A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Rencana Sempurna Tuan Dave



Dave seketika langsung memeluk badan Emeline. Sekitar dua Minggu Emeline hilang, tapi tubuhnya lebih kecil dari yang Dave bayangkan. Dia memeluk Emeline sebelumnya, sangat pas dan juga nyaman. Sekarang seperti kaca, tipis dan juga rapuh.


"Maaf, seharunya aku cepat datang," pelukan Dave membuat suasana menjadi hangat seketika.


"ESLEN! Cepat rencana pelarian, kita tak bisa menunggu lama lagi!" Teriak Dave seketika membopong Emeline ala bridal, dan berlari keluar.


Di lain sisi, terlihat Dave yang keluar dari kamarnya. Seolah tak terjadi apa-apa dia menghampiri Clara, Rara, Darrel, juta Raffyn.


"HM! Rara misal mau kesini lagi bilang sama Tante dulu, Tante masakan bubur kesukaan Rara!" Kata Melisa dengan semangat sembari mengusap kepalanya.


"Dan ini Kaka Rara, ini Darrel, ini Raffyn," jelas Rara memperkenalkan Darrel juga Raffyn.


"Salam kenal Tante...." Jawab Raffyn dengan menundukkan kepala, lantas di ikuti oleh Darrel.


"Ah~ manisnya...." Jawab Melisa senang memeluk mereka berdua.


Melisa memang seperti itu, orang sangat perhatian juga sangat suka dengan anak-anak khususnya di usia mereka. Dia akan memberikan apa yang mereka mau, bahkan tak peduli jika itu menghabiskan uangnya. Menurut Melisa anak-anak meminta itu bukan karena dia ingin harta, tapi karena suka.


Itulah alasan kenapa Melisa memiliki anak, meskipun tak ada suami dia merasa baik-baik saja. Karena adanya Clara membuat Melisa sangat senang, bahkan merasa lebih sempurna.


Lain hal dengan Theo yang justru terkejut dengan adanya Darrel juga Raffyn. Theo pikir temen Clara hanyalah Rara. Ternyata dia membawa Darrel juga Raffyn.


...FLASHBACK...


"Siapa anakku?" tanya Theo pada Emeline saat mereka masih ada di ruangan itu.


Emeline diam, lantas melihat ke arah Theo. Wajahnya pucat seperti enggan memberikan jawaban. "Berjanjilah satu hal pada ku," kata Emeline.


"Apa untungnya bagi ku?"


"Tak ada, tapi jika kamu berjanji, itu akan membuat ku tambah tenang," mata sendu Emeline kembali dia perlihatkan.


Emeline tau Theo tengah mengorek informasi tentang masa lalunya. Tapi dia tak yakin, jika Theo tau Raffyn adalah putranya dia entah menjaga atau bahkan membunuh nya.


"Aku yang berkuasa di sini Emeline, apakah kamu lupa!" Teriak Theo dengan tamparan kuat pada pipi Emeline.


"Tidak, aku tak lupa. Tapi berjanjilah dulu, setidaknya jika aku tiada aku akan tenang karena mereka akan baik-baik saja," jawaban dari Emeline berbeda dari sebelumnya.


Dia yang selalu menundukkan kepalanya, kini menatap seksama Theo. Entah apa yang terjadi pada Theo, wajah nanar Emeline justru membuatnya tak tahan. Dia seolah diam jika Emeline meminta.


Theo beberapa kali menampar bahkan memukul Emeline itu karena rasa egonya. Dia tak ingin terlihat lemah di depan wanita, apalagi dengan orang yang baru saja dia temui. Menampar ataupun memukul wajahnya, membuat Theo tak melihat wajah Emeline.


"Apa yang kamu mau?" Tanya Theo.


"Jika aku mengatakannya siapa putramu, berjanjilah untuk tidak menyakiti nya. Jika aku tiada, jangan ganggu mereka," jelas Emeline.


"Bukankah kamu meminta terlalu banyak Emeline?" Tanya Theo balik dengan senyuman seperti menyepelekan.


"Tak ada yang terlalu banyak, bagi nyawa seorang anak," jelas Emeline kembali.


Lagi-lagi Theo terdiam. Sebuah ungkapan yang membuat sepotong ingatan masa lalunya mencuat. Membuat Theo tambah yakin, jika Emeline memiliki hubungan dengannya di masa lalu.


