A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Baby Raffyn Walcott



Aku semakin tak tenang, terus berjalan kesana kemari. Saat kehamilan ku sudah mencapai trimester akhir, rasanya tak segugup sekarang. Aku tak bisa diam, tak ingin duduk, selalu ingin makan, dan mulai merasakan cemas. Aku menceritakan ini kepada bi Teresa, dan dia bilang itu tandanya aku akan melahirkan.


Sesuatu yang sangat melegakan, tapi itu juga membuatku takut. Theo tak bisa izin untuk kali ini, bahkan saat aku sudah pergi ke rumah sakit di pagi hari hanya di temani dengan bi Teresa.


Benar saja Drake seperti nya ada masalah tersendiri dengan Theo, membuat dia terus memaksa Theo bekerja bahkan saat Theo sudah izin untuk beberapa hari.


"Kamu di sana baik? Aku akan segera menyusul. Sial, Drake ****** itu benar-benar membuat masalah saat baru kembali" kata Theo dari balik telepon.


"Tak masalah... Aku sungguh ingin kamu segera kemari, aku cukup takut. Meskipun ada bi Teresa di sini" kataku dengan nada gemetar, dan dengan keringat yang bercucuran.


"Sudah benar-benar terasa ya? Mungkin aku akan pulang sekarang saja. Persetan aku akan di keluarkan atau apa"


"Sungguh? Aku merasa lega mendengarnya"


"Iya, sebentar lagi aku akan mem-"


"Kamu mau kemana?!" kata seseorang laki-laki yang terdengar dari balik telepon Theo.


"Sial Drake, Emelin sudah di rumah sakit sekarang. Ini juga sudah malam, aku tak akan lembur untuk hari ini" ucap Theo, menandakan orang yang tadi mencegalnya adalah Drake.


"Aku tak peduli, aku mi-"


"Persetan tentang apa yang kamu minta bodoh! Aku tau kamu tak sekuasa itu, bahkan jika kak Brian tau dialah yang akan mencabut posisimu!" teriak Theo.


Aku terdiam sesaat, mendengar ucapan Drake yang terdengar tak suka. Benar-benar menyusahkan Theo, terlebih lagi aku tak tau apa yang dia inginkan dari Theo.


"Theo... " panggil ku perlahan mendengar pertengkaran mereka.


"Ah-! Emelin, masih tersambung ya... Tak apa, aku hanya sedang memahami bahasa hewan di sini. Aku tutup telepon nya, dan tunggu aku di sana" jelas Theo cepat dan langsung menutup telepon nya.


Saat itu aku semakin cemas, aku tak tau tapi aku sungguh ingin Theo ada di sisiku. Dia membuatky tenang, apalagi ini adalah kelahiran anak pertamaku. Sedikit canggung, mesikpun beberapa kali bi Teresa bilang aku harus tenang.


"Minum dulu nyonya" kata bi Teresa melihatku yang tak bisa diam.


"Aku tak bisa, bi Teresa... Dadaku berdetak sangat kencang" kataku dengan keringat yang sudah penuh membasahi telapak tangannya.


"Tenangkan diri anda ya nyonya, tarik nafas dalam" jelas bi Teresa kembali sambil terus memegangi tanganku.


Beberapa saat kemudian suster mulai berlalu lalang. Mempersiapkan semuanya, tapi yang aku khawatirkan aku belum melihat Theo. Rasa nyeri, dan sakit, bercampur aduk semuanya perlahan mulai terasa semakin berat saja.


Aku terus mencoba untuk menetralkan nafasku, tapi tetap saja rasa sakit ini membuyarkan semuanya.


"Nyonya... Tenangkan diri anda" kata bi Teresa, meskipun aku tau dia juga sama khawatir nya.


Beberapa saat dokter mulai datang. Aku di beri arahan, meskipun aku juga tak mendengar semuanya.


"Sakit ya... Emelin?" suatu bisikan pertanyaan dari suara baddas yang aku kenal.


'Theo?!' tantaku batin tak percaya dengan suara yang aku dengar barusan.


"Untungnya aku tak terlambat, meskipun harus bertengkar dulu dengan keparat itu. Tapi Emelin... Berjuang ya? Terimakasih untuk semuanya" bisik Theo kembali, membuatku sedikit rasa lega.


Aku mulai mengatur nafasku, dengan Theo yang masih memakai pakaian rapinya. Rasanya semakin lama semakin sakit, bahkan kesadaran ku mulai berkurang. Beberapa orang suster mencoba untuk memberikan semangat, tapi sayangnya aku tuli sekarang.


...–––––SKIP–––––...


Entah berapa lama aku tertidur, melihat sekitar pemandangan putih khas rumah sakit yang aku dapatkan.


"Emelin! Kamu sudah bangun... Jangan banyak bergerak" kata Theo sambil menopang badanku yang ingin duduk.


