A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Awal Salju Di Tahun Ini



"Mama, apakah kita benar akan pergi?" pertanyaan dari Raffyn seketika membuat Emeline diam.


Menatap ke arah Theo. Namun, sudah di duga Theo seperti biasa hanya menaikkan bahunya. "Kenapa kamu menatapku? Aku tak tau apapun," ujar nya seolah melepas tanggungjawab.


"Sayang, ada suatu tempat yang lebih akan dari ini."


"Apa ini karena ibuku lagi?" sela Darrel dengan menatap Emeline kuat.


"Itu... "


"Tidak, Darrel kita sudah membicarakan ini. Kamu akan lebih aman dengan Raffyn dan Emeline, ji-"


"Tapi bagaimana dengan paman!" teriak Darrel. "Paman selalu saja seperti ini, selalu menempatkan diri paman dalam bahaya. Aku mohon ikutlah dengan kami," lanjut Darrel.


"Apa yang kamu katakan? Apanya yang dalam bahaya?" tanya Raffyn saat keinginan taunya meningkat.


"Ini bukan untuk anak kecil."


"Darrel, apakah kamu tau kita ini sama!"


"Tapi aku berbeda denganmu, aku-"


"Kalian!" teriakan Emeline dengan menatap kesal kedua anak itu.


Mereka hanya meringkuk takut, dengan menundukkan kepala nya. "Sekarang pergi ke kamar, dan jangan keluar sebelum ada yang memanggil kalian," lanjut Emeline.


Keduanya hanya menurut, bahkan terburu-buru untuk naik ke atas. Emeline menatap Theo dengan tatapan bingung juga resahnya. "Jadi apa? Jelaskan padaku dulu."


Dalam kamar, terlihat dua anak kecil yang saling menyalahkan satu sama lain. Satunya keras kepala karena dia merasa dewasa, satunya lagi merasa tak suka karena sikapnya.


"Ini semua karena kamu, tante Emeline jadi mengusir kita!" teriak Darrel.


"Kenapa? Harusnya anak-anak tak mendengar pembicaraan orang dewasa," bantah Raffyn.


"Tapi aku bukan anak-anak!"


"Kamu dan aku itu sama saja bodoh!"


"Siapa yang kamu bilang bodoh?"


Mereka berdua bertengkar layaknya anak-anak pada umumnya. Membicarakan hal-hal yang mereka belum tau, merasa paling benar bahkan bertengkar untuk sesuatu yang tak pantas untuk di bicarakan.


"Kalian!" teriak seseorang dari balik pintu.


Terlihat Theo dengan wajah marahnya, menatap Darrel juga Raffyn. Lantas dia berjalan masuk, mulai berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan kedua anak itu.


"Kalian, berhentilah bertengkar nanti. Saat kalian pergi, kalian harus lebih akrab satu dengan yang lain," titah Theo dengan memegang kedua tangan anak itu.


"Bagaimana? Aku tetap ingin dengan paman Theo," rujuk Darrel tetap tak mau pergi.


"Sejak kapan kamu tak bisa menurut Darrel?"


"Mana mungkin aku meninggalkan paman di saat aku tau bagaimana orang tuaku itu.... " gumam Darrel dengan kepala yang dia tundukkan.


Darrel tak bisa berbicara lagi, dia paham betul dengan apa yang dia katakan tadi. Orang tua Darrel, keduanya bukan hanya berambisi tapi juga pemaksa. Jika mereka ingin sesuatu, maka mereka akan mendapatkannya.


"Paman Theo bisa saja terbunuh saat itu," lanjut Darrel.


Theo memandang Darrel, dengan usapan di kepalanya perlahan. Lalu mulai mengecup dahinya pelan. "Maka dari itu, kamu harus bisa menjaga Emeline Darrel. Itu tugas yang aku berikan padamu," jelas Theo


"Untuk sekarang kamu boleh membalas budi, Darrel jika aku tak kembali maka kamu yang harus menjaga Emeline nanti. Janji?" jelas Theo dengan jari kelingking yang dia ajukan.


"Bagaimana dengan paman?" tanya Darrel kembali terulang.


"Aku akan menyelesaikan sisanya," jawab Theo dengan senyuman.


Beberapa saat mereka mulai berbincang. Darrel yang awalnya tak mau pergi, menurut dengan Theo. Raffyn juga mulai bersiap, tapi lain hal dengan Emeline.


