A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Sosok Dalam Diri Emelin



Setelah mendengar apa yang aku katakan, Theo mulai menghela nafasnya. Dia merasa lega, tapi juga menatap cek yang di berikan Welmia dengan tatapan tajam.


"Untunglah.... Aku tak menyangka, pilihanku sekarang benar-benar berbeda" kata Theo menatap cek, lalu mulai meremasnya.


"Theo... " panggil ku, lalu mulai memegangi tangan Theo yang tengah meremas ceknya.


"Tak masalah... yang penting kamu memilih bersamaku dan itu cukup bagiku" jawab Theo tanpa ada yang lain.


Senyuman polos juga ketakutan, tak bisa Theo pisahkan. Sesaat setelah membuang ceknya, Theo mulai merapatkan badannya dan memeluk diriku kuat.


"Drake ya... Sebenarnya kami sudah tak akur sejak awal pertemuan kami, berbeda dengan Brian juga Kelly, Drake itu... memiliki jiwa ambis dan tak ingin terkalahkan oleh siapapun" jelas Theo memulai penjelasannya.


Beberapa saat penjelasan Theo, aku mulai menarik kesimpulan. Sama seperti Raffyn juga Darrel, Theo juga di lahirkan hampir bersamaan dengan Drake. Itu membuat ibu Drake marah, dan terus menghasut Drake untuk membenci Theo.


Karena anak ketiga, Drake juga tak bisa menjadi penerus keluarga dan Drake beranggapan jika Theo penyebab itu semua.


Theo selalu unggul dalam bidang apapun di banding dengan Drake. Masalah attitude, akademi, bahkan fisik, itu semua yang membuat Drake tambah iri dengan Theo.


Pada suatu kejadian, Drake menuliskan surat ancaman ke ibunya Theo. Dengan kemampuan komputer dari Drake, membuat dia bisa merundung ibunya Theo dan membuatnya bunuh diri.


Tentu saja kebohongan ini tak berlangsung lama, tuan Kavaleri juga tau pelakunya adalah Drake tapi demi nama keluarga agar tidak ternodai, dia tak mengajukan Drake ke ranah hukum. Hanya saja, sebuah hukuman di asingkan di negri orang, tanpa mendapatkan support dari tuan Kavaleri menjadikan Drake orang yang lebih ganas lagi.


"Keluarga kamu itu gila semua Theo" kataku spontan.


"Apa maksud kamu?"


"Aku pikir kamu gila, ternyata ada yang lebih gila darimu. Drake, bahkan tuan Kavaleri itu sendiri"


"Ya, setidaknya kamu tau dari mana jiwa gilaku"


"Tapi Emelin... Kamu berbeda, kamu harus bertahan hidup dan membuat Raffyn jauh dari sifat buruk kami semua. Bahkan dariku, aku yakin kamu bisa melakukannya" lanjut Theo dengan menatapku nanar.


Aku paham itulah yang harus aku lakukan. Tapi melihat Welmia barusan, aku tak tau apakah aku akan tahan dengan sifat mereka atau tidak. Di pikir lagi, Welmia dan Drake merupakan pasangan yang berbahaya.


"Theo... Pergilah, cari pekerjaan lain yang jauh dari Drake" ucapku karena cukup merasa ketakutan.


"Dengar Emelin, jika aku terus menjauh maka mereka yang akan menang. Mereka berpikir busa melakukan segalanya kepadaku. Maka aku akan terus di manfaatkan oleh mereka. Kadang kamu harus melihat maju, dan melawan rasa takut mu itu" jelas Theo.


Aku masih terdiam, dengan Theo yang mencoba meyakinkan diriku. Tapi aku tak bisa memikirkannya, jika melihat ke arah Raffyn. Dunia yang berbahaya, saling rundung dan membunuh satu sama lain. Aku ingin kehidupan yang normal, tanpa adanya saling iri seperti ini.


"Theo ak-"


"Dulu aku memiliki kekasih" kata Theo menyela pembicaraan ku, yang membuatku langsung bingung di buatnya.


"Jadi? Itu dulu? Kan?"


"Ya dulu, namanya Dara. Dia cantik rambut hitam, sama seperti kamu. Aku memiliki hubungan dengannya, jauh saat aku masih berkuliah. Tapi Welmia juga melakukan hal yang sama. Saat aku kuliah, aku memang tak memiliki apapun dan ya... Welmia melakukan hal yang sama dan berhasil membuat Dara pergi dariku" jelas Theo yang membuatku tambah kebingungan.


