
"Emeline saya akan pergi ke suatu tempat malam ini, bisakah kamu menjaga Rara sendiri?" Tanya Dave.
"Malam ini? Kenapa tidak dari tadi. Apa yang akan Anda lakukan? Malam-malam pergi dengan seseorang?" Tanya Emeline beruntun.
"Tuan Dave bahkan kamu baru beberapa saat ada di sini, tapi Anda sudah mengincar seseorang lagi?" Tanya Darrel seperti mengintimidasi.
Darrel seperti nya tau jika dia ada janji dengan Diana. Dia juga mungkin paham, beberapa laki-laki yang ingin mendekati Emeline justru berujung meninggalkan dia. Dengan pola yang sama, Diana mengaku jika mereka sudah berhubungan saat di cafe milik Emeline. Membuat Emeline hanya diam, dan putus dia layangkan.
"Kamu tau anak Darrel, berperilaku seperti anak-anak yang manis," jawab Dave dengan usapan tangan yang melayang di kepala Darrel.
"Anda tau Tuan Dave, kami bukan anak sembarangan," sergah Raffyn.
"Iya aku tau, makanya aku lebih tertarik dengan kalian. Siapa yang mengajarkan hal seperti itu?"
"Papa Theo," jawaban dari Raffyn justru membuat semuanya diam.
Diamnya Emeline karena dia sadar, Theo yang dia lihat dengan wajah yang sama tapi sifat yang berbeda. Lain dengan Darrel, bertahun-tahun dia hidup dalam rasa bersalah karena membuat Raffyn juga Emeline berpisah dari Theo. Tapi, untuk kesekian kalinya Theo berpisah dengan keluarganya.
"Aku benci takdir, jika takdir itu baik kenapa hanya ada rasa sakit?" Tanya Darrel tak hilang nafsu makan. "Mama Emeline maaf, sepertinya aku akan di kamar saja," lanjut Darrel.
"Darrel! Habiskan makan malam!" Kata Emeline tegas.
Darrel hanya diam, menatap Dave lalu kembali menatap Emeline. Perasaan tak suka nampak jelas pada diri Darrel terhadap Dave. Entah apa yang dia sembunyikan, aura seperti mengintimidasi layaknya orang yang tengah marah.
"Tuan Dave-"
"Tak masalah, Emeline aku harus pergi sekarang. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan," jawab Dave langsung beranjak pergi.
Sesaat setelah Dave pergi mereka selesei makan. Raffyn kembali ke kamar, sedangkan Rara melihat acara kesukaannya. Berbeda dengan Darrel, Emeline memintanya untuk pergi ke ruang belajar. Ada beberapa hal yang harus Emeline katakan.
"Jadi kenapa sayang? Kamu sangat tak sopan," kata Emeline pada Darrel.
"Bukannya aku tak sopan ibu! Tapi semua firasat ku benar! Lihat, di ****** itu adalah benalu bukan teman ibu. Dan untuk masalah Tuan Dave, aku tak suka padanya. Dia seperti menyembunyikan hal besar di antara kita, bahkan Rara," penjelasan dari Dave panjang dengan nada yang sungguh-sungguh seperti orang dewasa.
"Ibu tau Darrel, tapi bisakah kamu jangan menunjukkan rasa tak sukamu secara langsung?"
"Kenapa? Apakah batas kesopanan jika kita terus menunduk pada orang yang lebih berkuasa?"
"Tidak, tapi mereka itu lebih tua."
"Mereka sama seperti ibu, tapi mereka tak memperlakukan ibu seperti orang dewasa. Jelas-jelas mereka itu menyakiti ibu, bahkan paman Theo!" Ucapan dari Darrel yang membuat Emeline terdiam.
Dia hanya diam saat Darrel menjelaskan hal seperti itu. Bukan karena tak bisa berkata, tapi air mata yang dia tahan perlahan keluar dari tempatnya. Apalagi setelah mendengar ucapannya yang terakhir, rasanya semuanya hancur.
Perasaan terhadap Theo yang dia jaga, luruh saat dia tau Theo sudah melanjutkan kehidupannya. Bertahun-tahun Emeline mencoba untuk bertahan hidup, dan menunggu Theo kembali. Sayang takdir berkata lain, dia hanya bisa bungkam.
