A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Pertengkaran Anak-Anak



Welmia menyeritkan salah satu alisnya, dengan seringai merasa tak puas dengan apa yang aku katakan. "Anak? Hah? Apakah anak yang di lahirkan tanpa status bisa di perlakuan seperti yang lainya?"


Aku hanya terdiam, ingin aku tampar wajahnya tapi aku gak bisa. Aku hanya menatap Welmia sesaat, lalu mulai berbalik gak meninggalkannya pergi.


"Heh! Wanita malam! Tak bisakah kamu dengar?!" teriaknya dari jauh. "Andaikan kamu menerima tawaran ku dulu, kamu gak perlu melakukan usaha kerasmu itu. Heh, keras kepala dan ya... Theo, orang yang kamu anggap mencintai mu justru berbalik saat mantan yang dia suka datang," lanjutnya panjang.


Aku gak bisa berjalan, kakiku rasanya mati total. Tanganku gemetar merangkul Raffyn yang menatapku khawatir. "Mama? Are you okay?" tanya Raffyn membuyarkan semuanya.


Benar, memang benar Theo meninggalkanku saat itu. Memilih Dara, dan pergi dariku. Tapi bukan berarti aku akan terpaku dengan masa lalu, setidaknya aku akan bertahan sekarang. Benar, aku bukanlah Emelin seperti dulu yang akan menangis dan bedpangku tangan.


"Heh-? Tuli apakah kamu tak mendengarkan nya?" kata Welmia mulai kesat saat aku terus berjalan tanpa memperdulikan nya. "Urus saja putramu itu, Welmia," jawab Emelin dingin.


Selanjutnya aku menjadi bahan gunjingan beberapa orang di sana. Jujur saja, aku ingin langsung pindah karena aku takut itu akan mempengaruhi Raffyn.


"Tak apa! Aku lebih kuat dari anak seumuran ku mama!" ujarnya dengan penuh keyakinan menatapku.


Helaan nafas, entah harus bangga atau justru khawatir. Sikap Theo benar-benar menurun pada Raffyn. Orang bilang jika hamil kamu membenci seseorang, maka anakmu akan seperti orang itu. Perasaan aku tak pernah membenci Theo, setidaknya selama masa kehamilan ku.


"Nona? Nona Emelin?" kata seseorang dengan menggoyang badanku.


"Eh! Marisa, kenapa?"


"Aku khawatir, beberapa hari ini nona sering diam, juga melamun. Apakah ini masalah ayah Raffyn?" ujar nya membuatku langsung membulatkan mata. "Maksudnya apa Marisa?"


Marisa menggelengkan kepalanya, lalu memberikan surat padaku. "Beberapa hari lalu ada seorang laki-laki datang, dan menitipkan ini pada Anda. Dia juga bilang, aku akan segera kembali," lanjutannya.


Tanganku gemetar meraih surat itu. Marisa adalah tangan kanan ku untuk mengurus toko teh ini. Beberapa hari lalu, aku pergi hanya untuk healing dan berlibur dengan Raffyn. Aku tak menyangka, jika Theo akan kembali lagi.


Sudah lama aku merasa tenang, meskipun tidaklah mudah tapi aku baik-baik saja.


Hai, Emelin Emueis. Remember me?


Haha, saat kamu membaca ini mungkin kamu sudah sadar aku siapa, jika tidak pelayanan itu yang sudah memberitahu aku siapa. Aku sengaja memberikannya saat kamu tak ada, susah.. Memang susah aku mencari mu dulu, tapi tidak sekarang. Aku akan kembali, itu pasti. Dan Raffyn, kamu menjaganya dengan sangat baik. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang pintar dan cerdas, biarkan aku membawanya pasti dia akan menjadi anak jenius nantinya.


–Theo Walcott.


Tangan ku menggenggam kuat surat itu, lantas meremas nya. 'Inikah alasan Welmia ada di sini?!' batinku berucap dengan air mata yang tak bisa aku tahan.


Lalu sekarang apa? Bagaimana masa tenang sebelum badai datang, itu hanyalah sementara.


Aku bergegas beranjak ke atas, mengemas bajuku dengan milik Raffyn. Lalu saat Raffyn pulang sekolah, aku akan membawanya pergi. Persetan dengan sekolahnya atau apa, untuk sekarang aku gak boleh membiarkan Theo mengambil Raffyn.


...DI SISI LAIN...


