
"Kumohon, jangan pergi... " sebuah deritan suara yang masuk ke dalam telingaku.
Suara itu yang membuatku mulai terbangun. Hal yang aku ingat pertama kali adalah ketika aku tadi malam dengan Theo berasa di pinggir danau, tapi sekarang berbeda. Ini lembut juga hangat.
"Ngh~ Dima- Eh-!" ucapku saat tersadar aku tengah berada di kamarku sebelumnya.
Spontan aku ingin beranjak berdiri, tapi sayangnya ada tangan yang melingkar di perutku.
"Bisakah kamu diam sebentar? Masih pagi sekarang Kamu juga harus membayar tenaga yang aku keluarkan, untuk membopong badanmu itu" gumam suara parau yang ada di sebelahku.
Dengan cepat aku berbalik, melihat Theo yang setengah naked terlelap dengan penuh. Mungkin tidak, karena baru saja dia berbicara padaku.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Theo mulai membuka matanya, saat melihatku masih dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa aku di sini?" tanyaku balik dengan keadaan yang masih belum aku pahami.
"Bukankah saat di rumah bi Teresia kamu ingin pulang? Aku membawamu ke rumah" ujar Theo sambil memposisikan dirinya untuk duduk, lalu menyenderkan diri ke kursi.
"Tidak! Maksud ku, aku ingin pulang ke ru-"
"Apakah ini bukan rumahmu? Ini rumahmu Emeline! Sampai kapan kamu mau lupa!" teriak Theo dengan penuh, sambil sedikit menjambak rambutku.
"Lupa? Aku tak pernah melupakan apapun!" ucapku sambil berusaha untuk melepaskan tangan Theo.
"Ini masih pagi, kenapa kamu menjadi keras kepala seperti ini. Jadilah penurut seperti biasanya!" teriak Theo kemudian, dengan mencengkram wajahku.
"Kamu... Kamu menyakitiku.... " kataku terbata, karena rasa sakit saat di jambak, kemudian di cengkram oleh Theo.
Beberapa saat kemudian Theo melepaskan cengkraman, juga jambakannya. Lalu tangan Theo mulai mengusap pipiku, bekas merah di sana karena Theo mencengkeram dengan kuat.
"Andaikan kamu tak mengajak debat terlebih dahulu" ucap Theo lalu mengecup pipiku.
"Bodoh... Kamu gila atau apa?" tanyaku dengan berusaha menyingkirkan wajah Theo.
"Hem? Gila? Pffttt.... Sejak pertama kali bertemu aku memang gila Emeline.... " kata Theo justru tersenyum lembut.
Senyuman yang manis, juga menawan. Rambutnya yang setengah panjang hampir menutupi matanya. Mata biru, juga bibir lembut. Pahatan yang sempurna, aku tak menyangka orang sempurna ini memiliki penyakit jiwa.
"Apa yang kamu pikirkan!"
...TAK...
"AKH!" sebuah jitakan kecil melayang di dahiku.
"Ini sakit bodoh!" kataku kembali, dengan mengusap dahi ku.
"Tak apa... Ha... Emeline andaikan kamu tak lupa, saat kita pertama kali bertemu. Tangan halus itu, mengusap pipiku" gumam Theo sambil menadahkan wajahnya ke atas.
Itu membuatku bingung. Theo seolah mengatakan yang sebenarnya, tapi danau, rumah, lamaran, dan mengusap pipi? Aku sungguh tak ada memori apapun tentang Theo. Apakah ini wajar? Aku perasaan tak pernah mengalami kecelakaan apapun. Bahkan aku keluar rumah satu setengah tahun ini karena kuliah.
Masa SMA aku hanya keluar untuk sekolah. Aku juga sekolah di desa, jadi tak mungkin aku lupa wajah Theo yang tampan ini. Kecuali dulu dia adalah orang jelek teman sekelas ku, lalu oplas.
'Dimana? Dia sepertinya tidak berbohong tapi aku juga kerasa tak pernah bertemu dengannya, kecuali saat dia menguntit' ucapku dengan penuh mengingat setiap memori yang aku lupa.
"Emeline.... "
...CUP...
"Manis seperti biasa" ucap Theo langsung beranjak dari kamar, dan mulai membersihkan badan.
Semakin lama aku semakin tak tahan. Ingatan apa yang aku lupakan, hingga aku melupakan Theo? Apa yang terjadi, aku hanya ingin tau yang sebenarnya.
...–––––SKIP–––––...
Malam hari kembali, aku makan malam di rumah ini. Bedanya aku tak makan malam di kamar, melainkan di meja makan. Bukan juga dengan Theo, melainkan dengan tangan kanannya itu Dergaz.
