A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Mama Emeline Adalah Mama Rara



"MAMA!" teriak seorang anak perempuan dengan senyuman manisnya.


Emeline lantas terkejut dengan apa yang terjadi, dia bahkan tak tau siapa anak perempuan ini. Lantas Emeline Berjongkok, lalu mulai mengusap kepala anak perempuan itu.


"Kamu siapa sayang, kenapa tiba-tiba ada di apartemen saya? Tersesat? Atau mencari seseorang?" tanya Emeline dengan nada lembutnya.


"Mama! Mama!" teriaknya kembali langsung memeluk Emeline.


"Ibu, punya anak lagi?" terdengar sayup suara Darrel dari belakang Emeline.


"E-! Itu, ini ibu bahkan tak tau," jawab gugup Emeline.


"Rara kangen mama...." titah anak perempuan itu, mengeratkan pelukannya pada Emeline.


Sepertinya ada yang aneh dengan anak perempuan ini, Emeline membopongnya lalu membawa ke dalam. Dengan perasaan bingung juga kaku, begitu pula dengan Darrel juga Raffyn.


"Kamu siapa, kenapa datang dan panggil mama dengan mama?" tanya Raffyn sedikit mencubit pipi rara.


"Dia mama ku, papa bilang aku akan segera punya mama sekarang," jawab rara dengan nada khas anak-anak.


Umur rara masih sekitar empat atau lima tahun, terlihat kecil bahkan mungkin belum memulai sekolah.


"Rara? Siapa nama papa kamu?" tanya Emeline memberikan susu pada Rara.


"Dave, Dave Camelion," jawab Rara singkat dengan meminum susu miliknya.


'Sial! Dia ternyata duda,' batin Emeline bergejolak saat mendengar jawaban dari Rara.


Nomor Dave untungnya masih Emeline simpan. Dengan mempercayakan Rara pada Darrel juga Raffyn, Emeline mencoba untuk menghubungi Dave.


Lama sekali, bahkan Emeline harus mencoba memanggilnya beberapa kali. "Halo?! Kamu memiliki hobi untuk menggangu seseorang sekarang?!" teriak Dave seketika saat panggilan di angkat olehnya.


Emeline lantas menaikkan salah satu alisnya, sikap yang aneh untuk Dave sendiri. Dia seperti orang yang baik, bahkan tak mudah marah. Namun, sekarang seperti orang yang berbeda.


"Halo Tuan Dave, maaf mengganggu Anda, tapi... Putri Anda ada di apartemen saya," jawab Emeline ragu, apalagi setelah mendengar Dave teriak di awal.


Seketika Dave diam, tak ada ucapan yang keluar. Lalu panggilan dia matikan, tanpa menjawab apapun. "Kebiasaan orang kaya," kata Emeline lantas berjalan masuk ke apartemen miliknya.


Terlihat Darrel yang tengah duduk di lantai, dan juga Rara yang mengusap rambut Darrel.


"Kaka Darrel cantik, Rara kasih iket rambut punya Rara ya," kata Rara antusias.


"Lakukan apa sesukamu saja Rara," jawab Darrel dingin dengan melanjutkan membaca bukunya.


Terlihat Darrel itu anak yang baik, cuma gak menampilkan nya secara luas saja. Dia tak pandai berbicara, tapi Emeline yakin Darrel penuh dengan kasih sayang di dalamnya.


"Darrel?" panggil Emeline seketika masuk.


"Ibu, selamat datang kembali. Sudah menelpon ayah anak ini?" tanya Darrel langsung memalingkan wajahnya.


"Rara! Rara bukan anak kecil! Dan nama Rara itu Rara!" teriak Rara kembali juga memukul pundak Darrel.


"Iya Rara, jadi ayah Rara mana?" tanya Darrel mengusap kepala Rara.


"Di kantor. Ayah sibuk, gak ada waktu main sama Rara jadi Rara main sama mama!" teriak Rara dengan menunjuk jarinya pada Emeline.


Emeline hanya mengerutkan kening, mengusap pelipisnya perlahan berpikir bagaimana caranya anak ini bisa datang ke apartemen nya sendiri.


"Darrel? Dimana Raffyn?" tanya Emeline tak melihat putra nya.


"Oh, sebenarnya ayah ra-"


"Aku menemukannya!" teriak Raffyn dari balik pintu kamar. "Eh-? Mama sudah kembali?" lanjut Raffyn yang ada di ruang tengah bersama Darrel juga Rara.


