A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Tawaran Welmia Untuk Pergi



"Emelin?" panggil seseorang dengan nada pelan khas perempuan.


Seketika aku menolah ke arahnya, terlihat perempuan anggun dengan pakaian mewah dan bingkisan di tangannya.


"Welmia?" tanyaku tai percaya dengan siapa yang datang ke ruanganku.


"Ya? Kenapa kamu terlihat terkejut seperti itu? Padahal ini adalah hal yang wajar bukan? Saat aku mempunyai keponakan maka aku akan menjenguknya" kata Welmia, sambil mengambil Raffyn dari pangkuanku.


Aku diam, tak ingin memberontak tapi tetap melihat Welmia. Dia kemarin berkata kasar seperti itu, bukanlah orang yang akan menjenguk Raffyn ataupun diriku begitu saja.


"Raffyn Walcott... Hmm... Kenapa tak menggunakan Kaveleri?" tanya Welmia saat melihat tanda pengenal di tangan Raffyn.


"Tidak, itu menggunakan marga Theo" jawab ku singkat.


"Ah-! Aku lupa... Kamu menikahi anak haram tanpa marga, kamu pasti menerimanya karena berharap dia akan melakukan sesuatu iyakan? Kamu pasti terpaksa... Bukan?" racau Welmia dengan pertanyaan yang aneh.


"Apa maksud nya, aku tak paham"


Beberapa saat kemudian, Welmia meletakan Raffyn di sebuah tempat tidur yang di siapkan untuk bayi. Dia mulai mengelus pipinya, dan tersenyum kemudian sedikit tertawa.


"Kamu tau kan, kami memiliki anak laki-laki juga. Darrel Keveleri, dia hanya berjarak beberapa bulan dengan Raffyn mereka pasti akan menjadi pasangan kakak adik yang serasi. Saling melindungi, dan menyayangi satu dengan yang lain. Benar, tapi kamu membuat kesalahan... Karena selain jadi sodara baby Raffyn ini... Akan menjadi pelayanan sama seperti ayahnya" jelas Welmia, dengan senyuman simpul tanda kemenangannya.


Aku tak tau apa yang dia inginkan dari itu semua. Semua yang dia ucapkan, tetap saja merendahkan kami. Sungguh aku sudah muak, tapi aku terus menayangkan dengan mengigit ujung bibirku dan mulai diam saja.


"Apa yang anda maksud dengan gumaman itu nyonya Welmia Keveleri.... " kataku dengan nada datar tanda aku mulai marah.


"Tak ada, hanya mengatakan masa depan untuk anakmu saja... " katanya kembali dengan penuh tatapan merendahkan.


"Saya sadar betul posisi saya, terimakasih" jawab ku masih dengan menahan emosi sebisaku.


"Ck! Kamu bahkan... Tidak, orang-orang bahkan tak mengetahui jika Theo sudah memiliki istri lalu apa. yang kamu inginkan? Dia bisa saja pergi dengan yang lain, tanpa pikir panjang. Mencari yang lebih muda, dan lebih berisi tentunya" ucap Welmia berjalan mulai meninggalkan ruangan.


"Ah~ Aku lupa, aku ada sedikit penawaran. Bagaimana jika... Kamu ikut denganku? Bukan hanya kamu tapi juga baby Raffyn? Tapi kamu harus meninggalkan Theo. Akan aku jamin semuanya, dari barang, baju, perhiasan... Kekayaan yang kamu minta tapi tinggalkan Theo sekarang juga" lanjut Welmia berbicara di ambang pintu.


Aku terkejut saat Welmia mengatakan hal seperti itu. Apa yang terjadi dengan Drake dan juga Theo sebenarnya. Dia... Dia seperti ingin membuat Theo hancur dengan menjauhkan aku dan Raffyn.


"Kenapa kamu meminta seperti itu? Aku tak ada urusan tentang masalah kalian" kataku mencoba untuk menolak.


"Kamu... Tentu saja ada. Selain istri, kamu juga porosnya... Terlebih lagi ada baby Raffyn, membuat kelemahan Theo semakin terbuka. Ini namanya, perselisihan antar saudara"


"Maka biarkan Theo dan Drake yang menyelesaikannya! Aku tak ada urusan tentang hal itu" kataku dengan nada yang sedikit meninggi.


"Ha... Sepertinya kamu belum paham juga, Baiklah aku akan berbicara frontal saja. Jauhi Theo, maka kamu akan mendapatkan apa yang lebih baik dari yang Theo berikan" kata Welmia dengan memberikanku buku cek yang sudah dia tanda tangani semua.