"Ayolah berhentilah untuk menatapku seperti itu, dan mulai makan sekarang" ucap Dergaz sambil terus memakan makan malam miliknya.
"Kenapa kamu di sini?" tanyaku dengan nada penuh waspada.
"He!! Kenapa? Memang hanya Theo yang boleh makan di sini? Aku juga. Lagipula, apakah kamu ingin makan malam dengan Theo?" tanya Dergaz balik, dengan wajah yang pura-pura polos.
"Tidak, jawab saja kenapa. Tak biasanya aku di bolehkan untuk keluar kamar, sekarang kenapa aku boleh melakukannya?" tanyaku dengan menatap Dergaz penuh.
"Jika kamu ingin seperti dulu, dia hanya datang untuk menggunakan mu lalu pergi. Kamu seperti peliharaan, yang selalu di kasih makan dan di perah saat di butuhkan silahkan saja. Tapi tidak untuk sekarang, Theo memperbolehkan kamu untuk keluar bukankah itu hal yang menyenangkan?" ucap Dergaz panjang dengan penuh aura menekan.
Aku seketika meneguk salivaku. Merasakan ada hal yang aneh berubah dari Dergaz. Aura yang awalnya seperti kabut berwarna ceria, kini malah berubah menjadi hitam legam.
"Hei-!" kata Dergaz sambil menjentikkan jarinya, membuatku langsung tersadar dari lamunan.
"Kenapa kamu seperti itu? Aku tak akan memakan mu" kata Dergaz kembali, sambil melanjutkan makanannya.
Aku hanya menatap makan malam milikku. Berpikir apakah aku bisa mencari sesuatu dari Dergaz. Mungkin tentang hubungan ku dengan Theo sebelumnya.
"Dergaz?" panggil ku membuat Dergaz langsung menatapku.
"Apakah kamu tau hubungan ku dengan Theo sebelumnya? Dia selalu bercerita tentang aku dan dia, tapi aku tak ingat apapun. Apakah aku me-"
"Tidak" sela Dergaz dengan santainya menatapku penuh.
"Apa? Bahkan aku belum menyelesaikan ucapanku" kataku sambil sedikit nada marah.
"Kamu berpikir jika kamu hilang ingatkan atas hubungan kamu dengan Theo bukan? Sejujurnya tidak. Kamu tak melupakan apapun, ataupun sesuatu yang memang tak pernah terjadi. Itu hanyalah ilusi Theo sendiri" jelas Dergaz yang membuatku tambah membulatkan mata.
"Sejujurnya aku juga tak tau, bagaimana Theo bisa mengenalmu. Yang aku tau Theo selalu bermain dengan wanita, tapi tak pernah se-obsesi ini bahkan mengurungnya. Bukankah kamu harusnya sadar Emelin? kamu berbeda" lanjut Dergaz dengan menodongkan sendoknya padaku.
"Lalu bagaimana dia bisa mengenalku!" tanyaku membuat tambah penasaran.
Dergaz juga terlihat tak yakin. Dia menimbang sendok yang ada di tangannya, lalu mulai mengetuknya Perlahan-lahan ke meja.
"Kamu membuatku gugup" kataku melulu tingkah laku Dergaz yang tak biasa.
"Sejujurnya aku juga tak tau Emelin. Selain para perempuan penghibur, aku juga tak pernah melihatmu sebelumnya. Tak ada yang salah, karena aku selalu dengan Theo. Hanya saja, Theo mulai berubah, sejak kejadian itu.... " kata Dergaz mulai menggantungkan ucapannya.
...–––––AUTHOR–––––...
Hallo semuanya, makasih yang udah mampir dan terus favorit buku ini di rak kalian. Jujur aku sibuk bngt, dan pikir mau berhenti aja gituan nulisnya, tapi melihat kalian yang kek masih banyak fav dukung like sama komennya, buat aku gak tega tinggalin kalian. Pokoknya! Pokoknya buat kalian author mau ucapin banyak-banyak makasih, udh nunggu atau yang gak sengaja nunggu. Terus like, komen, kritik, saran, dengan bahasa yang sopan ya? karena dengan like, komen kalian buat author lebih semangat lagi buat lanjutin meski gak teratur juga.
. SEE YOU NEXT PART
Bosen gak kata-katanya? karena aku pengin selalu berinteraksi dengan kalian setelah menulis. Tapi aku tak tau bagaimana memulainya, dan itu yang menurutku terbaik jadi aku copas. Pokoknya othor cuma mau ucapin, makasih. Jangan lupa tinggalkan jejak, dengan like, komen, dan fav buku ini. karena setiap support kalian, menjadi dukungan moral bagi othor.