Young Papa

Young Papa
Delapan



Sohyun menaiki sebuah bus. Setelah barusaja memberikan jaket milik Sungjae di minimarket tempatnya bekerja. Ia tak menyangka jika akan bertemu dengan seorang wanita yang tidak ia duga.


Sepanjang perjalanan ia hanya bergumam dan bertanya dalam hati siapakah wanita yang sepertinya sangat tertarik dengan Sungjae itu.


Bayangan laki laki yang baru saja ia lamunkan mendadak muncul. Ia naik bus yang sama dengannya namun menunggu di halte yang berbeda. Sungjae mengedarkan pandangannya dan mencari tempat duduk yang kosong. Matanya lalu tertuju pada Sohyun yang nampak dikursi sebelahnya kosong. Tanpa berpikir panjang ia langsung menuju ke tempat duduk Sohyun.


Sohyun hanya diam saat Sungjae duduk di sebelahnya. Dia sangat ingat jika Sungjae tidak menyukai pertanyaan apapun yang ia lontarkan padanya. Karena bingung, Sohyun berpura pura tidak melihat Sungjae dan melihat kota yang saat itu terlihat cerah.


Meskipun dalam hati kecilnya Sohyun sangat penasaran namun ia bisa menahan dirinya agar tidak bertanya apapun pada Sungjae.


Namun tiba-tiba ia merasakan berat pada pundak kirinya. Sungjae tertidur di pundaknya. Sohyun yang nampak tidak nyaman hendak membangunkannya namun ia urungkan karena Sungjae nampak lelah waktu itu.



Kepala Sungjae begitu dekat dengan Sohyun hingga wangi shampo itu dapat tercium oleh Sohyun. Jantungnya mendadak berdebar kencang, lalu ia mencoba menarik nafas agar debaran itu kembali normal hingga Sungjae tidak dapat mendengarkan detak jantungnya.


Duapuluh menit berlalu Sungjae tak bergerak sedikitpun. Ia malah nampak semakin nyaman dengan pundak Sohyun. Sohyun melihat sebuah papan dan sebentar lagi ia akan sampai di tempat tujuan.


Ia mencoba untuk menegakkan kepala Sungjae namun ia malah terbangun dan terkejut.


" Sudah sampai mana sekarang?" Sungjae mengerjapkan matanya. Lalu melihat arah yang ditunjuk oleh Sohyun. Sebuah papan nama sebuah kota.


"Gwangmyeong?!! Hampir saja!!" Sungjae menekan tombol bel lalu bergegas turun di halte dan diikuti oleh Sohyun.


Sohyun berjalan di belakang Sungjae dengan jarak sepuluh meter dibelakangnya. Ia menjaga jarak agar Sungjae tidak menyadarinya.


Lalu kemudian mereka berdua berhenti di sebuah gedung yang berlantaikan empat. Gedung tersebut terletak sangat jauh dari jalan hingga memerlukan waktu limabelas menit jika berjalan kaki.


Sungjae menyadari jika Sohyun sudah ada disampingnya.


" Kau mau kemana?!" tanya Sungjae penasaran.


" Aku mau menemui ayahku. Kau sendiri?!"



" Aku bekerja disini jika di minimarket libur."


Sohyun mengerjapkan matanya. Apakah ia tak salah dengar?? Jika Sungjae ternyata bekerja sambilan di tempat perusahaan ayahnya.


Ayah Sohyun bekerja sebagai direktur utama di sebuah kantor agensi. Agensi ayahnya masih terbilang kecil dan tidak terkenal. Karena tidak mendebutkan idol atau aktris maupun aktor. Perusahaan itu hanya mendebutkan beberapa penyanyi trot. ( Trot adalah salah satu genre musik pop Korea Selatan. Genre musik ini memiliki kemiripan dengan genre musik dangdut, disebut trot karena memiliki tempo 2/4 dan 3/4 yang diambil dari musik fox trot untuk pengiring dansa ballroom.)


" Kau... Bekerja sebagai apa?!!" tanya Sohyun mereka berdua akhirnya masuk bersama.


" Aku??!!"


" Kau tak mungkin salah satu penyanyi disini kan?!" tanya Sohyun curiga.


" Ehmm.. Aku hanya menjadi backing vokal untuk mereka. Bayarannya lumayan. Jika mereka ada acara diluar kota dan sekolahku sedang libur. Aku ikut dengan mereka. Karena lumayan gaji yang kudapatkan dari pekerjaan ini."


