
“LENOVAN KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI SEMALAM KALAU HARI INI PERSIDANGAN JAEVAN, JIKA KAU BILANG SEMALAM KITA BISA IZIN ABSEN HARI INI" gerutu Dania pada Lenovan.
"Aku benar-benar lupa, pegangan yang kuat!"
Lenovan menambah laju kecepatan motornya menyalip setiap kendaraan, begitu juga Regan yang mengikuti di belakang dengan motornya.
Dania menuruti perkataan Lenovan, berpegangan erat pada jaket yang Lenovan kenakan Aku harap kita tidak terlambat.
Brummm
Bak Valentino Rosi Lenovan dan Regan meng gas motornya dengan kecepatan gila, menembus keramaian jalan raya hanya dalam kurun waktu 20 menit sampai ke tujuan.
dan bagaikan dikejar setan, mereka turun dari motor dan berlari menembus kerumunan wartawan menuju ruang sidang.
Tok tok
Suara palu terdengar
Brakk
Semua mata tertuju pada mereka bertiga yang baru datang mendobrak pintu berdiri di sana dengan nafas tersenggal-senggal.
"Yang Mulia mereka baru datang, bisakah persidangan ini dilanjutkan?".
Hakim mengangguk.
"Kepada Saudari saksi Dania dimohon untuk maju kemuka pengadilan"
Dania yang baru sampai dengan napas yang masih memburu menjadi panik karena namanya dipanggil untuk maju kedepan.
Ditemani Lenovan dan Regan, Dania dituntun maju ke depan, Dania duduk dengan perasaan gugup.
"Saudari saksi" panggil Tendra.
Dania mengangkat kepalanya mendengar namanya dipanggil "Iya".
"Bisa jelaskan kenapa sidik jari anda berada di botol ini?".
Dania sejenak berpikir, mencoba membaca situasi yang dihadapinya saat ini "Oh iya" Dania mulai paham "Saat Jaevan ditangkap saya yang membersihkan meja makan dirumahnya dan meletakkan boto itu di kulkas"
"Memangnya apa hubungan anda dengan terdakwa?"
"Saya temanya dan bertetangga dengannya yang mulia".
"Baik terimakasih, anda boleh kembali duduk di belakang".
Dania mengangguk dan bangkit meninggalkan muka persidangan. Bergabung duduk di samping Lenovan dan Regan.
"Selanjutnya saya ingin memanggil saudari saksi Susan".
"Susan!" Dania terkejut mendengar nama susan dipanggil, 'Susan temanku?' batinnya bertanya, ia menoleh kebelakang mencari sosok susan.
Susan berdiri dari duduknya, dan berjalan kemuka persidangan. Mata Dania mengerjap beberapa kali memastikan Susan temannyalah yang kini duduk didepan, dan itu memang benar Susan 'Pantas hari ini aku tidak melihatnya di sekolah, tapi kenapa dia di panggil?' Dania kembali bertanya dalam hati.
"Saudari apa kau berteman dengan saudari Zorya Gifanda?".
Susan mengangguk.
"Bisa jelaksan kenapa sidik jari anda berada di botol ini".
Susan semakin dalam menunduk Saya bertanya sekali lagi, "Bisa jelaksan kenapa sidik jari anda berada di botol ini".
"A.aku di mintai tolong oleh Zorya" Susan tergagap.
"Dimnta tolong melakukan apa?".
Susan diam dengan kepala tertunduk.
"Apa anda sengaja memberikan sesuatu ke pada Jaevan? Seperti obat ini misalnya?".
Susan mengangkat kepalanya, ia nampak terkejut melihat bukus obat dilayar.
"Bukan, bukan aku?" bantah Susan.
"Lalu kenapa sidik jari anda ada di botol ini?".
"Aku hanya melakukan apa yang disuruh Zorya" Cicit Susan.
"Maaf bisa anda mengatakannya dengan sura yang lebih keras".
"Aku hanya melakukan apa yang disuruh Zorya".
"Kenapa kau mau melakukannya?".
"Aku dipaksa olehnya".
"Baik terima kasih kau boleh kembali ke belakang".
Susan mengangguk dan meninggalkan muka persidangan.
"Yang mulia dari keterangan saksi tadi telah terbukti kalau saudara Jaevan tidaklah mengetahui telah mengkonsumsi obat-obat kontrasepsi itu, hal ini tentu saja dapat di simpulkan bahwa saudari Zorya Gifanda terbukti memiliki niat buruk kepada saudara Jaevan".
