
Satu hal, Emelin merasa bangga jika Raffyn sudah berbaikan dengan orang yang tak dia suka. Akan tetapi, di sisi lain orang itu adalah Darrel, membuat Emelin sedikit ragu untuk mengizinkannya.
"Boleh, tapi.... "
"Misal gak boleh gak apa-apa tante," ucapan dari Darrel dengan puppy eyes yang dia buat.
Sedikit tak bisa menahan manisnya wajah Darrel, apalagi di tambah dengan raut kecewa dari Raffyn. "Baiklah, tapi Darrel kamu sudah meminta izin dengan mama kamu?"
"Mama gak bakal peduli, aku udah minta paman Theo untuk menjemput ku nanti," ujar nya tanpa beban.
'Benar, mereka tak tau apapun,' kata batin Emelin.
"Boleh ya ma, mama gitu kemarin katanya suruh baikan sekarang baikan, gak boleh main?" rayu Raffyn.
"Boleh sayang boleh, hanya saja bagaimana jika nanti orang tua Darrel mencarinya?" kata Emelin sabar berusaha untuk menjelaskan. 'Lagipula aku tak mau di sangka penculik anak nantinya' lanjutnya dalam hati.
"Aku sudah ada di sini, kamu bisa membawanya pergi," lagi-lagi ucapan baddas yang Emelin tak ingin dengar.
"Paman Theo! Kamu cepat sekali datang, boleh kan aku pergi ke rumah Raffyn?" kata Darrel langsung saat melihat Theo.
"Kenapa tidak? Tapi, kamu harus meminta izin dulu dengan tuan rumahnya," jawab Theo dengan gampangnya.
Emelin hanya menatap Theo dalam, begitu pula dengan Theo yang menatap balik Emelin dengan nakal. Tak ada ucapan yang keluar dari keduanya, hingga uluran tangan Theo mengajak Emeline bersalaman.
"Bukankah tak baik untuk membuat anak-anak bermusuhan, nona Emeline?" kata Theo.
Emeline dengan jelas melihat wajah Theo, wajah yang selama ini dia sembunyikan. Licik, itulah yang Emeline pikirkan. 'Dia ingat aku, aku yakin itu. Entah kenapa dia pura-pura tak kenal di depan Darrel dan Raffyn.'
"Tuan Theo, maaf tapi bukankah seharusnya Anda membawa Darrell pulang terlebih dahulu? Aku tak ingin ada masalah dengan orang tua Darrell nantinya," jawaban dingin Emeline langsung menggendong Raffyn dan mulai berjalan pergi.
"Mama! Tu- ma Darrell tertinggal! Darrell, sampai jumpa besok!!" teriakan Raffyn khas anak-anak.
Sisi lain dari Raffyn yang belum pernah Emeline lihat. Setau Emeline Raffyn sangat tertutup dengan usia sebayanya, dia merasa tak nyaman apalagi dengan anak-anak yang berteriak di dekatnya. Namun, semuanya berubah saat Raffyn bertemu dengan Darrell.
Emeline merasa terharu saat Raffyn mulai bersikap normal, menceritakan jika dia makan bersama dengan Darrell. Bagaimana bekal yang Darrell bawa, serta mereka saling berbagi bekal dengan yang lainya.
Di sisi lain, ketakutan tentang Theo untuk merebut Darrell semakin menjadi. Rasanya takut, apalagi setelah membaca surat dari Theo. Terkejut juga khawatir, entah apa yang harus Emeline lakukan sekarang.
"Raffyn, kenapa kamu tak makan? Sejak kapan kamu menjadi pembangkang?" tanya Emeline saat Raffyn tak memakan makan siangnya.
"Apa?! Mama jahat! Mama bilang kita tak boleh pilih-pilih teman tapi sekarang kenapa aku tak boleh main dengan Darrell!" kata Raffyn dengan nada tingginya.
"Raffyn makan, kamu tak tau apapun kamu masih kecil sayang. Makan sekarang, akan mama jelaskan saat kamu sudah makan," paksa Emeline dengan suapan yang di layangkan untuk Raffyn.
"Gak mau mama jahat!"
"Sekali saja sayang, benar mama ak-"
...CRANG.......
Suara piring jatuh akibat terkena kibasan tangan Raffyn. Raffyn menatap Emeline, dengan tatapan takut juga terkejut. 'Aku hanya ingin menolaknya, tak bermaksud untuk membuatnya terjauh,' tutur batin Raffyn.
Lantas Raffyn melihat ke arah Emeline, dia hanya diam tak mengucapkan apapun. Tangannya gemetar, antara marah atau akan marah tak bisa Raffyn bedakan.
"Ma-Mama.... " panggil Raffyn merasa tak enak.
"Sejak kapan kamu menjadi nakal seperti ini Raffyn?" perkataan Emeline setelah lama terdiam.
