Young Papa

Young Papa
Di sukai banyak orang



Setelah meminum obat Jaevan mencoba memejamkan mata, namun sama sekali tidak mendatangkan rasa kantung walau jam sudah menunjukan hampir fajar. Matanya panas, hembusan napasnya pun terasa panas di hidungnya, telingannya berdenging sepanjang malam sebab itu Ia hanya berbaring dan tertidur lalu terbangun 15 menit kemudian, obat yang ia minum tadi tidak banyak bekerja untuk tubuhnya, obat itu hanya menghilangkan pening dan sedikit menurunkan demamnya.


Air matanya sesekali bergulir jatuh, ia tidak sedang menagis melainkan itu reaksi tubuhnya yang bekerja membasahi matanya yang panas dan kering. Ia sesekli menarik napas dengan mulutnya bukan melalui hidung karena hawa panas napasnya sangat tidak nyaman.


Perlahan langit mulai terang, Jaevan bangkit dari kasur sebelum sinar matahari pagi muncul, dengan langkah yang tertatih ia turun ke bawah dan mendapati ada Rey yang tertidur di sopa ruang tamu rumahnya.


Jaevan menuju dapur melakukan rutinitasnya di pagi hari yaitu membuat sarapan. Sederhana saja, ia meraih roti tawar dan menyiapkan sayur dan buah juga bahan lainnya untuk membuat sanwich.


Ctak


Mendengar suara kompor Rey terbangun dan mendapati Jaevan memasak di dapur.


"Jaevan stop stop stop ! kau sedang apa?" dengan ribut Rey mendekati Jaevan.


"Membuat sarapan paman, paman tidur saja lagi"


"Tidak-tidak kau yang harusnya tidur, kau belum sehat Jaevan, sini buar paman saja" Rey menggeser Jaevan dari depan kompor.


"Sudah kau ke kamar saja, serahkan pada paman" usirnya mendorong Jaevan menjauh, dan dengan percaya diri mengambil alih dapur.


Rey mencuci tangannya sebelum mulai memasak, kemudian menyiapkan piring dan teko untuk membuat teh hangat.


"Jae" Rey sedikit jengkel karena Jaevan masih tidak juga ke kamarnya "Istirahat!" tekan Rey.


"Tapi pa..."


"Turuti paman, kau harus istirahat, jangan keras kepala"


Jaevan memutuskan untuk mengalah walaupun merasa tidak enak dengan Rey, ia pun naik ke atas namun bukannya istirahat tidur di kasur, Jaevan malah menyibukan diri membereskan kamar Nora dan kamarnya.


Srraaaakkk


seketika cahaya matahari pagi langsung masuk menyinari kamar saat Jaevan menyikap gorden kamarnya. Sinar itu menerpa wajah Nora membangunkannya perlahan.


"Papa" pangilnya saat matanya perlahan membuka.


"Nora ayo bangunlah! ada paman Rey di bawah dia sedang membuat sarapan".


"Papa sudah sembuh?" tanya Nora.


Jaevan tersenyum, ia menghampiri Nora dan mengelus kepalanya "Ayo kita turun kebawah sarapan"


Nora mengangguk, ia turun dari kasur lalu turun kebawa diikuti Jaevan di belakangnya.


"Nora Jaevan ayo sarapan, paman baru saja selesai membuat sanwich"


...****************...


Di dapur Rey sedang menlakukan yang terbaik, ia membaut teh hangat dan memasukan beberapa sendok gula, tidak luoa mencicipnya.


"Huammm" sesekali ia menguap.


Selesai membuat teh ia melanjutkan membuat sanwich, di mangkok sudah ada sayur, buah, dan cream yang tadi Jaevan buat, ia tinggal mencampur semuanya menjadi satu adonan kemudian, setelah itu ia memngambil beberapa roti tawar dan menumpuknya dengan adonan yang tadi ia campur dengan roti tawar lagi di atasanya.


Karena Rey jarang memasak sangat kentara dari gesturnya yang kikuk, ia bersusah payah memotong sandwich itu "Selesai" Rey menatap bangga sandwich buatannya yang terlihat agak tidak rapi.


Ia meletakan ke piring yang tadi disiapkan Jaevan dan membawanya ke meja makan.


