
"Maaf, tapi...." Bisikan dari pengawal tersebut membuat Theo langsung marah.
"BAGAIMANA BISA!" teriaknya membuat anak-anak langsung menatap ke arahnya.
Hal itu lantas membuat Theo langsung melihat ke arah Darrel. "Itu semua rencana kalian kan!" Teriakan Theo lantas menodongkan senjata api pada Darrel.
Semuanya sontak terkejut, apalagi dengan pistol yang di todongkan begitu saja. Suara pelatuk yang menggema membuat Rara langsung berlari di hadapan Darrel. Entah apa yang di pikirkan bocah itu, hanya berlari bahkan di saat yang lain masih diam.
"Kak Darrel!!"
DOR
Hanya gemaan dari suara peluru yang sudah keluar dari pistolnya. Dengan darah yang mencecer, juga tubuh Rara yang tergeletak di depan Darrel.
"Ini... Sakit....." Rintihan perlahan dari Rara membuat Darrel langsung membopong tubuh nya.
"Raffyn panggil ambulans cepat! Ada yang tertembak!" Teriak Darrel cepat, lantas membawa Rara di punggung nya. "Kamu pasti akan selamat Rara, percaya kakak mu di sini," lanjut Darrel lantas membawa Rara keluar dari rumah.
Darrel yang tengah di bopong oleh Darrel, sedangkan Raffyn menunggu di depan mansion berharap ada yang datang.
"BERHENTILAH! Seorang anak tertembak di sini!" Teriak Raffyn sembari mengayunkan tangannya.
Lantas ada salah satu mobil berhenti di sana. Terlihat terkejut, apalagi dengan keadaan Rara yang sudah setengah sadar.
"Kakak... Ini sakit," rintih Rara juga dengan nada yang pelan dan tangisan ya h perlahan keluar.
Sesaat Rara pergi, sedangkan Melisa, Clara, juga Theo hanya melihat kebingungan. Mereka bingung antara keadaan Rara yang tak sengaja tertembak, ataupun keluarga mereka yang telah melanggar perjanjian dalam organisasi.
"Theo! Apa yang kamu lakukan!" Teriakan Melisa sembari menampar Theo.
"Aku tak sengaja melakukanya, aku... Aku berniat untuk menembak anak laki-laki itu," jawab Theo sembari melihat tangannya yang gemetaran.
Di rumah sakit para suster dan dokter di sana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dua anak laki-laki dengan satu bocah perempuan yang sudah penuh dengan luka. Untungnya para dokter IGD di sana cepat menangani Rara.
Raut pasrah dan pucat terlihat dari Raffyn juga Darrel. Entah apa yang mereka pikirkan sekarang, hanya keselamatan Rara itulah harapan mereka.
"Maaf anak-anak kalian ada wali atau orang tua yang bisa di ajak ke sini?" Tanya seorang perawat.
"Anda tau Dave Camelion?" Jawab Raffyn dengan nada rendah.
Tentu saja perasaan trauma masih Raffyn dan Darrel rasakan. Perawat itu hanya bisa terkejut saat Raffyn mengatakan hal itu. Siapa yang tidak dengan dengan Dave Camelion di sana. Seorang usaha kaya, muda, dan tentunya masih lajang. Meskipun di kabarnya memiliki anak hubungan di luar nikah, tapi anaknya belum pernah terekspos oleh publik sebelumnya.
"Maaf, tapi apa hubungan Anda dengan Tuan Dave?" Tanya perawat itu kembali.
"APA MASALAHMU! Cepat hubungi saja dia! Tak perlu bertanya hubungan, kamu tak tau seorang anak tengah sekarat dan berjuang hidup di saja!" Teriak Darrel menanggapi.
Sontak perawat itu terkejut, lantas bergegas pergi meninggalkan Darrel juga Raffyn. Beberapa orang berbisik-bisik setelah mendengar kata Dave Camelion.
"Apakah itu putranya Tuan Dave?"
"Sungguh? Mereka kasar sekali."
"Tapi yang satu terlihat baik."
"Yang lainya terlihat tempramen."
"Kalian lihat anak perempuan yang ada di IGD, itu sepertinya lebih kecil."
"Jangan-jangan Tuan Dave berhubungan dengan lebih dari satu wanita."
Darrel dan Raffyn lagi-lagi diam. Ingin Darrel memukul wajah orang-orang yang membicarakan mereka, tapi saat di ingat lagi ini adalah rumah sakit Darrel tak ingin menambah masalah. Pikiran Darrel kacau, apalagi saat melihat Rara yang dengan polosnya menghalangi peluru itu.
