Young Papa

Young Papa
Nora Anak Baik Yang Akan Mendengarkan Papa



Sepulang sekolah Regan Lenovan, Dania berkumpul di rumah Jaevan, menunggu Dion datang menjemput.


Tin


Yey Ayo kak cepat kak Dion sudah di depan Nora melompat-lompat kegirangan, dan lebih dulu keluar rumah, sedangkan yang lain menyusul di belakang.


"Hai kak" sapa Lenovan.


Lenovan duduk di depan, sedangkan Nora, Regan, dan Dania di belakang.


Dion tersenyum dan menoleh ke belakang "Apa kau Dania?".


Dania mengangguk dan tersenyum sedikit canggung baginya saat ini.


"Aku Dion, salam kenal, kita baru kali ini bertemu kan?" Dion mengulurkan tangannya.


"Iya" Dania menjabat tangan Dion.


"Nah sekarang lets go"


Dion menginjak pedal gas mobilnya melaju ke jalan raya.


...**********...


Tang Tang Tang


semua narapidana yang saat itu berada di lapangan menoleh ke sumber suara.


"Tahanan 301 ada tamu untuk mu"


Mendengar nomornya dipanggil, Jaevan menoleh. Polisi itu memberi isyarat untuk mendekat. Jaevan bangkit, menepuk celananya yang kotor.


Erga mengangkat tinjunya, Jaevan tersenyum dan membalas dengan tinjunya lalu berjalan ke luar lapangan mengikuti Polisi yang tadi memanggilnya.


Jaevan di bawa ke sebuah ruangan, namun sebelum masuk ke ruangan tersebut polisi itu memborgol kedua tangan Jaevan.


"Masuklah".


Jaevan mengangguk dan mesuk ke ruangan.


"PAPA".


Itulah suara yang terdengar pertama kali saat memasuki ruangan. Di depannya, Jaevan kembali dapat melihat sosok yang selama ini ia rindukan dan khawatirkan.


Senyumnya merekah, begitu juga Nora, Dion, Lenovan Regan, dan Dania.


Jaevan duduk tepat di depan mereka, namun sayang mereka berada di ruangan yang berbeda, mereka hanya bisa bicara dan melihat, tanpa bisa menyentuh.


Jaevan menempelkan kedua tangannya ke kaca, menatap sayang Nora, Nora juga menempelkan kedua tangannya di kaca.


“Papa kenapa kening papa memar? Papa dipukul?" tanya Nora khawatir.


Jaevan tertawa "Bukan, tadi papa jatuh dari kasur jadinya luka deh".


"Sudah di obati? Kepala papa sakit?".


"Emm" Jaevan mengangguk "tadi baru saja papa obati, jadi tidak terasa sakit" bohong Jaevan.


"Papa hati-hati ya, papa jangan samapi sakit, nanti siapa yang merawat papa".


Jaevan mengangguk "Iya sayang" llu ia beralih menatap orang-orang di belakang Nora "Kalian apa kabar?" sapa Jaevan.


"Kami baik Jae, kau sendiri bagaimana?" tanya Dion.


"Aku baik-baik saja" Jaevan tersenyum "Bay the way, kondisi Café sekarang bagaimana kak?"


"Kau jangan khawatir, tentu saja baik-baik saja meski yah akhir-akhir ini tidak terlalu ramai dari biasanya".


Jaevan mengangguk sambil menunduk "Kak jika Café sepi, tidak apa-apa jika kau ingin keluar" semua terdiam beberapa detik "tolong katakan ini pada yang lainnya juga" lanjutnya.


"Jaevan sudah kubilang jangan pikirkan itu, kau tenang saja aku yang akan urus".


Jaevan menatap Dion "Terimakasih kak" Dion mengangguk.


"Oh iya, ini sudah akhir semester bukan?"


Regan, Lenovan, dan Dania mengangguk.


"Kapan ujiannya akan dilaksanakan?".


"minggu depan" jawab Regan.


Jaevan mengangguk "Good luck guys! belajarlah yang serius, awas saja kalau nilai kalain jelek, aku akan tertawa jika itu terjadi" canda Jaevan.


Nora menganggu, senyumnya hilang dari wajahnya.


"Papa kapan pulang? nanti siapa yang bantu Nora belajarĺ


"Papa minta maaf em, maaf papa tidak bisa menemani Nora belajar kali ini, papa pasti segera pulang jadi Nora jangan sedih ya".


"Jae jangan cemas aku yang nanti akan bantu Nora belajar, Nora mau kan belajar sama kakak"


Nora menatap Dania sejenak, lalu menatap Jaevan. Matanya mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya buliran air mata mulai jatuh dari matanya.


"Hei hei sayang kenapa menangis?" tanya Jaevan.


"Papa! Nora kangen, boleh Nora di sini saja bersama papa?".


Jaevan menggeleng "Nora dengar papa! Papa pasti pulang hmmm, jadi saat papa pulang nanti Nora harus yang sambut papa di rumah".


"Papa" panggil Nora dengan suara bergetar.


Drrrakkk


Seorang polisi masuk "Waktu kunjungan sudah habis"


"Ayo" perintah polisi itu pada Jaevan.


"Nora sayang, papa sayang Nora, papa pasti pulang jadi jangan sedih ya".


Karena Jaevan tidak juga bangkit, polisi itu menarik lengan Jaevan memaksanya berdiri dan membawanya pergi.


"PAPA" teriak Nora, tangisnya kembali pecah.


"SSSSSS Nora jangan sedih ya" Dania berjongkok menarik Nora ke pelukannya. Ditepuknya perlahan punggung Nora agar Nora berhenti menangis, namun tangisannya tidak juga berhenti.


"Nora hei kita ke mall yuk main timezone" rayu Dion.


Namun rayuan itu tidak berhasil "Nora anak baik, sayang papa kan?"


Berhasil, Nora terdiam.


Dania melepas pelukannya, dan bergeser memberi tempat pada Dion.


Dion berjongkok menyamai tingginya dan Nora menatap lembut dengan senyum.


"Emmm" Nora mengangguk.


"Nora tadi dengar papa bilang jangan sedih kan?"


Nora mengangguk.


"jadi kalau Nora sedih, papa juga sedih, Nora ingin buat papa sedih?"


Nora menggeleng


"Kalau begitu ayo sekarang senyum".


Nora tersenyum, walau tersenyum hambar.


"Nah kan cantik" Dion mengelus puncak kepala Nora.


"jadi ke timezone" semuanya tersenyum melihat kini Nora sedikit kembali ceria.


"Jadi dong".


"Yey" Nora bersorak senang.


"Kak ajak kami dong sekalian!"


"Iya dong" kak Regan dan Lenovan merengek ingin ikut juga.


"Ya sudah demi Nora yang cantik ayo pergi".


...^^^To be countinue^^^...


Hy semua, saya kembali lagi, maaf ya lama up. Huhu tolong terus nantikan ya cerita selanjutnya !


Have a nice day 😊 semoga dapat menghibur.


Janan lupa like, komen, dan tambah ke favorit ya.


Oh ya aku ada cerita baru judulnya nerd girl in cover yang penasaran cek aja lngsung ya by by👋👋👋