Tak ada jawaban dari Raffyn, dia hanya menundukkan kepalanya tanda dia tengah ketakutan. Bahkan untuk menatap Emeline saja Raffyn tak berani. 'Habislah aku, mama benar-benar akan marah sekarang,' gerutu batin Raffyn.
Namun, berbeda dengan apa yang Raffyn pikirkan. Emeline hanya diam, dengan membersihkan lantai dimana banyak pecahan piring berserakan.
"Tetap di sana Raffyn, ini berbahaya kamu bisa terluka. Raffyn.... "
"Ma-Maaf mama."
"Tak perlu, sepertinya kamu sangat menyukai Darrell ya?" tanya Emeline dengan menatap Raffyn.
"I-iya~ karena dia adalah pertama kalinya yang paham ucapanku selain mama, aku merasa aku punya teman sekarang yang seumuran denganku," titah Raffyn dengan tundukan kepala.
––––––
Di sisi lain, dalam rumah megah itu terlihat beberapa orang yang sibuk makan malam. Beberapa yang lainya berdebat tentang pembagian harta, yang lainya tengah mengajak-ngajak rambut lawannya.
"Kamu?! Aku bilang kamu boleh melakukan apapun, tapi tidak dengan menikah lagi! Aku tak mau hartaku di bagi lagi!"
"Aku sudah bilang, dia tak akan mengambil apapun darimu, aku yang akan menanggung semuanya!"
"Ha! Menanggungnya? Kamu bahkan kaya karena hartaku, bagaimana kamu bisa mengatakan hal yang menggelikan seperti itu?!"
Di antara perdebatan itu, terlihat seorang anak yang tertunduk lesu. Dengan wajah menahan lapar, juga menahan suara bantingan benda ataupun teriakan.
"Darrel, kamu baik-baik saja?" tanya Theo saat menemukan Darrel dalam lemari bajunya.
"Tak apa paman," jawabnya dengan singkat.
"Kemarilah, ayo kita pergi," ajak Theo dengan membopong tubuh Darrel cepat.
Tangan kecil Darrel menggenggam baju Theo kuat. Suaranya semakin jelas saat Darrel keluar dari tempat persembunyiannya.
"Pakailah ini, aku akan melepaskannya saat semuanya sudah baik," ujar Theo dengan menutup mata Darrel.
Darrel hanya diam, layaknya anak kecil pada umumnya. Akan tetapi, wajahnya sudah penuh dengan keringat juga pucat. Tak ada ucapan apapun, bukan berarti dia tenang melainkan takut.
Beberapa saat kemudian, Theo membawa Darrell keluar. Dengan nafas memburu karena terburu-buru, Theo langsung membuka penutup mata Darrel saat mereka sudah di mobil.
"Jadi, kamu ingin kemana Darrel? Maaf paman tak bisa membawa mu ke tempat biasa," ujar Theo langsung melajukan mobilnya cepat.
"Ehm... Aku tak tau paman, bagaimana dengan di sini?" kata Darrel dengan menunjukkan sesuatu dari kantongnya.
Selembar sobekan kertas berisi alamat suatu tempat. "Darimana kamu mendapatkan ini?" tanya Theo bingung, lantas melihat kertasnya.
"Raffyn," jawab Darrel singkat. "Saat di kelas dia memberikan alamatnya, paman kamu bisa bertemu dengan bibi 'kan? Aku juga bisa keluar dari rumah. Rasanya menyebalkan mendengar teriakan mereka." lanjutnya.
Theo hanya tersnyum puas, dia bisa mempengaruhi Darrel dari awal. Tampaknya perlahan rencananya berhasil, saat memberikan Darrel perlindungan agar dia memihak kepadanya. 'Belum, sekarang belum waktunya.'
Dengan cepat Theo langsung pergi ke alamat yang Darrel berikan. Sebuah toko bunga, dimana sudah ada tulisan tutup di depan pintu masuknya.
"Kamu benar ini rumahnya Darrel?" tanya Theo sedikit ragu.
"Iya, tekan saja belnya, Raffyn bilang jika dia tinggal di sebuah toko bunga," jelas Darrel.
Theo melakukan apa yang Darrel minta, dengan beberapa saat tak ada panggilan jawaban. Berkali-kali Theo menekan tombolnya, bahkan beberapa orang mengatakan jika toko ini sudah tutup sekarang.
"Baiklah Darrel, tapi mungkin Raffyn sudah tidur sekarang," ujaran Theo lelah saat tak ada jawaban. 'Ya, mungkin ini hanyalah alamat palsu saja,' lanjutnya dalam hati.
"Tidak! Ini masih terlalu awak untuk tidur paman, lagipula Raffyn bilang ji-"
"Maaf, ada perlu apa? Kamu sudah tutup sekarang," selaan dari Emeline saat dia membuka pintunya.