
"Tuan Dave, aku sungguh meminta maaf," ujar Darrel.
"Untuk apa?" Tanya Dave kembali.
"Rara, Rara tertembak karena aku."
"Tapi bukan kamu yang melakukannya, itu cukup Darrel. Untuk sekarang kamu tau kan, hutang mu besar pada keluarga ini," jelas Dave membuat Darrel membulatkan mata.
Wajahnya tak percaya jika Dave masih memikirkan timbal balik. "Baik Tuan Dave," jawab Darrel lantas pergi dari sana .
Raut wajah Dave berubah seketika. Yang awalnya tenang dan geram, dia juga berubah menjadi cemas. Dave mulai menyenderkan kepalanya di tembok, kemudian sesungukan menahan suara tangis yang keluar. Air matanya jatuh, dengan tangan yang dia letakkan di tangan untuk menahan suara.
"Putri kecil ayah... Maaf, tapi kamu harus bertahan sayang.... Mama mu sudah menunggu kamu pulang....." Rintihan dari Dave yang tak ingin dia perlihatkan.
Wajah yang garang juga tak menjamin Dave sekuat itu. Meskipun Rara adalah anak yang sangat merepotkan, tapi dia tetap Putri dari Dave. Seburuk apapun Dave dalam mendidik Rara, tatap dia menyayangi nya.
Terlihat di belakang sana Eslen melihat Dave. Tak ingin mengganggu nya, dia tau jika Dave juga terluka. Beluk lagi sedari awal dia memanfaatkan Rara sebagai poros dalam rencananya mulai dari memata-matai Emeline, bahkan rencana untuk menyelamatkan Emeline. Secara tidak langsung, Dave juga membuat Rara seperti ini.
Hampir sepuluh jam operasi Rara, tapi belum ada tanda-tanda selesai. Hingga sebuah lampu hijau yang berubah menjadi merah, tanda operasi sudah selesai sekarang. Terlihat dokter dengan pakaian lengkap nya berjalan keluar, di sambut cepat oleh Eslen juga Dave.
"Dokter, putri saya!" Kata Dave tanpa basa-basi.
"Tak apa, dia adalah anak yang kuat. Tapi lebih baik, jauhkan dia dari hal-hal berbahaya seperti tadi," jawab dokter tenang dengan senyuman dan tepukan tangan di pundak Dave.
Saat itu entah apa yang di pikiran Dave. Rasa semua beban yang ada di badannya hilang. Dia merasa bebas, dan mulai luruh kembali jatuh.
"Syukurlah... Rara... Kamu membuat ayah mu ini khawatir, kenapa kamu selalu seperti itu...." Gumam Dave dengan tangisan yang keluar.
Beberapa hari telah berlalu, Rara sudah sadar sekarang. Dave yang selalu menjaga Rara, dan menghabiskan waktu dengan nya. Kecuali saat benar-benar ada meeting penting dan Dave tak bisa meninggalkan meeting itu.
Darrel dan Raffyn juga sering melihat Rara, saat mereka pulang sekolah. Berita tersebar, apalagi paparazi yang memotret kebersamaan Dave, Rara, Darrel, juga Raffyn. Membuat berita yang booming di mana-mana.
"Anak Dave Camelion."
Sebuah judul yang bahkan menjadi trending di beberapa berita.
"Kenapa mereka sangatlah sibuk dengan urusan kita," gerutu Darrel saat di saat banyak sekali wartawan yang mengejar mereka.
Bahkan di sekolah, banyak tiba-tiba orang tua murid yang datang untuk menjodohkan putri mereka.
"Ya menyebalkan, oleh sebab itu ayah tak pernah bilang jika Rara itu putrinya, atau Rara tak bisa tidur," jawab rara dengan nada polosnya.
"Untuk sekarang kamu sehat dulu Rara, dan jangan pergi-pergi. Jangan banyak bergerak, dan jangan merengek," jelas Raffyn menanggapi dengan potongan apel yang sudah dia kupas sebelumnya.
"Iya tapi... Bagaimana dengan mama Emeline? Ayah bilang jika mama Emeline sudah pulang, kenapa dia masih tak datang? Apa karena dia tak mau bertemu dengan Rara?" Tanya Rara sembari memakan apel yang Raffyn potong barusan.
