
Lagi-lagi Eslen membuka map, dan mencari apa yang Dave inginkan. "Karena kecelakaan. Mereka menemukan Tuan Theo saat mereka camp di hutan, dalam keadaan tuan Theo ada di pinggir aliran sungai. Kepalanya cidera berat, membuatnya lupa ingatan. Namun, potensi dari Tuan Theo sendiri tak bisa di pungkiri, membuat keluarga Wise mengangkatnya jadi anak," jelas Eslen
Mendengar penjelasan dari Eslen membuat Dave lagi-lagi diam. Dia tengah berpikir keras apa yang harus di lakukan sekarang.
"Tuan Dave, maaf ini seperti lancang tapi kenapa Anda berbohong jika Tuan Theo dan Nona Marisa adalah pasangan?" tanya Eslen membuka pembicaraan.
"Urus saja urusan mu Eslen, semakin lama kamu semakin tak tau batasan," celetuk Dave dengan nada marah.
"Maaf jika saya kurang sopan, tapi jika Anda lebih jujur itu akan lebih mudah. Terlebih lagi, Nyonya Emeline nanti akan menjadi pasangan Anda."
"Hanya perjanjian Eslen, hanya perjanjian. Perjanjian jangka pendek, saat Rara sudah tak bergantung dengan Emeline kita akan mengakhirinya."
Eslen diam, kemudian membereskan lembar kertas yang berserakan di meja Dave. Helaan napas terdengar dari Eslen, dia paham Dave tak akan mengakui perasaanya secepat itu.
"Tak masalah tuan jika ini rencana jangka pendek atau jangka panjang, yang jadi masalah jika Anda terikat dalam perasaan yang belum pernah Anda duga sebelumnya," jelas Eslen.
Setelah mengucapkan hal itu, Eslen kembali membungkukkan badan tanda dia memberi hormat. Lalu pergi dari ruangan, meninggalkan Dave yang tengah merenungi ucapannya.
Sejak pertama kali bertemu dengan Emeline, Dave kira dia adalah mata-mata yang di tugaskan untuknya. Oleh sebab itu dia bilang ke Rara jika dia sudah ada mama. Dengan alat penyadap yang di pasangkan dalam boneka Rara sebelumnya, Dave mengintai Emeline.
Beberapa hari berlalu, tak ada apapun, bahkan Rara terlihat seperti anaknya Emeline. Tanpa di sangka, Rara justru menganggap Emeline benar-benar menjadi ibunya.
"Masalah ini di buat, karena aku melibatkan anak kecil di dalamnya. Ternyata Emeline bukanlah mata-mata, hanya perempuan biasa membuat Rara nyaman dengan dia. Namun, bagaimana sekarang masa lalu yang di hapuskan seperti ada sesuatu yang besar di belakang Emeline," gumam Dave terlarut dalam pikirannya.
Beberapa hari telah berlalu. Hari ini adalah hari libur, dimana waktu Emeline pulang. Setelah makan siang, Emeline pulang di antar oleh Dave. Dengan Darrel, Raffyn, juga Rara yang tertidur di mobil karena kelelahan.
"Hati-hati jangan sampai kamu membangunkan mereka," ucap Dave sedikit membawa Rara.
"Tak masalah, Tuan Dave Anda bisa membawa barang-barangnya. Saya yang akan membawa Rara," jelas Emeline.
"Ibu, kita sudah sampai?" tanya Darrel yang terbangun. Begitu juga dengan Raffyn, yang masih setengah tidur.
"Iya, ayo pangerannya mama kalian jalan setelah sampai apartemen kita tidur kembali," jawab Emeline.
Sesaat masih di tempat parkir apartemen, mata Emeline tergoyah saat seseorang memanggilnya.
"Emeline!"
"Diana," jawab Emeline antusias.
"Kamu dari mana saja, toko mu juga tutup dan... Eh? Dia adalah.... " tanya Diana bingung saat melihat Emeline membawa Rara tidur, juga Dave yang pulang bersamanya.
"Dave Camelion, saya adalah suami Emeline," jawab Dave dengan entengnya.
"Eh? Suami Emeline tak pernah bilang jika dia sudah menikah kembali?"
"Bu-bukan suami, katakan yang benar saja Tuan Dave," bisik Emeline di akhir kalimatnya. "Maaf Diana, tapi anak-anak sudah sangat lelah sekarang. Aku pergi duluan," lanjut Emeline membawa anak-anak naik ke atas.
