
Pasalnya Dave seolah mengejek Raffyn, dengan kemampuan yang belum apa-apa masih membuat Raffyn sombong. Apalagi rencana Darrel yang terlihat jenius, tapi tambah membuat Dave tertawa.
"Kalian tak sepintar yang aku bayangkan," titah Dave dan memberikan laptopnya pada Eslen.
"Terimakasih Tuan Dave, tapi itulah yang kami bisa. Bagaimana dengan Anda? Anda beberapa hari ini tak melakukan apapun!" Kata Darrel juta merasa kesal karena di sepelekan oleh Dave.
"Apa? Tak melakukan apapun?" tanya Dave dengan sombongnya dan menunjukkan map coklat yang dia bawa. "Cetak biru ruang bawah tanah rumah Theo," lanjut Dave.
Betapa terkejutnya Raffyn juga Darrel saat membuka map itu. Dave tidak bercanda, entah apa yang dia lakukan hingga bisa melakukan hal seperti ini. Betapa kagumnya Darrel, bahkan dia menyadari jika kemampuannya belum ada apa-apanya dengan Dave.
"Kalian masih kecil, masih banyak waktu untuk belajar. Jangan merasa aneh, apalagi saat melihat orang yang lebih pandai," titah Dave mulai beranjak dari sana. "Dan jangan sepelekan sekolah, pergilah dari sana atau kalian akan tetap bodoh karena tak lulus bahkan sekolah dasar!" Lanjutnya sembari pergi meninggalkan Dave juga Raffyn.
Upaya mogok Raffyn dan Dave tidak berjalan baik. Memang mereka membuat sebuah perjanjian. Setelah Emeline di culik, Darrel dan Raffyn tak akan pernah mau sekolah kecuali Emeline di temukan. Kecuali Dave bisa membuktikan jika dia bisa membawa Emeline kembali.
Beberapa saat kemudian Darrel dengan Raffyn berjalan berdua, dekat taman yang ada di cafe milik mereka. Duduk di bangku taman, dan helaan napas dalam.
"Aku tak mau sekolah, itu sangat menyebalkan!" Teriak Raffyn tau seperti apa sekolah yang akan mereka datangi.
"Kenapa kita tak bisa lompat kelas saja? Itu akan lebih muda," gerutu Darrel menyambung ucapan dari Raffyn.
"Kamu tak ingat? Mama berpesan pada kita untuk tidak terlalu mencolok, bersembunyi di belakang sikap lugu layaknya anak-anak," kata Raffyn menanggapi.
Darrel kembali terduduk, begitu juga dengan Raffyn. Mereka tak ingin kembali ke sekolah, menyembunyikan identitas seperti bukan sikap mereka yang sebenarnya.
"Kaka! Kaka Darrel! Kaka Raffyn!" Teriakan dari seorang anak kecil yang mereka tau tepat pemilik suara itu.
"Kaka ternyata ada di sini, Rara mencari kalian," lanjut Rara setelah mereka sampai dengan Darrel juga Raffyn.
Tak seperti biasa Rara datang sendiri, tapi sekarang dia datang dengan anak perempuan lainnya.
"Rara? Siapa dia?" Tanya Raffyn melihat anak perempuan yang rasanya tak asing.
"Clara! Dia teman rara," jawab Rara sembari mendorong tubuh Melisa agar mendekat ke arah Darrel juga Raffyn.
Wajah terkejut dari mereka Darrel juga Raffyn. Apalagi mendengar ucapan dari Rara seolah tak asing dengan namanya.
"Clara?" Tanya Darrel melihat ke anak kecil itu.
"Halo kaka Darrel, halo kaka Raffyn. Saya Clara Waise, salam kenal!" Ujarnya dengan sopan lantas menundukkan badan.
Waise, marga yang selama ini Darrel juga Raffyn cari. Mereka lantas menatap satu sama lain, suatu keberuntungan tengah berpihak ke arah mereka.
"Clara? Ibu mu bernama Melisa Waise? Dan ayah mu Theo Waise?" Tanya Raffyn mengorek informasi dari anak kecil itu.
"Heem, ya benar itu ibu Clara. Tapi paman Theo bukan ayah Clara, dia paman Clara," jelas Clara dengan antusias layaknya anak-anak pada umumnya.
Hal itu lantas membuat Darrel juga Raffyn bingung. Sedari awal Dave selalu bilang jika Theo adalah ayah dari Clara, tapi untuk sekarang Clara sendiri mengatakan jika dia bukan ayahnya.
