
...FLASHBACK...
"Lalu bagaimana? Mereka akan mulai mengincar Emelin dan bayimu juga" ucap Dergaz dengan nada serius.
"Aku tau, tapi bagaimana aku tak mungkin menderitakan ini terhadap Emelin. Sial! Aku terlalu lengah! Aku kira Drake akan menetap di sana" kata Theo juga dengan nada kasarnya.
"Emelin, sebentar lagi dia juga akan melahirkan kan?"
"Iya..."
"Pekerjaanmu semakin banyak, aku harap kamu bisa datang saat dia melahirkan. Katanya seorang istri butuh dukungan dari suaminya saat dia melahirkan" kata Dergaz mukai menyusun berkas yang dia bawa.
Dergaz dengan Theo belum pernah berbicara dengan nada seperti ini. Mereka sama-sama cemas, juga bingung bagaimana menanggapi Drake yang tiba-tiba kembali.
"Jadi bagaimana? Dia tak akan melepaskanku begitu saja, lagipula aku tak akan menyerah hanya karena orang sialan itu" ucap Theo dengan penuh amarah.
"Yang pasti dia tak akan mengincarmu, dia akan mengincar Emelin dan juga bayimu" kata Dergaz beranjak dari ruangan Theo.
Theo kini tambah berpikir dengan keras. Tangannya dia lipat, lalu di gunakan untuk menyangga wajah tepat di dahinya.
"Cemas? Tentu saja aku cemas, jujur aku juga takut. Tapi tak masalah, kita keluarga. Selama kamu ada denganku, apa yang harus aku cemaskan?" sekilas ucapan dari Emelin yang membuat Theo mengangkat wajahnya.
"Jika orang itu pikir bisa memanfaatkan Emelin juga bayiku, mereka salah. Drake... Merekalah yang membuatku kuat, bahkan jika kalian menyentuhnya aku tak segan untuk membunuh Darrel juga" gumam Theo sendirian.
Beberapa saat kemudian Theo pulang dengan wajah cemasnya. Terlihat Theo yang kelelahan karena di paksa untuk pulang lebih malam. Saat sampai rumah, terlihat bi Teresa yang masih terjaga. Dengan wajah khawatir juga cemas bi Teresa datang menghampiri Theo.
"Ada apa bi?"
"Tak masalah, kenapa tuan baru pulang?"
"Drake, sialan itu sengaja membuatku lembur beberapa hari ini. Bagaimana dengan Emelin?"
"Dia ada di kamarnya," jawaban dari bi Teresa yang membuat Theo langsung berjalan ke lantai dua.
Di buka perlahan pintu kamar, terlihat Emelin yang tengah berdiri di tepi jendela dengan perut besarnya.
"Emelin.... " panggil Theo membuat Emelin langsung memalingkan wajahnya.
"Ha? Kapan kamu pulang?" tanya Emelin.
Tak ada jawaban dari Theo, hanya sebatas pelukan hangat juga sedikit ciuman berulang di wajahnya.
"Miss you.... " kaya Theo terus menciumi wajah Emelin.
"Ya... Aku tau, tapi setidaknya mandi atau ganti baju dahulu" ucap Emelin mencoba untuk melepaskan pelukannya.
"Aku merindukanmu... Tak cukup itu menjadi alasan aku memelukmu?" tanya Theo dengan wajah marah yang dia buat-buat.
Tanpa pikir panjang, sebuah kecupan dari Emelin mengarah langsung ke bibir Theo.
"Mandi dulu ya... Kamu pasti lelah, aku mau bikinin teh dulu" kata Emelin dengan lembut sesaat setelah mengecup bibi Theo.
Theo hanya diam sesaat, tak lama setelah itu dia berbalik mencium pipi Emelin.
"Minta bi Teresa aja ya? Jangan terlalu banyak gerak apalagi naik turun tangga, nanti capek juga takut ada apa," kata Theo manis.
"Tak masalah," kata Emelin berusaha meyakinkan.
Beberapa saat kemudian Theo pergi ke kamar mandi, sedangakan Emelin turun dengan perlahan. Meskipun dia juga kena omel bi Teresa jika dia harus istirahat dan tidur di kamarnya.
Beberapa hari ini Emelin tak bisa tidur dengan nyenyak, bahkan dia tak bisa berdiam diri. Emelin mondar-mandir di kamarnya, sesekali duduk tapi itu tak lama.
"Emelin? Rasa gak enak badan?" tanya Theo yang melihat tingkah laku Emelin.
"Tak apa, hanya saja aku tak ingin duduk. ini seperti gelisah," jawab Emelin dengan senyuman sebelumnya.
Di pagi harinya, Theo seperti biasa berangkat ke kantor. Dengan Emelin yang belum terbangun. Memang Theo agak kecewa, tapi tak masalah karena Theo juga tau saat tadi malam Emelin tak bisa tidur dan hanya mondar-mandir di kamar.
"Bi Teresa, nanti sering liat Emelin ya? Dia tadi malam gak mau tidur."
"Kenapa?"
"Iya, tadi malam katanya dia rasa gelisah. Mondar-mandir gak mau diem, aku takut ada apa-apa jadi tolong sering di lihat ya?"
Bi Teresa hanya terdiam, dengan kerutan di dahi tanda dia tengah berpikir.
"Kenapa?" tanya Theo merasa gugup juga takut.
"Tak apa tuan, saya hanya pikir nyonya Emelin akan segera melahirkan," ucapan dari bi Teresa yang sukses membuat mata Theo membulat sempurna.
