A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Kedatangan Welmia



"Jadi kenapa kamu tetap di sini? Bukankah sudah terlalu malam Theo? Kamu kembali karena ingin menyakitiku lagi?" tanya Emeline dengan tangan Theo yang mulai dia singkirkan.


"Izinkan aku sebentar saja Emeline! Kamu tau seberapa lelahnya aku, menjadi budak mereka dan di pisahkan oleh orang-orang yang aku sayang. Aku juga bisa lelah Emeline, biarkan aku di sini... Memeluk mu sebentar, lalu aku akan pergi."


Jelas Theo dengan penuh permohonan itu. Terlihat jelas, Theo hanya bersender pada pundak Emeline. Terlihat juga wajah lelah Theo, dengan pelukan tangan yang kuat pada pinggang Emeline.


"Theo?" panggil Emelin. Sayangnya, hanya gumaman singkat dari Theo menandakan dia setengah tertidur.


"Kita sudah berpisah, melakukan hal sepele ini tidakkah baik," lanjut Emeline


Theo yang awalnya menutup mata, kini membukanya perlahan. Sedikit helaan napas, juga pelukan tangan yang mulai dia eratkan.


"Tak pernah ada ucapan atau surat perceraian, darimana kamu menyimpulkan itu semua?" kata Theo menatap balik Emeline.


"Kamu sudah selingkuh Theo, aku pikir hubungan kita berakhir saat itu juga," kata Emeline memalingkan wajahnya.


"Emeline, kenapa kamu tak jujur saja? Kamu masih ada rasa untukku 'kan? Aku tau itu, mari kita ulangi semuanya saat semuanya baik, dan berjalan seperti apa yang kita kira," kata Theo.


Lantas pacgutan Theo lakukan pada Emeline. Tak seperti biasanya, Theo melakukan dengan perlahan dan lembut membuat Emeline bisa mengikutinya.


"Aku tak memiliki siapapun, Bi Teresa, dia bahkan meninggal karena memilih untuk tetap bersamaku. Kamu bisa bertahan sekarang, kerena percaya aku tak pernah melakukan itu, ya 'kan?"


"Aku tak tau Theo, aku tak tau. Perasaanku bilang untuk percaya padamu, tapi saat me-" Emeline tak bisa melanjutkan ucapannya, dia sesungukan dan mulai menangis.


Ingatan buruk tentang Theo kembali, dimana dia mengingat saat perilaku Theo padanya. Saat ada Dara, Theo menganggap dia juga Raffyn hanyalah pengganggu untuk mereka.


––––––––


Pagi hari kembali, Emeline mulai mengulatkan badannya dengan mata yang masih sayu setengah sadar dia melihat sekitar.


"Televisi?" gumam Emeline.


Sontak Emeline langsung membulatkan mata, saat selimut melingkar di badannya. Keadaan sendiri, tak ada Theo di tempat itu lagi.


"Tidak! Jangan-jangan.... " pikiran Emeline mulai kacau, saat dia takut anaknya di bawa oleh Theo.


Bergegas Emeline melihat kamar Raffyn. Terlihat ranjang yang masih berantakan, tapi tak ada Raffyn ataupun Darrel. "Ini tak mungkin, tak mungkin dia membawa anakku pergi!"


Dengan cepat Emeline mencari mereka di lantai bawah. Dengan perasaan kalut, dan mata yang mulai memerah. "Raffyn!" teriak Emeline menyusuri tangga.


"Raff-!"


"Aku di sini ma!" belum sempat Emeline berteriak, terdengar sergahan dari suara khas anak-anak.


Mata Emeline yang awalnya hanya memerah, kini meneteskan air matanya. Bukan sedih, melainkan merasa lega.


"Kenapa kamu membuat mama khawatir, tunggu! Kalian memasak?!" tanya Emeline mengubah topik segera.


"Tidak tan, kami hanya memanggang roti." kata Darrell menunjukkan roti panggang dengan selai kacang di atasnya.


"Dan mengambil jus," lanjut Raffyn memberikan jus kepada Emeline. "Mama minumlah, mama mimpi buruk ya? Muka mama pucat banget."


Tentu saja kekhawatiran akan Theo yang membawa Raffyn membuat Emeline tak bisa berpikir dengan baik. Emeline mulai memijat pelipisnya, merasa pusing tapi juga lega. Saat melihat Darrel juga Raffyn, tanpa sadar senyum simpul tercipta dari bibir nya.


