
Hampir satu bulan telah berlalu. Emelin merasakan ada hal yang aneh saat dia tertidur. Dia selalu saja mendapati mimpi yang sama, dengan paginya banyak tanda merah di tubuhnya.
"Emelin? Apa yang kamu pikirkan?" tanya bi Teresa melihat Emelin yang tengah melamun saat menjaga Raffyn.
"Tak masalah.... " kata Emelin berusaha untuk meyakinkan.
"Sungguh? Bi Teresa lihat beberapa hari ini kamu rasa selalu lesu, apakah ada hal yang terjadi?" tanya bi Teresa kembali tak percaya.
Emelin hanya menghela nafas kasar, tak lama kemudian Emelin mulai menceritakan mimpi aneh yang dia alami semenjak dia datang kemari.
"Aku tak tau ini bi Teresa, apakah Theo kemari?" tanya Emelin dengan wajah sungguh-sungguh.
Tak ada jawaban dari bi Teresa. Dia juga memalingkan wajahnya, dengan mata yang bergerak seolah mencari alasan.
"Bi Teresa, apakah kamu mengetahui sesuatu?" tanya Emelin mulai curiga dengan gelagat bi Teresa.
"Emelin, sebe-"
...BRAK!...
Sebuah dobrakan pintu dengan kuat membuat Emelin juga bi Teresa tersentak. Belum lagi dengan Raffyn yang menangis karena tidurnya terganggu.
"Maaf aku datang tanpa memberitahu dulu bi Teresa, tapi aku mem-" ucapan dari Theo terhenti, setelah mendapati Emelin sedang ada di depannya.
Ya, yang barusan datang adalah Theo dengan rombongannya. Masuk, dengan membawa beberapa karung tebal yang kotor dan terlihat berat.
Di sisi lain Theo terkejut karena tangisan Raffyn, mengetahui jika Emelin sedang ada di bawah. Sedangkan Emelin merasa terkejut juga, saat Theo datang dengan tubuh yang berantakan dan penuh dengan anyir darah.
Bibi Emelin membuka, dia terbelalak tak bisa berkata apa-apa. Yang dia tau Theo memang memiliki sifat kasar, tapi saat ini Emelin melihat Theo seperti seorang pembunuh.
"A... Apa yang ter-" ucapan Emelin terhenti seketika, saat ada yang menutupi matanya.
"Maaf Emelin, Raffyn biar saya saja yang bawa," kata bi Teresa langsung mengambil Raffyn dari tangan Emelin.
"He-! Apa yang kalian lakukan! Lepas! Lepaskan! Bi Teresa kembali.... " ucapan Emelin mulai melemah, saat dia merasakan pusing dan mengantuk.
...BRUK...
Suara benturan tubuh Emelin dengan sesuatu. Emelin tak tau apa yang terjadi, yang dia ingat hanya tatapan Theo yang tajam juga dingin dan tak berhati. Belum lagi matanya di tutup, lalu dia merasakan bi Teresa yang mengambil Raffyn dari tangannya.
"Pem.... Bunuh.... " kata Emelin mencoba untuk tetap sadar.
Emelin berusaha untuk melepas kain yang mengikat di kepalanya, tapi sayang itu tak bisa saat sebuah tangan menahannya.
"Jadilah penurut Emelin... Aku akan menjelaskan semuanya," sebuah suara yang menyeruak masuk ke dalam telinga Emelin.
Sesaat setelah itu, Emelin merasakan badannya di angkat. Kesadarannya semakin buyar, yang di pikirannya hanyalah bagaimana keadaan Raffyn.
Jujur, Emelin ketakutan sekarang. Mengingat bercak darah dan noda di badan Theo, seolah Emelin masuk dalam dunia dari Theo.
...–––––SKIP–––––...
Emelin mulai menerjapkan matanya. Di rasa pusing di seluruh kepalanya. Pemandangan yang dia lihat pertama adalah kamarnya. Membuat Emelin langsung terbangun, yang membuat kepala Emelin pusing seketika.
"Theo.... " kata Emelin panjang, melihat ke seseorang yang tengah menawarinya air minum.
"Ya... Aku, ini aku... " kata Theo duduk di tepi ranjang, sisi tempat Emelin terbangun.
Emelin hanya melihat dengan tatapan datar, dimana dia mengingat bagaimana mata Theo saat awal Theo masuk ke rumah.
