
Tanpa sadar Emeline mulai memeluk leher Dave, lalu mengusap wajahnya. Napasnya memburu, saat dia tersenyum dan menangis tanpa sebab. Usapan lembut dari tangan Emeline, justru membuat Dave meras tertantang dan mulai mempercepat tempo nya.
"Kamu bilang untuk lebih lembut bukan? Aku pikir kamu lebih menikmati saat kamu di hujam habis-habisan," kata Dave dengan seringai kepuasan sembari mencium tangan Emeline yang tengah mengusap wajahnya.
"Tidak, aku tak suka tapi aku diam. Aku ingin selalu tetap di sini, saat kamu di sini... Aku merindukan saat ini... Theo...." Panggilan itu di selingi oleh ciuman kuat dari Emeline tepat di bibir Dave.
Antara terkejut juga marah, dengan apa yang Emeline lakukan. Di satu sisi Dave senang karena Emeline berinisiatif untuk menciumnya, tapi di sisi lain dia marah karena bukan dia orang yang Emeline bayangkan.
Theo, jelas-jelas nama itu yang Emeline katakan. Membuat Dave terus mempercepat temponya, di saat Emeline terus meneteskan air mata.
"Tatap aku Emeline, tatap aku. Sadarilah siapa yang tengah berhubungan dengan mu sekarang!" Kata Dave menahan kepala Emeline agar terus menatap ke arahnya.
Namun semuanya hanya sia-sia saja, saat Emeline mulai kewalahan bahkan dia tak sadar. Emeline meracau hal aneh, membuat Dave tambah kesal. Hingga Emeline dan Dave sudah beberapa kali pelepasan, tapi dia tetap tak mau jika mengakhiri semuanya.
"Aku... A-aku mohon... He-hentikan...." Kata Emeline dengan terbata karena tak bisa menahan lagi kesadaran tubuhnya.
"Ayo kita lihat, sampai mana kamu bisa bertahan. Sayang...." Jawab Dave tanpa memperdulikan ucapan dari Emeline.
Semuanya berlangsung lama, malam ini benar-benar panjang untuk mereka berdua. Bahkan ranjang yang semula kering, kini basah karena keringat dan yang lainya.
Sesekali Dave memberikan kissmark pada dada Emeline. Bukan hanya dada, tapi juga antara pinggang juga paha. Punggu, dan juga tengkuknya. Kissmark yang kasar, dimana Dave tak ragu untuk menggigit Emeline saat itu juga.
Pagi mulai datang, saat tirai yang awalnya gelap kini berubah abu-abu karena cahaya yang masuk ke kamar. Emeline hanya bisa menerjapkan matanya, saat di rasa semua badan miliknya terasa sangat sakit.
"Jangan bergerak, aku masih ingin tidur sekarang," kata Dave yang ternyata sedari tadi memeluk badan naked Emeline.
"Tu-tuan Dave!" Teriak Emeline terkejut. Pasalnya dia ingat jika dia berhubungan dengan Theo. Dia pikir ini hanyalah halusi dalam mimpi belaka, ternyata ini adalah kenyataan. Bukan berhubungan dengan Theo melainkan dengan Dave.
"Tu-tuan Dave! Ke-kenapa Anda...."
"Apa? Kamu kecewa karena ini aku bukan Theo mu itu?" Tanya Dave menyela sembari memegangi kepalanya.
Sontak Emeline langsung diam, dengan pipi yang memerah padam. Apa yang dia mimpikan, ternyata juga dia lakukan. Ingatannya tiba-tiba kembali, saat dia mencium bahkan menggigit beberapa bagian Theo dalam mimpinya.
"Oh ya, kamu cukup kasar juga," lanjut Dave dengan menunjukkan bagian dada bidangnya.
"Tu-tuan!"
"Hei Emeline, lain kali ingatlah aku. Aku yang berhubungan denganmu, yang memiliki kuasa atas tubuhmu. Bukan Theo atau orang lain, hanya aku!" Kata Dave seketika merapatkan badannya dan mulai mencium Emeline.
Tengkuk nya dia tahan, menandakan Dave ingin ciuman yang lebih dalam. Di antara ciuman, di selingi dengan tarian bibir yang menjamah semua bagian bibir. Bertahan lama, menjadi pagutan yang dalam antara Dave juga Emeline.
Namun sayang, di saat naik seperti itu terdengar suara ponsel milik Dave. "Jangan bilang itu sekretaris pengganggu!" Gerutu Dave seolah tau itu adalah dari Eslen.