"Kenapa? Apa yang kamu lihat? Mungkin akan lebih baik jika mereka memiliki saudara lagi," bisik seseorang dengan mengecup tengkuk Emeline dari belakang.


Tampak itu adalah Theo, dengan pelukan tangan yang melingkar pada pinggang Emeline. Mencuri-curi sentuhan Emeline saat anak-anak tak melihatnya.


"Tak masalah, setidaknya mereka akan tau bagaimana mereka ada," kata Theo kembali dengan wajah nya yang tersenyum nakal.


Emeline mulai panik, saat usahanya sia-sia saja. Tak ada yang bisa dia lakukan, saat Theo bersiap untuk menciumnya.


"Paman Theo, sudah selesai mandinya?" Ucapan polis dari Darrel membuat Theo langsung menghentikan aktivitasnya.


"U-udah... Kamu? Bagaimana dengan sarapannya?" tanya Theo balik mulai bersikap biasa saja.


"Sudah siap, tinggal makan saja," jawab Darrel menunjukkan roti panggang yang dia buat.


Emeline hanya menatap Theo, dengan wajah heran juga bingung. "Kenapa?" tanya Theo saat Emeline terus menatap nya.


"Kamu habis mandi Theo?"


"Hmm... Memang kenapa?"


"Tak ada, dari mana baju itu?" pertanyaan simple yang di layangkan oleh Emeline. Mengingat tadi malam Theo memeluknya dengan pakaian semi formal, sedangkan sekarang hanya kaos dengan celana biasa saja.


"Tadi, tadi malam aku pergi untuk membawa baju ganti. Akan tetapi, saat aku kembali aku melihat Darrel sudah tidur, singkat saja."


Jawaban dari Theo seperti tak ada apa-apa. Apa yang dia pikirkan, dengan Raffyn juga Darrel yang bersikap biasa.


Darrel sesekali berbincang dengan Theo layaknya orang tua dengan anaknya, begitu juga dengan Raffyn yang suka mengadu solah Theo itu ayahnya.


'Raffyn sudah tau atau tidak, orang yang di depannya itu adalah ayahnya,' gumam Emeline batin tak bisa berbicara.


"Mama? Kenapa mama tak sarapan? Mama tak suka rotinya?" pertanyaan dari Raffyn membuat Emeline tersentak seketika.


"Ti-tidak! Mama ada perlu sebentar, kenapa Marisa belum juga datang... Mama a-"


Ucapan dari Emeline terhenti seketika, saat melihat Welmia dengan tatapan marah. Lantas Emeline mulai menaikkan salah satu alisnya, "Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Apa yang aku lakukan di sini?! Harusnya aku yang bertanya itu, kenapa putraku ada di sini?!" jawab Welmia dengan nada tinggi, juga jemari menunjuk ke arah Darrel.


Emeline langsung melihat ke arah Darrel. Terlihat dia mulai menyembunyikan dirinya di balik Theo. Dengan wajah Theo juga sama, waspada dengan Welmia.


"Jangan menunjuk dan berteriak seperti itu, kamu ibunya bukan? Harusnya kamu memberi kenyamanan bukan rasa takut," kata Emeline menyingkirkan tangannya, dan menutupi Darrel dari pandangan Emeline.


"Heh? Tau apa kamu?"


"Karena aku juga seorang ibu."


"Jika seperti itu, urus saja anakmu sendiri!!" celetuk Welmia langsung memaksa masuk.


Emeline melihat wajah Darrel kembali, juga Raffyn yang nampak terkejut juga takut. "Welmia! Bisa perhatikan tingkah lakumu? Kamu membuat mereka takut!" teriak Emeline membalas, dan menahan tangan Welmia.


"Sejujurnya, kamu sudah lupa akan posisimu ya Emeline?" ucapan dengan senyuman licik khasnya.


...CRAK.......


"MAMA!" teriakan Raffyn khas menggema di toko itu.


Emeline hanya bisa diam, saat dia merasakan kepala belakangnya dingin oleh bibir pistol. Dengan jelas, suara pelatuk yang perlahan di tarik oleh seseorang.


"Kenapa hanya diam? Bukankah kamu tadi bersikap sok pahlawan?"