A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Perhatian Tuan Dave



Emeline mulai melihat sekitar, saat dirinya sadar jika dia tengah di rumah sakit sekarang.


"Mama... Mama gak apa-apa ya?" tanya Rara jelas di sebelah Emeline.


"Rara, siapa? Siapa yang membawa aku ke sini?" tanya balik Emeline pada Rara.


Terlihat raut wajah Rara memerah, lalu mulai mengeluarkan air mata. Lantas dia menangis kencang, tanpa menjawab pertanyaan dari Emeline.


"Rara... Rara kira mama gak bakal bangun, Rara khawatir jadi Rara langsung telepon papa...." ujar Rara terus mengeluarkan air matanya.


"Dave?" ucapan Emeline sedikit tak percaya.


Ini bukan hari libur, dimana Dave bisa pergi sepuasnya.


"Kenapa? Kamu tak bisa membawa mobil jangan membawanya!" ujar seseorang dari belakang Emeline.


Bulu kuduk Emeline seketika berdiri tanda terkejut. Perlahan dia melihat ke sumber suara, terlihat Dave yang berdiri dan membawa keranjang berisi buah untuk Emeline.


"Kamu jika kamu tak bisa menyetir setidaknya bilang, aku akan mengantar," lanjutnya.


"Tuan Dave? Kenapa Anda kemari?" tanya Emeline merasa tak percaya. "Lagipula, itu bukan salahku. Jalan itu adalah satu jalur," lanjut Emeline dengan mengusap pelipisnya.


"Anak itu me-"


"Rara!"


"Baiklah, Rara menelpon ku dengan tangisan dan memohon agar aku datang," jawab Dave duduk di sebelah Emeline. "Setidaknya berikan aku image baik pada Rara," lanjutnya dengan berbisik.


Emeline menaikkan satu alisnya. Dia merasa bingung, dan juga tak percaya. Karena ponsel miliknya juga rusak, dia tak bisa menghubungi siapapun.


"Rara? Kamu selama ini memiliki ponsel?" tanya Emeline pada Rara.


Rara menggelengkan kepalanya perlahan, "Bukan punya Rara, tapi punya om Theo," jawabnya.


Theo, sebuah nama yang lama Emeline tak dengar. Mengingatkan kembali sosok. Masa lalu dari Emeline yang sudah dia tunggu sampai sekarang.


"Theo?" tanya Emeline memastikan.


"Heem, Theo Waise dia adalah-"


"Suami temanku," potong Dave pada Rara yang tengah menjelaskan.


Emeline yang semula berharap itu adalah Theo yang dia kenal. Napas Emeline yang dia tahan sebentar, kini mulai di keluarkan dengan raut wajah yang kecewa. Dia kira, akan menjadi akhir dalam penantiannya.


"Om Theo bukan suami Clara," jawab Rara dengan nada polos.


"Kamu tak tau apapun, dasar anak kecil," usapan pada kepala Rara oleh Dave. "Ya memang bukan dia suaminya tante Melisa, jadi ayahnya Clara."


"Eh... Clara tak pernah bilang om Theo itu ayahnya."


"Karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Sama seperti Rara, sebelumnya belum bertemu dengan mama Emeline."


"Haah! Benar juga, dulu Rara di panggil anak haram ya bukan anak mama," jawaban dari Rara seketika membuat Emeline diam.


Dari awal Emeline merasa lucu dengan Rara, justru diam setelah kalimat terakhirnya. Debat antara Rara juga Dave, berakhir tentang sesuatu yang harusnya tak di ketahui Rara sebelumnya.


"Emm... Tak seperti itu juga," alasan Dave memalingkan wajahnya.


"Tak peduli, sekarang Rara punya mama juga punya kaka. Jika Rara di panggil seperti itu lagi, panggil kaka Rara saja mereka pasti akan menjaga Rara," jelas Emeline dengan membawa Rara ke pangkuan nya.


Dave melihat ke arah Emeline, lalu mengkode salah satu pengawalnya. "Rara, pergi dengan paman dulu ada sesuatu yang ingin papa bilang ke mama mu," jelas Dave.


"Tentu saja tidak," jawab Dave singkat.


Setelah beberapa pembicaraan, akhirnya Rara mau pergi dari saja. Raut wajah Dave berubah Menjadi serius, menatap Emeline lalu kembali melayangkan map coklat yang pernah Emeline lihat sebelumnya.


