Young Papa

Young Papa
Satu



Beberapa minggu yang lalu…


Saat pertama kali aku pindah ke sekolah ini, aku tak sengaja mendengar sebuah obrolan dari siswi cewek tentang seorang siswa yang diam-diam sudah memiliki seorang anak. Awalnya aku tak memeedulikannya karena itu bukanlah urusanku. Namun sebuah kejadian tidak mengenakan terjadi padaku dan dia saat itu.


Waktu itu aku berkeliling mencari ruang kepala sekolah, untuk mendaftarkan administrasiku padanya. Karena terburu-buru aku tidak sengaja menabrak seorang siswa dengan pandangan sinisnya terhadapku. Namanya Yook Sungjae. Pria dingin yang sama sekali aku tidak berniat untuk mengenalnya sama sekali.


BRUK!!!


“ Ah, maafkan aku.” Aku mengambil buku-buku pelajaran yang ia bawa terjatuh di lantai.


Namun dengan gesit dia menampis tanganku dan berusaha mengambilnya sendiri.


“ Tak usah membantuku. Kamu pergi sana," ucapnya datar.


Ucapannya membuat perasaanku menjadi buruk waktu itu. Di saat aku masih belum mengenal satu orangpun disini namun sudah disambut hal yang tak mengenakan.


Lalu aku mencoba mengikutinya, karena siapa tau dia sedang menuju ruang guru. Dan benar dia ke ruang guru untuk memberikan buku-buku tersebut. Ia hanya menunduk lalu pamit pergi keluar.


“ Sungjae, tunggu sebentar.” Seorang guru menghentikannya, lalu ia menyerahkan sebuah amplop putih padanya.


“ Berikan pada orangtuamu. Sudah berapa kali ku bilang, jangan berkelahi di sekolah!” Guru tersebut memukul kepala Sungjae dengan amplop yang ia berikan. Dan Sungjae hanya menatap guru itu, anehnya guru tersebut menciut melihat tatapan mata Sungjae.


“ Kenapa sih dengan anak itu?” batinku.


Setelah aku bertanya pada seorang guru dan menyerahkan berkas-berkas akhirnya aku disuruh menunggu wali kelasku, karena dia akan datang terlambat.


Wali kelasku seorang laki-laki. Dia masih muda dan tampan. Namanya adalah Lee Seunggi, ada sebuah lesung pipi yang nampak jika tersenyum. Ia sangat ramah dan murah senyum, dan kebetulan dia adalah guru matemaika, pelajaran yang sangat tidak aku sukai.


Aku mengikutinya di belakang setelah ia memintaku. Dan sebentar lagi ia akan mengenalkanku dengan siswi di kelasnya. Jantungku berdegup kencang, karena ini baru pertama kalinya aku pindah sekolah dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru.


Pintu kelas dibuka. Suara yang tadinya riuh menjadi tenang seketika saat Seunggi saem masuk. Tatapan siswi tertuju padanya seolah menjelaskan jika dia adalah guru idola di sekolah ini.


“ Perkenalkan dia adalah Kim So Hyun, siswi baru yang akan menjadi teman kalian.”


“ Anyeonghaseo, Namaku Kim So Hyun, mohon bantuannya.” Seisi kelas langsung riuh terutama siswanya. Mereka bertepuk tangan entah apa alasannya.


“ Untuk murid cowok, jangan berpikir untuk menggodanya," kata Seunggi saem dengan senyumnya.


“ Kenapa saem?” tanya murid cowok serempak.


“ Karena aku tahu kalau kalian sudah memiliki pacar.”


“ Huuuuu…” Suara mereka memenuhi ruangan.


Rasa gugupku lenyap seketika. Aku menoleh ke arah Seunggi saem, dan kupikir mungkin inilah mengapa ia sangat di sukai oleh para murid.


“ So Hyun kamu duduk di sebelah Sungjae ya, karena tak ada bangku yang kosong selain di sebelahnya.”


Aku berpikir sejenak dan mengingat nama yang tidak asing itu. Dan benar! Nama itu, nama siswa yang tak sengaja aku tabrak tadi pagi. Aku berjalan ke arahnya, ia membuang pandangannya keluar jendela. Dia bahkan mengabaikanku saat aku menyapanya. Ah sial! Kenapa aku harus duduk di sebelah cowok itu?!!


❣️❣️


Aku pergi ke toilet sendirian karena aku memang belum memiliki teman yang dekat denganku. Saat aku berada dalam toilet suara berisik tiba-tiba memenuhi toilet.


“ Masa sih? Kamu yakin dia sudah punya anak?!” ucap seorang siswi.


