
"Aku tak menyangka, bisa bertemu denganmu secepat ini," suara samar baddas membuat Emelin membeku seketika.
"Theo.... " gumam Emelin tak bisa memalingkan wajannya.
"Paman Theo!" teriak Darrel langsung berlari dan memeluk Theo.
"Hm? Apa ini, kamu bertengkar lagi?" tanya Theo pada Darrel, dengan mengusap pipinya yang terlihat terluka.
Emeline menatap Theo, begitu juga sebaliknya. Lantas memeluk Raffyn, dengan Theo juga membopong Darrel. 'Sebentar? Tunggu, Jangan-jangan itu adalah anak Theo dengan Dara?' ucapan Emelin mengingat dulu Dara tengah mengandung.
"Apa ini sudah berakhir? Maaf, aku tak tau keponakan ku berbuat banyak hal yang mengganggu," kata Theo seolah tak tau dengan Emelin.
Antara sakit hati, sedih, juga terkejut. Tak tau apa yang terjadi, Theo berbicara seolah mereka adalah orang asing. Ya, mereka memang sudah menjadi orang asing. Semenjak lima tahun lalu, saat Emelin pergi dari rumah Bi Teresa.
"Tak masalah, tapi bisakah? Keponakan anda butuh banyak pemahaman, begitu pula dengan putra saya," jelas Emelin juga menanggapi Theo.
Keadaan berbalik, Theo juga terlihat terkejut. Theo mulai membuka mulutnya, dan tersenyum pada Emelin.
"Tak masalah, saya harap pertengkaran ini sudah sampai sini saja. Saya Theo Walcott, saya harap bisa bertemu dengan anda selanjutnya," ujar Theo memberikan uluran tangan.
"Terimakasih, tapi semoga tidak. Jika bertemu, mungkin ada masalah lagi yang terjadi," balik Emelin dengan menundukkan badannya. "Sayang, kamu juga harus meminta maaf," menundukkan Kepala Raffyn.
Setelah itu, lantas Emelin pergi. Begitu juga Theo, sedikit gertakan gigi tanda dia marah.
"Paman Theo, siapa wanita itu?" tanya Darrel saat mereka ada di mobil.
"Dia itu, tante mu Darrel," ucap Theo tanpa ragu dengan terus menatap ke depan.
"Apa maksudnya?! Tak mungkin aku memiliki sepupu selemah dia!" teriak Darrel tak percaya. "Lagipula, kenapa kalian berpisah paman?" lanjut Darrel.
"Ada suatu hal."
"Karena ayah dan ibu bukan? Aku tau, mereka akan membuat masalah dengan paman," jelas Darrel.
Theo tersenyum simpul seolah semuanya baik-baik saja. Lalu mengusap kepala Darrel perlahan, dan menepuk nya pelan. "Tak masalah, tapi aku bangga setidaknya kamu tak mengikuti mereka. Darrel, bisakah paman meminta satu hal?"
"Apa paman?"
"Kamu akur dengan anak itu, dekati dia paman Ingin kembali bersama mereka," jelas Theo langsung di pahami oleh Darrel.
Di toko bunga milik Emelin, terdengar suara tangisan anak kecil. "Mama, mama, mama!! Ini sakit!" teriak Raffyn dengan air mata dan ingus yang keluar.
"Siapa suruh kamu bertarung dengan Dia hm?"
"Dia dulu mama!! Astaga, ini sakit!" teriak Raffyn kembali.
Emelin melihat putranya, dengan helaan napas Emelin mulai mengusap kepalanya. "Mama tak pernah mengajarkan kamu untuk berkelahi Raffyn, darimana kamu belajar seperti itu?" tanya Emelin.
"Dia yang memukul ku, aku hanya menirunya... Apa itu salah?" ujarnya dengan nada polos.
Bagaimanapun juga Raffyn tetap anak dari Theo. Sikapnya benar-benar mirip dengan Theo, baik dari sikapnya maupun kemampuannya.
'Apa lagi yang dia inginkan di sini, haruskah aku cepat-cepat pergi?' batin Emelin mulai menggerutu ragu.
Keesokan harinya, Raffyn seperti biasa pergi ke sekolah, tepat dia bertemu dengan Darrel yang di antar oleh Theo. Tatapan tak suka dari Raffyn, lantas pergi tanpa memperdulikan Darrel.
Raffyn sontak kebingungan dengan apa yang ucapkan oleh Darrel. Pasalnya kemarin Darrel terlihat sangat angkuh, untuk meminta maaf merupakan hal yang tak lazim menurut Raffyn.
"Kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf?" tanya Raffyn dengan sedikit mengangkat kepalanya tanda menyepelekan.
"Em... Itu, tak usah tatap aku dengan tatapan seperti itu!" kata Darrel dengan menundukkan kepala Raffyn dengan tangannya.
"..... Sialan!" gerutu Raffyn ingin membalasnya.
Akan tetapi, Raffyn ingat bagaimana Emelin menasihati nya kemarin. Tak ingin menanggapi Darrel, lantas dia pergi begitu saja.
"Tunggu?! Kamu tak menjawab ku, apa kamu tak mendengarkan aku? Maafkan aku," ucapan Darrel berulang terus.
"Iya! Aku sudah memaafkan mu, sekarang pergilah aku hanya ingin belajar dan cepat menjadi dewasa!" kata Raffyn menanggapinya.
Raut wajah risih tercipta dari Raffyn, tak ingin di ganggu juga tak ingin mengganggu.
"Jika kamu sudah memaafkan aku, kenapa kamu nampak marah seperti itu?" tanya Darrel kembali.
Raffyn hanya terdiam, dia melihat Darrel dengan tatapan bingung. Dia memang sudah memaafkan Darrel, tapi bukan berarti apa yang di lakukan Darrel kemarin dia akan melupakannya.
"Tak apa, lebih baik jangan ganggu aku lagi, sungguh aku tak ingin membuat masalah apapun denganmu," jelas Raffyn langsung bergegas masuk dan duduk.
Tak berselang lama, Darrel ikut duduk di sebelah Raffyn. "Kenapa kamu ikut denganku?" tanya Raffyn merasa terganggu. "Kamu ingin tau siapa Ayahmu?" pertanyaan dari Darrel yang sontak membuat Raffyn membulatkan mata.
Saat jam istirahat tiba, mereka duduk bersama. Dengan bekal yang di bawa masing-masing, mereka duduk di ayunan.
"Makanan apa itu? Itu hanyalah biskuit," celetuk Raffyn saat melihat bekal milik Darrel.
"Ambilah, mama membuatkan banyak. Kata mama jika ada seseorang yang gak bawa bekal aku harus membaginya," lanjut Raffyn dengan memberikan beberapa bagian bekal miliknya.
"Terimakasih," jawab Darrel dengan anggukan kepala.
Seketika mereka menjadi akrab, satu dengan yang lainnya. Darrel lantas menceritakan siapa ayah Raffyn yang sebenarnya, dan alasan kenapa Darrel ingin berhubungan baik dengan Raffyn.
"Paman Theo selalu membantu ku dalam banyak hal, aku tau kalian pasti berpisah karena ayah dan ibuku, aku meminta maaf akan hal itu," ujar. Darrel dengan tatapan sendu.
"Jika seperti itu buat papa dan mamaku bersama, lalu bagaimana untuk sekarang? Apa yang bisa kita lakukan?" tanya Raffyn.
Mereka berdua masih anak-anak, tapi pembicaraan layaknya orang dewasa. Berdiskusi satu dengan lainya, dan sama-sama berpikiran dewasa membuat mereka lebih dika berdua daripada bergaul dengan anak-anak yang lainya.
Pulang sekolah tiba, Darrel ikut Raffyn ke toko bunga milik Emelin. Ingin membuat rencana, lebih sering menciptakan peluang antara Emelin juga Theo.
"Mama!" panggil Raffyn dengan cepat berlari ke arah Emelin.
Usapan lembut dari Emelin tentu saja di lihat oleh Darrel. Perasaan iri dengan Raffyn, pasalnya jangankan untuk di usap seperti Raffyn, jika Darrel manja sedikit saja dia yang akan di marahi bahkan di pukul. "Bagaimana sekolahmu sayang? Gak nakal kan?" tanya Emelin.
"Tidak, lagipula.... " ucapan Raffyn terhenti, saat Darrel berjalan perlahan ke arah nya. "Boleh jika Darrel main ke rumah ma?" lanjutannya.
Satu hal, Emelin merasa bangga jika Raffyn sudah berbaikan dengan orang yang tak dia suka. Akan tetapi, di sisi lain orang itu adalah Darrel, membuat Emelin sedikit ragu untuk mengizinkannya.
"Boleh, tapi.... "
"Misal gak boleh gak apa-apa tante." celetuk Darrel menahannya untuk berbicara.