"Siapa kamu?" tanya Emelin merasa sedikit menjaga jarak dan waspada pada Theo.
"Aku? Theo, Theo Walcott. Emelin kamu jangan bercanda, bahkan kamu tak tau siapa aku," ucap Theo seperti biasa.
"Theo? Theo tak pernah memiliki tatapan seperti itu."
"He-? Emelin jangan membuatku bingung seperti ini, tatapan apa yang kamu maksud?" kata tanya Theo kembali, dengan mengusap kepala Emelin perlahan.
"Saat kamu masuk.... Kamu seolah bukan Theo yang aku kenal, tatapan datar dan menekan dengan darah yang berserakan. Dimana... Dimana Theo yang aku kenal?" ucap Emelin menyingkirkan tangan Theo dari rambut nya.
Theo sedikit tersentak, lalu mulai memiringkan kepalanya di selingi dengan senyuman yang melebar.
"Dimana Theo yang kamu kenal?" tanya Theo kembali dengan gelas yang dia taruh di atas nakas dekat ranjang.
Beberapa saat kemudian Theo beranjak, dan berjalan perlahan di tepi jendela. Theo mulai tertawa, sedikit terbahak hingga dia menutupi wajannya.
"Theo yang kamu kenal? Pfftt.... Siapa Theo yang kamu kenal Emelin?" kata Theo dengan sebuah pertanyaan serambi senyuman yang tak masuk akal.
Emelin semakin bergeridik ngeri, saat Theo tertawa seperti itu. Rasanya ada jiwa aneh dalam diri Theo yang keluar, sesaat lalu mulai diam dan menatap ke arah Emelin.
"Emelin... Apa sungguh aku sebaik itu dalam drama? Theo yang sebenarnya? Apakah kamu lupa saat kita bertemu untuk pertama kalinya?" sebuah pertanyaan beruntun dari Theo, dengan senyuman smrik di akhirnya.
Emelin mulai teringat semuanya. Bagaimana awal cerita Emelin dan Theo. Hanya ada kisah salat, dengan pukulan, jambakan, bahkan tamparan setiap saat. Sebelum dirinya mengenal bi Teresa, bahkan Emelin berencana untuk bunuh diri karena siksaan dari Theo.
"Sial!" umpat Emelin langsung turun ranjang, dan berlari ke arah pintu.
...BRAK!...
"Respon yang cukup bagus.... " kata Theo saat Emelin hampir sampai di pintu, tapi justru sengaja di dorong oleh Theo membuat dirinya tertabrak di pintu.
"Kamu... Mengunciku.... " kata Emelin saat tangannya di pegang oleh Theo dan di tahan di belakang, dengan salah satu kaki Theo yang berada di sela-sela kaki Emelin dan membuat Emelin tak bisa bergerak.
"Jadilah penurut kembali Emelin, jujur aku suka saat kamu memberontak seperti ini, itu... Membuatku bersemangat, tapi... Aku lebih suka Emelin dengan wajah polos dan senyuman lembutnya."
Kalimat yang keluar dari bibir Theo, sesaat sebelum dia menjilati tengkuk Emelin. Emelin ingat semuanya, rasa pedih dan sakit yang membuatnya tak banyak berbicara. Rasa itu di rubah, dari sebuah penjara menjadi sebuah rumah. Akan tetapi, bagaimana sekarang Theo kembali menjadi seorang yang kasar seperti dulu lagi.
"Theo.... " panggil Emelin pasrah sadar dia tak akan bisa menang meskipun memberontak sekuat tenaga.
"Biarkan... Biarkan aku pergi tolong. Biarkan aku pergi juga membawa Raffyn, sungguh aku tak akan mengganggumu... Juga hubunganmu dengan Dara ataupun anaknya.... " kalimat yang keluar dari mulut dara dengan terbata.
Theo seketika menghentikan aksinya, dimana dia menatap Emelin penuh. Wajah yang putus aja, juga dengan kepala yang dia senderkan ke pintu juga tatapan ke bawah.
"Emelin... Aku hanya ingin menggoda mu. Ini tak adil, saat kamu sangat manis seperti ini, membuatku tak bisa menahan pura-pura hanya untuk menggoda," kata Theo langsung meraih wajah Emelin dan langsung menciumnya.
Theo membuat sebuah pagutan yang lama. Terus memainkan lidahnya, dan sesekali menggigit bibir bawah Emelin.