Sekarang hanya ada Dave dan Diana. Terlihat wajah Diana kagum melihat Dave, apalagi dengan wajah tampan dan dewasanya. Di lihat lagi, Dave juga seperti orang kaya. Apalagi dengan pakaian, dan mobil yang dia bawa.
'Apa ini, kenapa janda seperti Emeline bisa mendapatkan pria yang sangat sempurna seperti ini,' gerutu Diana sedikit marah juga iri.
"Boleh saya bantu Tuan Dave?" tanya Diana mencari perhatian.
"Sa-saya juga akan ke atas, biarkan saya ikut," usaha Diana untuk mendekati Dave.
"Terserah, itu adalah kaki Anda."
Dalam pikiran Diana, dia merasa senang saat dia ada waktu berdua dengan Dave. Dia mulai memperlihatkan tengkuknya, berharap Dave akan tergoda.
"Tuan Dave? Anda itu suami Emeline?" tanya Diana membuka pembicaraan.
"Tidak, sebenarnya kami masih pasangan. Saya duda, dan anak saya sudah menganggap Emeline sebagai mamanya. Aku nyaman, dan asal bilang jika saya adalah suaminya," jelas Dave.
'Duda? Sial jangan-jangan dia adalah ayah dari Rara,' gerutu Diana mengingat ada seorang anak yang tiba-tiba memanggilnya mama.
"Tuan Dave apakah Anda tau, Emeline itu janda, bahkan kedua anaknya sebenarnya dari dua orang berbeda," kata Diana mencoba untuk menjelekkan Emeline.
"Nona Diana? Andaikan Anda tau, saya juga memiliki anak di luar nikah sebelumnya," kata Dave merasa muak dengan Diana. "Jika Anda disini hanya untuk menjelekkan Emeline, itu tak bisa. Karena Emeline menurutku sangat sempurna, tapi untuk sekarang Anda seperti lebih rendah dari wanita penghibur lainya," lanjut Dave.
Ucapan dari Dave lantas membuat Diana tersentak. Baru kali ini dia di kalahkan oleh Emeline. Sebelumnya, banyak orang yang ingin mendekati Emeline melalui dirinya. Semuanya akan terhenti untuk mengejar Emeline saat tau entah darimana anak-anak Emeline berasal.
'Kenapa, kenapa harus dia yang lebih terang. Dia hanyalah orang yang memiliki wajah lebih cantik, kenapa Emeline selalu mendapatkan lebih diriku,' ucap batin Diana merasa kecewa.
"Oh, satu lagi nona Diana, saya lebih suka wanita yang mandiri juga kuat, daripada wanita yang memolekkan badannya untuk merayu pria. Ck! Lebih baik kamu menjadi wanita penghibur saja," jelas Dave mengejek.
Lagi-lagi Diana diam menahan marah juga rasa iri ke Emeline. Sudah lama dia berteman dengan Emeline, tapi selalu saja Emeline di unggulkan dari dirinya.
"Saat kamu tertarik dengan badanku, saat itu akan merebut mu juga Tuan Dave!" gumam Diana kesal.
Saat sampai di apartemen milik Emeline, Dave langsung meletakkan beberapa barang di ruang tamu. Dengan napas yang terengah dan sedikit kesal karena perilaku rendahan dari Diana.
"Tuan Dave kenapa Anda sangat lama?" tanya Emeline dari kamar anak-anak.
"Bertemu dengan pel*cur" jawab Dave singkat.
"Tak ada orang seperti itu di sini, ngomong-ngomong Anda ingin minun sesuatu?"
"Kopi hitam tanpa gula, ha... Bagaimana tak ada tempat tinggal nya bahkan bersebelahan denganmu," ujar Dave.
"Siapa yang Anda maksud?"
"Diana siapa lagi!!"
"Dia bukanlah orang seperti itu Tuan Dave, Anda pasti salah paham."
"Itulah kamu tak tau, apakah dengan memperlihatkan tengkuk, badan, dan dadanya bukan berarti menggoda?"
Tanggapan gak serius justru di tampilkan Emeline. Dengan kekehan pelan, dan membawa kopi yang di inginkan Dave.
"Pffftt... Apakah Anda merasa tertantang?" tanya Emeline gurau duduk di sebelah Dave.
"Apakah ini adalah tindakan yang wajar, jika pasangan mu di goda seseorang?" pertanyaan di layangkan Dave dengan wajah yang dia dekatkan.