"Sesuai dengan keterangan yang saudara Jaevan berikan, bahwa setelah ia selesai makan siang, ia mulai merasakan gejala aneh pada dirinya, yang itu merupakan efek dari obat yang ia tidak sengaja minum. Setelahnya saudara Jaevan pergi ke WC untuk membasuh wajah dan pada saat ia keluar dari WC, saat itulah saudari Zorya mendatanginya dan mengajaknya menuju ruang penyimpanan alat-alat olahraga dan menyerang sau..."
"Keberatan Yang Mulia Jaksa kembali mencoba menyela".
Hakim mengisyaratkan jaksa untuk diam "Teruskan" Hakim lebih tertarik mendengar kelanjutan perkataan Kuasa hukum Jaevan.
"Sudara Jaevan dengan kesadarannya yang masih ada mencoba menghentikan saudari Zorya agar tidak bertindak lebih jauh dan segera menghindarinya dengan cara segera meninggalkan ruangan tersebut".
"Jadi tidak terbukti Saudara Jaevan melakukan pelecehan terhadap saudari Zorya Gifanda, hal itu terbukti sebab setelah saudara Jaevan keluar dari ruangan tersebut kedua temannya Lenovan dan Regan menemukannya dan segera mengantarnya pulang kerumah".
"Saudara regan saudara Lenovan" panggil Hakim.
"Iya saya yang Mulia" Regan dan Lenovan mengangkat tangannya.
"Apa benar kalian yang mengantar saudara Jaevan pulang kerumah?".
"Iya Yang Mulia".
Hakim mengangguk "Ada lagi atau cukup?" tanya Hakim pada Tendra.
"Satu lagi Yang Mulia, Kissmark yang ada di tubuh saudari Zorya itu bukanlah perbuatan saudara Jaevan, Karena sepulang sekolah Suadari Zorya menemui kekasihnya di sebuah klub".
Tendra memperlihatkan rekaman cctv Zorya memasuki sebuah klub "Yang mulia di Burning Karoke ini Saudari korban ini ternyata bertemu dengan seorang laki-laki yang kuat dugaannya adalah kekasih korban, dan di tempat ini tanda cinta di leher saudari korban di buat".
"Yang mulia hanya dengan rekaman cctv tanpa ada saksi, itu tidak dapat digunakan sebagai alat bukti yang mulia" sanggah Jaksa.
"Bisa dihadirkan kembali Saksi Susan yang mulia?".
Hakim mengangguk, Susan pun kembali duduk dimuka pengadilan.
"Saudari saksi, saya mendapat informasi dari karyawan karouke bahwasannya anda turut datang ke burning karoke, apa itu benar?"
"Iya benar".
"Apa yang anda lakukan disana".
"Saya datang karena diminta Zorya untuk kesana pak".
"Untuk apa?"
"Untuk membereskan ruangan dan tagihan pak".
"membereskan? Apa maksudnya".
"Membereskan bekas pergaulan mereka ".
"Jadi anda mengenal laki-laki yang bersama korban?"
"Iya".
"Siapa dia"
"dia kekasihnya".
Kasak kusuk semua orang mulai riuh , tidak mengira akan mengetahaui fakta baru yang terkuak.
"Sekian yang mulia" Tendra menunduk memberi salam hormat sebagai penutup dan duduk di mejanya dengan senyuman puas.
"Baiklah untuk saudari saksi terinakasih untuk kesaksiannya, silahkan kembali ke belakang"
Susan pun undur diri dari muka pengadilan, Hakim ketua berdiskusi sejenak dengan dua hakim anggotanya, membahas serius langkah apa yang akan mereka ambil selanjutnya. Jaevan gugup setiap melihat para hakim sangat serius berdiskusi, 1 menit berlalu para hakim kembli duduk tegap di kursi masing-masing dengan wajah serius "Saya rasa hari ini sudah cukup, persidangan akan dilanjutkan minggu depan di jam yang sama".
Tok tok tok
Semua berdiri saat Hakim berdiri dari kursi turun dari meja majelis, setelah hakim pergi meninggalkan ruangan, para wartawan dengan gesit menyerbu Jaevan dan juga Zorya, suasana mulai ricuh. Polisi segera membawa Jaevan keluar ruangan menuntunnya menuju mobil yang akan membawanya kembali ke rumah tahanan.
......To be Countinue......
Hy semua, saya kembali lagi, maaf ya lama up. Huhu mohon di malkumi ya author ini yang suka hilang-hilangan, tapi tenang saja! Author usahain cerita ini bakal sampai tamat walaupun saya mungkin hanya bisa satu minggu sekali up nya, tolong terus nantikan ya cerita selanjutnya !
Have a nice day 😊 semoga dapat menghibur.
Janan lupa like, komen, dan tambah ke favorit ya.
Oh ya aku ada cerita baru judulnya nerd girl in cover yang penasaran cek aja lngsung ya by by👋👋👋