"Mama, maaf Darrel tak bermaksud untuk membuat mama bersedih. Hanya saja...." Tak ada belaan dari Darrel. Dirinya merasa bersalah dengan apa yang dia ucapkan barusan.
"Baik, tapi mama...."
"Tak apa, tapu Darrel kamu harus tau satu hal. Saat kamu dewasa, kamu akan merasakan sebuah rasa yang berbeda. Dimana kamu bahkan rela terluka, saat orang yang kamu suka bisa bahagia."
Di sisi lain Dave sudah ada di pinggir danau tepat di tempat yang Diana minta. Angin cukup kencang sekarang, bahkan Dave menggunakan jaket tebal. Akan tetapi, entah apa yang di lakukan Diana dia malah menghubungi pakaian minim bahan.
"Diana? Kamu tidak kedinginan?" Tanya Dave pura-pura perhatian.
"Tak apa, Tuan Dave apa yang ingin Anda bicarakan?" Tanya Diana malu-malu kucing seolah dialah yang di panggil untuk kesini.
Lantas Dave langsung menaikkan salah satu alisnya, ingin menjambak rambut Diana yang terurai. Bahkan wanita malam yang sudah dua setubuhi tak terlihat sebodoh ini.
"Bukankah harusnya aku yang bertanya, Diana?" Tanya Dave langsung.
"Oh? Tentang informasi suami Emeline sebelumnya? Apa yang bisa Anda bayar?" Tanya Diana mulai menunjukkan wajah wanita penghibur miliknya.
Mimik nya di balut oleh wanita merah terang. Di ukir sempurna, seperti sebuah pahatan. Badannya juga bagus, apalagi dengan pakaian minim bahan membuat beberapa bagian Diana bisa terlihat dengan jelas.
"Aku ada yang, tapi aku yakin kamu tak ingin itu," tawar Dave.
"Anda memang tau saya tuan, tak perlu saja jelaskan," ujar Diana langsung memulai pagutan nya.
Pagutan tepat di bibir Dave, semakin lama semakin dalam bahkan Dave hanya di atur oleh Diana. Berbeda dengan sikap Dave yang selalu di atas, kini dia malah di haruskan untuk di bawah.
"Kamu terlalu berani Diana, aku ini tak suka di atur," kata Dave dengan wajah yang mengancam tapi juga keenakan.
"Jika begitu, cobalah untuk jinakkan aku," titah Diana mulai memolekkan badannya.
Sesaat kemudian Diana mulai menguasai badan Dave. Dave terus saja diam, melihat apa yang Diana lakukan. Bahkan tanpa rada malu Diana melakukannya sembari menyerayangi badannya sendiri.
Sesaat beberapa napas yang berat keluar dari Diana, menandakan dia akan segera sampai. Lain hal dengan Dave, yang hanya menampilkan wajah flatnya bahkan seperti tak bereaksi pada Diana.
"Tuan... Tuan Dave, ke-kenapa Anda...." Ucapan Diana terbata melihat Dave yang tanpa reaksi.
Diana terus mencoba untuk memolek kan badannya, mencoba untuk membujuk Dave mengeluarkan suara khas parau nya. Namun di sayang, hal itu tetap saja gagal. Dave malah terlihat lebih masam dari sebelumnya.
"Anda ini kaku sekali Tuan Dave, apakah Anda tak suka perempuan? Maksudnya... Anda lebih suka laki-laki daripada perempuan yang berdada?" Ejek Diana dengan terus melakukan aktivitas nya.
"Apa yang kamu maksud?" Tanya Dave kesal dengan kelakuan Diana.
"Ya... Ya Anda tau apa yang saya maksud, apakah anda itu ga-" belum sempat Diana melanjutkan ucapannya, langsung Dave mencekiknya dengan cepat.
Dengan tubuh setengah naked dari Diana, dia terus cekik bahkan di tahan ke tanah.
"Sudah aku bilang aku tak suka di bawah, kamu pikir aku tak suka perempuan? Lihat, bahkan Emeline lebih baik dalam memolek kan badan."