"Baiklah, aku berjanji."


"Raffyn, Raffyn itu adalah nama putramu. Dan Darrel, dia adalah keponakan mu. Karena kamu menyelamatkan dia, dalam sebuah rencana yang sempurna. Tapi aku tak tau, kenapa kamu bisa jadi seperti ini, hilang ingatan dan berubah menjadi monster kejam," jelas Emeline.


"BOHONG!" teriak Theo sembari menampar pipi Emeline. "Kamu ingin memanfaatkan mereka kan? Buat cerita palsu agar aku tak membunuhmu!" Lanjutnya dengan kerah baju Emeline yang dia tarik.


Wajah Emeline hanya bisa tersenyum pasrah. Bibirnya mengeluarkan darah, rahangnya sakit bahkan untuk berbicara sangatlah susah.


"Aku tau aku tak akan hidup lama, mungkin kamu bisa menepati jan- Mhm...." belum sempat Emeline melanjutkan ucapannya, Theo Justru mencium bibirnya.


Sontak Emeline membulatkan mata, berbalik dia yang terkejut sekarang. Kenapa Theo melakukannya tiba-tiba membuat Emeline memberontak seketika.


"Aku... Aku belum pernah merasa sebaik ini dalam berhubungan, Emeline," ujarnya dengan nada yang terengah sembari terus menciumi tengkuk Emeline.


"Jangan, jangan sebelah sana...." Tahan Emeline saat Theo tengah memberinya tanda tepat di lehernya.


"Ini tempat yang bisa di lihat banyak orang, kenapa? Kamu menunggu ku untuk ini kan? Itu yang kamu ceritakan," jelas Theo tak menanggapinya.


...FLASHBACK END...


"Theo!" Teriak Melisa membuyarkan lamunan Theo.


Dalam lamunannya, mengingat apa yang di ceritakan Emeline sebelumnya. Putranya kini ada di depan Theo sendiri. Wajah yang tampan, juga mata yang tajam. Benar dia menang bukanlah anak biasa, tapi dia itu putranya.


Dengan senyuman bangga, Theo menghampiri Raffyn. Lantas dia mengusap kepalanya.


"Maaf paman, Anda tak sopan tidak meminta izin dan langsung menyentuh rambut saya!" Kata Raffyn menyingkirkan tangan Theo.


Entah apa yang di pikiran Theo, justru dia merasa bangga. Putranya sekarang bahkan bisa menolak dengan bahasa formal, tidak lain hal dengan itu tapi aura yang di keluarkan Raffyn membuat Theo yakin itu adalah putranya.


"Paman Theo?" Panggil Darrel membuat Theo langsung melihat ke arahnya.


Wajah Theo kembali sumringah, dia tau jika Darrel memiliki watak yang ambisius juga pandai. Dia akan lebih mendidik Darrel nantinya, setidaknya agar dia bisa menjadi penerusnya nanti.


"Bibir Anda berdarah, apakah Anda baik-baik saja?" Pertanyaan dari Darrel justru membuat Theo tersentak.


"He-? Darrel coba aku lihat. Oh ya! Kami kenapa lagi?" Tanya Melisa mengeluarkan sapu tangan dan mengusap bibir Theo.


"Tak apa, aku hanya terpeleset saat di kamar mandi," jawab Theo mengambil sapu tangan Melisa lantas mengusap lukanya sendiri.


"Oh ya Raffyn, apakah kamu tau siapa ay-"


"TUAN! TUAN THEO!" teriak seorang penjaga menyela ucapan Theo.


Saat itu Theo langsung melihat ke arahnya, dengan wajah yang masam tanda marah. "Kamu tak tau jika saya tengah berbicara!"


"Maaf, tapi...." Bisikan dari pengawal tersebut membuat Theo langsung marah.


"BAGAIMANA BISA!" teriaknya membuat anak-anak langsung menatap ke arahnya.


Hal itu lantas membuat Theo langsung melihat ke arah Darrel. "Itu semua rencana kalian kan!" Teriakan Theo lantas menodongkan senjata api pada Darrel.


Semuanya sontak terkejut, apalagi dengan pistol yang di todongkan begitu saja. Suara pelatuk yang menggema membuat Rara langsung berlari di hadapan Darrel. Entah apa yang di pikirkan bocah itu, hanya berlari bahkan di saat yang lain masih diam.


"Kak Darrel!!"


...DOR...