
"Tuan Dave sejak lama saya menjadi mandiri, andaikan Anda tak datang aku juga bisa melakukannya sendiri," jelas Emeline merasa tak enak.
"Apa sangat sulit untuk bilang terimakasih?" tanya Dave memberikan apel yang telah dia potong.
"Tak sulit, terimakasih kasih," tatapan semu dari Emeline dengan wajah nanar menahan tangisan.
Sudah lama dia tak merasakan di perhatikan, dengan bertahan hidup sendirian. Sekarang seorang laki-laki datang, bukan untuk mencintai tapi untuk mengajukan perjanjian.
'Apakah nanti akan berakhir sama lagi? Sudah cukup aku di tinggal dan di sakiti, masa lalu tak bisa aku ubah, tapi setidaknya aku bisa mempertahankan apa yang aku punya sekarang,' gumam Emeline batin.
"Apa yang kamu pikirkan? Kamu menangis?" tanya Dave bingung, saat melihat Emeline hanya tertunduk diam.
"Tidak, aku hanya-"
"Mama!" panggil Rara menyela perkataan Emeline.
"Rara sudah berapa kali papa bilang, jangan menyela pembicaraan orang dewasa."
"Maaf, tapi om Theo datang ingin meminta maaf," ucap Rara, lantas Emeline melihat ke ayahnya.
Sesuatu yang tak terduga, dia di pertemukan oleh Theo kembali. Seseorang yang menabraknya kali ini, benar-benar Theo yang Emeline kenal.
Emeline tak bisa memalingkan pandangannya pada Theo. Bibirnya sedikit membuka, ingin Emeline berteriak dan langsung memeluknya. Seketika semua itu hanyalah ilusi dari Emeline, saat di belakang Theo ada perempuan yang memeluknya.
Dave yang sadar jika Emeline terus memandangi Theo, lantas dia menutup mata Emeline dengan tangannya. "Ada perlu apa? Sudah aku bilang, aku di sini kamu tak ada urusan lagi," ucap Dave dingin.
"Eh, tidak Tuan Dave saya hanya ingin meminta maaf, dengan istri Anda?" ucapan Theo seolah tak melihat Emeline.
Sebuah kalimat, membuat kekecewaan Emeline meningkat. Theo yang dia kenal memang memiliki wajah yang sama seperti orang yang ada di depannya, tapi dia sangat berbeda. Sikap otoriter dan keras seperti hilang, di gantikan dengan tutur lembut dan sopan yang dia ucapkan.
"Belum istri, tapi mungkin sebentar lagi. Kamu baru kembali tapi sudah membuat banyak masalah," celoteh Dave dengan wajah kesal.
"Tuan Dave, Theo tak bermaksud seperti itu. Dia baru kembali, dan tak sadar jika jalan yang dia gunakan itu satu arah," sergah seorang perempuan yang tadi memeluk Theo dari belakang.
Itu adalah Melisa, tetangga dari Dave sebelum dia pindah. Mereka sudah memiliki anak, bernama Clara. Sebuah kehidupan baru yang Theo bangun, tanpa dirinya ataupun anak-anak yang dia rawat.
"Maaf Nyonya Camelion, Anda terluka parah Karena kelalaian Theo," ucap Melisa mendatanginya.
"Eh-! I-itu... Tak masalah," jawab Emeline gugup terus menundukkan kepala.
Sebisa mungkin Emeline menghindari tatapan Theo. Dia tak ingin mengingat masa lalu kembali, saat Theo berjanji untuk kembali bersama lagi.
"Dia ini pemalu Melisa, tolong jaga jarak mu dengannya," kata Dave menjauhkan Melisa juga Theo.
"Seperti itu selera mu, pantas saja kamu selalu menolak ku," gerutu Melisa. "Theo, cepat minta maaf, dan kita pergi sekarang. Sepertinya, aku patah hati kembali," lanjutnya.
"Ya, baiklah," jawab Theo cepat langsung menghampiri Emeline. "Nyonya Emeline ya, maaf untuk kejadian tadi pagi, Anda pasti sangat terburu-buru ji-"
"Saudah tak perlu Tuan Theo, Anda sebaiknya pergi Melisa sudah terlalu lama menunggu," sergah Dave seketika menjadi sekat antara Theo juga Emeline.
