
Jangankan untuk makan, bahkan untuk bertahan hidup harus berpijak pada kaki sendiri. Saat Mark hampir mati, kedinginan, tak ada yang mengulurkan tangan. Dave datang padanya, dia awalnya pikir Dave seperti orang kaya lainya hanya mengandalkan uang dan kenyamanan. Menjadikan Mark budaknya, tapi tidak. Dia malah menjadikan Mark lebih baik dari sebelumnya.
"Aku akan mengajari mu sesuatu, arti dari kehidupan sebenarnya," ujar Dave menyejajarkan dirinya dengan Mark yang tengah terduduk.
"Mengajari? Atau memanfaatkan!" Teriakan dari Mark lantas melayangkan bogem nya pada Dave.
Tentu saja itu tak beras apa-apa. Apalagi dengan Dave yang hanya menahan kepalanya saja. Lantas beberapa saat Mark mencoba untuk memukul Dave, malah kesadarannya yang lama-kelamaan pudar.
Tiba-tiba Mark terjatuh, lalu pingsan. Hanya helaan napas dari Dave, membuat dan mulai beranjak dari sana. "Eslen, bawa dia. Mari kita pungut satu bidak lainya," jelas Dave.
"Baik tuan, maaf jika saya lancang tapi kenapa Anda mengambil beban lainnya? Bukankah sudah terlalu banyak bidak Anda?" Tanya Eslen sembari membawa Mark.
"Kamu tau Eslen, semua bidak ku itu lebih tua dari ku. Aku gak bisa menjamin jika nanti mereka tak akan berkhianat," jelas Dave, dengan tatapan yang datar dan juga tajam. "Lagipula, aku harus membiarkan anak-anak seperti mereka merasa ketergantungan. Kadang rasa balas budi itu perlu di tanamkan sejak dini bukan?" Lanjut Dave.
Beberapa saat kemudian Mark mulai menerjapkan mata, saat terlihat selang infus yang tertanam di tangan Mark. Juga Dave yang duduk, sembari membaca sebuah buku di sana.
"A-aku ada di mana!" Teriak Mark seketika dengan nada yang lemah karena kepalanya masih pusing.
"Oh? Kamu sudah terbangun? Berapa hari kamu sudah tak makan? Lihat, bahkan tubuh mu sangat kecil," jelas Dave tanpa menjawab pertanyaan dari Mark. Dave juga seolah sibuk sendiri, dengan mengambil beberapa barang ya g ada di nakas.
"Kamu orang yang kemarin! Mau apa ka-" belum sempat Mark melanjutkan ucapannya Dave sudah memberikan satu nampan yang berisi dengan makanan.
"Makan."
"Maksudnya kamu apa? Ingin meracuni ku?"
"Heh-? Jika aku ingin membunuh mu, lebih baik aku membiarkan mu mati kelaparan kemarin," jelas Dave.
Mari hanya diam, dia tak bisa membohongi perutnya sendiri. Saat itu dia sudah terlanjur kelaparan, tanpa sadar memakan apa yang di berikan oleh Dave.
Lanjut Dave mengupas kan beberapa buah, dan Memberikannya pada Mark yang melihat tingkah laku Dave sedikit curiga. Sikap baik pada awalnya membuat Mark harus terus waspada.
"Apa yang kamu mau? Aku tau sikap seperti ini, mau menjadikan aku budak mu?" Tanya Mark langsung tanpa basa-basi.
Dave yang awalnya diam, kini melihat ke arah Mark. Tak sangka dia adalah orang yang mengerti, dan langsung membicarakan intinya tanpa basa-basi.
"Hehe? Kamu tak memiliki keraguan untuk menanyakan hal itu?" Tanya Dave dengan senyuman smrik, dan sedikit tertawa. "Kamu tau, sepertinya aku menyukai watak seperti mu," lanjutnya.
"Aku tau orang seperti kamu, kalian memanfaatkan kami dengan memberikan kami makan dan beberapa pakaian. Juga tempat tinggal," jelas Mark sembari terus makan pemberian dari Dave.