Dari cerita Theo kenapa aku justru merasa sesak.


"Saat awal bertemu itu... "


Ini bukan hal yang aku harapkan, kenapa Theo bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudah. Dia dengan jelas mengatakan, pertemuan pertama karena dia teringat dengan mantannya. Lalu bagaimana denganku, dia melihat sosok Dara dalam diriku.


"Tapi itu dulu, semakin lama aku semakin tau ku berbeda dengan Dara. Aku pikir, aku harus berterimakasih pada Welmia karena telah memisahkan ku dengan Dara. Jika tidak, mungkin aku tak akan bisa bertemu denganmu saat ini Emelin" kata Theo memeluk tubuhku perlahan.


Saat ini aku serasa lega, rasa sesak berubah menjadi air mata.


"Kamu sungguh membuatku takut Theo.... Sekarang aku takut akan kehilangan kamu, bagaimana jika Dara kembali dan kamu lebih memilih dia daripada aku. Sungguh aku tak tau harus apa saat itu terjadi" kataku dengan sesungukan, memeluk tangan Theo yang tengah memeluk badanku.


"Itu tak akan terjadi, andaipun saat itu terjadi maukah kamu percaya denganku sekali lagi Emelin?" tanya Theo yang membuatku kebingungan.


"Apa maksudmu?" tanya ku dengan ucapan Theo yang selalu menggantung.


"Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja apapun yang terjadi aku ingin kamu mempercayai ku nanti" titah Theo.


"Aku percaya, kita keluarga kan? Theo?" tanyaku mengelus kepala Theo yang tengah menyenderkan nya di pundakku.


"Aku harap... Begitu" ucapan Theo dengan menambah pelukannya.


...–––––SKIP–––––...


Hampir satu minggu aku di rawat di sini. Aku pikir juga tak perlu selama itu, lagipula dokter sudah mengatakan aku baik-baik saja dan bisa pulang beberapa hari yang lalu. Tapi tetap saja Theo yang meminta ku untuk tetap di rumah sakit dalam beberapa waktu.


"Kamu benar ingin pulang? Bagaimana jika jahitan nya tiba-tiba terbuka?" tanya Theo saat aku mulai mengemas barang dengan bi Teresa.


"Aku tak apa Theo, sungguh dokter juga bilang aku bisa pulang beberapa hari yang lalu. Kenapa kamu sangat khawatir, di saat dokter sudah mengatakan hal seperti itu?" tanyaku pada Theo.


"Jika kamu mau, kamu saja yang tinggal di sini. Kamu tak tau bagaimana rasanya rumah kebun nyaman daripada tempat ini" sela bi Teresa dengan penuh nada sindiran.


"Bi, kamu tau aku hanya khawatir... Apakah itu tak boleh?" tanya Theo dengan nada yang sedikit kesal karena di pojokan.


"Khawatir, dokter saja bilang tak apa-apa lalu kamu ingin apa.... Dasar papa muda, dulu ibumu saja pulang di hari kedua setelah melahirkan. Laki-laki memang tak tau apapun" kata bi Teresa dengan menjewer telinga Theo.


Sesaat aku terkekeh pelan, dengan Raffyn yang terbangun karena suara gaduh dari kami. Aku memberinya asi, dimana bukan hanya aku yang memperhatikan Raffyn tapi Theo juga.


"Dia manis kan?" tanyaku pada Theo sambil mengusap pipi Raffyn.


"Ya manis, dulu saat aku mencobanya susunya belum keluar jadi mungkin aku akan mencoba sesaat setelah melahirkan" racau Theo yang membuatku dan bi Teresa membuka mata.


"Bukan manis itu bodoh! Emelin sedang membicarakan Raffyn! Kenapa kamu berpikir hal yang lain!" kata bi Teresa dengan nada tinggi dan sebuah pukulan yang melayang ke kepalanya.


Aku hanya memalingkan wajah, lalu menatap Raffyn kembali. Aku bingung dengan tingkah Theo, yang bahkan tak berubah khususnya untuk pikiran mesumnya.


Beberapa saat kemudian kami sampai di rumah di sambut beberapa pelayanan dan pengawak Theo tentunya.


"Anda butuh sesuatu nyonya?" tanya seorang pelayanan menghampiri ku yang tengah menggendong Raffyn.


"Bawakan barang yang ada di mobil, bi Teresa tak akan mampu membawa se-"


"Theo... " panggil seseorang kepada Theo, membuatku langsung terdiam melihat ke arah sumber suara.