"Pakai, sepuasmu" lanjutnya.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyaku dengan mengambil buku cek itu.


"Karena aku tak suka Theo" ucap Welmia dingin.


"Kenapa kamu bisa tak suka?"


"Dia hanyalah anak haram dari seorang pe-"


"Karena kalian sadar Theo adalah ancaman, tapi kalian masih membutuhkan dia. Dia memang hanyalah anak haram, tapi bertahun-tahun di percaya untuk menjaga perusahaan bahkan di saat Drake di asingkan. Kalian ingin membuangnya, tapi Theo terlalu kuat bahkan untuk posisi anak haram. Jadi kalian ingin menghancurkan Theo secara perlahan" selaanku, membuat Welmia sedikit mengencangkan lehernya.


"Terserah kami saja, simpan cek itu saat kamu menggunakannya aku anggap kamu sudah terima" kata Welmia terus berjalan meninggalkan ruanganku.


Aku tak tau apa yang di pikirkan oleh wanita gila itu. Pantas saja Theo gila, tapi memang semua keluarganya gila.


Aku menghilang nafas, saat Raffyn baik-baik saja di gendong oleh Welmia. Aku langsung membopongnya kembali, dan melihat apakah Welmia meletakkan sesuatu pada tubuh Raffyn.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Theo yang tiba-tiba masuk, dan di sambut dengan perilaku anehku.


"Theo... Apakah kamu sudah menelpon?" tanyaku juga kaget dengan kedatangan Theo.


"Kemarilah, bantu aku lihat apakah ada sesuatu di dalam tempat tidur Raffyn" kataku dengan memberikan kode ke arah tempat tidur milik Raffyn.


Theo menaikkan salah satu alisnya. Meletakkan ponselnya di meja, dan mulai memeriksa tempat tidur Raffyn.


"Emelin, tak ada sesuatu... Kamu kenapa?" tanya Theo merasa aneh dengan sikapku.


Aku menghela nafas lega, lalu mulai meletakkan Raffyn di tempat tidurnya dengan perlahan. Tak lama, aku mengambil cek yang tadi Welmia bawa. Satu cek utuh, dengan semua kertas sudah di tanda tangani oleh Welmia.


"Apa ini!" tanya Theo dengan nada tinggi setelah aku memberikan ceknya.


"Welmia tadi kemari, dia memberikan cek itu" kataku dengan wajah serius tapi juga cemas.


"Dia bukan tipe orang yang royal, apalagi dengan musuhnya" tanya Theo duduk di sampingku.


"Memang, dia ingin aku dan Raffyn meninggalkan kamu. Maka itu adalah jaminannya, aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan, asal aku. mau meningalkan kamu" jelas ku.


Sontak Theo yang tadi hanya terkejut kini mulai marah. Urat lehernya mulai mengeras, dan menatapku dengan kuat.


"Lalu apa! Kamu me-" teriakan Theo barusan sukses membuat Raffyn menjadi terbangun.


Suasana yang awalnya sepi di bicarakan oleh dua orang, kini pecah oleh tangisan seorang bayi.


"Kenapa kamu harus berteriak?" tanyaku geram dengan sebuah bisikan, dan mulai menimang Raffyn.


Theo yang tadi berteriak marah, menjadi berubah wajah bersalah. Apalagi saat melihat tangisan Raffyn, Theo justru menjauhkan badannya.


Setelah beberapa saat, Raffyn tertidur kembali. Setelah aku meletakkan di kasur, aku mulai membuat isyarat agar Theo kembali duduk di sebelahku.


"Kemarilah" kataku pelan dengan nada perlahan.


"Tak mau, aku tak ingin membuatnya terbangun"


"Cepat kemarilah Theo, aku tak bisa banyak berjalan sekarang"


Dengan jinjitan perlahan, Theo duduk di samping ku. Menahan ketukan kaki, agar Raffyn tak terbangun kembali.


"Apa! yang kamu ingin katakan Theo, dengan nada perlahan saja tak perlu berteriak" kataku dengan memberikan isyarat telunjuk yang di letakkan di bibir.


"Tidak, aku pikir kamu akan menerima tawaran Welmia?" tanya Theo dengan nada perlahan.


"Jika aku menerimanya, aku tak akan memberikan itu padamu" kataku dengan menunjukan cek yang masih di pegang Theo.


"Theo... Aku hanya berpikir kalian memiliki masalah apa? Hingga seperti ini sungguh membuatku tak nyaman"