
Di kediaman keluarga Rey, Dania, Hani sedang sibuk menata makanan dimeja makan untuk makan malam di bantu Dania, dan malam ini Nora akan tinggal bersama mereka untuk sementara waktu.
"Ma aku kekamar dulu panggil Nora" Dania meletakan poci teh di meja lalu pergi ke kamar.
Cklek
Dania masuk ke kamar dan melihat Nora duduk di lantai sedang menggambar.
"Nora ayo turu makan malam".
Nora menoleh lalu bangkit meninggalkan gambarannya di lantai.
"Nora kemarilah, duduk di samping paman"
Rey menarik kursi di sebelahnya, menepuk kursi mengisyaratkan Nora duduk di sebelahnya.
Nora menangguk dan duduk di kursi.
"Ayo makanlah, kalau mau tambah ambil saja jangan malu hmmm" Nora mengangguk dan mulai makan.
...[Berita terbaru dan terpanas hari ini, Jaevan Angkara peserta gren final pada ajang kompetisi memasak Masterchaf di diskualifikasi karena kasus hukum pelecehan yang melibatkannya.]...
Nora dan semuannya terpaku mendengar pemberitaan yang di siarkan di tv, Nora tertunduk lesu mengaduk-aduk nasi di piringnya.
...[Jaevan Ankara dilaporkan oleh orang tua dari selbgram Zorya Gifanda terkait mencuatnya vidio yang beredar di sosial media, Jaevan angkara kini telah menjalani pemeriksaan di …...
Dania segera berlari mematikan Tv. Susana di meja makan menjadi berubah, samar-samar mereka dapat mendengar isakan lirih dari Nora, yang sejak tadi tertunduk.
Paman Nora mau ketemu papa, aku mau peluk papa lirih Nora mengusap air matanya yang jatuh.
"Papa pasti lagi kesulitan"
Semuanya terenyuh mendengar penuturan Nora, tidak menyangka kalimat itulah yang keluar dari mulut anak sekecil Nora.
"Paman bisakah tolong telphon papa?, Nora ingin bicara sama papa".
Mereka tergagap, bingung harus bagaimana karena pastinya Jaevan tidak akan bisa di hubungi karena hp dan semua barang pribadinya sudah pasti berada di tangan polisi.
"Besok saja ya, ini kan sudah malam pasti papa sudah tidur" Bujuk Rey.
Nora tertunduk lesu mengaduk-aduk piringnya.
"Paman aku sudah kenyang, boleh aku ke atas?"
"Oh ya tidak apa-apa".
"Bibi paman terimakasih makanannya" Nora turun dan melangkah pergi ke atas.
...********...
Di sebuah ruangan tempat para narapidana saat ini sedang berkumpul, Jaevan duduk sendirian di pojok ruangan sedang menghabiskan makan malamnya.
Sebagai orang baru di lingkungan tersebut, tentu mengambi banyak perhatian.
Drrrrreek
Seorang narapidana duduk di hadapan Jaevan, dan satu orang di sampingnya sedang menatap menelisik.
'Apa yang dia inginkan?' batin Jaevan lanjut makan mengabaikan.
"Aku dengar kau melakukan pelecehan ya?"
Jaevan diam bahkan menatap orang di depannya pun tidak.
Plak
Orang di samping Jaevan memukul kepalanya Jawab "kalau ditanya jawab"
Tangan Jaevan mengepal kuat menahan emosi, lalu dengan berani menatap orang didepannya "Untuk apa aku menjawabnya!, lagi pula itu bukan urusan mu"
"Waw begitukah" seringai jahat muncul di wajahnya, lalu matanya memberikan kode pada rekannya.
Braakkk
Tubuh jaevan dibenturkan ke dinding, lehernya di cengkram sangat kuat hingga ia kesulitan bernapas, dan kemudian di banting ke lantai.
Uhuk uhuk
Jaevan berusaha bangkit sambil memegangi lehernya yang terasa sakit, namun usahanya gagal karena tubuhnya di duduk.
Buaakk
orang itu melayangkan tinjunya di wajah Jaevan "Hei aku benar-benar tidak menyukai mata mu, kau seharusnya menunduk saat aku di depanmu".
"Lepaskan dia" satu orang ikut campur, mengeretak orang yang menyerang Jaevan.
"Kau tidak dengar!"