"Iya, tapi bagaimana dengan Emeline?"
"Dia adalah pasangan saya, saya juga ada di sini Anda sudah tak di perlukan lagi," jawab Dave dengan raut muka dingin menatap Theo.
Theo seolah membeku, tak seperti yang Emeline kenal. Theo dulu meskipun di pojokan, dia selalu menatap ke depan dengan berani. Untuk sekarang, seperti dia takut untuk di marahi Dave.
"Baiklah, jaga diri kalian," jawab Theo menundukkan kepalanya tanda memberi hormat.
Sesaat Theo berjalan, tapi langkahnya terhenti sebelum dia sampai keluar. Melihat Emeline yang duduk di sana, tatapan sendu seperti harapan ke arah Theo.
Emeline tersentak saat mendengar Theo bertanya seperti itu. Rasanya, dia ingin bilang jika Raffyn dan Darrel sudah menunggunya.
Lagi-lagi, Dave memenangi tangan Emeline dan terus menatapnya datar.
"Tidak," jawab Emeline dengan palingan wajahnya.
"Em... Baik, aku pikir kita pernah bertemu sebelumnya. Ya, andaikan aku menemukan mu lebih cepat, apa aku bisa membuatmu lebih nyaman daripada si duda kaku ini?" pertanyaan yang semulanya serius di gantikan dengan candaan Theo sebelum dia benar-benar pergi.
Dalam ruangan, Emeline melihat koridor luar. Terlihat Theo dan Melisa tampak berbincang dengan candaan. Seperti keluarga yang sempurna. 'Dia sudah melanjutkan hidupnya,' gumam Emeline dengan senyuman miris.
"Kamu benar pernah bertemu dengan Theo Wlise sebelumnya?" tanya Dave.
"Tidak."
"Wajah mu bilang jika kalian saling kenal," ucap Dave tak percaya.
"Sungguh, aku tak tau dia. Dia juga sepertinya tak mengenalku, untuk apa aku mengenalnya."
Dave kembali diam, dengan palingan wajah Emeline menghindari nya. Terlihat raut wajah Dave tak percaya, apalagi dengan satu alis yang dia naikkan.
"Jika tak memiliki hubungan itu lebih bagus daripada memiliki perasaan. Jangan berpikir untuk menyukai orang yang sudah ada pasangan," kata Dave dengan mengalihkan wajah Emeline agar menatapnya.
"Apa kamu paham itu, Nyonya Camelion?" lanjut Dave.
"Papa dan mama sedang bermesraan," ucapan dari Rara yang tiba-tiba membuyarkan semuanya.
Rara dari tadi hanya diam, melihat keadaan. Saat sepi, dia menjadi pengganggu saat Dave dan Emeline ingin lebih intim.
"Ti-tidak! Lagipula kenapa kamu ada di sini?!" tanya Dave membopong Rara lalu mendudukan nya di sebuah kursi.
"Rara bosan dengan paman, Rara mau lihat mama," jawabnya dengan nada polos.
"Mama tak apa sayang, papa Rara menjaga mama dengan baik," jawab Emeline di selingi dengan senyuman.
Salah satu hal yang harus di lakukan oleh Emeline adalah memberikan Image baik Dave. Sebuah kode dari Dave, membuat Emeline paham jika apa yang dia lakukan benar.
"Benar itu mama?" tanya Rara meyakinkan karena tak percaya.
"Iya benar, papa Rara sebenarnya sangat baik ke mama," jawabnya kembali.
"Tapi papa suka marah-marah ke Rara."
Sebuah ungkapan membuat Dave seketika terdiam.
"Apa yang terjadi, benar mama benar-benar mengalami kecelakaan?" tanya Raffyn yang baru saja kembali di jemput oleh supir yang di utus Dave.
"Ibu, kenapa? Apa yang terjadi? Apa karena orang itu lagi?" tanya Darrel menunjuk ke arah Dave.
"Hei! Bahkan aku yang membawa Emeline kemari," ucap Dave sadar dengan tatapan Darrel.
Mereka saling menatap satu sama lain, menampakkan rasa tak suka dan aura mencekam di antara keduan nya.
"Tapi, mama tadi kami melihat-" belum sempat Raffyn menyelesaikan ucapannya, pundaknya sudah di tepuk oleh Darrel.
"Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan, dan tentu saja tanpa orang luar."