"Bagaimana...." tanyaku pada Theo.


"Ah... Itu, dia tampan" kata Theo menunjuk bi Teresa yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki.


"Ya, dia tampan sekali... Kamu payah Theo bahkan kamu tak ingin membopongnya" kata bi Teresa, menempatkan bayinya di pangkuanku.


"Hati-hati! Dia kecil sekali, bahkan saat ini aku bisa meremas kepalanya. Lihat, kepalanya bahkan hanya satu dekapan tanganku" kata Theo dengan sedikit gemas memainkan pipinya.


"Siapa? Baby.... Theo Junior?" tanya Theo tanda menanyakan nama.


"Ayolah... Itu tampan, aku ingin dia tampan dan kuat seperti ayahnya" ucap Theo kembali.


"Bagaimana menurut kamu Emelin?" lanjut Theo dengan pertanyaan.


"Raffyn... Raffyn Walcott. Tampan dan kuat, juga penuh dengan kasih sayang, dan melindungi orang yang dia sayang. Melindungi keluarganya, dia pasti akan tumbuh menjadi laki-laki yang sempurna" kata Emelin pelan, dengan sedikit kecupan singkat yang melayang di seluruh wajah bayi itu.


Semuanya terdiam, melihat Emelin yang menunjukan sisi kesibukan. Tak ada yang menyangka, saat Emelin mengucapkannya meskipun dengan nafas yang masih terbata dan lelah, tapi di dalamnya penuh masih sayang dan harapan dari seorang ibu.


"Emelin... " panggil Theo di sela-sela keheningan.


"Kenapa?" tanyaku masih memandangi wajah bayi mungil ini.


"Aku tak ingin memiliki anak lagi" kata Theo sontak membuatku dan bi Teresa menatapnya terkejut.


"Kenapa?" tanyaku kembali, dengan tatapan yang masih tak percaya.


"Melihat kamu kesakitan itu membuatku sedih, aku tak ingin kamu kesakitan seperti itu lagi. Cukup satu, tak masalah... Saat kamu hamil, kamu juga tak nyenyak tidur beberapa minggu ini membuatku tak suka. Pasti sangat sulit kan ya? Aku tak ingin kamu kesakitan seperti itu lagi" kata Theo sembari mengusap, lalu mengecup kepalaku.


Aku hanya menatapnya, memang rasanya sangat menyakitkan tapi perasaan ini aku menyukainya. Saat aku mengandung, dan melahirkan rasanya sakit dan tak nyaman. Tapi setelah melihat bayi tampan seperti Raffyn, membuatku tak menyesalinya.


"Khem, baiklah saya akan mencari makanan ringan dan buah untuk nyonya" kata bi Teresa bergegas keluar.


"Kenapa dia" kata Theo melihat bi Teresa yang bersikap aneh.


"Itu karena kamu, jangan bersikap seperti itu jika ada orang" kataku dengan nada pelan.


"Apa? Menyebalkan, jadi nanti kita akan sulit untuk bersenang-senang... " kata Theo mencium tengkuk ku.


"Theo... Hentikan, aku tengah menggendong baby Raffyn sekarang" ucapku mencoba untuk bersikap tenang.


"Ya... Sudah aku duga, kita akan makin sulit untuk bersenang-senang" kata Theo dengan helaan nafas kasar.


Beberapa saat kemudian, Theo kembali ke sofa. Terdapat beberapa laptop dan berkas yang berceceran di mejanya.


"Kamu... Tidak libur Theo?" tanyaku penasaran, melihat Theo juga terlihat sangat lelah.


"Tidak, sialan itu membuatku harus bekerja di antara liburku" kata Theo dengan selaan kepada Drake.


"Maaf.... " ucapku perlahan.


Aku tau, aku yang meminta Theo untuk datang. Bahkan aku mendengarnya, dia bertengkar dengan Drake hanya karena aku memintanya untuk menemaniku.


"Untuk apa minta maaf, lagipula mem-" ucapan Theo terhenti saat nada dering dari ponselnya mulai terdengar.


"Lihat? Dia bahkan tak bisa menggangu kita sebentar saja" kata Theo menunjukkan panggilan dari Drake.


Beberapa saat kemudian Theo keluar ruangan, jelas dia akan marah-marah dengan Drake yang menelponnya asal.


Aku terus menimang Raffyn, sedikit bersenandung dimana wajahnya terlihat pulas tertidur.


"Emelin?"


.......


.......


.......


.......


...–––––AUTHOR–––––...


Hallo readers semuanya!!! Hayyo siapa yang di sini masih ingat Raffyn?! Gak ada? atau ada? ingat ya syukur, gak ingat ya gpp toh memang cerita lama. bwt othor harap kalian menikmati ceritanya.


. SEE YOU NEXT PART!!!