"Ck ayo pergi"
Akhirnya dia bangkit dan pergi bersama rekannya "Kau tidak apa-apa?" orang yang ikut campur itu membantu Jaevan berdiri.
"Terimakasih"Jaevan menunduk berterimakasih.
"Erga"
Jaevan menjabat tangannya Jaevan
...*********...
"PAPA" Nora terbangun dari tidurnya.
Perlahan ia turun dari kasur, duduk di depan jendela, melihat rumahnya yang gelap tanpa penghuni.
"Papa heek.." tangis Nora pelan, air mata perlahan jatuh di kedua pipinya, ketidak beradaan sosok papa di sampingnya membuat Nora gelisah, ia tidak terbiasa dengan situasi sekarang, hingga membuatnya memimpikan sosok papa dalam tidurnya.
Bahunya bergetar seiring ia merindukan papanya, di tambah ia bermimpi papanya dipukuli membuat Nora semakin gelisah.
Nora mendekati Dania yang masih tertidur lelap, dan mengambil Hp milik Dania. Nora membuka tombol kunci yang beruntungnya tidak di beri kata sandi, dan mengetik nomor telphon Jaevan.
Drrrttt Drrrttt Drrrrrttt Drrrrrt
Usaha pertama gagal, Nora mencoba lagi
Drrrttt Drrrttt Drrrrrttt Drrrrrt
Usaha kali ini pun gagal, Nora tetap mencoba menghubungi nomor Jaevan, hingga panggilan yang ke 10, nomor Jaevan tetap tidak mengangkat dan hanya menampilkan panggilan berdering di layar.
Isakan Nora mejadi, ia benar-benar rindu papanya.
Nora meletakan hp Dania di kasur, dan perlahan membuka pintu kamar.
Karena ini sudah jam 00.00 semua penghuni rumah sudah terlelap dan rampu dimatikan, dan hanya tersisa beberapa lampu yang menyala. Nora turun dan keluar rumah menuju rumahnya.
Nora megambil kunci duplikat rumahnya yang biasanya di letakan di bawah pot bunga.
Cklek
Gelap, dingin, dan sepi. Nora masuk dan meraba-raba dinding untuk menemukan sakelar lampu.
Klik
Satu lampu berhasil Nora hidupkan, lalu menghidupkan juga lampu yang lainnya. Terahir, Nora naik ke atas, berdiri di depan kamar Jaevan.
Cklek
Nora masuk ke kemara "Papa"panggil Nora berharap papanya berada di kamar sedang tidur. Namun hening, Nora tidak mendengar suara papanya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Papa" Panggil Nora sekali lagi dengan suara parau. Nora membuka pintu kamar mandi, namun juga tidak dapat menemukan papanya disana.
"Papa dimana? hwaaaa " air mata Nora megalir deras, Nora menangis sejadi-jadinya.
...**********...
Cit cit cit
"Hwaaammm" Dania terbangun duduk dan mengeliat meregangkan otot sembari mengumpulkan kesadarannya.
Saat menoleh kesamping, Dania sudah tidak mendapati Nora di sampingnya Ah mungkin Nora sudah duluan bangun pikirnya. Dania turun dari kasur dan segera mandi untuk bersiap-siap ke sekolah.
Drrrrttt Drrrttt Drrrttt
Dania meraih hpnya dan melihat nama Regan yang tertera di layar.
"Halo"
"Kau dan Nora sudah siap?"
"Iya"
"Nanti aku dan Lenovan akan jemput jam 07.00"
Tut
"Dasar" umpat Dania kesal karena Regan memutus panggilan sepihak.
Di meja makan Hani sibuk menyiapkan sarapan dimeja sedangkan Rey membaca koran, dan berita dikoran itu terdapat berita mengenai kasus yang menimpa Jaevan.
Pagi sapa Dania pada kedua orang tuannya.
"Dimana Nora?" tanya ibunya.
Kening Dania mengerut "Bukannya Nora sudah duluan turun ke bawah!"
"Hah yang benar kamu?
Kapan?, ibu sedari pagi tadi tidak melihatnya turun"
"Iyah ayah, untuk apa aku bohong aku bangun Nora sudah tidak ada di kamar" terang Dania.
Suasana hening.
Dania melebarkan matanya, dugaannya kemungkinan besar semalam Nora pulang kerumah. Dania segera berlari keluar dan menyebrangi jalan.