"Halo? Eslen aku akan memenggal kepala mu?"
"Maaf tuan, tapi anak-anak sudah mencari ibunya. Darrel dan Raffyn bahkan tak ingin berangkat sekolah, sebelum dia tau Nyonya Emeline ada di mana," jelas Eslen dari balik teleponnya.
Sontak Dave melihat Emeline yang tengah menguping nya. Dave langsung memberi isyarat untuk Emeline tetap diam dan tenang.
"Ya, kami akan segera ke sana," jawab Dave kembali langsung menutup panggilan teleponnya.
"Anak-anak tak ingin pergi ke sekolah?!" Tanya Emeline pada Dave.
"Ya, mereka tak ingin pergi," jawab Dave singkat.
"Apa? Kamu tak bisa bersabar? Kemari lah," ujar Dave langsung membopong Emeline ala bridal.
Wajah Emeline sontak memerah sempurna, bagaimana tidak saat dia tau tubuh mereka berdua sama-sama tak berbusana.
"Tenang saja, aku tak akan melakukan apapun. Aku janji," ujar Dave dengan seringai panjang pada Emeline.
Beberapa saat berlalu, mereka mandi bersama lalu berangkat ke apartemen Emeline. Dalam perjalanan Emeline hanya diam, tak mengatakan satu hal apapun.
'Bagaimana bisa aku percaya dia tak melakukan apapun!' gerutu Emeline batin.
Dirinya hanya bisa diam kesal, melihat ke depan saat Dave justru senang. "Ada apa tatapan seperti itu? Marah?" Tanya Dave membuka pembicaraan.
"Gak! Tuan Dave! Perkataan Anda tak bisa untuk di pegang ya!" Teriak Emeline spontan di selingi dengan tawaan kuat dari Dave.
"Tak ada kata puas untuk saya Emeline," Jawab Dave tanpa ragu.
Bukannya kagum, Emeline malah merinding. Saat dia melihat Dave begitu senang, entah apa yang merasukinya sekarang. Seperti Dave yang berbeda, selalu murung, marah, kini telah berubah. Wajahnya selalu tersenyum, bahkan menampakkan aura kesenangan.
"Jangan lupa untuk sabuk pengamannya," ujar Dave tiba-tiba sembari melihat ke depan.
Sikap Dave memang tak bisa Emeline duga. Sesuatu hal yang aneh tiba-tiba saja muncul. Emeline melihat seperti ada mobil lain yang mengikutinya, bahkan dia yakin jika Dave menyadari hal itu. Sesekali Dave berbelok, melaju cepat, bahkan melambat dan mobil itu tetap mengikutinya.
"Dave, apakah kamu juga merasa jika ada-"
"Itu alasan aku meminta mu untuk menggunakan sabuk pengaman," sela Dave langsung melajukan mobilnya cepat.
Aura bahagia dari Dave berubah seketika menjadi serius. Bahkan sesekali dia memeriksa kantong nya, mencari ponsel.
"Hubungi Eslen cepat bilang apa yang terjadi sekarang dan minta dia menjemput kita di jalan menuju danau depan," jelas Dave secara cepat.
Emeline hanya mengangguk, tapi juga kebingungan. Tangannya gemetar, apalagi saat melihat dengan jelas siapa yang duduk di mobil itu. "Theo...." Gumam Emeline tak percaya.
"Apa?! Apa kamu sudah menghubungi Eslen?!" Tanya Dave dengan nada tinggi, tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.
"Ti-tidak... Belum...." Jawaban dari Emeline saat berusaha untuk menghubungi Eslen. 'Apa yang di lakukan Theo,' lanjutnya dalam gumaman batin.
Beberapa saat kemudian akhirnya panggilan dari Dave bisa tersambung. Terdengar bunyi gaduh karena Eslen harus menjaga tiga anak-anak sekaligus.
"Halo! Eslen!"
"Nyonya? Apakah anda baik-baik saja?"
"Nanti saja, kami tengah di kejar oleh seseorang. Bisakah ka-"
Belum sempat Emeline melanjutkan ucapannya, malah sebuah peluru melesat di antara Dave juga Emeline. Menembus kaca mobil belakang, hingga kedepan.
"Jangan berhenti! Cepat! Jemput kami!" Teriak Dave.
"Tu-tuan Dave?!" Teriak Eslen.
"Ya, jemput kami di antara jalan menuju, DAVE!"