
waktu terus berjalan, dan hari silih berganti hasri.
"Susan aku duluan"
Susan mengangguk mengiyakan, ia tersenyum cerah menghantarkan Dania pergi. Saat Dania sudah tidak terlihat olehnya perlahan senyum itu menghilang berganti dengan garis lurus pada bibirnya.
Susan bangkit dan berlari menyusul Dania.
"Dania tunggu aku ikut".
Dania menoleh "Tumben sekali, kau mau ikut".
"Heheheh".
Dania merasa senang ini pertama kalinya Susan mau bergabung dengannya di jam istirahat selain dikelas, terlebih Susan sendiri lah yang menghampirinya.
"Ayo".
Mereka pun berjalan beriringan bergandengan tangan.
Di koridor sekolah tanpa sengaja mereka melihat Jaevan berjalan bersama Zorya di sampingnya.
"Jae...."
Susan menarik lengan Dania membawanya menjauh.
Dania menoleh dan menatap kesal karena ulah Susan yang tiba-tiba menariknya membuatnya mengurungkan niat menyapa Jaevan
"Kenapa kau menarikku".
"Dania apa kau tidak sadar jika kau menemui Jaevan itu akan membuat kekasihnya cemburu?".
Dania mengangkat satu alisnya "Maksudnya?".
"Huh, sekarang aku tanya, kau kekasih Jaevan?"
Dania menggeleng.
"Apa kau tau mungkin saja Jaevan sudah memiliki kekasih, ya secara kita tau sendiri Jaevan dikelilingi banyak wanita?".
Dania mengerjap-ngerjapkan mata
"Jadi maksudmu Zorya dan Jaevan menjalin hubungan" tanya Dania memastikan terkaannya.
"Huh karena itu aku membawamu menjauh Dania".
"Tapi Jaevan tidak pernah bilang" Dania tertunduk memandangi sepatunya.
"Memangnya kau siapa Dania, kau hanya tetanggannya bukan keluarganya".
Dania merasa tertampar, entah mengapa kini dirinya merasa sesak, tenggorokannya seperti tercekik, dan Dania dapat merasakan sakit walau bukan karena terluka fisik.
"Sudah lebih baik ayo kita kekanti membeli sesuatu untuk dimakan"
Susan menarik tangan Dania membawanya menuju kantin.
Di kantin mereka berdua hanya saling diam sejak tadi, Dania mengaduk-aduk nasinya tanpa minat untuk memakannya sedang kan Susan sibuk memainkan hpnya.
"Haaaa" Susan membelalak sambil menutup mulutnya, Dania menatap Susan, keningnya berkerut "Ada apa" tanya Dania penasaran.
"Lihat" Susan membalikan hpnya pada Dania
Lagi-lagi Dania merasa sakit saat melihat postingan photo Jaevan yang sedang makan di akun intagram milik Zorya yang bercaption gambar Love berwarna merah yang baru di unggah 1 menit yang lalu.
Dalam hitungan jam gosip hubungan antara Jaevan dan Zorya meledak di media sosial.
...**********...
Sepulang sekolah Dania langsung naik menuju kamarnya, melewati begitu saja kedua orang tuanya yang berada di teras rumah.
"Ada apa dengannya?" tanya Rey pada istrinya.
"Entahlah"
Hingga malam tiba, Dania masih berada dikamarnya tidak kunjung turun, membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya.
Tok tok tok
"Dania buka pintunya nak, ini mama".
"Tidak dikunci ma" teriak Dania dari dalam kamar.
Hani membuka pintu, dan mendapati anaknya sedang duduk dijendela sambil melihat keluar.
Hani duduk di samping Dania, memperhatikan wajah yang terlihat.
"Kau sakit?" tanya ibunya, Dania menggeleng.
"Terjadi masalah di sekolah?"
Dania menunduk, jemarinya memainkan bulu pada bantal yang di pangkunya.
Hani tersenyum dan mengelus kepala anaknya.
Brum
Dania mengangkat kepalanya dan melihat keluar jendela. Hani yang melihat perubahan ekspresi Dania paham apa yang membuat putrinya seperti ini.
"Temu dia, dan selesaikan masalahmu".
Dania langsung menoleh "Hah".
"Ha ho ha ho, sudah ibu mau cuci piring".
Hani bangkit lalu pergi meninggalkan Dania yang masih terdiam ditempatnya.
