
Senyuman puas yang Darrel dan Raffyn lakukan. Mereka akan masuk dalam sebuah rumah yang mengurung ibu mereka.
Di tempat berbeda Dave tengah mengamati Darrel juga Raffyn. Dalam cafe itu, senyum sumringah menandakan satu rencana bagus dari Dave telah di mulai.
"Tuan Dave? Bukankah terlalu berbahaya untuk melibatkan anak-anak?" Tanya Eslen.
"Hem? Tidak juga, aku yakin mereka akan baik-baik saja. Selama Rara dan juga Clara bersama mereka," jawab Dave percaya diri meminum teh dengan seksama.
Eslen hanya diam mendengar jawaban dari Dave. Sesaat mereka melihat mobil milik Clara yang sudah melaju, menandakan mereka akan pergi ke rumah Theo.
"Tuan, memang Anda yakin melibatkan anak-anak dalam masalah ini? Bisa saja mereka terluka atau yang lainnya," titah Eslen masih tak percaya.
"Belakangan ini kamu selalu mempertanyakan keputusanku Eslen, atau sebenarnya kamu ada maksud lain?" Pertanyaan dari Dave di dampingi dengan tatapan yang tajam.
Saat itu Eslen hanya bisa diam, dia mengangguk tanda menurut. Dia khawatir akan Darrel dan juga yang lain, tapi Dave sepertinya sudah sangat yakin.
"Ayo."
"Maaf tuan? Kita akan kemana?"
"Mengintai Theo tentu saja. Ajak yang lain, jika ada terjadi sesuatu kita bisa langsung bergerak," jelas Dave sembari meninggalkan Eslen.
Senyum tak terduga dari Eslen, saat sisi kejam dan dingin dari Dave juga tak tega melibatkan anak-anak dalam hal ini.
Saat yang bersamaan, Theo malah tengah bersenang-senang sekarang. Dia tak sangka selama ini perempuan yang ada di mimpinya adalah Emeline.
"Aku... Aku belum pernah merasa sebaik ini dalam berhubungan, Emeline," ujarnya dengan nada yang terengah sembari terus menciumi tengkuk Emeline.
"Jangan, jangan sebelah sana...." Tahan Emeline saat Theo tengah memberinya tanda tepat di lehernya.
"Ini tempat yang bisa di lihat banyak orang, kenapa? Kamu menunggu ku untuk ini kan? Itu yang kamu ceritakan," jelas Theo tak menanggapinya.
Perasaan campur aduk ada dalam diri Emeline. Antara senang karena dia bisa merasakan sentuhan Theo lagi, ataupun karena dia sudah berhubungan dengan orang lain sebelumnya.
Tangan Emeline hanya bisa mengusap kepala Theo. Bibirnya terus membuka, dengan napas terengah agar udaranya keluar baik dari sana. Sesekali tangisan Emeline lakukan, saat Theo menggigit bagian tengkuk, leher, telinga, bahkan pundaknya.
"Theo, he- Mhm...." Emeline bahkan tak bisa melanjutkan ucapannya. Saat Theo dengan cepat ******* bibirnya.
Ciuman yang dalam, menjadi pagutan yang lama. Sesekali Emeline menarik rambut Theo, karena dia kehabisan napas. Tapi apalah daya, saat Theo sendiri makin memperdalam pagutan nya.
"Bagian mana? Aku melupakan semuanya, jika aku lupa aku harus mengingat nya 'kan?" Pertanyaan yang Theo layangkan sembari perlahan membuka baju Emeline.
Tanpa melepaskan pagutan mereka, membuat lama-kelamaan napas Emeline tersenggal. Tanpa sadar dia menggigit bibir samping Theo, hingga dia melepaskan pagutan nya.
"Kasar, dari mana kamu belajar seperti itu?" Tanya Theo sembari mengusap ujung bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Kamu ingin berhubungan atau membunuh ku! Aku tak bisa bernapas Theo!" Kata Emeline dengan nada tinggi, sembari menutupi lagi bagian dada yang sudah setengah terbuka.
"Ha-! Lalu apa ini Emeline!" Teriak Theo menahan tangan Emeline.