"Ya, untuk itu aku akan memanfaatkan kamu tapi bukan untuk sekarang. Untuk sekarang, aku aku ingin kamu menjadi lebih berguna, dengan sedikit polesan tentu saja," jelas Dave mendekatkan wajahnya dan mulai dan mulai memperlihatkan wajah aslinya.
Beberapa tahun Mark di latih oleh Dave dan Eslen tentu saja. Dave mempersiapkan Mark dengan sangat jeli, untuk sebagai mata-mata. Dia di ajari teknik hacking, bertahan hidup, bahkan fisik yang hampir membuat Mark tiada.
Tapi di sisi lain, bukan malah merasa di kekang, Mark malah menikmatinya. Benar apa yang di katakan oleh Dave sebelumnya, jika dia akan mengajarkan bagaimana bertahan hidup yang sebenarnya.
"Mark! MARK!" teriakan dari Dave lantas membuat Mark tersentak.
Dia akhirnya tersadar, dari lamunan masa lalu yang menghantuinya. Sikap tegas dari Dave, membuat Mark nyaman. Dia melihat sisi baik dari Dave, yang selalu coba dia sembunyikan. Mungkin orang awam melihat Dave sebagai orang yang menakutkan. Lain halnya dengan Mark, dia malah melihat Dave sebagai penyelamat.
"Apa yang kamu pikirkan? Melamun? Aku tengah bertanya sesuatu padamu!" Kata Dave dengan nada tingginya.
"Maaf tuan, pikiran saya tak fokus barusan," jawab Mark dengan tundukan kepala.
"Tak fokus? Kenapa? Letakkan kembali fokus mu itu di tempatnya, atau akan aku cabut dari sana!" Kata Dave dengan nada tingginya.
Mark lagi-lagi diam, sembari menundukkan kepala. Dia juga bisa merasa takut, meskipun dia tau jika Dave tak akan melakukan hal itu.
"Saya tanya, apakah hanya informasi ini yang kamu tau dari Theo?" Tanya Dave dengan melayangkan map coklat yang di berikan Mark tadi.
"Maaf Tuan Dave, tapi Tuan Theo benar-benar susah. Dia sepertinya tau jika dewan besar akan mengamatinya juga," jelas Mark.
"Dewan besar?" Pertanyaan dari Dave dengan menaikkan salah satu alisnya tanda bingung.
"Iya. Saya melihat beberapa orang seperti yang pernah saya lihat saat rapat umum. Para dewan besar, dengan seorang abdi di belakang mereka. Mungkin bisa di bilang ini adalah kebetulan, tapi beberapa kali saya melihat mereka tengah mengamati Tuan Theo juga," jelas Mark memberikan foto dari dalam sakunya.
Dave yang awalnya tak percaya, kini mengangguk setuju. Melihat apa yang di berikan oleh Mark. Memang terlihat seperti kebetulan, tapi saat mengamati Theo gak bisa di ragukan.
"Ya, dan lihatlah seperti nya dewan besar juga penasaran apa yang tengah Theo rencanakan," kata Dave dengan senyuman puasnya. "Lalu Mark, kenapa kamu tak memberikan foto itu di sini!"
"Maaf, tapi saya pikir ini berhubungan dengan dewan besar. Jadi saya memisahkannya, jika Anda penasaran saya akan memberikan datanya," jawab Mark.
"Baik, untuk sekarang kamu tau apa yang kamu lakukan, kan? Mark?" Tanya Dave berubah wajahnya menjadi datar dan tajam.
"Saya paham," jelas Mark dengan menundukkan badannya lantas pergi dari ruangan itu.
Misi selanjutnya, mencari tau siapa perempuan yang Theo temui. Seperti bukan dari kalangan rendahan, tapi juga bukan dari organisasi mana pun. Terlihat tak asing untuk sekarang, membuat Mark harus mencari tau siapa wanita yang ada bersama Theo saat itu.
"Paman Mark!!"