
Pikiran Soobin sejak tadi melayang ke mana-mana memikirkan Sungjae dan Sohyun, apa yang sedang mereka lakukan saat ini?
Untuk pertama kalinya Sungjae pergi tanpa mengajak dirinya. Itu sudah sangat mengesalkan bagi Soobin. Terlebih lagi dia pergi dengan Sohyun, gadis yang pernah mengatakan jika menyukainya waktu itu.
Soobin awalnya tak tertarik dengan ucapan Sohyun. Namun semakin hari, saat Sungjae mulai mendekati gadis itu. Ada perasaan tak rela dalam hatinya. Apakah dia mulai menyukai Sohyun?
"Ah! Jangan gila! Mana mungkin aku menyukainya!" Soobin merutuk dirinya sendiri hingga membuat Yoo Jung yang ada di sampingnya menolehnya seketika.
"Ada apa?" tanya Yoo Jung penasaran.
"Tak apa-apa." Soobin sengaja berbohong, lagipula tak ada gunanya dia bercerita pada Yoo Jung terlebih lagi karena dia sedang bermasalah dengan Sohyun.
Sudah satu jam berlalu. Soobin dan Yoo Jung di minimarket Sungjae bekerja. Makan es krim di sana sambil menunggu kedatangan temannya itu. Namun lama-lama ia merasa jenuh juga karena Yoo Jung ternyata tak seasik yang ia kira. Dia hanya cantik, cukup hanya itu.
Drrt.. drrt..
Ponsel Soobin bergetar. Ia melihat balasan dari Sungjae yang mengatakan jika saat ini dia sedang di rumah bersama dengan Sohyun.
Matanya membulat, memikirkan hal-hal liar yang mungkin saja terjadi. Namun ia kembali berpikir tenang, dan berharap jika Sungjae tak mungkin melakukan hal hina.
Soobin melirik Yoo Jung sebentar. "Aku mau pergi dulu ya," ucap Soobin.
"Ke mana?"
"Sebentar saja. Ada sedikit urusan di tempat les. Kalau kamu mau pulang, pulang saja."
Tanpa ada jawaban dari Yoo Jung, Soobin langsung meninggalkan gadis itu yang sedang berdecak karena kesal.
Rencananya untuk menarik perhatian lelaki yang dekat dengan Sohyun gagal!
**
Di sisi lain.
Sejak tadi Sohyun sudah mulai belajar dengan Sungjae. Lelaki itu tampak telaten mengajari Sohyun, yang agak bebal. Hingga Sohyun merasa tak enak sendiri.
Mereka sibuk menulis masing-masing hingga tak sengaja tangan mereka saling bersentuhan.
Sohyun dan Sungjae menoleh dan menatap wajah masing-masing. Sohyun memandang bola mata Sungjae bergantian. Begitupun Sungjae, ia memandangi wajah Sohyun yang berjarak tak lebih dari lima jengkal itu.
Mereka duduk bersampingan. Sedangkan Hyeri ada di pangkuan Sungjae sejak tertidur tadi.
"Maaf," ucap Sohyun namun ia masih memandang wajah Sungjae.
"Eoh," ucap Sungjae singkat. "Tak apa-apa. Sepertinya aku harus sedikit menjauh."
Namun saat ia menjauhkan sedikit badannya. Hyeri seakan terusik dan hampir terbangun. Dia menatap Sohyun seakan meminta ijin padanya.
"Tak apa-apa. Tetaplah duduk di sini," lirih Sohyun. "Aku saja yang pindah."
"Tak usah," ucap Sungjae malu-malu.
Hingga akhirnya hanya situasi canggung yang terjadi.
Mereka yang sudah merasa lelah, kemudian menyandarkan punggungnya di sofa yang ada di belakangnya.
"Aku mengantuk," ucap Sungjae yang sudah menguap sejak tadi.
"Aku juga."
Mereka akhirnya saling menceritakan cerita masing-masing. Sungjae bahkan sudah terbuka pada Sohyun dengan menceritakan tentang Hyeri dan siapa ibunya.
Sohyun juga menceritakan siapa Yoo Jung sebenarnya dan mengapa ia sangat membencinya. Hingga kepala Sungjae tiba-tiba tak sengaja terjatuh di bahu Sohyun.
Gadis itu terkejut. Namun membiarkan kepala Sungjae tidur di sana sementara waktu.