"Ada, jadi Rara harus cepat sembuh. Mama Emeline di rumah, kakinya sakit dan tak bisa berjalan. Karena sekarang heboh tentang kita, masalah anak dari tuan Dave itu... Jadi Tuan Dave meminta mama Emeline untuk tetap di rumah saja," kelas Raffyn.
"Rara?" Panggil Darrel.
"HM? Kenapa?"
"Aku ingin tanya, kenapa kamu tiba-tiba datang di depan ku? Itu berbahaya!"
Rara hanya diam, lantas memainkan rambutnya. Sesaat kemudian Rara menampilkan wajah malunya, dengan memainkan jarinya tanda malu untuk menjawab pertanyaan dari Darrel.
"Em... Sebenarnya... Rara ikut acara mata-mata. Perempuan dalam kartun itu menyelematkan laki-lakinya dari tembakan, aku kira paman Theo ingin bermain ternyata dia serius. AHAHAHAH" sebuah tawaan dari Rara berbeda jauh dengan Raffyn juga Darrel.
Mereka malah menatap Rara dengan tatapan yang datar. Alasan yang sangat polos, bagi anak-anak yang membahayakan hidupnya.
"Kamu tau Rara, itu berbahaya! Baik itu hanya bermain ataupun acara televisi tak semuanya baik!" Kata Raffyn cepat sembari sedikit menepuk kepala Rara pelan.
"Ack! Ish kak Raffyn sakit," jelas Rara sembari mengusap kepalanya.
"Kenapa kamu sangat polos Rara? Astaga kamu melihat acara televisi apa saja...." Gumam Darrel sembari menggelengkan kepala.
"Pasalnya acaranya sangat keren, laki-laki nya juga sangat tampan.... Hehe~" jawaban Rara yang kembali membuat Darrel dan Raffyn diam.
Entah apa yang ada di pikiran adiknya itu. Bisa saja dia meniru semua adegan yang mereka tonton. Raffyn dan Darrel lagi-lagi marah dengan tingkah laku Rara, bahkan sesaat mereka menasihati Rara layaknya Kaka kandung nya.
Di sisi lain Dave tengah ada di dalam sebuah perdebatan. Antara dirinya dengan Theo tentu saja. Asas organisasi ini, harus melindungi satu sama lain dan tidak boleh menyakiti. Tentu saja oleh dewan organisasi Theo akan di jatuhkan hukuman berat.
Tentu saja Draike sebagai dewan besar organisasi menatap mereka bingung. Apalagi Dave dan Theo di kenal solid, justru sekarang terlintas masalah besar.
"Jadi Theo, banyak sekali tuntutan untuk mu, apakah ada sanggahan?" Tanya Draike.
"Sudah aku bilang, aku tak berniat untuk menembak Rara. Aku ingin menembak bocah laki-laki itu!" Teriak Theo.
"Yang kamu sebut bocah adalah putraku, bahkak kamu menculik Emeline. Astaga Theo apa yang kamu pikirkan!" Terima Dave menanggapi dengan kemarahan.
"Sejak kapan mereka jadi putramu, dan Emeline kalian belum bisa di sebut pasangan karena belum ada sumpah pernikahan!"
"Sejak kapan kita butuh sumpah di sini? Bahkan kamu melindungi Melisa hanya dengan status keluarga," sanggahan Dave.
Perbincangan ini semakin dalam, saat Theo dan Dave sama-sama tak ingin mengalah dengan sanggahan mereka.
"Sejak kapan kamu peduli dengan pengasuh Rara!'
"Sudah aku bilang dia bukan pengasuh! Dia adalah pasangan ku!"
"Sejak kapan kamu memiliki hati untuk itu? Bukankah menyenangkan hanya berhubungan?" Sebuah pertanyaan di selingi dengan senyuman mengejek dari Theo. "Apakah kamu merasakan sudah menemukan seorang yang dapat memuaskan mu Dave? Jangan demi seorang penghibur kamu melakukan semua ini," lanjut Theo.
Lantas Dave langsung marah, apalagi saat Theo mengatakan hal seperti itu. "Kenapa? Kamu tak rela jika aku tau sebenarnya Emeline itu mantan istri kamu sebelumnya?"