
"Dave?"
"HM? Kenapa?" Jawab Dave singkat karena dia tengah minum teh, dan makan beberapa camilan yang ada di meja.
"Kenapa tak langsung melaporkan Theo saja? Bukan apa-apa tapi aku merasa tak aman saat dia masih bisa berkeliaran. Khususnya aku memikirkan Raffyn juga Darrel," jelas Emeline.
Dave hanya menganggukkan kepalanya, lantas dia mengunyah cookies yang masih tersisa di mulutnya. "Aku tak bisa, karena ada sebuah perjanjian membuat ku tak bisa langsung melaporkan seorang dalam perjanjian itu," jelas Dave.
"Perjanjian? Apakah ikatannya sangat kuat?" Tanya Emeline penasaran.
"Ya, bahkan aku tak bisa asal keluar. Tapi tenanglah, dalam perjanjian juga di setujui jika para anggota tak boleh saling menyakiti anggota keluarga yang lainya."
"Dave, kamu benar itu adalah tempat yang aman?"
"Tentu saja aku bertahun-tahun ada di sana."
"Jadi apa yang kamu maksud?"
"Orga-"
"Tuan Dave!" Teriakan dari Eslen membuat Dave langkah berhenti.
Dia hampir saja mengatakan rahasia yang selama ini dia sembunyikan. Organisasi yang tak boleh di ketahui oleh siapapun, bahkan oleh pasangan mereka sendiri. Kecuali mereka adalah pasangan dari organisasi.
"Tuan Dave, maaf ada beberapa hal yang harus saya katakan," kata Eslen sembari menundukkan badan.
"Heem, baiklah Emeline aku akan kembali lagi nanti," bawah Dave dengan kecupan yang ada di pipi Emeline.
Lantas Dave pergi keluar kamar, dengan Eslen yang mengikuti nya. Napas lega keluar dari Dave, saat tanpa sadar dia hampir saja mengatakan rahasianya.
"Tuan Dave, tadi itu hampir saja," kata Eslen dengan menampilkan map coklat yang dia bawa.
"Benar, entah apa yang aku lakukan. Kamu tau? Itu aneh saat aku mengatakannya tanpa sadar, biasanya aku adalah orang yang sangat berhati-hati," jelas Dave pada Eslen.
"Mungkin karena Anda suka? Anda mulai memiliki rasa?" Tanya Eslen.
"Tidak! Kamu tau sendiri, apa tujuan kita di sini. Kita tau potensi Darrel juga Raffyn, maka kita harus memanfaatkan mereka. Jadikan mereka sebagaimana pemimpin yang sempurna, bahkan para dewan tinggi akan meminta mereka untuk bergabung," jelas Dave dalam rencananya.
Begitulah yang Dave pikirkan. Ada beberapa kebijakan organisasi yang dia tak setuju, bahkan tak ingin melakukannya. Tapi dia tetap melakukannya, karena pemimpin di sana. Membuat Darrel khususnya menjadi bidak yang tepat, dengan di sokong oleh Raffyn maka mereka akan menjadi komposisi yang sangat Sempurna.
"Ya, tapi sudah saya peringatkan anda sebelumnya, jika Anda memiliki rasa itu akan sangat sulit untuk menumbalkan Nyonya Emeline nantinya," sergah Eslen.
"Memang? Untuk sekarang tak bisa, Darrel dan Raffyn terlalu bergantung pada Emeline."
"Nona Rara juga."
Anggukan dari Dave, menanggapi jika dia setuju dengan Eslen. Tak ada lagi jawaban, hanya berkas dari perusahaan milik Dave yang dia buka untuk mengamatinya. Perusahaan yang dia bangun sebagai kedok, kini malah berkembang pesat. Mungkin karena sifat dari Dave, membuat usahanya bisa menjadi populer bahkan brand ternama di berbagai tempat.
"Ngomong-ngomong tuan, masalah Tuan Theo. Beberapa orang bilang jika Tuan Theo pergi keluar negri," lanjut Eslen membuka pembicaraan.
Salah satu alis Dave naik, tanda dia berpikir. Juga tak menyangka jika Theo pergi dari keluar negri hanya untuk masalah seperti ini. "Theo? Pergi?"
"Tidak, Theo terlalu mahal untuk itu," sanggah Dave cepat.
Dia tau benar bagaimana support Theo pada organisasi. Bahkan dewan besar merasa enggan untuk mengusirnya, karena Theo orang yang sangat berbakat.