"Apa yang kamu temukan sayang?" senyum Emeline sudah mengetahui lebih dulu.


"Mama sudah tau," jawab Raffyn dengan nada mengintimidasi.


"Jadi benar Rara adalah anak dari laki-laki yang kemarin ibu selamatkan?" tanya Darrel.


"Iya," jawab Raffyn duduk di sebelah Darrel, dan memberikan beberapa lembar kertas.


Dalam rumah Emeline memang sudah di siapkan komputer juga alat print sendiri. Selain untuk mendesain label pesanan yang akan Emeline buat, untuk beberapa keperluan.


Sebenarnya Emeline belum terlalu butuh alat itu, hanya saja Darrel dan juga Raffyn yang terus memaksa Emeline. Dengan alasan tugas dan sebagainya, rayuan dari kedua anaknya yang tak bisa Emeline tolak.


"Ternyata dia sudah punya anak," ujar Darrel dengan memeriksa kertas yang di berikan oleh Raffyn.


"Iya, tak bisa jadi papa. Kita cari lain saja, tak mau nanti mama di sebut pelakor ataupun sebagainya."


"Tapi anak ini-"


"Rara!" teriak Rara saat Darrel tak memanggil namanya.


"Baiklah, tapi Rara dia hanya menyebutkan ayahnya sama sekali tak menyebutkan nama ibunya," gerutu Darrel berpikir.


"Rara mana mama kamu?" tanya Raffyn penasaran.


"Dia mamanya Rara!" jawab Rara dengan menunjuk pada Emeline.


Dengan helaan napas seperti biasa, Emeline hanya bisa melihat tingkah laku Rara. Hampir pukul sembilan, tapi Rara belum juga di jemput oleh Dave ataupun pengawalnya. Dia main, sarapan, bahkan di mandikan oleh Emeline. Bahkan membawanya ke toko miliknya.


"Em-! Ehhh! Siapa dia?!" tanya Diana sesaat melihat Emeline, Raffyn, Darrel, juga Rara yang tengah duduk di pojok cafe miliknya.


"Saya Rara, dan mama Emeline adalah mama Rara!" jawab Rara sebelum Emeline bisa menjawabnya.


Emeline hanya bisa memaksakan senyumannya. Entah darimana anak ini mempelajari itu semua, bahkan dari awal bertemu Rara sudah menganggap Emeline sebagai mamanya.


Raut wajah terkejut terlihat dari Diana, lantas Emeline membawa Diana ke meja pesanan dan membicarakannya.


"Jadi Rara itu anak orang yang kamu selamatkan?" tanya Diana memperjelas cerita dari Emeline.


Helaan napas dari Emeline, melihat kearah Rara kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Sejujurnya aku juga kurang yakin, aku sudah menelponnya tapi sepertinya dia sibuk atau apa. Aku menelponnya tadi pagi, tapi dia belum juga kesini, aku pikir dia bukan anaknya. Hanya namanya saja yang mirip."


"Tapi tidak bisa seperti itu juga! Astaga, Emeline kamu bukan tempat penampungan anak, bayangkan kalian bertiga saja sudah sulit apalagi di tambah satu anak lagi?"


Emeline juga setuju dengan apa yang di katakan oleh Diana, tapi saat melihat Rara dengan Raffyn maupun Darrel membuat Emeline sedikit tenang. "Bagaimana jika memang aku tak tega?" tanya Emeline pada Diana.


"Ya, kemungkinan anak lain seperti Rara akan datang ke apartemen mu dan memanggilmu mama," celetuk Diana.


Sesaat Diana pergi karena ada urusan. Emeline diam, saat dia kembali ke kenyataan. Harus bekerja keras untuk anak-anak nya sekarang. Beberapa orang pelanggan mulai datang dan memesan, yang lainya tengah menikmati pesanan.


Sekilas Emeline melihat ke pojok cafe, dimana Rara masih sibuk bermain dengan Raffyn juga Darrel. Benar, untuk kali ini Rara ada yang menjaga tapi saat Darrel juga Raffyn sekolah dia harus memikirkan bagaimana cara menjaga Rara.


Suara lonceng kembali berbunyi, menandakan ada yang datang. Namun, tak seperti biasa para pelanggan menatap ke arah pintu masuk cafe nya. "Permisi, maaf menunggu lama."