Dua orang anak yang sama-sama terlihat manis dan tampan duduk bersebelahan. "Hei, Raffyn Emueis," ujar salah satunya.


Yang lainya hanya duduk diam dengan tenang, sembari membuka beberapa buku tebal. 'Ck! Sombong sekali,' gerutu Raffyn.


"Apa kita pernah memiliki hubungan sebelumnya?" tanya Darrel tiba-tiba.


"Aku tak tau, kenapa kamu bertanya seperti itu. Kamu tau, aku ini baru di sini, ibuku saja orang pindahan bukankah jelas aku di sekolah internasional karena apa?" jelas Raffyn dengan wajah kebingungan nya.


"Mama, jangan panggil mamaku dengan ibu, mama. Mama Emelin itu lebih pantas," sergah Raffyn cepat.


Darrel menatapnya dengan wajah kesal yang dia tahan, bagaimanapun juga mereka masih anak-anak lima tahun. "Ibu dengan mama itu sama!" kata Darrel dengan nada meninggi.


"Panggil saja untuk ibumu yang galak itu! Ibu memang galak, tapi mama selalu lembut," jawab Raffyn dengan bangga.


Beberapa anak mulai melihat ke arah mereka. Semuanya yang awalnya berjalan baik, ini mulai ricuh karena mereka berdua. Hanya perdebatan memanggil ibu atau mama.


"Ck! Tapi ibu lebih modern, mama kuno sekali," bela Darrel dengan melipat tangannya.


"Hmph! Kamu tau ibu yang jahat, ibu tiri! Tapi tak pernah ada mama tiri, ibumu tak pernah membacakan cerita? Oh pantas kamu ta-"


...BUK...


Pukulan Darrel kuat di pipi Raffyn. "Hehe~ sialan,"


Raffyn tak hanya diam, dia juga membalasnya. Beberapa saat berlalu, orang tua Raffyn dan Darrel di panggil untuk ke sekolah.


Emelin menatap anaknya itu, begitu juga dengan Darrel yang menundukkan kepalanya malu. "Ha, mama baru meninggalkanmu beberapa jam Raffyn, apa ada pembelaan?" Emelin dengan wajah marahnya.


"Dia yang memukul ku terlebih dahulu," ujar Raffyn menyikut Darrel.


"Kamu yang kekanak-kanakan! Aku hanya memanggil ibumu dengan ibu, kenapa itu tak boleh?!"


"Karena mama ku itu mama! Bukan ibu!"


Emelin menatap kedua anak itu, rasanya seperti anak kembar. Sama-sama saling menanggap kekanak-kanakan, tapi sendirinya juga seperti itu. "Ha~ baiklah kalian berdua!"


Keduanya menatap Emelin diam, dengan menundukkan kepala.


"Ya, kalian mau ibu atau mama sama saja. Tak peduli, sikap ibu tiri atau mama tiri menurut ku juga tak ada bedanya. Itu tergantung orang itu sendiri, kadang bahkan ibu asli lebih jahat dari ibu tiri. Kalian itu teman, bersalaman dan mulai berbaikan," jelas Emelin panjang.


Darrel menatap Raffyn, begitu pula sebaliknya. "Maafkan aku," ujar Raffyn membuka pembicaraan.


"Kamu bukan temanku," jawab Darrel justru menangkis tangan Raffyn.


'Persis sekali dengan sikap angkuh Welmia,' batin Emelin bergumam dengan senyuman miris yang dia buat.


Emelin perlahan mendekati Darrel, mengusap kepalanya. "Darrel marah dengan Raffyn? Tapi dia sudah meminta maaf."


"Dia bersikap kekanak-kanakan, menyebalkan. Lagipula, dia bukan temanku," jelas Darrel dengan kesal.


"Heh-! Orang kota, kamu lihat dirimu apakah kekanak-kanakan atau tidak," gerutu Raffyn dengan menunjuk Darrel marah.


"Lihatlah sikapmu, tidak te-" ucapan Darrel terhenti, saat Emelin menghentikannya.


Bibirnya di tahan oleh Emelin, lalu mengarahkan tatapnnya. "Dengarkan ini sayang, aku tak tau bagaimana pelajaran mu. Menurutmu apa itu kekanak-kanakan? Kalian masih anak-anak menjadi kekanak-kanakan adalah hal yang wajar," kata Emelin dengan penuh pengertian.


"Aku tak menyangka, bisa bertemu denganmu secepat ini, Emelin."