Dadanya sesak saat dia mendengar pembicaraan Darrel juga Theo di depan pintu. Dia sadar, perasaan yang dia simpan sekarang. Theo, awalnya dia membawa Raffyn pergi karena Theo mengkhianatinya, berperilaku kasar, juga suka bermain wanita. Tanpa di sangka, selama ini itu adalah kedok agar Theo bisa menyusun rencana. Bertahan di bawah Welmia yang menjadikannya seolah budak perusahaan.


"Maaf.... " gumam Emeline dengan genggaman tangan pada bajunya.


"Emeline? Apa yang kamu lakukan? Saat mereka lihat, kamu akan memberikan contoh yang buruk karena menguping pembicaraan," titah Theo yang entah darimana.


"Kenapa kamu cepat sekali keluar?!" tanya Emeline terkejut.


"Aku sudah berbicara dengan Darrel juga Raffyn, kalian akan pergi sekitar jam satu atau dua dinihari. Untuk sekarang, mungkin ada salam perpisahan?" tanya Theo memeluk Emeline.


"BODOH! Kamu akan kembali bukan... Kamu harus kembali, ada keluarga yang membutuhkanmu di sini," ujar Emeline dengan pelukan balik kepada Theo.


Emeline tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Tangisan keluar seketika, dengan pelukan kuat yang dia lakukan. "Benar, saat kita pergi bersama Welmia tak akan sadar juga."


"Emeline, Keluarga Kaveleri itu lebih rumit dari yang kamu kira. Kamu harus kuat, seperti saat kamu membesarkan Raffyn sendiri. Kamu bisa, aku tau. Untuk sekarang, kaga Darrel juga," jelas Theo mengusap air mata Emeline.


"Kenapa kita harus hidup di dunia seperti ini Theo? Apa kita tak bisa kembali? Saat kita mulai tersenyum seperti orang biasa lagi?" tanya Emeline.


"Tidak, karena dunia ini yang aku pilih."


Jawaban singkat dan tegas dari Theo. Entah apa yang terjadi selama lima tahun ini, banyak hal yang berubah. Selain dari sikap Theo, kehidupannya juga. Merasa tak tenang, bahkan harus jauh dari orang yang di sayang.


"Saat kamu menyukai seseorang, membuatnya aman itu lebih penting daripada harus bersama, Emeline," ujar Theo kembali.


Dengan kecupan singkat di bibir Emeline, melanjutkan ke pagutan yang dalam. Beberapa saat pagutan itu berlangsung, Theo melepaskannya untuk sesaat. Membuat Emeline untuk menarik napas sejenak, lalu melakukannya kembali.


...***...


Setengah dua seperti yang di perkirakan. Theo mulai pergi keluar, sedangkan Emeline membangunkan Darrel juga Raffyn yang masih terlelap.


Untungnya tadi malam mereka sudah bersiap, mengemas baju mereka. "Tante, apa sekarang waktunya?" tanya Darrel saat dia terbangun.


Merasakan setengah tidur, dengan mata yang masih dia kucek tanda mengantuk.


"Iya sayang, sekarang ayo pake Sweater mu, malam ini mulai turun salju," jawab Emeline dengan memakaikan Darrel sweater miliknya.


'Ya, salju pertama untuk tahun ini. Kenapa datangnya cepat sekali, mungkinkah ini pertanda baik, atau pertanda buruk,' batin Emeline berucap.


"Ibu, karena ibuku paman Theo harus seperti ini. Tak seharusnya kamu memperlakukan ku layaknya Raffyn tante Emeline. Harusnya kamu membenci ku, sama seperti orang-orang itu," ucapan tiba-tiba keluar dari Darrel, dengan tangisan dan tangan yang dia silangkan untuk memeluk dirinya sendiri.


Emeline tersenyum sendu, anak sekecil ini tak seharusnya berkata seperti itu. Usapan kembali Emeline lakukan pada Darrel, juga kecupan singkat di dahinya.


"Untuk sekarang, kamu panggil aku mama ya? Ibumu bukan Welmia Kaveleri tapi Emeline Emueis, ingat itu."


Darrel menatap Emeline sendu, dengan mata lebam karena baru bangun juga menangis. Pipinya memerah, juga hidung yang sedikit mengeluarkan ingusnya. "Aku... Aku bukan anak kecil.... " entah apa yang Darrel ucapkan, tiba-tiba dia menangis dan mulai memeluk Emeline.


"Aku berbohong, aku takut... Sungguh takut.... "