bisa di jelaskan.


"Kamu tak apa Emelin? Maaf terlalu lama" kata Dergaz dengan nafas yang masih dia coba untuk netralkan.


"Ba-Baik... " kataku terbata.


"Sudah aku bilang, dia akan kalah taruhan. Kenapa dia ngotot untuk pergi. Emelin, bantu aku" ucap Dergaz dengan membopong badan Theo yang pingsan.


Dengan cepat aku membantu Dergaz untuk meletakkannya di ranjang.


"Aku akan mengambilkan es, sepertinya mukanya akan lebam nanti" ucapku sambil perlahan beranjak dari ranjang.


"Ngh.... Jangan, ku mohon jangan" ucap Theo seketika, memegangi bajuku.


Aku dan Dergaz sama-sama terkejutnya.


Belum sempat aku mengatakan apapun, Dergaz langsung keluar kamar. Rasanya aneh saat aku di tinggal berdua dengan Theo. Tapi saat melihat Theo, aku seperti merasa kasihan.


"Sebenarnya... Kapan kita bertemu?" tanyaku sendiri sambil memeluk Theo lembut.


Entah apa yang aku pikirkan, aku hanya berpikir jika Theo kesepian. Saat itu Theo juga memelukku, tepat tak sengaja wajah Theo ada di dadaku. Tanpa merasakan ada yang aneh seperti biasa, hanya melihat Theo yang mulai menangis dan bergumam untuk aku tak meninggalkan dia.


"Hm... Aku di sini" kataku tetap coba untuk menenangkan.


...–––––SKIP–––––...


...BUGH...


.......


...BUGH...


.......


...BUGH...


.......


Suara yang terdengar saat aku baru kembali dari perpustakaan umum. Aku melihat beberapa orang berkelahi di sana, lebih tepatnya beberapa orang seperti mengeroyok satu orang.


Terlihat orang yang di keroyok mencoba untuk menahan dirinya, tapi tetap saja dia kalah jumlah.


"Aha! Bodoh apakah dia yang di suruh oleh tuan kita!" teriak satu orang dengan terus memukuli orang tersebut.


"Ya, dia adalah anak haramnya" sambung yang lain.


"Ck! Lemah! Bahkan sangat lemah!" teriaknya kembali sambil terus memukuli orang tersebut.


Aku hanya bisa melihat dari jauh, tanganku gemetaran juga ketakutan. Tak tau apa yang terjadi, nafasku memburu, dan berusaha untuk tenang. Perlahan-lahan aku mulai mundur ke belakang, dan mulai berjalan menjauh.


"Siapapun!" teriak seseorang yang tengah di pukuli tersebut.


Saat itu aku mulai mengalihkan wajahku. Aku tak tegaan, saat mama bilang ada yang butuh bantuan maka bantu apa yang bisa kita lakukan.


"SIALAN!" teriakku langsung melemparkan buku-buku milikku yang tebal ke arah mereka.


"Akh! Siapa-" Dengan cepat aku mulai menyemprotkan air yang di campur oleh bubuk merica tepat ke kepala mereka.


Dengan nafas yang memburu, juga cepat aku mengambil buku milikku kembali, dan mulai menggandeng laki-laki dan membawanya pergi.


"Ah~ Syukurlah... Sepertinya mereka tak mengejar kita" kataku dengan terbata sambil menetralkan nafasku.


"Apa... Apa itu tadi" tanya laki-laki tersebut.


"Ah? Ini? Bubuk merica, kata mama ini sebagai jaga-jaga tak menyangka juga akan berguna" kataku dengan menunjukkan wadah yang aku gunakan tadi.


"Ah-! Wajahmu, kemarilah aku obati dulu" ucapku dengan penuh membawa dia duduk.


Dia tak banyak bicara, mungkin karena kesakitan atau masih syok dengan kejadian tadi. Pipinya lebam, jadi aku oleskan salep untuk mengurangi rasa sakit. Beberapa bagian ada yang berdarah, aku juga mengobatinya juga memberikannya plester.


"Apakah masih sakit?" tanyaku juga melihat bagian tangan dan leher yang aku kasih obat dan plester.


"Tidak, terimakasih.... Aku.... Aku juga akan melindungi kamu nanti" ucapnya seketika membuatku langsung menatap ke arahnya.


"Eh-?" tanyaku dengan wajah bingung.


"Ya! Aku pastikan akan melindungi kamu nanti, saat semua yang aku lakukan telah selesai. Aku akan kembali, dan membawamu pergi dari sini. Jauh dari orang-orang yang berniat untuk menyakiti kamu" ucapnya kembali dengan wajah serius.


Aku jujur takut saat itu, tapi mencoba untuk tetap tenang. Tak ada ucapan yang bisa aku lakukan.


"Baiklah... Mungkin aku akan menunggu saat itu, tapi untuk sekarang apakah kamu lapar? Aku yang akan bayar" ucapku beranjak mulai pergi untuk membeli sesuatu yang bisa di makan.


"Jangan, jangan tinggalkan aku sendirian. Bagaimana saat kamu pergi, aku sudah tak ada di sini? Bagaimana jika nanti aku sudah di suruh untuk pulang akan sulit untuk bertemu denganmu lagi" kata laki-laki itu, dengan memegangi bajuku.


"He-? Bukankah kamu akan melindungi ku? Pastinya kamu ada cara untuk itu. Jangan takut, aku tak pergi jauh lagipula aku berkuliah juga di sini, jadi kita akan bertemu lagi" kataku berusaha untuk meyakinkannya.


"Apakah kamu akan pergi?" tanya laki-laki itu kembali menatapku.


"Ya, aku akan beri air mineral dan beberapa makanan ringan" ucapku tanpa beban.


Dia hanya diam, tak menjawab apapun. Tapi tak berselang lama, bibirnya terbuka.


"Namamu... Siapa?" tanya dia.


"Emelin, Emelin Emueis" jawabku dengan santainya.


"..... Theo, Theo Walcott.... Jika kamu dengar nama ini, jangan takut. Karena itu aku, datang kembali untuk melindungi kamu"


.


.


...–––––AUTHOR–––––...


HEYYO!! Para suport sistem yang baik, yang suka tinggalkan jejak, juga komen biar othor semangat. Makasih banget loh yang udah mampir dan terus bertahan. Bwt mina... Bagaimana pertemuan Theo dengan Emelin? Menolong memang kewajiban setiap manusia, tapi bagaimana jika kalian menolong orang yang salah dan justru terjebak dalam masalah yang besar kedepannya? Tetap aja jangan kapok buat nolong orang ya? Karena itumah cuma di cerita novel aja, di cerita asli pasti kalian akan lari. Keselamatan itu pertama, safety is first. Mungkin gitu aja dari othor.


SEE YOU NEXT PART!


(^з^)-☆Chu!!