"Perjanjian pernikahan lagi, Tuan Dave?" tanya Emeline paham tentang apa yang akan di bicarakan Dave.


"Iya, kamu juga butuh seseorang bukan? Kamu bisa mengandalkan ku, aku juga bisa mengandalkan kamu untuk menjaga Rara juga anak-anak mu," jelas Dave.


"Saya menolaknya, alasannya sudah saya bilang sebelumnya," jawab Emeline dengan meremas selimut yang menutupi kakinya.


"Belum siap dengan pernikahan? Kamu tau ini hanya pernikahan per-"


"Saya tau! Tuan Dave saya tau, dan karena pernikahan seperti ini menjadikan kehidupan saya seperti sekarang," sela Emeline.


Emeline diam, begitu juga dengan Dave. Dia sedikit menaikkan alisnya, lalu menatap Emeline ragu. "Kenapa kamu tak pernah menceritakan tentang masa lalu mu? Mungkin aku bisa membantu."


"Aku tak ingin banyak berhutang budi dengan seseorang," jawaban Emeline kembali membuat mereka terdiam.


"Baiklah, kita rubah saja Perjanjian nya. Kita hanya pasangan, dan selama kamu menjadi pasanganku kamu di larang untuk berhubungan dengan laki-laki lain," jelas Dave.


"Aku akan menulis ulang, saat kamu baca aku harap kamu bisa langsung menyetujui nya," lanjutnya.


Benar, ini adalah perjanjian yang menguntungkan. Bagi Emeline maupun Dave. Dave sendiri bisa menjaga anaknya, sedangkan Emeline bisa mendapatkan apa yang Emeline inginkan.


"Jangan terlalu di pikir, kita lakukan perlahan tak perlu terburu-buru," ucap Dave saat mereka hanya diam sesaat.


Kecupan singkat melayang di dahi, Emeline. Spontan Emeline langsung menutup dahinya, dengan wajah mera merona melihat ke arah Dave.


"Tu-tuan Dave!" teriak Emeline gugup.


"Hehe, ternyata kamu mudah untuk di goda," jawab Dave dengan kekehan pelan dan puas di wajahnya. "Kamu sudah sadar, mau sampai kapan kamu berbaring di sini. Dan lihat, ini juga tak terlalu serius," lanjut Dave.


"Tentu, saya juga merasa baikan. Ngomong-ngomong jam berapa sekarang?" tanya Emeline.


"Sekitar pukul tiga siang," jawab Dave santai melihat jam tangan miliknya.


Mata Emeline membulat seketika, mengingat dia harus menjemput Raffyn juga Darrel di sekolah mereka. Bergegas Emeline mencoba untuk turun, tapi dia salah pijakan membuat badan Emeline tak seimbang.


"Aku menangkap mu, astaga kamu benar-benar merepotkan Emeline. Saat aku bilang untuk pulang, bukan berarti secepat itu juga," ujar Dave yang saat menangkap Emeline seketika.


Kepala Emeline langsung pusing, bahkan dia tak bisa berdiri dengan sejajar. Efek dari kecelakaan tadi memang masih terasa sampai sekarang.


"Kamu berat juga ya," lanjut Dave kembali membopong Emeline ke kasur.


"Tuan Dave, saya harus menjemput anak-anak, ini sudah sangat terlambat," ucap Emeline setelah beberapa saat memegangi kepalanya.


"Darrel juga Raffyn ya," titah Dave.


Dengan cepat Dave melihat ke luar, dengan beberapa orang yang menunggu di luar. Salah satunya mendekat ke arah Dave, lalu membungkukkan badannya.


Beberapa saat kemudian, dia menganggukkan kepalanya sesaat setelah Dave membisikan sesuatu. "Aku sudah meminta supir untuk menjemput mereka, sekarang kamu hanya perlu duduk saja."


Emeline merapatkan tangannya, memainkan jadi di atas selimut yang menutupi kakinya.


"Kenapa? Jangan menampakkan wajah sedih seperti itu," ucap Dave sembari mengupas apel yang dia bawa.


"Tuan Dave sejak lama saya menjadi mandiri, andaikan Anda tak datang aku juga bisa melakukannya sendiri."