Sohyun tak menyangka jika ia mendengar Sungjae berbicara dengannya sangat nyaman. Ia sedikit berbeda dari sebelumnya. Sungjae mau menjawab lebih dari sepuluh kata.


Pintu lift terbuka. Ayah Sohyun sudah berdiri di depan lift. Sungjae dengan sopan membungkuk dan memberi salam padanya. Sedang Sohyun menghambur dan memeluk ayahnya.


" Kau tidak nyasar kan?!" tanya ayah Sohyun.


Gedung yang ditempati oleh ayah Sohyun masih baru. Jadi Sohyun saat itu kali pertama berkunjung kesana.


Sohyun menggeleng. Sungjae pamit dan segera berjalan menuju sebuah ruangan rekaman.


"Kau mengenalnya?"


" Eoh, dia teman sekelasku sekaligus teman sebangkuku. Dia juga yang bekerja di minimarket dekat rumah kita."


" Wah kebetulan sekali."


Ayahnya terkekeh " Jika dia tidak pandai bernyanyi mana mungkin ayah memperkerjakannya. Suaranya sangat bagus dan lembut. Apa kau belum pernah mendengarnya bernyanyi???"


" Belum. Dia sangat pendiam, jarang berbicara. Apalagi bernyanyi."


" Dia sedang rekaman. Coba saja kau masuk ke ruangan yang tadi ia masuki. Kau akan mendengar suaranya yang sedang bernyanyi. Sebentar lagi ayah ingin mendebutkan dia sebagai seorang penyanyi."


" Penyanyi trot???!! " Sohyun nampak terkejut dengan pernyataan ayahnya.


" Bukan. Dia akan ayah debutkan menjadi penyanyi solois spesial lagu ballad. Jika kau mendengar suaranya saat bernyanyi entah kenapa perasaan menjadi sangat melankolis."


" Appa, jika ia benar-benar ingin menjadi penyanyi. Tolong kontrak dia dan rawat dia dengan baik."


" Kau ini kenapa?? Tumben sekali perhatian dengan penyanyi disini?! " ayahnya mencubit pipi Sohyun karena tak biasanya putrinya perhatian seperti itu.


" Bukan begitu, aku hanya kasihan padanya."


" Kasihan??!! Kasihan kenapa?! "


Sohyun tersenyum melihat ayahnya." Rahasia?! "


Sohyun lalu berjalan menuju ruang rekaman tempat Sungjae sedang merekam suaranya. Sungjae yang mendadak melihat Sohyun, ia menjadi terkejut hingga salah nada. Dan meminta maaf pada produser yang ada di depannya.


Sohyun yang juga merasa bersalah ikut meminta maaf. Lalu Sungjae kembali fokus dan mulai bernyanyi lagi.


Meskipun bukan lagu utama miliknya, dan hanya sebagai backing vokal. Namun Sungjae sangat bersungguh sungguh dengan pekerjaannya.


Ia mulai sangat serius karena ini juga bisa dianggap sebagai latihannya sebelum benar-benar debut sebagai solois.


.


.


.


.


.


.


Rekaman selesai begitu cepat. Jam menunjukkan pukul enam sore. Ayah Sohyun memberikan uang pada Sungjae untuk pulang bersama dengan Sohyun menggunakan taksi.


" Tolong antar dia pulang." ayah Sohyun memberikan beberapa lembar uang untuk ongkos taksi.


Awalnya ia menolak namun diterima oleh Sohyun.


" Terimakasih appa." Ucap Sohyun lalu pergi keluar dari kantor ayahnya.


"Apa tidak apa apa jika kita pulang berdua menggunakan uang ayahmu?" tanya Sungjae.


" Kau kan tak memintanya. Malah ayahku yang meminta tolong padamu."


Sungjae diam.


" Dan... Bagaimana dengan guru Kim. Bukankah kau ada janji untuk bertemu dengannya hari ini." Sohyun mengetahui jadwal pertemuan antara Sungjae dan guru Kim melalui jadwal yang pernah ia titipkan padanya.


Sungjae melirik jam ditangannya. Ia benar-benar melupakan janjinya dengan guru Kim tentang belajar fisika sore ini.


" Gawat tinggal setengah jam lagi."


" Makanya ayo cepat cari taksi?!!! "seru Sohyun ia menarik lengan Sungjae tanpa sadar.


Sedangkan Sungjae hanya menurut mengikuti Sohyun.