Tanpa sadar tangisan mulai luruh dalam diri Darrel. Dia tak tau apa yang dia inginkan sekarang, hanya keinginan untuk Rara selamat.
"Darrel kamu tak perlu merasa bersalah," ujar Raffyn memberikan sapi tangan yang ada di jaketnya.
"Apa kamu tak lihat? Rara yang dengan polosnya datang dan langsung menghalangi peluru nya," jawab Darrel.
"Iya, aku melihatnya. Tapi bukan salah kamu, kamu tak meminta Rara atau sengaja mendorong Rara agar tertembak," jelas Raffyn kembali.
Saat itu Darrel langsung memeluk Raffyn. Begitu juga dengan Raffyn yang memeluk Darrel. Detak jantung yang sama-sama kuat, menandakan Raffyn juga tengah ketakutan.
"Andaikan nanti di tangkap, kamu tak akan sendirian. Kira hanya punya satu sama lain kan? Tak masalah jika aku juga ikut di penjara," jelas Raffyn.
Tak lama kemudian deru langkah kaki terdengar menggema di ruangan. Dari mulai lorong rumah sakit, banyak orang yang melihat ke arah suara itu. Itu adalah Dave dengan beberapa pengawal lengkapnya. Dengan jas hitam, dan sebuah kacamatanya.
"Darrel! Raffyn!" Panggil Dave.
Seketika kedua anak itu yang menangis lantas melihat ke arah Dave. Mereka turun dari kursi, dan menundukkan kepalanya.
"Tuan Dave, ak-" belum sempat Darrel menyelesaikan ucapannya, malah di putus oleh Dave yang memeluk mereka berdua.
Pelukan Dave hangat, bahkan tak peduli dengan baju Darrel dan Raffyn yang berbalutkan darah. Paling banyak itu data di jaket milik Darrel. Apalagi dialah yang menggendong Rara mulai dari mansion milik Theo.
"Jangan mengatakan apapun, itu bukan salah kalian," kata Dave setelah beberapa saat terdiam.
Lagi-lagi Darrel menangis, bahkan memeluk Dave. Sikapnya sebagai anak-anak tak bisa dia sembunyikan lagi. Dia takut, dia marah, juga rasa bersalah dalam dirinya bercampur aduk. Belum lagi ini adalah rencana dia untuk pergi ke mansion Theo. Awal rencana yang sempurna, tapi kenapa sekarang malah orang lain yang terluka karena rencana dia.
"Aku... Aku... Maafkan aku Tuan Dave...." Rintihan Darrel dengan tangisan yang tak bisa dia tahan.
Begitu pula dengan Raffyn, dia sesungukan tanpa mau berbicara apapun. Wajahnya sudah basah karena penuh dengan air mata, tanpa suara hanya deru napas yang terbata-bata.
"Kalian anak laki-laki, tak seharusnya menangis," ujar Dave mencoba untuk menenangkan Darrel juga Raffyn. Lantas Dave mengusap wajah mereka, lalu beranjak berdiri dari sana. "Eslen, bawa Raffyn juga Dave, ganti pakaian mereka dan ajak pulang. Biarkan mereka bertemu dengan Emeline," lanjut Dave.
Sontak itu membuat keduanya membulatkan mata. Tiba-tiba saja Dave bilang untuk melihat Emeline. Rasanya gugup juga takjub, mata berbinar ingin mereka teriak.
"Tuan Dave! Apa yang Anda maksud? Apakah MAMA-" ucapan Raffyn terhenti saat ada senyuman dari Dave.
"Pulanglah, biar aku yang menjaga di sini," kata Dave.
Tak seperti Raffyn yang langsung melangkahkan kakinya pergi, Darrel malah terus melihat ke arah Dave di sana.
"Tuan Dave, aku sungguh meminta maaf," ujar Darrel.
"Untuk apa?" Tanya Dave kembali.
"Rara, Rara tertembak karena aku."
"Tapi bukan kamu yang melakukannya, itu cukup Darrel. Untuk sekarang kamu tau kan, hutang mu besar pada keluarga ini," jelas Dave membuat Darrel membulatkan mata.
Wajahnya tak percaya jika Dave masih memikirkan timbal balik. "Baik Tuan Dave," jawab Darrel lantas pergi dari sana .
Raut wajah Dave berubah seketika. Yang awalnya tenang dan geram, dia juga berubah menjadi cemas. Dave mulai menyenderkan kepalanya di tembok, kemudian sesungukan menahan suara tangis yang keluar. Air matanya jatuh, dengan tangan yang dia letakkan di tangan untuk menahan suara.
"Putri kecil ayah... Maaf, tapi kamu harus bertahan sayang.... Mama mu sudah menunggu kamu pulang....."