"Aku tak akan pergi kerja, dia bisa merasakan kapan saja," kata Theo bersiap kembali ke dalam.
Theo kembali terdiam, mengepalkan tangan mengingat masih ada yang harus dia lakukan.
"Sial! Bi Teresa jaga dia, apapun yang terjadi tetap hubungi aku," kata Theo langsung berbalik dan menuju ke mobilnya.
Dalam kantor pun Theo tak bisa fokus. Dia terus sJa memikirkan Emelin, apalagi saat bi Teresa tadi mengatakan jika dia akan melahirkan, membuat Theo tak tenang.
"Harusnya aku tak be-" sebuah nada dering dari ponselnya, terlihat dari nomor Emelin yang memanggilnya.
Beberapa perbincangan juga terjadi. Emelin bilang jika dirinya tambah tak bisa diam. Dia tambah gelisah, dengan kaki yang semakin lelah. Ingin Emelin terus duduk ataupun merebahkan badannya, tapi di sisi lain Emelin tak ingin diam.
"Baiklah, aku segera ke sana," ucap Theo saat Emelin bilang ingin dengannya saat di rumah sakit.
"Mau kemana?" tanya Drake yang tiba-tiba ada di ruangannya.
"Aku ingin ke rumah sakit, Emelin akan segera melahirkan," Jawab theo seolah tak peduli.
"Ingin ke rumah sakit? Proposalnya bagaimana? Itu harus siap besok!"
"Persetan dengan proposal! Istriku akan melahirkan sekarang!"
"Ck! Kamu sudah berani berteriak ya Theo... Mungkin kamu lupa, program kerja kamu itu aku yang memilikinya. Bagaimana tanggapan Brian? Jika tau bahwa adik kecilnya yang suka dia banggakan ternyata ikut dalam organisasi hitam?"
Sebuah kalimat yang membuat Theo terdiam. Dia mulai menggertakkan giginya, saat program kerja yang Theo miliki di curi paksa. Karena satu hal itu saja yang membuat Theo menuruti pada Drake.
"Bukankah kamu yang seharusnya berhati-hati? Aku ikut organisasi Hitam, jadi kamu bisa menjadi sasaran,"
"Tak, lihatlah bagaimana aku menjadikan istrimu sebagai kelemahan?"
Kalimat dari Drake kembali membuat Theo terus bungkam. Dia melihat Drake kesal, dengan senyuman Drake yang benar-benar merendahkan membuat Theo muak.
"Drake... Jangan se-"
"THEO!" teriakan seseorang yang membuat Theo tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Eh-? Drake.... " ucap Dergaz saat melihat Theo dan Drake yang tengah berbincang dengan aura menekan.
"Apa Dergaz? Cukup kamu menggangu untuk saat ini."
"Maaf, tapi Emelin sudah mulai pembukaan. Dia katanya sudah menelponmu, tapi kenapa kamu masih di sini!"
ucapan Dergaz yang membuat Theo ingin segera pergi, tapi lagi-lagi Drake menahan Theo agar tak pergi.
"Apa! Proposal! Aku akan menyelesaikannya bahkan sebelum kamu memintanya!"
"Tak akan aku biarkan kamu pergi. Theo ini adalah proyek besar! Kamu ingin melepaskannya hanya karena seorang wanita?!"
"Diamlah bodoh! Kerjakan sendiri jika kamu butuh!"
"Mungkin kamu lupa kembali apa yang telah aku katakan Theo, kamu ingin agar aku me-"
"Aku yang akan menggantikan Theo. Proposal kan? Aku sering membuatnya saat Theo masih menjadi bosnya," sela Dergaz.
Semuanya terasa kacau di ruangan itu. Saling bentak satu sama lain, bahkan sesekali pukulan yang melayang. Beberapa pegawai melihatnya hanya bisa fokus, hingga Theo keluar dengan aura marahnya. Bergegas menuju basement untuk mengambil mobilnya.
"Kamu bisa di tolong sekarang, tapi bagaimana nanti? Saat orang di masa lalu mu datang, mana yang akan kamu pilih?"
...FLASBACK END...
.
.
.
.
.
...–––––AUTHOR–––––...
HALLO SEMUANYA!!! Makasih yang udh sempetin mampir di bab ini eheq, semoga kalian menikmatinya meskipun jujur di bab ini entah kenapa othor kurang ngena suasananya. Haduh.. Maafin othor jika kalian kurang puas ya? Karena othor benar-benar masih pemula. Jangan lupa terus dukung author dengan tinggalkan jejak di setiap babnya. Ah-! Satu hal lagi, di karnaval Natal pastinya kalian tau... Author boleh minta dukungan untuk lindungi karya author. Author tau karya author masih ampas dan belum banyak yang baca, juga feeling yang gak terlalu ngena di setiap babnya, tapi jika kalian semua bantu author sangat berterimakasih. Setidaknya karya author bisa di lindungi. Akhir-akhir ini ada kasus Plagiatisme dengan novel yang sama di terbitkan di apk yang lain. Author gak mau novel author juga di plagiat, meskipun sebenarnya kemungkinan kecil untuk di plagiat. Tapi author akan sangat berterimakasih jika kalian bisa membantu author.
Author hanya minta dukungan saja untuk lindungi karya author yang ini saja. A psychopath's obsession. Karena dukungan dari kalian sangat berharga untuk author, untuk melindungi karya author. Mungkin author terlalu banyak bicara, terimakasih dan
SEE YOU NEXT PART!
(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و