...**********...
Tok Tok Tok
Jaevan meletakkan cangkir berisi kopi ditangannya, lalu bangkit berdiri untuk melihat siapa yang bertamu.
Cklek
"Dania!".
Dania tersenyum "Apa aku menganggumu?".
"Tidak, aku sedang senggang".
"Nora dimana?".
"Dia sudah tidur".
"Ohhh".
Hening.
Dania menunduk sambil menggoyangkan tangannya di samping tubuhnya.
"Eeemmm mau masuk sebentar?"
Dania mengangkat kepalanya"Boleh?".
"Tentu, Tunggu sebentar"
Jaevan masuk ke dalam, dan membuatkan coklat panas untuk Dania. Dari pada di dalam Dania memilih duduk di teras rumah sambil menikmati angin malam.
Tak lama kemudian Jaevan keluar dan membawa dua cangkir, satu cangkir diberikan pada Dan ia lalu duduk di kursi samping Dania.
Dania mendekatkan hidungnya, menghirup aroma coklat dari cangkir yang dipegangnya, dan mencicipinya.
"Kau suka?"tanya Jaevan
"Emmmm" Dania mengangguk.
"Sudah lama rasanya aku tidak melihatmu pulang" Dania berbicara sambil melihat lurus kedepan.
"Emmm" Jaevan bergumam .
"Aku baik-baik saja Dania, kalian tidak perlu khawatir" Jaevan meminum kembali kopinya
"Tidak perlu khawatir bagaimana Jae, aku bahkan bisa mencium bau koyo cabai dari sini".
"Uhuk uhuk" Jaevan tersedak kopinya dan meletakkan cangkirnya kemeja, mengusap tumpahan kopi didagunya menggunakan punggung tangannya "Benarkah?".
Dania menoleh "Emmmm karena itu aku menghawatirkanmu Jaevan".
"ahahahaha jangan khawatir berkat koyo-koyo ini besok pegal-pegal ku akan hilang" Jaevan berkata dengan sedikit bercanda, menghilangkan rasa malunya.
Mata Dania memanas, air mata mulai menggenang di kedua sudut matanya.
"Kau menangis?" tanya Jaevan mendapati kedua mata Dania berkaca-kaca.
Dania langsung memalingkan wajahnya "Tidak mataku kemasukan debu " bohongnya.
Srttt
Jaevan menarik tangan Dania yang sibuk mengucek matanya "Sini coba kulihat".
Debaran jantung Dania menggila, saat kedua telapak tangan besar Jaevan menangkup kedua pipinya, Dania terpaku kaku ditempatnya, dapat melihat wajah Jaevan dari jarak sedekat ini. Tiupan Jaevan menerpa wajahnya membuat Dania merasakan rasa dingin di sekitar kedua matanya dan merasakan kehangatan tangan Jaevan di pipinya.
"Sudah?" .
Dania mengangguk. Jaevan pun menjauhkan wajahnya, dan kembali duduk di jarak semula.
Dania mencoba untuk tidak terlalu jelas memerlihatkan rasa bahagiannya. Bibirnya berkedut menahan senyum sekuat tenaga.
"Ahahaha kenapa dengan wajahmu, tersenyumlah jika ingin tersenyum" Jaevan tertawa melihat wajah Dania yang sekarang ini sangat lucu menurutnya.
Kini senyum Dania pun merekah, tawa Jaevan itu entah mengapa mengundangnya untuk tertawa juga.
Tiba-tiba Dania kembali diingatkan kembali dengan seauatu yang menjadi tujuannya menemui Jaevan, senyumannya hilang ditatapnya lekat-lekat wajah Jaevan yang masih tertawa.
"Jaevan selamat ya".
Jaevan berhenti tertawa, dan menatap Dania kembali yang sedang tersenyum mengulurkan tangannya, alisnya bertaut "Untuk?".
"Aku dengar kau dan Zorya sudah resmi berpacaran"
"APA"
Brum
Jaevan dan Dania menoleh pada seseorang yang baru saja datang. Dia turun dari motornya, dan melepas helm full facenya.
Jaevan mengernyit, bertanya-tanya siapa orang yang datang kerumahnya ini.
Dia berdiri di tepi jalan, memberi isyarat untuk Jaevan menghampirinya. Jaevan mengindahkan keinginan orang itu untuk menghampirinya.