Ia melirik Hyeri yang sudah nyenyak tidur sejak tadi. Gadis lucu itu sepertinya bahagia memiliki ayah seperti Sungjae.
Sohyun yang merasa mengantuk. Menyandarkan kepalanya pada kepala Sungjae. Hingga kedua kepala mereka saling bersentuhan. Ada debaran pada jantung Sohyun, debaran yang begitu terasa aneh.
Anehnya, Sohyun membiarkan hal itu terjadi. Entah apa yang dirasakan dalam hatinya. Namun ia merasa sangat nyaman dengan tangan hangat itu.
Beberapa menit berlalu. Hingga akhirnya Sohyun juga tertidur dengan posisi kepala saling bersandar.
**
Soobin berjalan tergesa-gesa menuju rumah Sungjae. Sampai tak menyadari jika ada seorang gadis yang sejak tadi membuntutinya.
Setelah sampai di rumah Sungjae. Soobin menekan tombol kode pass pintu Sungjae. Ia masuk tanpa permisi karena ia pikir itu sudah hal biasa dilakukannya.
Namun matanya membelalak kaget ketika menemukan pemandangan yang mengejutkan di depannya. Apa yang sedang dilakukan oleh Sungjae dan Sohyun?
Mengapa mereka tidur seperti itu? Pemandangan itu benar-benar membuat perasaanya menjadi tak nyaman.
Namun, belum sempat ia membangunkan mereka berdua. Suara nyaring terdengar berteriak heboh di rumah itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan!" Sora dengan geram berteriak dan membangunkan mereka bertiga.
Soobin terkejut melihat Sora tiba-tiba ada di depannya saat ini. Ia juga takut melihat ekspresi Sungjae yang juga marah karena membangunkan Hyeri.
Hyeri takut dan memeluk ayahnya. Sungjae memandang Sora berjalan menghampiri mereka bertiga. Dan berdiri di depan Sohyun.
Plak!!!!
Sebuah tamparan melayang di pipi Sohyun. Gadis itu merasakan perih pada pipinya dan mengusapnya pelan.
"Apa yang kamu lakukan di sini!" teriaknya pada Sohyun. Ia bahkan sempat menjambak rambutnya.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu ada di sini!" Sungjae maju dan berdiri di depan Sohyun.
Sora mendelik kesal. Matanya bergetar seakan menahan emosinya kembali.
"Aku yang mengajaknya ke sini. Memang ada apa? Apa salah?" ucap Sungjae pada Sora.
Hyeri telah turun dari pelukannya kemudian berlari menyongsong Soobin.
"Kenapa? Kamu takut ya?" tanya Soobin ia merasa tak enak karena telah menyebabkan situasi itu terjadi.
"Lebih baik kamu pergi, sebelum aku menarikmu menjauh dari sini," ucap Sungjae kali ini ia menurunkan nada suaranya.
Ia berbalik menatap pipi Sohyun yang merah. Mengusapnya sebentar. "Kamu tak apa-apa 'kan?" tanyanya khawatir. Sohyun malah memandang wajah Sungjae dengan semburat merah pada pipinya. Ia malu, ketika wajah itu tiba-tiba mendekat padanya seperti itu.
Sohyun mengangguk canggung.
"Tapi pipimu....,"
"Aku tak apa-apa. Kamu selesaikan masalahmu saja dulu."
**
Sungjae akhirnya terpaksa menarik Sora keluar dari rumahnya. Ia merasa tak enak pada Sohyun karena perlakuan kasar wanita yang pernah ada di hatinya tersebut.
"Kamu menyukainya?" tanya Sora dengan sedih.
Tak ada jawaban.
"APA KAMU MENYUKAINYA!!!" Sora mengulang pertanyaannya membuat lelaki itu menoleh ke belakang.
"Kalau aku menyukainya apa itu berpengaruh untuk hidupmu?"
π¦π¦π¦
Author gak nyangka kalo bakal ada yang vote novel ini π€£π€£ tapi terima kasih ya!
Sebenarnya author sudah sangat senang dan merasa dihargai kalo ada yang komen dan like novel ini. Udah itu aja, itu udah penghargaan terbaik dari kalian.
Oh ya, author lagi ikut lomba fiksi remaja judulnya High School Love On. Jika kalian ada waktu author mau minta jempol dan klik fave nya dari kalianππππ yeorobun calangeoππ