“ Iya, aku mempergokinya kemarin. Dia sedang menggendong anak kecil dan anak kecil itu memanggilnya Papa," sahut siswi satunya lagi.


“ Tak heran sih, dia aja nakal begitu. Lalu umur berapa anak itu?”


“ Mungkin sekitar tiga tahun, anaknya lucu dan cantik.”


“ Kalau tiga tahun… berarti dia menikah waktu masih duduk di SMP?!!!”


“ Sstt… jangan keras-keras. Kalau kau tak percaya nanti pulang sekolah ikut saja denganku, akan ku tunjukkan padamu. Jika aku tidak berbohong.”


“ Tentu saja dia, siapa lagi yang memiliki nama itu selain dia.”


“ Baiklah aku akan ikut untuk membuktikan ucapanmu itu.”


Lalu ruangan itu hening. Mataku mengawang dan menatap cermin lama saat aku mencoba membetulkan ikatan rambutku.


“ Sungjae…? Sudah menikah??? Memiliki anak??? Tapi dia masih bisa bersekolah disini? Bagaimana jika kepala sekolah mengetahuinya?”


Aku terdiam sesaat hingga terdengar bunyi bel.


Aku masuk ke ruangan kelas dengan gugup. Lalu menatap bangku Sungjae yang kosong, entah ke mana pemilik bangku itu pergi dan belum kembali. Saat aku melihat lacinya, tas miliknya sudah tidak ada.


Kemudian aku menemukan bayangan murid sedang berlari menuju gerbang sekolah. Ia adalah Sungjae.


“ Apakah dia membolos?” batinku.


“ Hei, kamu anak baru. Berhati-hatilah dengan Sungjae.” Seorang siswi yang duduk di depanku tiba-tiba mengajakku berbicara padahal sebelumnya ia tak berani menatapku saat ada Sungjae.


“ Memangnya kenapa?” tanyaku gugup.


“ Yah.. berhati- hati saja dengannya.” Lalu ia menarik diri saat guru pelajaran bahasa inggris masuk.


Tiba-tiba aku menjadi penasaran dengan Sungjae. Aku terusik dengan ucapan siswi yang membicarakannya di toilet dan siswi didepanku saat ini. Benarkah semua yang mereka bicarakan? Ataukah hanya pendapat pribadi mereka.


❣️❣️❣️


Ibuku tiba-tiba memintaku untuk membelikan susu segar di minimarket malam ini. Dengan malas-malasan akhirnya aku menurutinya, aku keluar hanya dengan hoodie, celana pendek dan sendal karena kebetulan minimarket tersebut tidak begitu jauh dari apartmenku.


Saat aku masuk, seperti biasa seorang kasir memberikan sebuah salam kepada pelanggan. Aku mengabaikannya dan menuju tempat susu segar berada. Namun, aku terkejut ketika mengetahui jika kasir yang sedang berada di depanku adalah orang yang aku kenal.


“ Sungjae…?” panggilku pelan.


“ Pura-pura saja tidak mengenaliku," ucapnya sambil mem-barcode.


Aku tidak menyangka jika dia bekerja sambilan di sebuah minimarket di dekat apartmenku. Aku pikir dia anak orang kaya, karena dari gayanya, tapi ternyata aku salah. Niatku yang ingin menanyakan mengapa ia bolos sekolah hari ini, aku urungkan. Karena pasti ia tak akan memberitahuku.


Ia memberikan kantung plastik yang sudah berisi barang belanjaanku dan lalu pergi berpura-pura membereskan meja yang terdapat cup ramen dan beberapa botol plastik yang berserakan. Ia mengelapnya dengan teliti.


“ Eomma, aku mau tanya sesuatu?" tanyaku pada ibuku saat aku memberikan barang belanjaanya.


“ Tanya apa? Jangan menanyakan uang jajan bulan ini lagi, karena kau sudah memintanya kemarin.”


“ Bukan itu….?!?”


“ Lalu???”


“ Mungkin tidak, jika anak SMP bisa memiliki seorang anak?”


Ibuku menatapku penasaran.


“ Kamu ngomong apa sih? Sudah sana kerjakan saja PR- mu.” Sudah ku duga jika ibuku tak akan menjawab pertanyaanku ini.


Aku melihat minimarket tempat Sungjae bekerja dari jendela kamarku. Karena apartmen yang aku tinggali berada di lantai sepuluh jadi mudah saja bagiku untuk melihatnya.


Apakah benar dia sudah memiliki seorang anak?


*Saem : guru


Jangan lupa klik like dan favorit 😊


Baca juga novelku yang berjudul My Boyfriend Having Affairs ya*~~~