"Kamu sudah belajar menjadi wanita penghibur kan Emeline? Melakukannya pada satu dua orang bukanlah hal yang susah kan?" Pertanyaan dari Emeline dengan geraman tangan yang melingkar, mencekik leher Emeline kuat.
"Ehm.... Le-pas! Theo!" Teriakan Emeline dengan terbata merasakan udara yang ada di paru-parunya semakin lama tak ada.
"Hem? Sepertinya Dave juga berperilaku kasar 'kan? Tak apa aku melakukannya," ujarnya sembari terus menciumi leher Emeline.
Emeline terus berusaha memberontak, beberapa kali tangannya mencakar tangan Ali yang tengah mencekiknya. Semakin lama napasnya semakin hilang, saat hanya tarikan napas panjang menandakan dia mulai sesak napas.
"BA-JI-NGAN!" teriakan Emeline lantas menggigit telinga Theo, karena hanya bagian itulah yang paling dekat dengan bibir Emeline.
Sontak Theo langsung melemparkan Emeline, di sisi lain Emeline hanya bisa diam memegangi lehernya. Napasnya tersenggal dan mulai menarik napas panjang.
"Apa... Apa yang kamu pikirkan!" Teriak Theo bersiap untuk memukul Emeline.
Ringkuk kecil tubuh Emeline, berharap keajaiban datang. Saat dia menyelimuti kepalanya dengan tangan. Tutupan mata kuat, dan juga pasrah berharap tidak ada lagi pukulan Theo ke tubuhnya.
"Permisi, tuan. Nyonya Melisa memanggil Anda untuk naik," selatan dari pengawal yang berjaga di luar membuyarkan segalanya.
"Melisa? Dia tau aku tengah mengeksekusi 'kan?!" Tanya Theo sembari berteriak dari dalam ruangan.
"Ya dia tau. Tapi nona Clara sudah kembali, dia ingin memperkenalkan Anda dengan teman-temannya," jawabnya lagi.
Hanya decakan singkat yang Theo lakukan. Dia sedikit merapikan bajunya, lantas keluar dari ruangan. Terlihat beberapa orang pengawal yang menundukkan kepalanya, lalu dengan santainya dia pergi begitu saja.
Tanpa di duga pengawal itu adalah Dave juga bawahannya. Dia menyamar menjadi pengawal Theo, melucuti pakaiannya dan mulai melancarkan aksi mereka.
Awalnya mereka masuk dalam ventilasi basemant, terlihat beberapa pengawal yang mondar-mandir di sana. Itu dulu yang mereka lumpuhkan, pistol tanpa suara yang isinya obat bius.
Banyak sekali ruangan di sana, tapi yang membuat Dave bingung dimana letak ruangan Emeline. Teriakan yang menggema itu membuat Dave sadar, suara dari Emeline. Dia lantas berlari ke arah sumber suara, terlihat beberapa penjaga lagi tengah berjaga di sana.
Untuk keamanan mereka melakukan hal yang sama, memasukan penjaga dalam satu ruangan dan mengunci mereka.
Akhirnya tahap terakhir selesai, saat Dave langsung dengan pengubah suara meminta Theo untuk pergi dari sana.
Awalnya Dave merasa ragu apakah itu Emeline atau bukan. Kakinya sebagian melepuh, dan terdapat bekas melingkar di sana. Tangannya penuh dengan sayatan, bajunya tak dalam keadaan utuh. Rambutnya berantakan, bahkan terlihat beberapa sudah rontok. Belum lagi wajahnya yang sangat memar, terlihat beberapa luka di lehernya.
"Emeline...." Panggil Dave seraya mengulurkan tangannya.
"JANGAN! Jangan sentuh aku... Aku mohon, putra ku masih menunggu di sana," jawab Emeline cepat memojokkan badannya.
"Emeline ini aku! Dave, maaf aku sangat terlambat untuk menjemput mu," ujar Dave serasa melepaskan penyamaran nya.
Dave seketika langsung memeluk badan Emeline. Sekitar dua Minggu Emeline hilang, tapi tubuhnya lebih kecil dari yang Dave bayangkan. Dia memeluk Emeline sebelumnya, sangat pas dan juga nyaman. Sekarang seperti kaca, tipis dan juga rapuh.
"Maaf, seharunya aku cepat datang," pelukan Dave membuat suasana menjadi hangat seketika.