"Clara kamu tak boleh berbohong, papa bilang paman Theo itu ayah mu!" Celetuk Rara.
"Bukan! Bukan ayah Clara, mama bilang ayah Clara itu orang besar! Dan paman Theo itu paman Clara!" Ujarnya dengan nada yang sama-sama tingginya dengan Rara.
"Tapi kata papa-"
"Sudahlah... Astaga, sudahlah," kata Darrel merasa aneh dengan perdebatan mereka.
"Jangan terlalu kasar, mungkin anak ini bisa kita manfaatkan," kata Raffyn berbisik pada Darrel. "Haha, kalian suka escream? Ingin aku belikan? Aku punya banyak uang!" Lanjut Raffyn pada Rara juga Clara.
"Clara mau yang rasa strawberry!"
"Rara mau masa mangga! Dengan sempurna susu juga escream vanila."
"Baiklah, ayo aku belikan," kata Raffyn dengan semangat membawa mereka pergi.
Darrel melihat sikap Raffyn yang bisa di kendalikan. Mungkin saja ini bisa di manfaatkan. Melihat sikap Clara yang seperti Rara, polos dan tak ada hal yang mencurigakan. Darrel melihat tubuh Rara dari atas hingga ke bawah, sepertinya tak ada yang mencurigakan. Berbeda dengan Rara yang terlihat jelas ada suatu yang janggal di dalamnya.
"Nona! Nona Clara, kenapa Anda pergi begitu saja?" Tanya seorang pengawal yang datang menemui Clara.
"Clara hanya bermain dengan Rara. Dan lihat," ujar Clara sembari menunjukkan escream yang ada di tangannya.
"Siapa yang memberikannya nona? Bukankah ibu Anda sudah bilang untuk tidak menerima pemberian orang asing?"
"Hem? Tapi Kaka Raffyn bukanlah orang asing, dia adalah kakak Rara," jawab Clara dengan nada polosnya.
Lantas pengawal itu melihat ke arah Raffyn, begitu pula dengan Darrel. Raut wajah bingung dari pengawal itu, sebuah tatapan yang bingung juga sedikit waspada pada mereka berdua.
"Paman? Kami bukanlah pembunuh, kenapa Anda menatap kami dengan tatapan seperti itu," ujar Darrel seperti tak enak melihat tatapan dari pengawal itu.
"Bukan, hanya saja perasaan Tuan Dave hanya memiliki satu putri saja."
"Lalu kenapa? Dia juga memiliki putra! Kaka Darrel dan kak Raffyn itu sangat pandai, Rara juga sering di ajari oleh dia," bela Rara.
"Iya, tapi... Baiklah, Nona Clara bisakah kita pulang? Ibu Anda pasti merindukan Anda," kata pengawal itu.
"Aku tak mau pulang, di sana tak ada teman," gumam Clara merajuk seketika.
"Iya tapi jika Anda tak pulang pasti ibu Anda akan mencari Anda. Sudah terlalu lama Anda keluar, ja-"
"Paman, bolehkah kami ikut?" Tanya Raffyn menyela ucapan pengawal tersebut.
"Ya! Rara juga belum pernah ke rumah Clara yang baru!"
"Ya! Rara boleh main, lagipula Rara aku punya istana baru!"
"Kita bisa bermain putri, dan Kaka Rara bisa menjadi raja dan pangerannya!"
Seolah tak memperdulikan pengawal yang dari tadi ada di sana. Rara dan Clara langsung menuju mobil milik Rara. Begitu juga dengan Darrel juga Raffyn. Sebuah rencana dadakan yang mereka bahkan baru merencanakannya.
"Tapi bagaimana? Nanti Tuan Dave mencari kalian," sela pengawal itu.
"Tak masalah tuan, saya akan menghubungi papa Dave," panggilan papa dari Darrel untuk menyakinkan drama yang tengah mereka lakukan.
Senyuman puas yang Darrel dan Raffyn lakukan. Mereka akan masuk dalam sebuah rumah yang mengurung ibu mereka.
Di tempat berbeda Dave tengah mengamati Darrel juga Raffyn. Dalam cafe itu, senyum sumringah menandakan satu rencana bagus dari Dave telah di mulai.
"Tuan Dave? Bukankah terlalu berbahaya untuk melibatkan anak-anak?" Tanya Eslen.
"Hem? Tidak juga, aku yakin mereka akan baik-baik saja. Selama Rara dan juga Clara bersama mereka," jawab Dave percaya diri meminum teh dengan seksama.