Tidak lama kemudian Jaevan dan Nora pun turun dan menghampiri Rey di meja makan, Nora memperhatikan sandwich di atas piring yang Rey buat, penampilannya sedikit berantakan berbeda dengan buatan papanya.


"Terimakasih paman" Jaevan tersenyum, ia meraih sandwich itu dan melahapnya Nora pun juga melahapnya.


Rey kembali lagi ke dapur dan membawa teh hangat yang ia buat ke meja makan.


"Hemmm enak paman, rasnya sama dengan yang papa buat" komentar Nora.


Rey tersenyum melihat mereka 'Andai kalian menjadi anak ku pasti sekarang kita sedang sarapan bersama' batin Rey membayangkan Jaevan dan Nora menjadi anak anaknya dan sedang sarapan bersama anak dan istrinya di rumah.


Ia berjalan ke sebrang meja di mana Jaevan dan Nora duduk, mengelus kepala Jaevan dan Nora "Makan yang banyak!".


Ucapannya di respon dengan anggukan oleh Nora dan Jaevan, tidak lupa Rey memeriksa keadaan Jaevan, ia meletakkan telapak tangannya di kening Jaevan "kau masih demam rupanya, jangan lupa minum obatnya!"


"Iya paman, nanti aku minum".


...****************...


'Woooong'


Selesai memasukkan semua pakaian kotor ke mesin cuci Jaevan bangkit berdiri, ia berpegangan pada mesin cucui sebagai pijakan untuk berdiri, ia sedikit kepayahan untuk berdiri. ia meletakkan kembali diterjan dan pewangi pakaian di tempatnya.


Ia keluar dari kamar mandi dan mencari Nora "Nora" panggilnya.


"YA PA" Nora datang menghanpiri Jaevan dengan membawa sapu di tangannya karena dia baru saja selesai menyapu teras rumah.


"Hari ini Nora mau makan apa?"


Nora berpikir sejenak "Ayam ciken".


Jaevan tersenyum dan mengangguk.


"SAYUR SAYUR"


Pas sekali penjual sayur keliling melitas di depan rumahnya. Jaevan segera keluar rumah menghampiri penjual sayur yang kebetulan berhenti tepat di depan rumahnya, di sana sudah banyak ibu-ibu yang mengelilingi mobil sayur itu.


"Jaevan sudah sehat nak?" tanya Hani yang saat itu juga sedang membeli sayur.


"Iya bi sudah mendingan"


"Syukurlah"


Jaevan pun mulai memilih-milih sayur dan daging ayam yang masih segar. Tanpa menghiraukan orang-orang yang memperhatikannya.


"Kamu Mirip Jaevan peserta masterchaf ya" celetuk penjual sayur itu "Nama kamu siapa, saya baru kali ini lihat kamu?"


Di tanya sepyerti itu tentu Jaevan hanya bisa tersenyum.


"Memang dia orangnya" celetuk salah satu dari ibu-ibu.


Penjual itu nampak terkejut "Dia dia Jaevan" tanyanya sekali lagi.


"Iya bi saya Jaevan"


Senyum Jaevan merekah, membuat si bibi penjual sayur dan ibu-ibu terpanah padanya.


Bibi sayur itu pun mengulurkan tangannya, dan dengan senang hati Jaevan menjabat tangannya.


"Saya penggemar mu loh" ujarnya masih berjabat tangan dengan Jaevan.


"Terimakasih bi"


Jabatan tangan mereka pun terlepas.


"Kamu baru tinggal disini?" tanyanya bersemangat.


"Tidak bi saya sudah 3 tahun tinggal di sini"


"Benarkah, tapi kenapa saya baru lihat kamu sekarang?"


"Ah iya bi"


"Oh iya kamu bilang di masterchaf kemarin kamu punya cafè ya" sambungnya


Jaevan hanya tersenyum.


"Pantas saja kau jarang di rumah, pasti sibuk kan ya sekolah sambil ngelola cafè"


"Sudah punya pacar?" tanyanya lagi


"Ahh itu belum bi"


"Belum! Kalu belum mau kenalan dengan keponakan bibi dia cantik loh" ujar salah satu ibu-ibu itu.


"Gak ada gak ada, dia harus sekolah dulu" protes Hani.


"Lah kenapa ibu yang jawab, kan yang di tanya Jaevan?"


"Gak boleh pacaran sekolah dulu yang bener"


......To be countinue......