
" Papa!!! Papa!!" Seorang anak kecil berlarian dengan senyum merekah di wajahnya.
" Jangan lari-larian Hyeri, nanti kamu terjatuh." Seorang lelaki berseragam Sma datang menghampirinya dan memeluknya dengan kasih sayang.
" Sungjae??!" batinku.
Papa?! Tapi kan dia masih bersekolah?? Kenapa dipanggil papa?? Apa anak kecil itu adalah keponakannya.
Kenapa imajinasku jauh sekali. Kenapa berpikiran jika itu anak Sungjae. Bisa jadi kan, dia keponakannya dan memanggilnya papa karena mungkin mirip. Atau dia tak memiliki figur seorang ayah.
" Ah bodoh?!" Aku memukul kepalaku sendiri dengan tanganku karena kebodohanku yang alami.
Mana ada seorang cowok dingin seperti itu memiliki seorang istri. Kalaupun ada, pasti istrinya sama dinginnya dengan Sungjae.
Ah tapi dia sangat hangat di depan anak itu. Berbeda sekali saat di sekolah. Aku tak pernah melihat senyum Sungjae selebar itu. Aku hanya melihatnya selalu murung.
" Tapi kenapa anak itu lucu sekali??" Aku gemas dengan anak kecil itu.
Bermata sipit dengan pipi tembam. Lalu rambutnya di kincir dua. Dia memakai baju dan sepatu berwarna Pink.
" Tak mungkin Sungjae kan yang mendadaninya?" tanyaku dalam hati.
Aku terpaksa bersembunyi di balik semak karena tak ingin Sungjae tau jika aku sedang membuntutinya.
Kalau ia tahu, aku yakin wajahnya yang dingin akan berubah menjadi ganas. Dan aku akan di cecar banyak pertanyaan olehnya.
Sungjae menggendong anak tersebut dan menciumi pipinya. Membuatku bertambah merinding saat dia melakukan aegyo di depan anak kecil itu.
" Benar Sungjae bukan sih?!" Berkali-kali aku memastikan jika itu adalah Sungjae atau bukan.
Dari raganya memang benar Sungjae. Tapi jiwanya?? Aku ragu jika itu adalah Sungjae.
Julukan naeppeun namja di sekolah sepertinya tak berlaku jika ia berada di anak itu.
Lalu aku memutuskan untuk kembali sebelum Sungjae mengetahui keberadaanku. Namun saat aku berbalik aku terkejut apa yang ada di depanku saat ini.
" Sung Sungjae!"
" Mama??!!!" teriak anak kecil itu, tangannya mengulur padaku seakan minta di gendong.
Mataku membulat terkejut ia memanggilku mama.
" Dia bukan mama kamu Hyeri ah.." Sungjae menahan Hyeri hingga tangisannya menjadi kencang.
" Aku akan menggendongnya. Tak apa-apa kan?!" Aku meminta ijin pada Sungjae, setelah ia melihat anak itu menangis terus menerus akhirnya ia menyerahkannya padaku.
" Aigoo, cantiknya. Nama kamu Hyeri ya?!"
Tangis Hyeri langsung berhenti ketika ku gendong. Tangannya memainkan poni rambutku yang terurai ke wajah.
" Tak boleh mainan rambut ya~~" Sungjae menyibakkan poniku ke belakang telingaku.
Aku menatapnya dan wajahnya memerah.
" Jangan salah paham. Aku hanya tak ingin rambut mu masuk ke dalam mata Hyeri."
" Iya aku tau kok."
" Kamu berpribadian ganda ya?!" tanyaku membuat ia tersedak ketika minum air di dalam botol yang ia bawa.
" Maksudku. Bagaimana bisa di sekolah kamu nampak seperti cowok nakal sedang di rumah kamu bertingkat lembut dan kadang melakukan hal lucu di depan Hyeri."
" Aku tak mungkin kan bersikap dingin pada anakku sendiri?!"
" Ann-annakkkk?!" Aku terkejut mendengar pengakuannya.
" Iya Hyeri adalah anakku. Kenapa kau tak percaya? Padahal gosip ini sudah menyebar di seluruh sekolah kan? Makanya kau membuntutiku."
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Semua yang di ucapkan Sungjae adalah benar, aku memang membuntutinya karena rasa penasaran.
" Tapi benar Hyeri adalah anakmu??"
Sungjae hanya menatapku.