A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Sama Tapi Berbeda



Darrel lantas mendengarkan apa yang ada di layar monitor. Seperti melihat video, dari mereka melihat sebuah pembicaraan dewasa bahkan sampai suara tembakan yang menggema. Terlihat kaca yang pecah.


"Theo...." Gumam dari Emeline yang tambah membuat Darrel membuka matanya.


Sesaat semuanya berubah, saat truk menabrak mobil mereka. Lantas suara teriakan dari Dave, juga dari Emeline. Benar, sangat di sayangkan ini hanyalah kamera depan jadi dia tak bisa melihat siapa yang membawa Emeline.


"Aku tak mau tau! Raffyn, carilah truk itu catat nomor plat nya dan siapa yang membeli truk jenis itu."


"Aku bukankah bawahan mu Darrel!" Teriak Raffyn di selingi dengan menghempaskan tangan Darrel dari pundaknya.


"Aku tak peduli, persetan kamu adalah bawahan ku atau bukan ta-"


"Darrel, untuk sekarang kamu benar-benar mencerminkan seperti anak dari seorang Welmia," sela Raffyn lantas membuat Darrel diam.


Cengkeraman tangan Darrel yang semula ada di baju Raffyn perlahan-lahan dia lepaskan. Darrel mundur beberapa langkah, menyadari apa yang di ucapkan oleh Raffyn memang benar.


Iblis bernama Welmia Kaveleri adalah ibu kandungnya. Dia mengingat lagi bagaimana Theo dan juga Emeline menderita karena sikap dari kedua orang tuanya. Bahkan saat menyelamatkan Darrel dari Welmia, Raffyn dan Emeline justru harus terpisah dari Theo. Dimana sekarang Theo hilang ingatan, dan malah menjadi anak angkat dari keluarga dari Waise.


"Maaf, Darrel bukan maksud ku un-"


"Lanjutkan saja apa yang kamu lakukan sekarang," sela Darrel sembari duduk di ranjang.


Perasaanya kacau, dia memikirkan Emeline. Hingga tak menyangka sisi yang Darrel coba sembunyikan keluar seketika.


Waktu sudah malam, Eslen belum juga kembali dari rumah sakit. Rara yang kelelahan juga sudah tertidur. Lain hal dengan Darrel yang masih memikirkan apa yang di ucapkan oleh Raffyn. Dia duduk di taman mansion milik Dave, melihat ke luar berharap semuanya akan berjalan baik.


"Jika benar hidup di dunia karena suatu alasan, apakah alasan ku hanya menjadi beban untuk semua orang?" Gumam Darrel.


Raffyn mereka tak enak hati. Sedari tadi dia mengamati Darrel, sekarang dia hanya diam. Bahkan saat makan malam dia tak mengatur Raffyn saat dia tak menghabiskan makanannya. Layak nya seorang Kaka, Darrel selalu cerewet dengan apa yang Raffyn lakukan bahkan attitude saat makan. Raffyn hanya bisa menghela napas dalam, dan pergi untuk menghampiri Darrel.


"Darrel, bukankah terlalu dingin di sini?" Tanya Raffyn sembari duduk di sebelah Darrel.


"Tidak, untuk apa kamu ke sini?" Tanya Darrel balik.


"Maafkan aku tentang apa yang aku ucapkan tadi, aku tak bermaksud seperti itu. Kamu juga tak ingin memiliki orang tua gila seperti Welmia 'kan?" Jelas dari Raffyn.


Ungkapan maaf di antara saudara, mereka saling menyayangi meski tak sedarah. Dalam dunia yang kejam, tak ada yang bisa mereka andalkan kecuali satu sama lain. Bahkan Emeline terus berusaha agar Darrel dan Raffyn bisa menghidupi mereka.


"Tak masalah, lagipula apa yang kamu katakan itu benar," titah Darrel.


"Konyol, meskipun apa yang di ucapkan aku benar tapi sekarang kamu adalah kakak ku Darrel. Untuk sekarang, bagaimana dengan mama?"


"Ingin berpangku tangan pada Tuan Dave?"


"Kamu sendiri yang menolaknya tadi," kata Raffyn dengan nada ejekan.