"Atau Tuan Theo tengah merencanakan sesuatu lagi? Akhir-akhir ini dia tak mau diam," jelas Eslen dengan helaan napas, begitu banyak hal yang terjadi hanya kerena Theo.
"Benar, tapi untuk sekarang biarkan saja. Yang penting tak mengganggu keluarga ini."
"HM? Keluarga ini?" Pertanyaan dari Eslen lantas membuat Dave kalang kabut. Dia menjadi salah tingkah, bahkan bersikap merapikan badannya untuk mencari alasan.
"Maksudnya keluarga ini, benar ya. Keluarga imajenasi."
Beberapa Minggu telah berlalu, Rara telah sembuh dari lukanya begitu pula dengan Emeline. Kehidupan yang sangat baik, apalagi dengan Theo yang tidak mengganggu mereka.
Sudah Dave memutuskan mata-matanya untuk mengintai apa yang Theo lakukan, tapi dia tak bisa. Theo selalu berjalan di bawah, maksudnya mengendap tanpa di ketahui oleh mata-mata itu. Bahkan jika Theo terlihat keluar, dia hanya pergi jalan-jalan Atau pun makan bersama.
"Hanya ini saja?" Tanya Dave pada Mark. Mata-matanya.
Usia Mark bisa di bilang masih muda. umur dua puluh lima tahun, tapi dia di besarkan oleh Dave sendiri. Tepat delapan belas tahun yang lalu, saat Mark tepat berumur tujuh tahun. Karena masalah di perbatasan, membuat semua keluarga Mark tewas. Tak ada yang peduli dengan dia, bahkan pemerintah tak memperhatikannya.
Dia suka memanjat, meloncati satu atap rumah dengan rumah yang lainya. Tidur di atas genteng, agar tidak di usir. Dan juga mencuri, pekerjaan yang bisa Mark lakukan untuk memenuhi kehidupan.
Tanpa sadar, satu hari pencuriannya ketahuan. Saat itu langsung Mark di pukul. Tanpa tau nasib yang membawanya kemari.
Saat itu Mark langsung babak belur di menjadi bulan-bulanan warga. "Hanya segini saja?!" Tanya orang yang mempekerjakan Mark.
"Iya, aku bahkan ketahuan," kata Mark dengan mengusap hidungnya yang berdarah.
"GAK GUNA!" Sebuah teriakan sekaligus bogem mentah melayang di wajah Mark.
Rasa marah yang ada dalam diri Mark mencuat, dia melihat ke bosnya itu. Lantas memukulnya balik. "Apa yang kamu sebut tak berguna!"
"Kamu berani Mark! Ingat! Akulah yang membawa mu kemari!"
"PERSETAN! Kamu yang membuatku seperti ini!" Teriakan Mark di selingi dengan gerakan tangan yang mencekiknya. Lantas bosnya itu terkapar, dan mulai tak sadarkan diri.
Mark saat itu langsung ketakutan, dan pergi dari sana.
Saat dia melihat orang-orang dengan jas rapi, tersenyum, berpakaiannya bagus, dan makan-makanan enak itu adalah para petinggi negara. Dia merasa kesal dan geram, bisa-bisanya mereka bersikap begitu nyaman saat mereka di perbatasan mengalami hidup yang sangat kejam.
"Papa papa! Lihat!" Teriak seorang anak kecil yang memakai gaun putri. Dia memolek kan badannya, dan menarik di atas meja makan itu.
Semuanya bertepuk tangan, bahkan untuk orang yang mungkin tidak dia kenal. Geraman tangan mencakar dinding beton itu, merasakan iri juga marah yang ada dalam batin Mark.
"Bayangkan, aku bahkan hampir mati di sini. Lalu kenapa? Kamu sama-sama anak-anak, kami sama-sama manusia, tapi kenapa masih membuat kami harus merasakan ketidakadilan!" Teriakan Mark sembari berteriak dan menangis.
Jangankan untuk makan, bahkan untuk bertahan hidup harus berpijak pada kaki sendiri. Saat Mark hampir mati, kedinginan, tak ada yang mengulurkan tangan. Dave datang padanya, dia awalnya pikir Dave seperti orang kaya lainya hanya mengandalkan uang dan kenyamanan. Menjadikan Mark budaknya, tapi tidak. Dia malah menjadikan Mark lebih baik dari sebelumnya.
"Aku akan mengajari mu sesuatu, arti dari kehidupan sebenarnya."