
Nomor tak dikenal menghubungi Sungjae malam itu. Awalnya ia ragu ingin mengangkatnya. Namun karena panggilan itu tak berhenti sampai sana. Lelaki itu akhirnya menjawabnya.
"Kau tak apa-apa?" tanya suara wanita dari ujung telepon. Sungjae mengerutkan keningnya dan sudah bisa menebak jika dia adalah Sora.
"Eoh," jawabnya singkat.
Sedang di ujung telepon membuat pembelaan untuk dirinya sendiri. Jika bukan dia yang mengakibatkan Sungjae menjadi seperti itu.
Dia terkejut setelah diberitahu Soobin jika Sungjae dipukuli oleh orang yang tak dikenal.
"Aku tutup teleponnya," ucap Sungjae singkat, tanpa memberi kesempatan Sora mengatakan lebih banyak hal lagi.
Dia benar-benar masih tak mengerti mengapa Sora telah berubah padanya. Peduli? Setahu Sungjae perempuan itu tak akan bersikap itu padanya. Tapi apa yang mengubahnya menjadi seperti ini?
Sungjae tak tahu. Dia sudah lelah dengan kejadian hari ini. Ia membenarkan selimut Hyeri lalu pergi dari kamarnya untuk makan malam.
**
PLAKK!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Jung Woon. Lelaki itu menatap tajam pada Sora. Dia tak mengerti mengapa kekasihnya itu tiba-tiba menampar pipinya.
"Kau sudah gila!" teriak Sora pada Jung Woon. Lelaki itu menautkan kedua alisnya. Dia bingung. "Kau yang membuat lelaki itu babak belur 'kan?" tanya Sora kemudian.
Senyum sinis terulas di bibir Jung Woon. Benar, dia adalah pelaku di balik babak belurnya Sungjae.
Jung Woon mengetahui jika Sora kembali ke Korea hanya untuk mengemis kepada Sungjae agar dia bisa kembali kepadanya. Dan sebab itulah Jung Woon kembali ke Korea diam-diam. Membuntuti perempuan itu, dan menemukan kenyataan yang mencengangkan.
Ternyata selama ini Sora telah mengkhianatinya. Semudah itukah perempuan itu berpaling darinya?
"Kamu harusnya lebih berpikir. Mengapa aku menjadi seperti ini. Jika saja kamu tidak mendekatinya lagi. Mungkin aku tak akan berbuat sejauh ini," ucap Jung Woon pelan namun pandangan matanya begitu mengintimidasi Sora.
"Apa maksudmu?" tanya Sora.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan di belakangku!" teriak Jung Woon tak mau kalah. Nada suaranya meninggi, bahkan urat pada lehernya nampak jelas terlihat membuat Sora bergidik ngeri. Baru pertama kalinya ia melihat Jung Woon seperti itu. Karena biasanya dia terus bersikap baik pada Sora.
"Kamu mau mengakhiri pertunangan dan pernikahan kita? Oke, baiklah. Tapi kamu yang katakan pada ayahmu apa alasannya. Aku tak ingin terus disalahkan olehnya."
Mata Sora membulat. Dia tak percaya jika Jung Woon akan menyerah secepat itu. Ah, tidak! Pasti dia merencanakan sesuatu hal lain.
Setelah mengucapkan hal itu. Jung Woon langsung berlalu dari hadapan Sora. Dia tersenyum miring. Sudah pasti dia akan merencanakan sesuatu hal lagi. Mungkin akan lebih berbahaya dari hari ini.
Pikiran Sora langsung melayang pada Sungjae. Bagaimana jika dia melakukan hal kotor seperti tadi?
**
Di sisi lain Sohyun masih memikirkan ucapannya tadi siang. Mulutnya yang tak bisa direm malah menyatakan perasaan pada Soobin.
Dia malu, juga menyesal, tapi semuanya sudah terlanjur meluncur dari mulutnya. Meskipun di kafe dia sudah mengatakan jika ia akan berhenti menyukai Soobin. Namun tetap saja dia masih malu. Terlebih lagi saat Sungjae, teman dekatnya mendengarnya.
Tiba-tiba pintu terketuk membuat Sohyun sedikit terkejut. Dia melihat siapa yang mengetuknya. Ternyata ibunya, yang memberitahu pada Sohyun. Jika Yoo Jung sepupunya akan bersekolah di tempat yang sama dengannya.
Raut wajah Sohyun seketika berubah malas. Dia ingat sekali watak sepupunya itu, yang selalu ingin memiliki apa yang dia miliki.
"Kenapa harus satu sekolah lagi denganku?" protesnya pada ibunya.
"Mana Ibu tahu, kamu tanya sendiri saja pada dia."
Sohyun memutar bola matanya. Dia sudah bisa menebak jika sampai Yoo Jung satu kelas dengannya pasti hidupnya tak akan bisa damai.