Percakapan yang hangat tapi juga dalam, untuk anak-anak seusia mereka. Rasanya cara berpikir mereka sudah dewasa, di besarkan dalam tekanan dan juga keadaan membuat mereka lebih dewasa dari umurnya.


Di sisi lain, Emeline yang menyadari Theo telah menculiknya merasa heran. Dengan pertanyaan yang Theo layangkan. Dia ingin mengelak, tapi tentu saja hanya pukulan bahkan siksaan yang Theo lakukan.


"Emeline Emueis, kamu tau saya siapa?!" Tanya Theo dengan wajah yang marah dan juga datarnya.


"Harusnya aku yang tanya Theo! Kita bahkan baru bertemu!" Balas Emeline dengan teriakan.


"Ya di awal kita bertemu, kamu bersikap aneh. Kamu seperti tak asing melihatku, siapa kamu sebenarnya?" Tanya Theo balik dengan mencengkram pipi Emeline.


Emeline hanya diam, menahan tangisan juga rasa sakit dari cengkeraman dari Theo. Perlahan matanya memerah menahan air mata yang sudah penuh di sana. Lantas beberapa saat kemudian Emeline menangis, tepat di hadapan Theo.


"Aku tak tau, aku hanya melihat mu... Anak-anak ku menunggu ku di rumah, Theo... Biarkan aku pergi," rintihan Emeline dengan tangisan.


Theo yang semula berwajah garang, tiba-tiba merasa tak enak. Dia sendiri tak tau apa yang terjadi padanya. Dadanya terasa sesak, apalagi saat melihat Emeline benar-benar menangis kesakitan.


"SIAL!!! Aku tak peduli!" Teriakkan Theo lantas menghempaskan kepala Emeline pada piring berisi makanan di depannya. "Kamu siapa bodoh! Bodoh! Bodoh!" Teriaknya berulang kali dengan membanting kepala Emeline beruang kali.


"TUAN! Anda akan membunuhnya!" Teriak pengawal Theo menahannya.


Beberapa orang di sana terlihat kasian pada Emeline. Dia tak tau apapun, ruang eksekusi ini biasanya di lakukan untuk penjahat, atau pengkhianat. Tapi untuk sekarang, seorang Emeline yang merasakannya.


"Kamu tak puas Theo? Kenapa tak bunuh aku saja?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir Emeline merasa tak kuat.


Kepalanya sudah banyak mengeluarkan darah. Khususnya wajah bagian hidung, pelipis, kantung mata, dan juga pipi. Bibir rahangnya juga sakit karena Theo selalu menamparnya tanpa henti.


"Jangan memaksa ku untuk melakukan itu!" Teriak Theo sembari menampar wajah Emeline dengan menahan rambutnya.


Tangisan Emeline lagi-lagi keluar, dia merasa tak sanggup dengan apa yang terjadi. Apalagi apa yang di lakukan Theo semakin menjadi setiap saat.


"Katakan pada ku, jawablah dengan jujur," kata Theo lantas menyiapkan rokok dan korek tepat di tangannya. "Kamu tau apa tentang saya?" Pertanyaan yang sama dengan kepulan asap rokok yang menghembus ke arah Emeline.


Emeline lagi-lagi diam, dia sendu melihat Theo. Orang yang dulu pernah dia cintai kini malah berubah brutal.


"Jika aku ceritakan yang sebenarnya, kamu akan percaya?" Tanya Emeline dengan wajah yah sudah bakal belur.


"Jika alasan itu logis, aku bisa percaya," jawab Theo datar dan dingin.


Theo mempercayai jika Emeline adalah salah satu pengkhianat yang menyamar. Dia sengaja mendekati Rara, agar bisa dekat dengan Dave juga. Beberapa waktu ini data Dave dan Theo sering kali hilang, bahkan saat awal pertemuannya dengan Emeline.


Rencana awal saat dia menabrakkan mobilnya pada mobil Emeline itu karena sengaja. Berharap dia langsung mati di tempat, tapi siapa sangka dia membawa Rara yang butuh pertolongan juga.


"Alasan yang logis? Bagaimana jika tidak? Kamu akan membunuh ku, Theo?"