Young Papa

Young Papa
Harapan



Hujan deras sore itu. Sohyun sudah tiba di rumahnya beberapa jam yang lalu. Ucapan dari Soobin masih terngiang-ngiang hingga saat ini. Tentang pernyataan perasaannya yang begitu tiba-tiba.


Bukankah seharusnya dia merasa senang? Namun nyatanya tidak. Dia malah bingung harus menjawab apa atas kalimat Soobin tadi.


Selesai mandi dia melihat ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Sungjae.


*Sungjae: Kau sudah sampai di rumah?


Sohyun: Eoh, bagaimana denganmu? Apakah kau baik-baik saja?


Sungjae: Iya, aku baik-baik saja*.


Hanya sebatas itu dan Sohyun bingung harus mengirimkan pesan apa lagi padanya.


Ingatannya kembali pada pukul empat saat Soobin menyatakan perasaannya untuk Sohyun.


Sohyun menatap Soobin bingung. Setelah beberapa hari ia menyatakan perasaan pada lelaki itu, namun baru sekarang ia membalasnya.


"Apakah kita bisa berpacaran mulai hari ini?" tanya Soobin. Rambut dan bajunya sudah mulai basah. Karena payung tersebut hanya untuk memayungi gadis yang ada di depannya saat itu. "Tak bisakah?" tanya Soobin untuk memastikan.


Sohyun memajukan langkahnya. Membagi payung itu untuk mereka berdua. Ia berdiri di samping Soobin tanpa mengatakan apapun.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Sohyun saat mereka sudah mulai berjalan.


"Entahlah. Aku hanya ... Tak suka saat kau lebih dekat dengan Sungjae," ucapnya sedikit terbata.


Sohyun meliriknya sebentar.


"Cemburu?" tanya Sohyun.


Soobin mengangguk. "Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini. Aku belum pernah merasakan ada suatu yang mengganjal dalam hatiku, saat melihat gadis yang pernah mengatakan jika dia menyukaiku bersama dengan lelaki lain."


Mereka diam kembali. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Keduanya menjadi canggung setelah pernyataan cinta yang mendadak tersebut.


"Beri aku waktu sebentar untuk berpikir," ucap Sohyun tanpa memandang wajah Soobin.


**


Di sisi lain. Sora masih belum beranjak dari tempat Sungjae meski hujan sudah turun lebat.


Entah apa yang dipikirkannya saat itu. Namun sepertinya dia ingin menarik simpati dari Sungjae.


Wanita itu tak akan menyerah begitu saja sebelum mendapatkan Sungjae kembali ke sisinya.


Sungjae yang sedang bermain dengan Hyeri sesekali melirik ke jendela dan menangkap bayangan Sora yang masih berdiri di depan sana.


"Aku pulang!" Suara sapaan dari Youngjae, adik dari Sungjae mengejutkannya.


(Untuk pertama kalinya akhirnya Youngjae muncul setelah 26 bab wkwkwk)


"Kenapa kau terlihat terkejut?" tanya Youngjae saat meletakkan sepatunya ke dalam rak.


"Apa kau melihat perempuan yang berdiri di depan rumah kita?"


"Eoh. Aku melihatnya. Kupikir dia sedang syuting drama. Kenapa? Apa kau mengenalnya?" tanya Youngjae dia duduk di sebelah Hyeri.


"Aishh," desis Sungjae. "Tolong jaga Hyeri sebentar. Aku akan keluar sebentar," ucapnya lalu pergi keluar rumah.


Saat ia membuka pintu pagar rumahnya. Sora melihatnya dengan tatapan putus asanya. Dia tersenyum begitu Sungjae keluar membawakan payung untuknya.


Bibir Sora dan wajahnya sudah memucat. Membuat Sungjae sedikit khawatir.


"Haruskah kau seperti ini, Nuna?" Sungjae mengulurkan payungnya. Namun Sora enggan menerimanya.


Sungjae melempar payungnya. Kemudian menggendong Sora di punggungnya. Ia membawa masuk ibu Hyeri tersebut ke dalam rumahnya.


"Oppa! Itu siapa?" tanya Youngjae penasaran ketika kakaknya itu tiba-tiba membawa Sora menuju ke dalam kamarnya. Namun ia tidak menjawab pertanyaan itu. Malah menyuruh Youngjae untuk menggantikan baju untuk Sora.


"Pinjamkan bajumu untuk dia. Sekalian ganti bajunya," perintah Sungjae.


"Aku? Kenapa harus aku?" tolak Youngjae.


"Lalu, apa harus aku yang mengganti bajunya?"


Youngjae mencebik kesal meskipun pada akhirnya dia menuruti perintah kakaknya tersebut.


**


Tak berapa lama Youngjae keluar dari kamar. "Kau belum menjawab pertanyaanku? Siapa dia?"


Sungjae diam. Dia berkutat dengan bubur yang sedang ia buat saat ini.


"Oppa!"


"Dia temanku, hanya teman. Puas?"


"Cih! Mana ada teman sampai rela hujan-hujanan demi lelaki sepertimu?" decih Youngjae. Ia kini duduk di meja makan bersama dengan Hyeri.


Sungjae hanya mendelik padanya. "Kau tak ada pekerjaan hari ini?"


"Tak ada. Aku libur. Lagipula hujan lebih baik aku di rumah saja. Kenapa? Kau mau mengambil kesempatan ya?" godanya.


"Aku tak pernah memiliki pikiran kotor sepertimu?" Sungjae mengacak-acak rambut Youngjae. Adiknya itu memang diketahui sangat menyukai Soobin, temannya.


**


Pintu diketuk. Sora masih berbaring di sana. Badannya tiba-tiba menjadi demam karena hujan tadi, terpaksa Sungjae harus merawatnya saat ini.


"Kalau hujan reda, pulanglah. Aku akan mengantarmu," ucap Sungjae pelan. Ia meletakkan bubur tersebut di atas nakas samping kasur.


"Aku tak ingin pulang," lirih Sora. Ia melirik sedikit bubur itu. Tersenyum. Seumur-umur itu adalah hal manis yang dilakukan Sungjae padanya.


"Lalu? Tolong jangan mempersulit hidupku lagi, Nuna." Sungjae membalikkan badannya dan menatap Sora memohon.


"Bagaimana kalau kita menikah saja?" Sora menatap wajah Sungjae serius. Dia memang serius dengan ucapannya kali itu. Dia benar-benar ingin bersama lelaki itu entah bagaimanapun caranya. Hidup bahagia dengannya dan juga Hyeri.


***


Sebuah panggilan masuk di ponsel Sungjae. Youngjae yang melihatnya langsung mengangkatnya.


"Halo?" jawab Sungjae ketika sambungan terhubung.


"Maaf ini siapa?"


"Ini aku Youngjae adiknya Sungjae Oppa, lalu kau?"


"Oh, aku Sohyun. Bisakah aku bicara dengannya sebentar."


"Uhm, kupikir tidak bisa,"


"Kenapa?"


"Karena dia sekarang sedang berada di dalam kamar dengan perempuan."