Saat ia membuka pintu, benar saja pintunya tidak terkunci, dan saat masuk semua lampu menyala, ia ingat sekali kemarin ia lah yang mematikan lampu serta mengunci rumah bahkan kuncinya masih berada padanya.
"Nora" panggil Dania.
Dania mencari Nora di sekeliling rumah, dan terahir kamar Jaevan.
Cklek
Perlahan Dania masuk, dan dugaanya benar. Nora sekarang tertidur di kasur memeluk boneka momin.
Dada Dania terasa sesak melihat Nora tertidur pulas, 'Jam berapa kau pulang Nora? Apa kau semalam menagis merindukan Jaevan' batin Dania bertanya.
"Nora" Panggil Dania lembut mencoba memangunkan.
Kening Nora mengerut kedua matanya bergerak dan perlahan mulai membuka mata.
"Papa " panggil Nora sembari mengucek kedua matanya.
Dania terdiam mendengar Nora memanggil Jaevan, bingung harus apa karena yang berada dihadapan Nora bukan lah papanya melainkan orang lain.
"Emm".
" Nora ini kakak".
Nora membuka matanya, menatap Dania dengan tatapan kecewa.
"Nora yuk mandi, sudah siang nih Nora kan harus sekolah".
Nora mengeleng
"Kenapa tidak mau sekolah, nanti dimarah ibu guru loh"
Nora semakin keras menggeleng "Hwaaaa Nora mau ketemu papa" tangis Nora pecah.
Dania kelabakan, semakin bingung harus bagaimana.
...**********...
Brumm Brumm
Regan dan Lenovan sampai , keduanya melepas helm full facenya dan turun dari motor menuju rumah Dania.
"Permisi Paman bibi Danianya ada
Dania"
"Tadi ke depan" Rey menunjuk rumah Jaevan.
"Oh iya paman, kalau begitu kami kesana dulu" pamit Lenovan.
Regan dan Lenovan pergi ke rumah Jaevan, dan langsung masuk ke dalam.
"Hwaaaa Nora mau ketemu papa" tangisan Nora terdengar oleh mereka.
Mereka segera naik ka atas, dan mendapati Dania dan Nora berada di kamar Jaevan.
"NORA SAYANG" sapa Lenovan, ia segera mengangkat Nora menggendongnya.
"Yuk mandi, Nora kan mau sekolah".
Nora menggeleng "Nora mau papa,
Nora mau ketemu papa"
"tapi kan Nora harus sekolah, kalau papa tau nanti dia sedih loh, Nora mau buat papa sedih".
"Nora mau ketemu papa bentak Nora".
"Nora sayangkan sama papa?"
Nora mengangguk "Kalau sayang! buat papa bangga dong".
"Tapi Nora kangen papa rengek Nora".
"Nanti kita ke sana, tapi Nora sekolah dulu
Kakak Janji".
"Janji"
Lenovan mengangkat jari kelingkingnya dan menautkanya ke jari kelingking mungil Nora.
Senyum Nora mengembang
"Ok sekarang ayo kita mandi" Regan bersorak dan langsung membantu Nora untuk segera mandi
.
Untuk menghemat waktu mereka berbagi tugas, selagi menunggu Nora selesai mandi Dania pulang dan menyiapkan kotak bekal Nora dan sarapannya, Lenovan menyiapkan seragamnya Nora sedangkan Regan menyiapkan tas dan sepatunya.
Saat Dania kembali, Regan dan Lenovan sibuk sedang memakaikan seragam dan mengikat rambut Nora, Dania segera memasukkan kotak bekal ketas Nora kemudian menyuapi Nora sarapan, Suasana pun menjadi ramai. Hingga tak terasa hanya butuh waktu 15 menit mereka akhirnya siap berangkat ke sekolah. Nora ikut dengan Lenovan sedangkan Dania ikut dengan Regan.
“Mama Papa kami pergi dada pamit Dania"
Tin
Regan membunyikan klakson dan menggas motornya diikuti Lenovan di belakang.
Hati-hati Pesan Hani.
...To be Countinue...
...Tokoh tambahan :...
...Erga Hxan...
...27 tahun...
Maaf semuanya lama up😢, kesel sendiri kadang karena gak ada waktu lagi buat nulis, huhuhu.
Terimakasih banyak semua yang masih mau setia menunggu kelanjutan cerita ini,🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
like, comen, dan tambah favorit ya jangan lupa 😢