Buuuakk
Orang asing itu tiba-tiba melayangkan tinjunya pada Jaevan. Jaevan yang mendapat serangan kejutan itu sedikit terhuyung ke belakang.
"AAAAA" Dania menjerit
Jaevan menyeka ujung bibirnya yang berdarah menggunakan ibu jarinya, "Apa-apaan kau ini" Jaevan menatap tajam orang di depannya.
"Siapa kau?" tanya Jaevan
"Aku peringatkan kau jangan sekali-kali mendekati Zorya!" peringatnya dengan menunjuk wajah Jaevan.
"Apa, hah lucu sekali kau menyerangku karena itu?" Jaevan tersenyum mengejek.
"Sial apa kau mengejekku" geramnya lalu melayangkan kembali tinjunyanya.
Tak
Jaevan menangkis serangan itu
Bugh
dan memukul wajah orang itu hingga membuat hidungnya berdarah.
"Keparat" teriaknya marah.
Bugh
orang itu membanting Jaevan ketanah, menduduki perut Jaevan dan kembali melayangkan pukulan, dengan sigap Jaevan menghindari pukulan itu
Bugh
tinju itu mengenai tanah
Bugh
kali ini Jaevan tidak berhasil menghindar, pukulan itu mengenai tulang pipinya.
Dania yang tadi terpaku ditempat karena teralu kaget, berusaha mengendalikan emosinya, melihat Jaevan yang berada di bawah dalam kurungan orang asing itu membuat Dania kelabakan.
Tanpa pikir panjang, Dania menahan tangan orang asing itu yang siap melayangkan pukulan kembali.
"****"
Srak
dengan sekali hentakan Dania terhempas dan tangannya terluka karena tergesek.
Jaevan yang melihat itu bertambah marah, dicengkramnya jaket orang itu lalu menarik dan membenturkan keningnya pada wajah orang itu.
sret
Krek
Jaevan membanting tubuh orang itu dan mengunci pergerakannya. Menimbulkan suara yang berasal dari tulang yang mungkin bergeser karena ulahnya.
"JAE" Cegah Dania, dengat erat Dania menggenggam kepalan tangan Jaevan, dan menariknya untuk melepaskan orang yang kini berada dibawahnya terbaring kesakitan.
Dania menarik Jaevan untuk bangkit, dan membawanya masuk ke dalam rumah. Memaksa Jaevan duduk di sofa, Dania kembali ke pintu mengintip untuk memeriksa apakah orang itu sudah pergi atau belum.
Orang itu perlahan bangkit
'Cuih'
dan meludahkan darah yang ada dimulutnya, lalu berbalik menaiki motornya dan pergi.
Dania bernafas lega, ahirnya orang asing itu pergi, Dania kemudian menutup pintu dan kembali menghampiri Jaevan.
Melihat Wajah Jaevan yang babak belur penuh luka dan darah, Dania meringis.
Dania bangkit berdiri untuk mencari kotak P3K.
"Jae dimana kotak P3Knya?"
"Di situ" Jaevan menunjuk lemari Tv,ia segera mencarinya disana.
Dania meletakkan kotak P3K yang dibawanya ke meja, mengambil sejumput kapas lalu menuangkan revanol untuk membersihkan bekas darah yang sudah mengering di wajah Jaevan.
"Sssss" Jaevan meringis menahan perih di bibirnya yang robek.
Dania juga ikut meringis, setelah darah dibibir Jaevan hilang, giliran luka di tulang pipi Jaevan yang dibersihkan.
Setelah bersih Dania meneteskan betadin pada kapas lalu mengusapkannya lembut diluka Jaevan.
"Sudah" Dania membereskan kotak P3K dan menaruhnya kembali ditempatnya semula.
Lalu berjalan ke dapur membawa kantung es dan mengisinya dengan es batu yang ada dikulkas. Lalu kembali keruang tamu menempelkan kantung es yang dipegangnya ke tulang pipi Jaevan.
"Terima kasih" Jaevan mengambil alih kantung es dari tangan Dania.
"Ehhh" Dania refleks menarik tangannya.
"Jadi apa berita itu benar?" tanya Dania yang masih penasaran. Ia menanyakannya lagi karena Jaevan belum menjaab pertanyaannya.
"Itu tidak benar, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Zorya".
Bagaikan angin segar, Dania lega mengetahu kebenarannya, senyum di wajahnya pun merekah.